LOGINIsang babae na pilit pinag-aagawan ng magkapatid. Buong akala ng kanilang magulang na isang disente at nakapag-aral ang babaeng kinababaliwan ng kanilang anak. Ngunit isa itong bayarang babae na pinagpapantasyahan ng mga kalalakihan sa White Coast Stripper’s Club. Maria, tunay na mahinhin ang itsura ngunit may nakakaakit na labi at mga mata na pumukaw kay Victor at Vladimir. Dalawang binata mula sa bigating pamilya sa Pilipinas ngunit magkaiba ang pananaw sa buhay. Tila nag-iisang babae sa mundo ang turing kay Maria kung pag-agawan siya ng dalawang magkapatid na handang magpakamatay para sa kanya. Pero paano kung nagpakabulag si Maria sa pera at tunay na tinalikuran ang lalaki na kaya siyang mahalin kahit may pagkukulang ito sa pera? Pagsisihan niya ba ito, o ito ang hudyat upang mailagay ang buhay niya sa peligro?
View MorePanasnya terik matahari telah terasa pagi ini saat aku berangkat ke sekolah. Aku bersepeda bersama dengan teman yang tidak kukenal dengan baik tapi satu kelas denganku. Dia mengajakku berangkat bersama karena kami akan ada ujian masuk ke sekolah lanjut hari ini. Sekolah yang ingin aku masuki tidak terlalu jauh dari rumahku, hanya butuh 15 menit bersepeda dari rumah ke sekolah. Aku tidak berharap banyak, tapi jika aku diterima di sekolah ini maka akan lebih baik. Kakak perempuanku dulu juga bersekolah di sini, dan orang tuaku menuntunku untuk masuk ke sekolah ini karena mereka tahu sekolah ini bagus dan tidak pernah ada masalah serius yang menghampiri para siswa disana. Begitulah hariku dimulai hari ini.
Begitulah isi dari halaman pertama buku diari Ayu. Dia masih belum tahu, apa yang akan menghampirinya nanti. Satu bulan berselang sejak ujian masuk, tepatnya di awal bulan Juli yang panas Ayu mengayuh sepedanya dengan bersemangat. Kemarin dia mendapat kabar bahawa siswa yang lolos nama - namanya akan diumumkan di papan pengumuman sekolah dan para pendaftar harus kesana jika ingin tahu apakah dia lolos atau tidak. Pada pukul 11.00 Ayu berangkat dari rumahnya menuju ke sekolah lewat jalan belakang rumahnya. Ketika sampai di halaman sekolah, sudah banyak sekali orang berkumpul di sana. Dia tidak peduli dan segera masuk ke area sekolah untuk melihat pengumuman. Dua lembar kertas telah dia lewati, diantara ratusan baris nama itu belum juga nampak nama Ayu. Setelah selesai membaca nama - nama pada baris atas, Ayu segera menemukannya namanya di baris bawah. Senyum riang muncul dari bibirnya, dia melangkah dengan riang dan segera pulang.
Dua minggu kemudian, sekolah dimulai dan para siswa baru masih harus memakai seragam lama karena seragam di sekolah baru Ayu waktu itu pengerjaannya terlambat. Sebelum dia masuk ke sekolah ini ada beberapa anak laki - laki yang menjadi teman masa kecil Ayu, sayangnya mereka bersekolah di beberapa tempat yang berbeda. Hal terbaik yang Ayu harapkan adalah dia tidak di satu kelas yang sama denga teman masa kecilnya. Saat Ayu masuk ke kelas B sesuai pembagian kelas, seorang anak laki - laki tersenyum dari kejauhan.
"Sial." batin Ayu.
Anak itu melambaikan tangan dan menyapanya, " Hei."
Ayu sangat kesal karena dia harus satu kelas dengan Nandar, satu dari lima sahabat laki - lakinya.
"Aku tahu kita akan satu kelas." lanjut Nandar.
"Huft, aku bahkan sudah lelah di hari pertama masuk. Sana pergi dengan teman barumu." jawab Ayu.
Mereka berdua kemudian berpisah. Hari pertama masuk dikhususkan agar para siswa saling mengenal satu sama lain jadi tidak ada pelajaran hari itu. Setelah berkenalan, ada dua anak perempuan lain yang berkenalan dengan Ayu, mereka adalah Tiwi dan Kiki. Kedua anak itu tingginya hampir sama dengan Ayu, dan mereka adalah teman yang sempurna karena mereka berdua sama dengan Ayu yang tidak terlalu peduli dengan penampilan. Kebanyakan dari teman sekelas Ayu suka sekali berdandan dan tentu saja mereka sedang mempersiapkan diri untuk menggoda kakak kelas. Sedangkan Ayu, Tiwi dan Kiki yang tidak peduli dengan hal itu akan pergi menemui teman Tiwi di kelas lain. Saat pergi ke luar kelas Ayu tidak melihat ada orang di lorong dan dia bertabrakan dengan seorang laki - laki.
"Maaf." kata Ayu sambil menunduk.
Laki - laki itu tersenyum kemudian dia pergi bersama teman - temannya. Tiwi sangat terkejut melihatnya, " Ayo pergi." katanya sambil menarik tangan Ayu dan Kiki.
"Ada apa?" tanya Ayu.
"Aku ceritakan saat kita sudah jauh dari mereka." timpal Tiwi.
Setelah beberapa waktu akhirnya Tiwi menemukan tempat yang tenang. "Kita kesana saja." kata Tiwi sambil menunjuk bangku yang ada di belakang kelas.
Ayu dan Tiwi hanya menurut meski mereka juga tidak tahu kenapa tiba - tiba Tiwi seperti itu.
"Ayu, habis kamu." hardik Tiwi tiba - tiba.
"Hah? Kenapa?" jawab Ayu kebingungan.
"Laki - laki yang menabrakmu tadi adalah salah satu anak yang berpengaruh disini. Ayahnya adalah kepala sekolah di sekolah tetangga. Apapun yang dia lakukan dia tidak pernah mendapat hukuman, singkatnya tidak ada yang berani dengannya. Dia ada di kelas H, dan semua anak di kelas H pasti takut dengannya." jelas Tiwi.
"Kamu benar anak baru sama seperti kami?" tanya Ayu.
"Iyalah. Gila apa." jawab Tiwi ketus.
"Bagaimana bisa kamu punya informasi sebanyak itu di hari pertamamu sekolah?" timpal Kiki.
"Dia tetanggamu?" tanya Ayu.
"Nggak lah, aku nggak sudi punya tetangga seperti dia. Ada orang yang ku kenal, dia juga bersekolah disini. Kelasnya di samping kelas laki - laki tadi jadi dia memberiku banyak informasi. Jika bisa tidak berhubungan dengannya, lebih baik tidak." kata Tiwi.
"Dia tadi hanya bertabrakan, itu tidak sengaja." kata Kiki.
"Benar, aku pun juga tidak mengenal satu pun diantara mereka tadi." kata Ayu.
"Tapi dia tersenyum padamu. Semoga dia tidak mencari tau tentangmu." kata Tiwi.
Ayu dan Kiki merasa Tiwi sangat aneh.
Halaman kedua buku diari Ayu dimulai dengan, "Tiwi dan Kiki". Kami bertiga pergi keluar kelas bersama karena tidak sengaja dan tidak membentuk persahabat ini dengan paksa. Kami hanya punya keinginan sama kemudian begitulah kami bertiga akhirnya bersama. Tiwi adalah informan di antara kami. Singkatnya, dia tau segala hal yang tidak kami tahu, setiap pagi dia selalu membawa kabar untuk kami tentang kejadian terkini. Dia juga bisa mencarikan informasi tentang orang lain, mulai sisi baik sampai sisi buruknya. Kiki adalah pecinta K - Pop, dia tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Dia satu - satunya orang yang bisa memberikan penilaian tanpa memihak siapa pun, sederhananya dia adalah penengah. Meskipun kami bertiga berbeda, aku melihat hari - hari di sekolahku akan sangat berwarna. Ada satu lagi yang terjadi hari ini, entah ini pantas atau tidak aku tulis tapi aku belum bisa melupakannya. Laki - laki yang tidak sengaja aku tabrak tadi, siapakah dia? Apakah benar lebih baik tidak mengenalnya? Aku merasa dia bukan orang jahat, tatapan matanya tidak menunjukkan dia orang jahat. Aku rasa lebih baik aku tidak mengenalnya lebih jauh, rumor tentangnya sudah sangat buruk.
Jika hari - hari awalnya di sekolah sudah semenegangkan ini. bagaimana dia akan menghabiskan tiga tahun. Laki - laki yang tidak dia kenal tiba - tiba menghampirinya, lebih tepatnya tidak sengaja bertemu. Dua teman karibnya yang menyempurnakan hari Ayu paling tidak bisa menjadi jaminan pasti ada hal baik yang bisa dia rasakan ketika bersama mereka berdua. Belum lagi banyaknya tugas yang akan dia hadapi. Selain itu, belum ada jaminan Ayu hanya akan berurusan dengan laki - laki itu, bagaimana jika ada laki - laki lain yang muncul di hari - hari sekolahnya.
FINALEISANG tili at napakalakas na tawa ang nagpagising kay Maria. Paglingon niya sa orasan, alas singco pa lamang ng umaga. Kaagad bumangon si Maria at nakitang suot niya ang damit ni Victor. Napakagat labi siya dahil naalala niya ang nangyari."Damn, hindi ito panaginip."Mabilis na naglakad si Maria at nakita si Luciano na lumalangoy habang nakaantabay si Victor."Mama!""Good morning, Maria," nahihiyang bati ni Victor"Good morning, anak, Victor. Kumain na kayo? ang aga pa?""Yep, nagutom siya kaya I ordered food. Kumain ka na roon."Sumunod naman si Maria at dumiretso sa hapagkainan. Panay ang kagat niya sa mga labi habang pangiti-ngiti."Mabuti na rin maging marupok. Lalong sikat ka na, marami akong kaagaw," na pa-irap sa ere si Maria habang kinukuyakoy ang binti.Sumagi sa kanyang isipan ang kanilang ginawa kagabi. Ilang beses silang nabitin dahil sa pagbiling ni Luciano kaya tumitigil din sila. Mas lalong natawa si Maria habang kumakain ng burger."Anong tinatawanan mo?""Ay
CHAPTER 86HINDI makahinga ng maayos si Maria habang nakasakay sa loob ng sasakyan. Para bang nagig tuod ito at diretso lang ang paningin sa kalsada."Where are we going po?" "Ah, to my hotel. You can play there.""Talaga po Victor?""Uuwi rin tayo.""No, both of you will stay with me," mala-awtoridad niyang utos.Hindi umalma si Maria at hanggang sa pagbaba nila ng sasakyan, sumunod lamang siya kay Victor. Bitbit pa rin nito ang anak nila kaya natatakot siya sa mga sasabihin ni Victor."Sa pagdating nila sa loob ng kwarto. Nagtatalon si Luciano sa kama na napakalaki. Tuwang-tuwa ito dahil may pool sa loob ng kwarto."Patulugin mo siya after he takes a bath. Marami tayong kailangan pag-usapan.""O—okay."Sumunod naman si Maria at pinunasan si Luciano. Ang nag-iisang pares ng shorts at sando lamang ang pinangpalit ni Maria sa anak."Mama, sleep na po ba agad?""Oo kasi diba pagod ka. Bukas naman mag swim tayo sa pool."Nakikiramdam lamang si Victor sa pinag-uusapan ng mag-ina. Panay a
CHAPTER 85A few weeks ago, rinding-rindi na si Maria na marinig ng paulit-ulit mula sa kanyang mga estudyante ang patuloy na pag-uusap ng mga ito sa pagpunta ni Victor sa Pilipinas. Pilit na naman niyang isinasara ang puso't isipan dahil itinatak niya ang maling pagkakaintindi na kasal na si Victor.Napaisip si Maria at biglang nilapitan ang dalawang estudyante."Anong ending niyan?"Napanganga ang dalawang dalaga dahil nagulat sila sa paglapit ni Maria. Strikto kasi ito sa pagtuturo kaya nabigla silang maamo na parang tupa si Maria."Kinasal ba siya?"Kunot noo ang kanyang estudyante. "Naku, hindi ma'am. Single pa rin iyong bida. Hanggang doon lang kasi open ending. Nakakabitin nga po.""Oo nga eh! Kasi pagkahiwalay nila ni Marie, doon na nagsimula ang buhay niya sa ibang bansa pagkatapos nun, ang sabi sa ending. Nanatili siyang single kasi nga una't huling babae lang daw si Marie sa buhay niya."Para bang may paru-paru sa t'yan ni Maria nang marinig ang kwento ng kanyang estudyante
CHAPTER 84MAAGANG natanggap ng sekretarya ni Victor ang napakaraming email. Inuna nito ang importante hanggang sa mabasa ang email ni Maria. She immediately deleted it bukod sa hindi naman niya ito maintindihan."Steff, do I have a meeting today?""Ah, yes sir. The filipino coaches will wait for you at eight in the morning.""Okay."Bumalik si Victor sa kanyang lamesa at doon nakita ang isang wedding ring."You are just a design. Bakit ko ba binili ang wedding ring na ito kung wala naman akong syota?"Nagkamot ng sentido si Victor at tiningnan ang meeting niya. Until he saw the proposal and subject of the meeting."Book launch in the Philippines?" Napangiwi si Victor at sumandal. Nilalaro niya ang pluma habang nag-iisip kung tatanggapin niya ba ito."Do I need to visit my country? Okay— I will just just visit. Wala naman rason to stay there."Tumakbo ang oras hanggang sa sinimulan ang pagtitipon. Pinag-usapan ang book launching ng binata sa iba't ibang parte ng mall. Victor accepted






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ratings
reviewsMore