LOGINMemasuki sepuluh tahun pernikahan, Naina dan Asyraf belum juga mendapatkan karunia berupa buah hati. Dengan membesarkan hati ia menyetujui permintaan mertua. Memilihkan istri untuk suaminya sendiri. Mereka hanya manusia biasa memiliki perasaan cemburu, perasaan tak dianggap, juga perasaan tak adil
View More“มองไรของมึงวะโปรด”
เสียงทุ้มถามขึ้นเมื่อเห็นว่าเพื่อนสนิทกำลังมองสองสาวอยู่นานสองนานไม่วางตา มองเสียจนลืมไปแล้วกระมังว่าเขาก็ยืนอยู่ตรงนี้ ไอ้นิสัยมองหญิงจนลืมเพื่อนมันต้องเป็นเขามากกว่า ส่วนมันก็ต้องเป็นคนด่าคนปราม วันนี้ทำไมถึงสลับตำแหน่งกันเสียได้
“มองของสวย ๆ งาม ๆ” ทรงโปรดตอบกลับ ทว่าสายตายังคงจดจ้องใบหน้าหวานของหญิงสาวคนนั้นไม่เลิก
“แก๊งยายลูกคนรวยใจแตกนั่นอะนะ ทำไมวะ มึงสนใจเหรอ?” เตชินถาม ทรงโปรดละสายตาจากสาวสวยมามองหน้าเพื่อนสนิทแล้วกลอกตาพลางด่าในใจว่า..
‘ไอ้ห่า ไปเหยียดเขาว่าลูกคนรวยใจแตก มึงจนมากมั้ง! ไอ้ลูกคุณหญิงพราวพรรณ ไอ้สันเขื่อน! แล้วถ้าผู้หญิงพวกนั้นใจแตกก็ไม่รู้จะนิยามคนอย่างเตชินว่าอะไรแล้ว สำส่อนยังฟังดูดีไป’
แต่ก็นั่นแหละ ทรงโปรดได้แค่สบถด่าอยู่ในใจ เพราะหากพูดดังออกไปมีหวังได้ทะเลาะกับไอ้เตชิน จนเสียเวลาล่อสาวสวยตรงหน้าเป็นแน่
“มึงรู้จัก?” ทรงโปรดยิงคำถามที่มองว่าเป็นประโยชน์กับตัวเองมากกว่า เขารู้อยู่หรอกว่าเตชินกว้างขวาง แต่มันจะรู้จักผู้หญิงทุกคนทั้งประเทศเลยหรือไง
“หึ! รู้จักดีเลยละ” ชายหนุ่มเค้นเสียงหึในคอพลางมองไปยังหญิงสาวอีกคน
จะไม่รู้จักได้ยังไง ก็หนึ่งในนั้นดันเป็นยายตัวแสบที่ทำให้ตนชวดงานใหญ่ เตชินจำสาวสวยหน้าเฉี่ยวชุดสายเดี่ยวสีแดงได้ขึ้นใจ
“ทำไมไปพูดถึงผู้หญิงแบบนั้น” ทรงโปรดนึกตำหนิเพื่อน รู้อยู่ว่าเตชินปากไม่ค่อยดีเหมือนหน้าตา แต่พูดให้ผู้หญิงเสียหายก็ไม่ใช่สิ่งที่ควรทำ
“ก็เรื่องจริง มึงดูแต่ละคนแต่งตัว โดยเฉพาะยายชุดแดงนั่น คู่กัดกูเองแหละ แรดจะตายชัก” เตชินขบเขี้ยวเคี้ยวฟัน พลางลามไปดูถูกอีกหนึ่งสาวในกลุ่มเดียวกันที่ทรงโปรดกำลังสนใจอยู่ด้วยเช่นเดียวกัน พลางคิดในใจว่าหากคบกันได้นิสัยคงไม่ต่างกันมาก
เขามันเป็นคนแบบนี้แหละ หน้าตาดี แต่ปากดีกว่า ซึ่งคนสนิทมักจะชมว่าเขาเป็นหมอปากหมา ลองได้เกลียดขี้หน้าแล้วไม่ว่าจะสวยเอ็กซ์แตกน่าเอาแค่ไหนเขาก็ด่าได้ทั้งนั้น
คนอย่างเตชิน เตชะดำรงกุล ไม่เคยสนใจใครหน้าไหนอยู่แล้ว!
Bag. 24"Iya, Bude. Ada yang bisa Naina bantu?" Naina berusaha mengulas senyum terbaiknya. Lebih baik ia berpura-pura tak mendengar apapun. "Ehh ... nggak ada, Na. Ini sayur tumpang buatanmu ya?" Bude Ros menunjuk sepiring nasi yang disiram kuah sayur tumpang. "Iya, Bude. Ina yang masak sayur tumpangnya. Enak nggak menurut Bude?" Kali ini Bude Ros tak jutek seperti biasanya. Sehingga Naina merasa lebih santai untuk berbincang berdua.'Semoga Naina tak mendengar ucapanku tadi,' batin Bude Ros merutuki dirinya yang suka ceplas-ceplos. Meski memang lidahnya tajam dalam berbicara, wanita yang lebih tua tiga tahun dari ayah mertua Naina itu masih memiliki perasaan. Ia bukan tipe yang suka menyindir, apa yang tidak cocok langsung dikatakan tanpa memendamnya. Meski begitu segala ucapan yang keluar dari mulutnya tak melalui saringan terlebih dahulu, hingga kadang tanpa sadar menyakiti lawan bicara. "Ini uwenak lho, Na. Padahal aku sering beli sayur tumpang buat sarapan, tapi nggak ada yang
"Padahal baru dua bulan nikah, tapi alhamdulillah langsung isi.""Selamat ya, Firda. Jaga kandungannya!" Kali ini suara Bu Liyah membuat Naina menghentikan langkahnya ke ruang tamu. Deg!Kehamilan Firda membuat Naina semakin iri dan sakit hati. Perkataan Bude Ros yang memamerkan kehamilan Firda membuatnya ingin membanting nampan di tangannya keras-keras. Ia meletakkan nampan tersebut di meja. Menarik nafas dalam dan mengembuskannya. "Selamat juga buatmu, Liyah. Sebentar lagi mau nimang cucu.""Iya, Mbakyu. Kata bidan kalau hamil muda nggak boleh sering-sering perjalanan jauh, Mbakyu," tutur Bu Liyah mengingatkan."Itu juga kan tergantung kondisi yang hamil. Kalau Firda ini kan alhamdulillah kuat ibu sama janinnya. Lagian ke sini juga pakai mobil, jalannya juga pelan-pelan tadi. Pasti aman lah." "Iya, Mbakyu." Bu Liyah mengangguk. Naina menyusut air matanya yang tak sengaja keluar. Perkataan Bude Ros mencubit hatinya yang masih terluka. Sejenak ia menunggu hingga tak lagi ada percak
(POV Naina)Tiba-tiba mataku berhenti pada sesuatu yang begitu familiar di atas meja ruang tamu. Kusentuh barang itu dan segera menutup mulut."Ya Allah, itu artinya ...." gumamku pelan tak kuasa melanjutkan. Sebuah testpack bergaris dua berada dalam genggamanku. Mungkin Mbak Hanna ingin memberitahukan hal itu di sini, tapi kejadian mual di rumah kami membuat hal itu tertunda. Dari dalam kamar terdengar Mbak Hanna menjelaskan sesuatu dan Mas Asy memekik hamdalah usai penuturan itu selesai. Aku yang mendengar hal itu segera menghampiri kamar mereka. Mataku terbelalak melihat mereka yang sedang berpelukan penuh haru. Mbak Hanna segera mengurai pelukan mereka. Mereka segera terdiam memandang mimik wajahku, kupaksakan untuk tersenyum tipis. "Mas, Mbak Hanna hamil, ya?" tanyaku berdebar-debar. Ia pun mengangguk pelan. Perasaanku hancur. Aku tidak tahu harus sedih atau bahagia atas kabar janin yang sudah tumbuh di rahim Mbak Hanna, karena sebenarnya aku sendiri pun juga telah menanti
(POV Naina)"Dek Na, Mas pengen sarapan menu yang ... apa ya namanya, yang jadi andalan di rumahmu dulu itu loh, boleh?" bisik Mas Asyraf yang tiba-tiba memelukku dari belakang. Kedua tangannya melingkar rapat di perutku. Lalu kepalanya dibenamkan di cerukku, deru nafasnya membuatku geli. Namun, aku menikmati momen ini. Entah mengapa aku selalu menikmati baik-baik kebersamaan kita, mungkin saja karena aku bukan lagi menjadi satu-satunya. "Menu apa to, Mas? Sayur rebung?" jawabku menebak. Seingatku menu andalan di rumah kami ya memang rebung. Entah di lodeh atau di tumis, kadang juga dibuat isian tahu isi. Karena memang banyak sekali pohon bambu di belakang rumah. "Bukan, Sayang, yang ada tahu gorengnya besar-besar itu loh, di sayurnya. Sudah lama banget nggak masak itu di rumah ini." Mas Asyraf menegakkan kepalanya dan memandangku dari cermin. "Ahh, Mas ingat, yang pakai tempe busuk itu loh." Aku mengernyitkan dahi. Aku tahu betul menu yang dimaksud Mas Asy. Sambel tumpang. Itu mem
Naina menatap jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh. Tangannya memainkan ponselnya, membuka pesan sang ibu mertua. Matanya terbelalak dengan salah satu foto yang dikirmkan ibu mertuanya.“Beliau kenal darimana ya?” lirihnya bermonolog. Ke
“Liyah, kamu sudah ngobrol sama menantumu itu masalah poligami?” tanya Bu Ros, kakak ipar Bu Liyah. Bu Ros adalah saudara kandung Pak Rahman, suaminya. “Sudah, Mbakyu, Ina setuju. Sekarang tinggal menunggu keputusan Asyraf, Naina sudah membujuknya,” terang Bu Liyah sembari menjerang air untuk menye
Part 3Dini hari usai salat subuh. Naina membuka jendela di kamarnya, membuat udara dingin menyeruak masuk. Satu dua bintang terlihat mengerlip, menandakan langit tak mendung pagi ini. Cahaya jingga belum terlihat di ufuk timur. Tanah masih basah akibat hujan semalam.Jendela ka
"Maaf kalau Asyraf tidak sopan masuk ke sini, tapi-,” ucapan Asyraf terpotong.“Nanti Ina jelaskan, Mas,” sela Naina cepat. Jantung Naina berdetak tak beraturan. Ia memikirkan cara untuk membicarakan ini dengan kepala dingin. Ia tak mau jika ada pertengkaran.“Bapak, Ibu, Ina pamit ke kamar dulu ya.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.