Share

Bab 185—Keras Kepala

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-10-16 22:53:16

Mendengar tuduhan itu, Malik mendongak menatap Aris dengan pandangan heran. Siapa yang Aris maksud? batinnya bertanya-tanya.

"Apa yang sedang kamu bicarakan, Ris? Dan soal siapa?" tanya Malik seraya menegakkan posisi duduknya.

Aris menyesap kembali rokok di tangannya yang kini tersisa separuh, lalu menghembuskan asapnya ke udara.

"Soal mertuaku!" jawab Aris tegas.

"Pak Arya?"

Aris mengangguk cepat.

"Aku tidak melakukan apa-apa, Ris," balas Malik jujur.

"Lalu kenapa dia tadu memanggilmu dan mem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ayuwine
Maaf ya teman-teman,judulnyaa sekarang di ganti yang awalnya malam gila di ranjang istri sahabat menjadi hari-hari memanjakan istri sahabat,terus ikuti perjalanan malik yaa love you all:*
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hari-hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 185—Keras Kepala

    Mendengar tuduhan itu, Malik mendongak menatap Aris dengan pandangan heran. Siapa yang Aris maksud? batinnya bertanya-tanya."Apa yang sedang kamu bicarakan, Ris? Dan soal siapa?" tanya Malik seraya menegakkan posisi duduknya.Aris menyesap kembali rokok di tangannya yang kini tersisa separuh, lalu menghembuskan asapnya ke udara."Soal mertuaku!" jawab Aris tegas."Pak Arya?"Aris mengangguk cepat."Aku tidak melakukan apa-apa, Ris," balas Malik jujur."Lalu kenapa dia tadu memanggilmu dan memujimu di depanku?! Kenapa kamu gak ngasih tau aku sebelumnya kalau beliau mau datang?!" desak Aris merasa sangat kesal."Aku gak tahu, Ris, kalau beliau akan datang... apalagi memanggilku ke ruangannya," jelas Malik dengan kening berkerut. Ia heran melihat sikap Aris yang terkesan kekanak-kanakan.Sahabatnya itu terlihat sama sekali tak ingin Malik berada di atasnya—jangankan di atasnya, berada sejajar dengannya saja sepertinya Aris tidak sudi."Apa yang beliau katakan padamu, Lik?! Aneh banget

  • Hari-hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 184—Uang Merubah Segalanya

    "Rasanya tidak sopan, Ris, kalau aku memuaskan Mbak Sheila saat kalian sedang merayakan anniversary. Kenapa tidak kamu saja? Oh, astaga! Maaf, Ris... Aku lupa, kamu kan tidak mampu, ya? Bagaimana dengan penyakitmu itu, Ris? Apa sudah ada perkembangan? Bagaimanapun, Mbak Sheila pasti akan lebih senang jika bersama denganmu—suami sahnya—bukan bersama sahabat suaminya, kan?"Sheila terbelalak menatap keberanian Malik saat menyuarakan kalimat itu. Ia bahkan sempat menatap sebatang rokok yang masih berada di tangan Malik dengan asap tipis yang membumbung.Dahinya berkerut dalam. Apa rokok itu mengandung alkohol? Rasanya tidak mungkin Malik berani membalas perkataan Aris sesadis itu tanpa bantuan alkohol... gumamnya dalam hati, masih belum percaya dengan tindakan nekat pria itu.Mendengar sindiran menohok itu, mata Aris melotot tajam."Sudahlah, Ris... Ini hari bahagia kalian. Jangan libatkan aku dulu di sesi-sesi kebahagiaan kalian," lanjut Malik santai, seolah tak memberi ruang bagi Aris

  • Hari-hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 183—Kepanikan Sheila

    Malik langsung membuka matanya. Ia tersentak hingga tanpa sengaja asap rokok yang diisapnya terhirup salah jalur ke dalam tenggorokan.Mata Malik seketika terbelalak. Ia memekik tersedak asap pekat itu. Tenggorokannya terasa seperti ditusuk-tusuk dan perih bukan main. Malik batuk hebat hingga wajahnya memerah padam dan matanya berair menahan sakit.Sheila yang menyadari hal itu langsung berlari menghampirinya, merasa bersalah karena telah mengejutkan pria itu.Malik kini terduduk lemas di atas lantai, sementara Sheila berlutut tepat di hadapannya."Astaga, Malik!" pekik Sheila panik.Ia langsung menyambar gelas berisi air putih di atas meja dan menyodorkannya pada Malik. Tanpa bantahan, Malik dengan cepat meneguknya hingga tandas. Rasa terbakar itu begitu menyiksa sampai segelas air terasa tidak cukup. Sheila bergegas mengambilkan segelas lagi.Selama Malik minum, tatapan Sheila memancarkan rasa cemas yang amat sangat. Bahkan bulir air mata menetes di pipinya. Satu tangannya mengelus

  • Hari-hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 182—Perasaan Apa Ini?

    Tak terasa waktu sudah menunjukkan malam hari. Setelah mengantar Sheila tadi, Malik langsung masuk ke dalam rumahnya untuk membersihkan diri serta merapikan kamar dan ruangan lainnya.Setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Malik baru teringat jika tadi siang Aris menyuruhnya untuk datang menemui pria itu.Dengan cepat Malik melangkah keluar. Sebelum masuk ke pekarangan rumah Aris, Malik menyapa dua orang satpam yang sedang asyik bermain catur. Kedua satpam itu bahkan sempat mengajak Malik bergabung, namun Malik menolak secara halus dengan alasan ada urusan dengan bos mereka.Malik melangkah masuk ke dalam rumah Aris dan Sheila seperti biasanya. Namun tepat saat ia berjalan melewati area tengah, langkahnya tertegun kaku. Kedua pasutri itu ternyata sedang makan malam bersama di ruang makan—sebuah pemandangan yang baru pertama kali Malik lihat secara langsung.Harusnya Malik senang, bukan? Melihat kedekatan pasangan suami istri ini? Namun, justru sebaliknya; dada Mali

  • Hari-hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 181—Pipi Yang Selalu Merona

    Dengan cepat Malik bangkit. Suasana di dalam kafe itu menjadi semakin riuh."Apa?! Memang iya, kan?! Kamu menggoda mantan suami saya! Kenapa sih dia harus bekerja sama kamu?! Awas aja, kalau kamu semakin berani, aku adukan hal ini pada suamimu dan aku viralkan!" ancam Maya seraya menunjuk-nunjuk wajah Sheila dengan penuh kebencian.Teman-teman Sheila ikut bangkit, menatap heran pada Maya dan Sheila secara bergantian."Siapa dia, Sheila? Dan apa yang sebenarnya kalian bicarakan?" sela salah seorang teman Sheila dengan raut bingung.Tubuh Sheila menegang kaku. Ia benar-benar dibuat malu oleh kelakuan perempuan yang bahkan tak ia kenal dan tak mau ia kenal itu."Orang gila dia!" balas Sheila, matanya mendelik tajam ke arah Maya."Kurang ajar kamu, heh!"Tangan Maya sudah mencengkeram pergelangan tangan Sheila dengan sangat kuat. Tanpa aba-aba, tangan Maya melayang ke atas udara. Sheila yang melihat itu tak sempat menghindar; mau tak mau ia menutup mata rapat-rapat, bersiap menerima tampa

  • Hari-hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 180—Keributan

    Mendengar pertanyaan yang semakin membuatnya bingung itu, Malik tak bisa menyembunyikan raut keheranannya."Nama kakek saya?" tanya Malik mengulang perkataan arya.Arya mengangguk tegas."Maaf, Pak... Saya juga tidak tahu.""Tidak tahu? Kenapa?" Arya menatap kaget. Jari-jarinya diketuk-ketuk pada meja, berusaha mencari kebohongan dari ekspresi wajah Malik. Namun, Arya tak menemukan dusta di tatapan itu."Bagaimana bisa?" tanya Arya lagi."Kedua orang tua saya selalu mengatakan jika saya tak punya kakek atau nenek, baik dari pihak ibu maupun ayah. Dan mereka tak pernah memberitahu tentang keduanya," jelas Malik apa adanya.Mendengar penjelasan itu, Arya tampak benar-benar gusar.Malik masih diam. Ia benar-benar tak paham dengan sosok pria di hadapannya ini—bagaimana bisa ada orang yang ingin tahu secara terperinci latar belakang dirinya?"Tapi... mata kamu dan seluruh raut wajahmu sangat mirip dengan seseorang," ucap Arya seraya kembali menelisik wajah Malik dengan saksama."Siapa, Pak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status