Mag-log inNamun, Pak Diwar malah tersenyum mengejek. “Hehe, kau pikir ancaman tipu-tipu dari mulutmu itu sudah cukup untuk menakut-nakuti kami? Aku katakan kepadamu, jawabannya jelas tidak mungkin! Aku yakin kau sendiri tidak akan berani melaporkannya kepada Tuan Muda!” tegasnya tampak percaya diri.Para pengawas pemberontak dibuat kebingungan sendiri. Sariska Lianor menyipitkan matanya mendengar itu. “Apa maksudmu?!” tanyanya masih merasa tidak terlalu mengerti.“Hehe, bukankah kami juga bisa melaporkan Tuan Muda kalau engkau baru saja mencoba untuk melarikan diri? Kalau itu terjadi, ada kemungkinan Tuan Muda juga tidak mempermasalahkan kami untuk sedikit menghukummu dengan cara kami sendiri tentunya!” jawab Pak Diwar tersenyum buas.Pikiran menjijikkan dan liar kembali muncul di dalam benak masing-masing pengawas. Sorot mata mereka kembali berkeliaran bebas melihat-lihat pemandangan tubuh yang sangat amat indah dari sosok Sariska Lianor itu.“Perkataan Pak Diwar ada benarnya! Wanita nakal sep
“Hmph! Terserahlah! Yang penting wanita itu gagal. Walaupun kerusakan benda dan beberapa korban luka-luka ringan tidak bisa dielakkan!”Para pengawas yang berada di ruang pengawasan akhirnya mulai merasa sedikit lega. Sepanjang perjalanan masuk, Pak Diwar terus saja mengoceh dan melampiaskan kemarahannya kepada Sariska Lianor dan para penjaga di sana.“Kalian benar-benar tidak berguna. Wanita lemah sepertinya bisa sampai melarikan diri sejauh ini. Mau ditaruh mana harga diri kalian sebagai seorang pria, hah?! Adapun kau wanita rendahan! Beraninya kau melarikan diri, hah?! Tak tahu diuntung!” tegas Pak Diwar marah-marah terus sepanjang perjalanan.Meski begitu, tidak ada yang berusaha membantah sama sekali. Setelahnya, Sariska Lianor berhasil dibawa masuk kembali ke dalam kamar miliknya yang lalu. Pak Diwar dan beberapa pengawas pemberontak berada di dalam kamar tersebut, menatap tajam ke arah Sariska Lianor yang dalam kondisi terikat duduk di atas kursi.“Apa lihat-lihat?!” tegas Pak
Seketika kaca jendela itu pecah berkeping-keping tak berbentuk lagi. Sariska Lianor menunjukkan tekadnya yang sangat kuat demi mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Semua orang tidak menyangka sama sekali, tapi tetaplah itu yang terjadi.“Da, dasar wanita sinting! Cepat tangkap dia sekarang juga!” teriak Pak Diwar merasa tercengang sekaligus marah.Para penjaga segera mempercepat langkahnya sedangkan penjaga gerbang yang berada di dalam pos jaga jelas dilanda kepanikan yang ekstrim. “Apalagi ini, yang benar saja?!” tegas penjaga gerbang itu berusaha menangkap Sariska Lianor yang menerobos masuk.“Urk, lepaskan aku!” teriak Sariska Lianor meronta-ronta dengan keinginan menemukan tombol untuk membuka gerbang.Sayangnya, tombol yang dicarinya bahkan tidak diketahui bentuk apalagi lokasinya. Sariska Lianor dibuat panik sendiri melihat itu. “Lepaskan, aku bilang lepaskan, sialan!” teriaknya dengan maksud yang jelas mendorong penjaga gerbang untuk menjauhinya.“Hmph! Mana mungkin aku menying
Namun, Sariska Lianor segera melayangkan tendangan ketiganya yang kini tepat mengenai wajah depan penjaga tersebut. Dengan sangat terpaksa dan tanpa perlindungan, penjaga tersebut jatuh terlentang dengan hidung yang mimisan hingga ada kemungkinan telah patah.“Sialan! Baru semenit, dua orang sudah gugur! Dasar tidak berguna!”“Apanya yang tidak berguna, hah?! Wanita ini saja yang iblis! Bisa-bisanya dia melakukan aksi liar semacam itu tanpa keraguan sedikit pun. Bukan hanya itu, tenaga kuatnya berasal dari mana ketika tubuhnya sendiri terlihat kurus dan seksi, hah?!”“Banyak bacot! Serang saja bersama-sama!”“Hiyah…!”Pukulan dan tendangan dengan sangat cepat dilayangkan ke arah Sariska Lianor. Melihat itu, dia segera mengelak dan tidak ingin terkena pukulan secara langsung. Lagi pula, memang benar adanya perbedaan tenaga antara pria dan wanita yang sangat mencolok.Sariska Lianor terbilang cukup beruntung karena menggunakan kemampuannya yang jauh lebih unggul. Belum lagi, dia dikepun
“Buka gerbang itu sekarang juga!” tegas Sariska Lianor merasa marah melihat semua ini.Orang-orang yang ada di kediaman ini benar-benar berusaha menghentikannya dengan segala cara seolah memposisikan dirinya sebagai penjahat kriminal tingkat tinggi yang harus dikawal ketat sehingga tidak mungkin bisa melarikan diri sama sekali.Salah satu penjaga gerbang maju dengan gagah. Namun, sisanya malah menjauh. Salah satu penjaga gerbang bahkan mengurung dirinya sendiri di dalam pos jaganya. Tempat di mana tombol khusus untuk membuka gerbang yang tertutup rapat itu ada.“Sialan, mengapa aku harus bersembunyi seperti ini, sih?! Di depan seorang wanita cantik, pria sepertiku malah diperintahkan duduk diam di dalam tempat sempit ini. Sungguh benar-benar memalukan sekali!” tegas penjaga gerbang ya mengurung dirinya sendiri di dalam pos jaganya.Berbeda dengannya, mereka yang ada di luar tampak bersiap bertarung dengan Sariska Lianor meski harus merelakan nyawanya masing-masing sekali pun. Sesuatu
“Hmph! Katakan itu setelah kita berhasil menangkapnya! Kalau belum bisa, lebih diam dan jaga mulutmu baumu itu!”“Hei, apa masalahmu denganku, hah?! Aku hanya ingin kau tetap tenang saja. Mungkinkah perkataanku salah?”“Brengsek! Jelas salahlah! Bagaimana bisa aku tetap tenang dalam situasi semacam ini, hah?! Jelaskan kepadaku sekarang juga!”“Cukup! Jangan berisik terus! Lihatlah baik-baik layar pengawas kita! Beberapa orang akan segera tiba di pintu keluar. Pastikan penjaga gerbang luar tetap menutup rapat-rapat! Biarkan Sariska Lianor itu terjebak di dalam halaman rumah saja!”“Cih, aku tahu itu!”Para pengawas tersebut saling beradu mulut satu sama lain seolah hal ini memang sangat wajar sekali yang pada kenyataannya jelas tidak demikian. Untungnya, masih ada yang waras dan bisa segera meleraikan konflik yang panas dingin itu.Di sisi lain, sejumlah orang memang terlihat sedang berlarian keluar menuju ke pintu keluar. Mereka sekali dibuat tercengang meski sudah melihatnya beberapa
“Kamu–” Bu Risma belum sempat menyelesaikan kata-katanya sebelum langsung dipotong.“Diam! Lepaskan aku dan jangan sampai aku mengulanginya lagi!” ucap Sariska Lianor yang tampak sangat marah sekali. Kali ini, tidak ada keramahan sedikit pun dari nada suaranya yang biasanya cukup riang.“Urgh…!” Bu
Sebelum perasaan negatif itu memenuhi seluruh tubuhnya, sang sopir taksi tiba-tiba berbicara, “Non, kita sudah mau sampai! Apakah benar alamatnya di sini?”Sariska Lianor terkejut dan melirik sejenak sebelum menjawab, “Ya, Pak! Turunkan saya di pojok depan sana!”“Baik, Non!” jawab sang sopir langs
Malam yang sejuk tak mampu membuat Sariska Lianor menenangkan dirinya. Terlepas daripada kasur tempat dia terbaring terasa nyaman dan begitu lembut, pikirannya masih saja berkeliaran ke sana kemari, tak menentu arah tujuannya. Walaupun sudah bukan pertama kalinya Sariska Lianor berada dalam situasi
Bu Aniran benar-benar marah sampai tak tahan lagi untuk meninggikan nada suaranya. Sariska Lianor ikut juga menatap dengan tajam, hatinya juga tak senang mendengar perkataannya Bu Aniran. Dua wanita laknat tersebut saling menatap satu sama lain dengan permusuhan terpendam yang tidak lagi bisa disem







