登入POV JEVANAku menatap pesan Kiara cukup lama sebelum akhirnya membalas dan mengirimkan alamat losmen tempatku menginap. Tidak sampai satu jam kemudian, sebuah mobil berhenti di depan penginapan.Kiara turun sendirian dengan pakaian yang jauh lebih santai, tubuhnya juga sedikit lebih kurus, tetapi langkahnya masih tegap ketika berjalan menghampiriku yang sedang duduk di teras.“Om Jevan,” sapanya dengan senyum yang tak pernah berubah, tapi yang kusadari binar di matanya tak lagi secerah saat dia masih jatuh hati padaku.Aku berdiri dan mempersilakannya masuk. “Masuk aja.”Kiara mengikuti langkahku ke dalam kamar. Matanya sempat berhenti pada mangkuk mie instan yang sudah kosong di atas meja sebelum akhirnya dia duduk di kursi yang berada di depan tempat tidur.Aku ikut duduk sambil memperhatikannya. Ada sesuatu yang membuatnya datang langsung ke sini, bukan sekadar mengirim pesan.“Aku mau
POV JEVANSudah satu minggu berlalu sejak kasus Bianca dan para mafia pelabuhan berakhir. Aku lebih banyak menutup diri, pergi jauh dari keramaian kota, membuang semua bukti perjalananku selama 2 tahun terakhir.Meski sesekali kudengar desas-desus tentang kasus itu masih dibicarakan di mana-mana. Aku juga melihat wajah Rakabumi sesekali muncul di televisi.Aku menghela napas panjang, aku tak ingin membuang waktuku meladeni berita-berita itu lagi. Tugasku sudah selesai, berarti cukup.“Kamu beneran gak mau pulang?” Suara Nadira menegurku.Aku mengalihkan pandanganku dari hamparan sawah dan pemandangan gunung di depan sana, beralih pada sosok perempuan yang sudah hampir dua minggu menemaniku di sini... ya, menjadi teman mengobrol—atau sesekali teman ranjangku.“Gak kangen sama Celine?” tanyanya lagi.Aku mengangkat bahu. Sejak kasus itu berakhir pula, aku tidak pernah bertukar kabar dengan Celine atau pun Kiara. Aku mencoba menghubunginya tetapi dia tidak pernah menjawab telepon atau me
POV JEVANRuang sidang kembali hening setelah seluruh bukti dan kesaksian selesai disampaikan. Tidak ada lagi perdebatan dari pihak pembela. Bahkan pengacara Bianca yang sejak awal terus mencari celah kini hanya duduk sambil membaca berkas di hadapannya.Hakim memeriksa beberapa dokumen terakhir sebelum akhirnya mengangkat wajah. “Setelah mempertimbangkan seluruh keterangan saksi, barang bukti, dokumen, rekaman pemeriksaan, serta pembelaan dari masing-masing terdakwa, majelis hakim telah mengambil keputusan.”Aku tanpa sadar menegakkan tubuh. Di sebelahku, Rakabumi juga tidak bergerak. Kami sama-sama menunggu.Hakim mulai membacakan pertimbangan putusan dengan suara tenang dan tegas. Satu per satu perbuatan para terdakwa disebutkan kembali, termasuk keterlibatan Bianca dalam pembunuhan Rendra, manipulasi aset dan dokumen perusahaan, serta hubungannya dengan jaringan kejahatan yang selama ini dijalankan bersama orang-orang di b
POV JEVAN“Bukan aku, tapi keluarga Luan sendiri yang ingin melempar bangkai kepada kita....”Rakabumi menarik napas sebentar kemudian melanjutkan, “Juan dan semua kejahatan yang selama ini mereka lakukan bersama.”Aku tidak bertanya lebih jauh. Selama ini, semua orang juga tahu Juan memang terlibat dalam pekerjaan kotor keluarga Bianca, termasuk urusan membuang mayat anak buah mereka di sekitar pelabuhan.Dengan kondisinya yang hampir mendekati cacat pasca penyiksaan yang Bianca lakukan padanya, rupanya Nyonya Luan memanfaatkan Juan sebagai jalan terakhir untuk menyelamatkan dirinya sendiri.“Semua mafia pelabuhan juga sudah tertangkap,” lanjut Rakabumi. “Mereka satu per satu mulai memberikan kesaksian. Informasi yang diberikan Nyonya Luan juga sudah kami cocokkan dengan bukti yang ada.”Aku mengangguk. Tidak ada lagi yang perlu kami cari. Bianca sudah mengakui pembunuhan Rendra, sementara bukti terhadap Nyonya Luan dan Juan juga sudah cukup kuat. Semua orang yang terlibat dalam jari
BAB 122POV BIANCAPertanyaan Jevan membuatku terdiam cukup lama. Selama bertahun-tahun, tidak ada seorang pun yang berani menanyakan hal itu langsung kepadaku. Mereka hanya melihat hasil akhirnya, lalu menyimpulkan sendiri apa yang terjadi.Aku menatap meja di hadapanku sebelum akhirnya mengangkat wajah.“Karena Rendra tahu semuanya.”Jevan tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menungguku melanjutkan.“Dia tahu kalau Celine dan Kiara bukan anak kandungnya.”Aku menarik napas panjang. “Dulu, sebelum Celine dan Kiara lahir, saya punya hubungan dengan laki-laki lain. Saya selingkuh dari Rendra. Ketika semuanya terbongkar, dia akhirnya tahu bahwa kedua anak yang selama ini dia besarkan bukan darah dagingnya.”Aku masih ingat bagaimana wajah Rendra saat mengetahui semuanya. Tidak ada teriakan, tidak ada benda yang dilempar. Justru ketenangannya saat itu yang membuatku takut. Aku tau dia pasti menyimpan rencana lebih besar untuk membalasku.“Rendra marah, bukan hanya karena saya berselingkuh,
POV JEVANPagi itu aku kembali ke kantor Rakabumi setelah memastikan keadaan di rumah sakit cukup aman. Begitu masuk, suasana sudah jauh berbeda dari malam sebelumnya.Beberapa petugas sibuk membawa berkas dari ruang penyimpanan, sementara sebagian lainnya keluar-masuk ruang pemeriksaan tempat Bianca dan Nyonya Luan ditahan.Aku langsung menuju ruangan Rakabumi. Pintu terbuka dan beberapa map sudah memenuhi meja kerjanya.“Sudah mulai?” tanyaku.Rakabumi mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di hadapannya. “Sejak pagi. Semua barang bukti dari rumah Bianca sudah dipindahkan ke sini. Dokumen yang ditemukan Celine juga sudah selesai diperiksa.”Aku menarik salah satu kursi lalu duduk di hadapannya. “Hasilnya?”“Identik dengan arsip yang kita punya. Dokumen itu asli.”Aku mengangguk. Setidaknya satu bagian penting dari kasus ini sudah jelas. Rakabumi kemudian membuka beberapa berkas lain dan mulai menyusun semuanya berdasarkan keterlibatan masing-masing orang.Ada catatan tr
“Gak sanggup? Payah kamu, Jev.” Nadira mengejek. “Mau makan dulu gak sama aku? Aku juga masih nunggu orang.”Sepertinya tawaran Nadira tak bisa ditolak. Kami pergi ke sebuah restoran tak jauh dari hotel, memesan makanan, dan duduk tenang menikmati makanan. Sesekali berbincang agar tak terlalu henin
“Ya sudah, saya antar kamu ke klinik—““Boleh antar aku ke hotel aja, Om? Aku mau tinggal beberapa hari di sana sampai baikan sama Mama,” kata Celine memotong.Kupatuhi permintaannya, kugendong gadis langsing itu dan duduk di mobil. Dia mengucapkan terima kasih, wajahnya memerah mungkin karena malu
Aku mengerang panjang sambil melepas semuanya ke atas perut Nadira. Perempuan cantik sepantarakan denganku yang sudah hampir satu tahun ini menjadi partner ranjangku. Pasangan tanpa status, hanya untuk bersenang-senang.Kuraih semua pakaianku dan kupakai seperti semula, kotak rokok dan korek gas di
Gadis itu memajukan badannya sehingga makin menempel padaku, tatapan mata yang kulihat sinis sejam yang lalu kini berubah sedikit liar menggoda.Aku meneguk ludah ... ‘Jevan Kecil’ di bawah sana mulai kehilangan harga dirinya. Apalagi saat kurasakan Kiara seperti sengaja menggerakan tubuhnya sehing







