LOGIN"Siapa, Sayang?" Tiba-tiba, saat Malik baru saja ingin mengatakan sesuatu, suara Aris samar-samar terdengar dari seberang telepon.
"Ini, Mas. Kayaknya temanmu menelepon." "Malik?" "Halo, Lik? Ada apa?" Tiba-tiba suara Aris kembali terdengar nyaring. Karena tak ada jalan lain, Malik akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan seluruh kemalangan yang baru saja menimpanya. Mendengar penuturan sahabatnya, Aris tanpa ragu langsung menyuruh Malik untuk tinggal di kediamannya untuk sementara waktu. Tentu saja Malik menolak keras. Ia hanya ingin meminjam sedikit uang untuk membayar DP kontrakan baru sampai hari gajian tiba. Namun, Aris memang punya watak keras kepala sejak dulu—selalu ingin didengar dan dituruti. Malik bahkan kesulitan meyakinkan Aris bahwa uang itu pasti akan ia kembalikan tiga hari lagi. "Aku bukannya gak percaya, Lik. Kita ini sahabat. Aku tahu kamu, dan kamu tahu jelas aku seperti apa. Udahlah, sementara tinggal aja di sini," ucap Aris terus membujuknya. "Tapi, Ris..." Tut... tut… Panggilan terputus secara sepihak. Sebelum Malik sempat mencerna apa yang terjadi, tak berselang lama sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di hadapannya. Kaca mobil itu perlahan turun, menampakkan sosok Aris di kursi pengemudi. "Masuk, Lik," titah Aris. "Aku cuma menginap tiga hari saja ya, Ris. Setelah gajian, aku—" "Gampang itu, Lik!" Lagi-lagi Aris memotong perkataan Malik tanpa memberi ruang untuk membantah. Sesampainya di kediaman Aris. Sheila menatap heran saat melihat suaminya membawa pria yang kemarin ia tabrak. Wanita itu langsung bangkit dari kursinya, melangkah mendekat ke arah kedua pria tersebut. Semalam Sheila memang sempat menceritakan kejadian itu. Dari ciri-ciri yang dijelaskan Sheila, Aris langsung menebak bahwa pria itu adalah Malik—karena hanya Malik satu-satunya teman yang mengendarai motor butut seperti yang diuraikan istrinya. "Apa ada kerusakan yang parah, ya, Mas?" tanya Sheila tanpa basa-basi. "Bukan, Sayang. Malik bakal menginap beberapa hari di sini. Dia baru aja diusir dari kontrakan—" "Apa? Menginap?" potong Sheila kaget. "Iya, Sheila, cuma beberapa hari aja. Dan setelah ini kita harus bicara penting!" sela Aris tegas, seolah enggan mendengar bantahan dari sang istri. Sheila tidak menjawab ataupun melawan. Ia hanya menatap datar, lalu mengalihkan pandangannya pada Malik sebelum akhirnya berlalu pergi begitu saja. "Ris, kayaknya aku gak ja—" "Gak apa-apa, Lik. Istriku memang gitu orangnya, aman aja, santai. Aslinya dia gak sejutek itu kok," pangkas Aris cepat, terus memotong perkataan Malik. Malik tak bisa menolak. Tak lama kemudian, keduanya sudah duduk bersama di taman belakang. "Lik, aku gak mau berbasa-basi lagi. Menurutmu bagaimana istriku? Apa kamu tertarik padanya, ingin mencicipi tubuhnya?" Betapa terkejutnya Malik saat mendengar apa yang Aris katakan. Ia tercekat. Bahkan kopi yang baru saja disuguhkan asisten rumah tangga hampir membuatnya tersedak saat ingin ia teguk. "Jangan bercanda lagi, Ris, itu gak lucu!" elak Malik dengan gugup. "Jangan mengelak, Lik, lihat milikmu bahkan langsung bangun! Itu artinya kamu terangsang dengan istriku. Jangan sungkan, aku bahkan sudah memintamu untuk memuaskan istriku, jika mau malam nanti kamu bisa memakainya!" sela Aris dengan tatapan begitu yakin ke arah sahabatnya. "Ris, jangan terus bercanda, mana mungkin aku..." "Mungkin saja, Lik, aku bahkan mengizinkannya!" Lagi-lagi Aris menyela dengan nada tak sabar. "Ini permintaan terakhirku, Lik, sebelum sisa hidupku habis dimakan penyakitku!" "Duh Ris, bukannya apa-apa ya, tapi aku rasa itu bukan jalan keluarnya deh. Mana mungkin aku bisa... ah sudahlah Ris, jangan aneh-aneh," jawab Malik masih merasa tak habis pikir. "Kamu benar tak mau bantu aku, Lik? Setelah semua kebaikan yang udah aku berikan padamu? Niatku gak aneh kok, Lik, itu hanya untuk memberi kepuasan saja pada istriku. Jadi jika aku nanti meninggalkan kalian, aku sudah merasa tenang." Perkataan itulah yang semakin membuat Malik merasa semakin tercekat. "Apa maksudmu Mas?" Suara yang terdengar tercekat itu sontak membuat keduanya menoleh. Ternyata, tanpa mereka sadari, Sheila yang semula berniat memberikan beberapa berkas untuk ditandatangani suaminya telah berdiri di sana. Entah sejak kapan, perempuan itu rupanya mendengar percakapan mereka. "Sheila?!" Aris dan Malik spontan berdiri bersamaan. Wajah malik seketika berubah tegang.Serangan itu langsung menyerbu Malik dan Leo. Keempatnya bergerak bersamaan. Bahkan pria yang baru saja dilempar oleh Leo kembali bangkit untuk membalas dendam. Peta pertempuran terbagi: tiga orang mengeroyok Malik, dan satu orang menghadapi Leo.Tendangan demi tendangan melayang mengincar Malik. Namun, Malik yang memang memiliki dasar bela diri mumpuni tak begitu kesusahan. Pria itu terus menangkis, memukul, dan menendang. Meski begitu, ketiganya jelas bukan lawan sembarangan—mereka mengerti teknik bertarung.Sambil menangkis serangan, Malik menyeringai. Pukulan kerasnya mendarat tepat di wajah salah satu lawan. Dalam hitungan detik, iris matanya menangkap pergerakan lawan lain yang mencoba menghantamnya dari belakang. Malik langsung memutar tubuh dan melayangkan tendangan memutar yang mengenai dada pria tersebut.BUGH! BUGH!Kedua pria itu tersungkur ke tanah. Satu pria berkumis tebal yang berdiri tak jauh dari sana tergagap melihat kelincahan dan dominasi Malik.Namun, pertempuran
Setelah mendapat panggilan telepon dari Leo, Malik langsung berbalik arah hendak pergi. Namun, langkahnya ditahan oleh Nunu. "Pak Malik mau kemana? Sotonya belum habis," ucap Nunu, merasaka kecewa karena soto spesial buatannya baru tersentuh sedikit. "Aduh, Mbak Nunu, maaf banget saya ada urusan penting," balas Malik sambil merogoh saku celananya dan menyerahkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah. "Maaf sekali lagi, ya, Mbak Nunu." Setelah menyerahkan uang tersebut, Malik bergegas pergi menjauh dengan tergesa-gesa. Ia sempat tertegun saat melihat jalanan masih macet akibat jam pulang para pekerja. Malik mendesah panjang. Di seberang lokasi proyek, ia melihat salah satu pekerjanya—seorang pemuda yang mengendarai moge—masih nongkrong. Malik langsung mendekatinya dengan langkah tegap dan terburu-buru, membuat pemuda itu seketika menegang khawatir jika dirinya telah melakukan kesalahan hingga didatangi oleh pria tegap tersebut. "Arul, kamu masih mau diam di sini?" tanya Malik.
"Aku benci sama kelakuan si Juki. Kurang ajar memang anak itu. Makanya, kemarin sepulang kerja, aku melabrak rumahnya berniat untuk menghajarnya lagi. Tapi, begitu sampai di gang rumahnya, aku melihat dia sedang berbicara dengan seseorang. Luka pria asing itu memang sudah mengering, tetapi bengkak dan lebam di wajahnya masih terlihat jelas. Dari kondisinya saja sudah kelihatan kalau orang yang menghajarnya benar-benar beringas," jelas Leo sambil bergidik ngeri.Tiba-tiba, ingatannya kembali pada kejadian ketika Malik menghajarnya sampai demam.Mendengar itu, Malik hanya mengangguk."Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Leo pada Malik, memandanginya penuh rasa penasaran."Aku harus bagaimana? Tapi melihat kelakuannya, aku enggak bisa diam. Juki benar-benar membuatku penasaran, apa alasan dan motifnya?""Mungkin ingin menjatuhkanmu," balas Leo menebak."Bahkan aku belum hebat, apalagi kaya," balas Malik santai. Tatapannya masih tertuju pada layar ponsel yang digenggamnya hingga redup dan
Pria itu tidak menjawab. Ia justru makin mengeratkan pelukannya pada pinggang Sheila, bahkan memindahkan kepalanya ke ceruk leher Sheila. Hal itu membuat perempuan itu makin membeku, merasakan perasaan aneh yang pelan-pelan mengelilingi jiwanya. "Ehhmm... Lik?" panggil Sheila. Suaranya terdengar gugup merasakan sapuan napas hangat di lehernya—apalagi keduanya masih telanjang bulat. Namun dengan gerakan tangan kekarnya, Malik menyambar selimut dan menutup tubuh mereka berdua sebatas leher. "Biarkan begini dulu, Mbak, aku mohon. Setelah ini Mbak bebas memakiku, bahkan jika ingin menendangku sekalipun, aku tidak akan marah. Aku akan menerimanya. Tapi untuk malam ini, biarkan seperti ini... Setidaknya untuk beberapa jam saja, sampai kamu tertidur terlelap," ucapnya panjang lebar. Suaranya terdengar serak dan sedikit bergema karena bibirnya masih bersandar di ceruk leher Sheila. Mendengar penjelasan panjang itu, Sheila terdiam makin kaku. Namun, ada perasaan hangat dan aneh yang menyu
Malik maupun Sheila melengguh panjang. Tubuh Malik yang lelah serta pikirannya yang dipenuhi beban seolah benar-benar membutuhkan pelepasan yang hebat malam ini.Tanpa membuang waktu, Malik membalikkan tubuh Sheila kembali terlentang. Ia menunduk, mendaratkan ciuman-ciuman panas di setiap inci kulit mulus Sheila. Perempuan itu melengkungkan tubuhnya, merinding merasakan sentuhan, hisapan, dan jilatan halus yang membakar dari bibir Malik."Engghh... Malik..." erang Sheila pasrah. Tangannya terangkat menjambak pelan rambut tebal Malik saat bibir pria itu merayap makin turun, menyusuri paha dalamnya dengan lembut penuh perasaan.Malik seolah meluapkan seluruh rasa lelah dan beban pikiran yang menghantamnya selama beberapa hari terakhir ke dalam setiap sentuhannya. Ia mulai menjulurkan lidahnya, memanjakan pusat keintiman Sheila yang sudah membasah.Sheila mengerang makin keras dalam kenikmatan yang membubung tinggi. Tubuhnya terangkat ke atas, paha mulusnya menjepit kepala Malik yang ber
Mendengar itu, Malik tanpa banyak bicara langsung melepaskan pakaian atasnya di hadapan Sheila. Seketika, Sheila terperangah. Pandangannya tanpa sadar tertuju pada tubuh tegap Malik, dengan garis-garis otot di dada dan perut yang kini terlihat jelas. Untuk sesaat, ia bahkan lupa harus berkata apa. Perempuan itu seolah tak bisa lagi menahan diri. Apalagi setelah panggilan video tempo hari, Sheila terus merasa gelisah dan membayangkan tubuh kekar yang selalu menindihnya dengan kehangatan yang membakar. Malik terdiam membeku, menatap wajah sayu Sheila yang seolah benar-benar terpikat oleh pesonanya. "Mbak..." panggil Malik gugup. Namun tiba-tiba, tangan halus Sheila terangkat. Jari-jari lentiknya mengelus lembut deretan otot perut Malik yang keras bahkan di sana masih ada sisa-sisa jejak lebam, membuat pria itu memekik dan menahan napas seketika. Sentuhan hangat itu merambat cepat, memicu getaran liar yang membuat Malik memejamkan mata rapat-rapat. Otot-otot tubuhnya makin men







