LOGIN"Ada apa, Bang? Kenapa tampak risau begitu?" tanya Runi.
Yanto menatap Runi tajam lalu mulai bicara
"Runi, abang mau menyampaikan sesuatu padamu," ucapnya dengan nada serius
"Apa itu, Bang?" tanya Rumi yang merasa penasaran karena sikap serius yang diperlihatkan Yanto.
"Setelah kondisimu pulih, abang minta kamu mulai bekerja lah untuk memenuhi kebutuhan hidupmu. Kamu harus belajar mandiri, tidak selamanya bergantung terus pada kami dan perihal dimana kamu akan beke
Apa sih kelebihan perempuan itu di mata mas Yanto sampai segitunya dia bersikap. Kaya nggak. Cantik? Lebih cantikan aku, bahkan dia itu mandul. Apa lagi yang mau dipertahanin dari perempuan model itu,' gerutunya dalam hati.Namun, tentu saja dia tidak bisa meluapkan semua itu untuk saat ini karena dia menyadari bahwa suaminya sedang dalam keadaan kesal."Viana! Viana!" teriak Yanto seraya membuka pintu kamar Viana.Kosong dan sunyi. Pemandangan itulah yang disaksikan oleh Yanto ketika pintu kamar telah terbuka.Ranjang nampak bersih dan rapi seperti tidak pernah ditiduri. Perlahan lelaki itu melangkah masuk ke dalam. Kedua matanya menyapu sekeliling ruangan. Dia melihat meja rias yang biasanya diisi oleh beberapa peralatan make up dan skincare milik Viana kini tampak bersih tanpa ada satu benda pun di atasnya.Perasaan tidak nyaman langsung menghinggapi dirinya.Dengan jantung berdebar kencang, Yanto menuju ke lemari pakaian, membukanya dengan gerakan cepat dan seketika itu juga, kedu
"Iya, Mbak. Soalnya aku udah blank banget. Bayang-bayang perlakuan Yanto pada diriku terus terbayang-bayang di depan mataku dan ada sebuah dorongan kuat dari dalam diriku untuk segera keluar dari rumah itu.""Lantas kau tidur dimana semalam? Kenapa tidak ke rumahku saja?""Mana berani aku ganggu orang di tengah malam kayak gitu, Mbak. Apalagi ada suami Mbak di rumah. Makin seganlah aku. Jadi malam itu, aku numpang tidur di penginapan yang terletak di ujung gang ini, penginapan yang punya bu Helen itu lho.""Pagi harinya aku langsung ke rumah sakit untuk melakukan visum dan dari sana aku langsung ke sini. Tapi sebelumnya aku menelepon Mbak dulu karena ada sesuatu hal yang ingin kusampaikan selain masalah perbuatan si Yanto itu."Pembicaraan mereka terhenti sejenak karena pelayan kafe datang mengantarkan pesanan Viana.Mika menatap pelayan yang sedang menyajikan makanan di atas meja. Dua porsi makanan dan dua gelas minuman disajikan oleh pelayan itu dengan hati-hati. Setelah selesai, pe
"Papa kok lama kali sih datang ke sini. Randy sudah lapar tau," omelnya dengan mulut manyun."Maafkan Papa, Sayang. Tadi papa ada sedikit urusan. Sekarang kita makan aja, yuk," ajak Randy."Oke, ayok Papa.""Papa aja yang diajak makan. Mama gimana? Mama jadi sedih deh kalau Randy gak ngajakin mama." Feyla berpura-pura merajuk dan memasang raut wajah sedih."Iya, mama juga. Ayok," sahut Randy sambil menggandeng tangan Feyla dan Yanto masing-masing di sisi kiri dan kanan tubuhnya.Susi yang melihat hal tersebut hanya tersenyum tipis. Di satu sisi dia sedikit terbawa arus dalam suasana bahagia yang diperlihatkan oleh keluarga kecil itu, tetapi di satu sisi, hatinya miris mengingat bahwa kebahagiaan itu dibangun di atas penderitaan wanita lain."Mbak Susi, aku mau suap sendiri saja," pinta Randy sambil mengambil alih piringnya dari tangan Susi.Setelah menyerahkan piring kepada Randy, Susi segera undur diri untuk mengambil tas sekolah Randy sekaligus mengecek buku dan peralatan sekolahnya
"Kenapa harus begitu, Kak? Kan Kakak tau sendiri kalau hubunganku dengan si Viana itu tidak baik. Jadi mana mau dia kalau aku suruh – suruh," ucap Runi kala itu."Ya, itu sih tergantung pandai-pandainya kamu saja. Jika dia tidak mau, ya kamu coba saja kerjakan sendiri atau kalau tidak, kamu pakai jasa orang lain. Kalau aku, bila lagi mood aku akan lakukan pekerjaan rumah, tapi kalau tidak, aku akan sewa jasa pembersih rumah dan memesan makanan dari luar. Beres, kan?""Tapi Kak, nanti uangku jadi cepat habis. Lagipula aku lihat si Viana ini tidak seperti yang Kakak harapkan. Dia sering memesan makanan dari luar, sesekali saja dia memasak dan itu pun hanya untuk dirinya sendiri, kalau untuk urusan bersih-bersih, dia hanya mau membersihkan kamarnya saja dan bagian dapur kalau dia selesai memasak serta piring bekas makan dan gelas bekas minumnya. Benar-benar bergaya seperti nyonya dia," adu Runi dengan maksud agar Feyla memarahi Viana."Aku tau itu. Makanya kemarin ini aku pekerjakan Bik
Namun, sejurus kemudian kesadarannya kembali ditarik ke tempatnya semula dan dalam hitungan waktu yang singkat, sebuah keputusan besar telah diambilnya. Keputusan yang diharapkan Viana dapat memberikan warna kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.Dengan gerakan tegas, perempuan berambut sebahu itu segera bangkit dari duduknya dan berniat untuk segera melaksanakan rencananya. Di tengah pergerakannya, tanpa sengaja kakinya menyepak paper bag yang tadi di bawa oleh Yanto.Viana menatap tajam ke arah paper bag itu kemudian mengambil benda itu dengan gerakan kasar. Alih-alih ingin melihat isinya, Viana justru malah membuang paper bag itu ke dalam tong sampah yang terletak di sudut kamar sambil tersenyum puas.Setelah itu dia kembali bergerak melakukan beberapa hal yang merupakan bagian dari rencana yang telah tersusun dalam benaknya.Satu tekad telah dia genggam yaitu bahwa dia harus segera meninggalkan kediaman yang bagaikan neraka ini secepat mungkin.Beberapa jam kemudian, pagi hari
"Ah, persetan dengan surat perjanjian itu." Yanto tersenyum menyeringai menatap Viana."Asal kau tahu Viana, surat perjanjian itu sudah aku robek dan bakar.""Apa?! seru Viana tak percaya."Ya, itu benar. Beberapa hari yang lalu, diam-diam aku masuk ke kamarmu, mencari surat itu dan aku berhasil menemukannya. Lalu aku merobek dan membakarnya. Sekarang kau tidak punya pegangan lagi untuk memaksaku menceraikanmu," ujar Yanto sambil tersenyum puas."Tidak mungkin! Kau Pasti bohong, Mas!" Viana menolak untuk percaya."Aku tidak bohong. Kau bisa periksa sendiri laci tempat kau menyimpan surat itu."Viana bergegas menghambur ke laci yang dimaksud, membongkar semua barang yang ada di dalamnya dan pada akhirnya dia jatuh terduduk lemas di lantai saat tidak menemukan surat itu di sana.Yanto yang melihat hal tersebut tersenyum penuh kemenangan. Dengan langkah santai dia mendekati Viana lalu berjongkok di sebelah Viana."Sudahlah, Dek. Hapus saja keinginanmu untuk bercerai dariku. Aku masih san







