LOGINUsai menghabiskan sarapan, Ethan mengajak Sarah melangkah ke area kebun belakang kediaman yang diselimuti salju putih tebal.Di sana, berdiri sebatang pohon apel legendaris. Pohon yang tetap berbuah lebat dengan warna merah menyala meski hawa dingin menyengat."Sangat cantik, ajaib, dan... seksi!" gumam Sarah seraya memetik sebuah apel merah menyala yang menjuntai di ujung dahan tanpa dedaunan."Seksi?" cetus Ethan dengan suara sedikit serak dan bibir menahan tawa, berdiri tepat di belakang punggung Sarah.Sarah menoleh melirik lelakinya itu, lalu bibirnya tersenyum. Setelah mengelap salju yang menempel di permukaan apel dengan telapak tangannya, ia menggigitnya pelan."Ya, warna merahnya sangat seksi, bukan? Diselimuti salju yang memutih, jadi teringat dongeng Putri Salju," ucap Sarah setelah menelan kunyahan apel di mulutnya.Ethan mendaratkan kecupan hangat di kening Sarah, seolah itu sudah menjadi kebiasaan alami yang kian sering ia lakukan. "Lihat, sudah ada putik baru yang tumbu
Setelah momen hangat dan pengakuan emosional di area sauna, benih-benih cinta di antara Sarah dan Ethan kian mekar sempurna. Sarah tak lagi menjaga jarak dan kini mulai membalas tatapan lembut pria itu, bahkan terang-terangan menunjukkan perhatiannya."Hei, kau sudah bangun?" sapa Ethan begitu melangkah masuk ke dalam kamar Sarah yang sedang duduk di depan meja rias, telah rapi berpakaian dengan rambut masih agak basah."Terima kasih sudah mengerti aku," balas Sarah tersenyum tipis, menoleh pada Ethan yang semalaman terbukti menjaga janjinya untuk tidak mengganggu atau menyelinap masuk ke kamarnya."Sebenarnya aku ingin sekali datang ke sini. Tetapi... aku pasti tak akan bisa menahan diri jika hanya berdua denganmu. Malam adalah waktu yang sangat bagus untuk saling melucuti pakaian, bukan?" bisik Ethan santai seraya mengambil alih pengering rambut dari tangan Sarah.Sarah mengulum senyum, namun sikunya langsung mendarat manis di samping perut Ethan. Pria itu mengelak cepat sambil tert
Sarah tidak mengerti kenapa dirinya bisa segila ini melanggar batasnya sendiri, tetapi di sisi lain, pikirannya merasa sangat nyaman menerima semua perlakuan penuh kasih sayang dari Ethan."Apakah Tachi sungguh lahir dari sini?" tanya Ethan sambil menahan tubuh Sarah agar berbaring di lengannya, sementara tangannya yang lain membelai perut rata wanitanya itu dengan ujung jemari. "Uhm, lahir dari sana... keluar secara alami lalu menyusu selama dua tahun di sini," sahut Sarah pelan sambil menahan pergelangan tangan Ethan yang hendak merayap membelai kebun tembakau kecilnya yang dicukur rapi.Tiba-tiba Ethan bergerak cepat, membaringkan Sarah di atas bentangan handuk di lantai, lalu turun, memposisikan wajahnya tepat di depan area sensitif Sarah."Oh, kau sungguh sangat cantik, Zaika..." desis Ethan sambil menahan kedua paha Sarah agar wanitanya itu tidak membalikkan badan. "Dia seperti tersenyum padaku..."Sarah benar-benar meronta pelan. Ia sangat malu bagian paling privasinya ditatap
Ethan masih ingin bersama Sarah di ruangan sauna, tetapi ia akan menjaga batas untuk tidak terlalu memaksakan kehendaknya.Dengan berat hati, Ethan bangkit berdiri dari duduknya. Namun, baru selangkah tangannya hendak menyentuh gagang pintu..."Aow!"Kaki basah Sarah tergelincir dan bibirnya refleks terpekik nyaring. Detik berikutnya, ia jatuh tercebur kembali ke dalam kolam air panas."Kau baik-baik saja?" tanya Ethan yang spontan melompat masuk ke dalam air, langsung menarik tubuh Sarah ke dalam pelukannya."Kakiku tergelincir. Tapi aku baik-baik saja. Terima kasih," Sarah menjawab cepat, berniat melepaskan diri dari dekapan erat Ethan.Namun... tali penutup dada Sarah yang hanya disimpul asal di belakang punggungnya tersangkut kancing kemeja Ethan. Ketika Sarah bergerak melepaskan diri, ikatan itu pun terlepas. Tubuh bagian atas Mommy Tachi tersebut seketika terekspos, dan bra renangnya kini tergantung di depan pakaian Ethan."Berbalik, Ethan!" pekik Sarah seraya melingkarkan kedua
Ketika Brian kembali ke Yaroslavl dengan wajah berseri-seri, Mister Konstantin justru sedang sibuk membantu merapikan mantel tebal di tubuh Tachi yang akan ia bawa menemaninya pulang ke Moskow."Kenapa kau tersenyum-senyum? Kau senang tim independen menemukan transaksi mencurigakan dari akun atas nama Grandma? Cepat sana bersiap-siap, ikut Praded pulang ke Moskow!" tegur Ethan dingin, melirik Brian dari sudut matanya."Baik, Bos!" sahut Brian patuh, "Tapi, Madam Maria tidak mungkin melakukan kecurangan itu, seperti mengeluarkan sejumlah dana untuk membayar pembunuh demi melenyapkan Anda dan Lady Sarah...""Praded tak berpikiran begitu. Sudahlah, kau temani saja beliau. Duduk seperti patung, jangan bicara jika tidak diminta, tetapi laporkan semuanya padaku!" potong Ethan cepat. Ethan sangat paham akan hubungan kakek buyut dan neneknya memang tidak pernah membaik sejak bertahun-tahun lalu, dimana mereka memutuskan tinggal terpisah, hampir tak pernah saling bertemu atau berkunjung.Bria
Sudah seminggu Sarah, Ethan, Tachi, Bu Indar, Mister Konstantin, dan Brian berada di Yaroslavl. Hari-hari mereka berjalan dengan sangat menyenangkan. Hanya Brian yang harus bolak-balik ke Moskow menggunakan helikopter untuk menghadiri rapat di Volkov Holdings sebagai perwakilan Ethan, sekaligus menemani Madam Maria.Audit internal yang diminta oleh Madam Maria masih berjalan alot. Namun, tim independen menemukan kejanggalan transaksi keuangan yang justru mengarah pada Madam Maria... dan Ethan sendiri.Sebelum hal tersebut dibawa ke rapat pemegang saham, Madam Maria memanggil Brian terlebih dahulu untuk berbicara empat mata."Mengenai hal ini, Saya bisa jelaskan," ucap Brian tenang begitu melihat berkas transaksi besar yang dilakukan Ethan saat mengakuisisi El Man Company milik Ted Mansouri."Ya, kau memang harus menjelaskan!" seru Madam Maria tegas. Saat ini, hanya ada dirinya dan Brian di dalam ruangan rapat yang luas tersebut."Bos Ethan mengakuisisi El Man Company semata-mata bukan
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri







