Share

Bab 4 - Menguping?

Penulis: Ayuwine
last update Tanggal publikasi: 2026-08-12 00:40:04

​"Siapa, Sayang?" Tiba-tiba, saat Malik baru saja ingin mengatakan sesuatu, suara Aris samar-samar terdengar dari seberang telepon.

​"Ini, Mas. Kayaknya temanmu menelepon."

​"Malik?"

​"Halo, Lik? Ada apa?" Tiba-tiba suara Aris kembali terdengar nyaring.

​Karena tak ada jalan lain, Malik akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan seluruh kemalangan yang baru saja menimpanya.

​Mendengar penuturan sahabatnya, Aris tanpa ragu langsung menyuruh Malik untuk tinggal di kediamannya untuk sementara waktu.

​Tentu saja Malik menolak keras. Ia hanya ingin meminjam sedikit uang untuk membayar DP kontrakan baru sampai hari gajian tiba.

Namun, Aris memang punya watak keras kepala sejak dulu—selalu ingin didengar dan dituruti. Malik bahkan kesulitan meyakinkan Aris bahwa uang itu pasti akan ia kembalikan tiga hari lagi.

​"Aku bukannya gak percaya, Lik. Kita ini sahabat. Aku tahu kamu, dan kamu tahu jelas aku seperti apa. Udahlah, sementara tinggal aja di sini," ucap Aris terus membujuknya.

​"Tapi, Ris..."

​Tut... tut…

​Panggilan terputus secara sepihak. Sebelum Malik sempat mencerna apa yang terjadi, tak berselang lama sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di hadapannya. Kaca mobil itu perlahan turun, menampakkan sosok Aris di kursi pengemudi.

​"Masuk, Lik," titah Aris.

​"Aku cuma menginap tiga hari saja ya, Ris. Setelah gajian, aku—"

​"Gampang itu, Lik!" Lagi-lagi Aris memotong perkataan Malik tanpa memberi ruang untuk membantah.

​Sesampainya di kediaman Aris. Sheila menatap heran saat melihat suaminya membawa pria yang kemarin ia tabrak. Wanita itu langsung bangkit dari kursinya, melangkah mendekat ke arah kedua pria tersebut.

​Semalam Sheila memang sempat menceritakan kejadian itu. Dari ciri-ciri yang dijelaskan Sheila, Aris langsung menebak bahwa pria itu adalah Malik—karena hanya Malik satu-satunya teman yang mengendarai motor butut seperti yang diuraikan istrinya.

​"Apa ada kerusakan yang parah, ya, Mas?" tanya Sheila tanpa basa-basi.

​"Bukan, Sayang. Malik bakal menginap beberapa hari di sini. Dia baru aja diusir dari kontrakan—"

​"Apa? Menginap?" potong Sheila kaget.

​"Iya, Sheila, cuma beberapa hari aja. Dan setelah ini kita harus bicara penting!" sela Aris tegas, seolah enggan mendengar bantahan dari sang istri.

​Sheila tidak menjawab ataupun melawan. Ia hanya menatap datar, lalu mengalihkan pandangannya pada Malik sebelum akhirnya berlalu pergi begitu saja.

​"Ris, kayaknya aku gak ja—"

​"Gak apa-apa, Lik. Istriku memang gitu orangnya, aman aja, santai. Aslinya dia gak sejutek itu kok," pangkas Aris cepat, terus memotong perkataan Malik.

Malik tak bisa menolak. Tak lama kemudian, keduanya sudah duduk bersama di taman belakang.

"Lik, aku gak mau berbasa-basi lagi. Menurutmu bagaimana istriku? Apa kamu tertarik padanya, ingin mencicipi tubuhnya?"

​Betapa terkejutnya Malik saat mendengar apa yang Aris katakan.

​Ia tercekat. Bahkan kopi yang baru saja disuguhkan asisten rumah tangga hampir membuatnya tersedak saat ingin ia teguk.

​"Jangan bercanda lagi, Ris, itu gak lucu!" elak Malik dengan gugup.

​"Jangan mengelak, Lik, lihat milikmu bahkan langsung bangun! Itu artinya kamu terangsang dengan istriku. Jangan sungkan, aku bahkan sudah memintamu untuk memuaskan istriku, jika mau malam nanti kamu bisa memakainya!" sela Aris dengan tatapan begitu yakin ke arah sahabatnya.

​"Ris, jangan terus bercanda, mana mungkin aku..."

​"Mungkin saja, Lik, aku bahkan mengizinkannya!" Lagi-lagi Aris menyela dengan nada tak sabar.

​"Ini permintaan terakhirku, Lik, sebelum sisa hidupku habis dimakan penyakitku!"

​"Duh Ris, bukannya apa-apa ya, tapi aku rasa itu bukan jalan keluarnya deh. Mana mungkin aku bisa... ah sudahlah Ris, jangan aneh-aneh," jawab Malik masih merasa tak habis pikir.

​"Kamu benar tak mau bantu aku, Lik? Setelah semua kebaikan yang udah aku berikan padamu? Niatku gak aneh kok, Lik, itu hanya untuk memberi kepuasan saja pada istriku. Jadi jika aku nanti meninggalkan kalian, aku sudah merasa tenang."

​Perkataan itulah yang semakin membuat Malik merasa semakin tercekat.

"Apa maksudmu Mas?"

Suara yang terdengar tercekat itu sontak membuat keduanya menoleh. Ternyata, tanpa mereka sadari, Sheila yang semula berniat memberikan beberapa berkas untuk ditandatangani suaminya telah berdiri di sana. Entah sejak kapan, perempuan itu rupanya mendengar percakapan mereka.

"Sheila?!"

Aris dan Malik spontan berdiri bersamaan. Wajah malik seketika berubah tegang.​

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 9 - "Bagaimana rasanya?"

    "Lik, bagaimana?" tanya Aris tanpa basa-basi. Namun, saat mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, ia mengerutkan dahi. "Di mana istriku, Lik?" tanyanya lagi. Rupanya, sesaat terdengar kunci diputar dari luar, Sheila dengan cepat berlari ke kamar mandi untuk menyembunyikan dirinya yang masih rapi. Begitu juga dengan Malik yang sengaja menyemprotkan parfum milik Sheila ke tubuhnya. "Dia ke kamar mandi, Ris," balas Malik begitu lancar, seolah mereka benar-benar baru saja melakukannya. Wajah Aris terlihat begitu sumringah. Ia langsung merangsak masuk ke dalam kamar. Apalagi saat mencium aroma tubuh istrinya menempel di tubuh Malik, Aris makin yakin jika keduanya telah berbagi keringat. Aris mengangguk senang. "Bagaimana menurutmu, Lik? Rasanya... apa kamu atau dia puas?" Pertanyaan gamblang itu tak pelak membuat Malik risih. "Jangan sungkan, Lik. Kamu pasti puas, kan? Apalagi kamu sudah lama tidak mendapat sentuhan atau belaian seorang perempuan!" Aris kembali mengoc

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 8 - Ada yang janggal

    Namun, setelah mengatakan hal demikian, napas Sheila tiba-tiba memburu. Dengan gerakan cepat tapi lemas, perempuan itu mendudukkan diri di atas meja rias dengan bahu merosot. Malik mengerutkan dahi, merasa ada yang janggal dengan sikap perempuan di hadapannya itu. "Mbak, apa kamu baik-baik saja?" tanya Malik. Namun, ia tetap menjaga jarak, tak berani mendekat. Sheila mendesah. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangan merengkuh di atas meja rias. "Tidak, ini belum saatnya!" ucap Sheila. Ia kembali berdiri, menatap Malik dengan pandangan rapuh yang tak pernah ia perlihatkan pada Aris sekalipun. "Sepertinya ada masalah? Mbak duduk dulu, tenangkan diri. Aku akan mengambilkan minum," balas Malik. Ia berjalan ke arah meja di sebelah ranjang. Malik menuangkan segelas air putih, lalu dengan ragu-ragu menyerahkan gelas itu. Sheila menerima gelas tersebut, lalu mendudukkan bokongnya di atas ranjang yang super empuk. Hening. Selama beberapa menit, suasana begitu senyap. Keheni

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 7 - Malam ini?

    Malik membalikkan badan, menatap Sheila dengan raut bingung. Apalagi yang harus dikatakan? Bukannya semuanya sudah jelas? batinnya bertanya-tanya. Malik mengangguk tegas. "Katakan, Mbak, ada apa?" Sheila masih terdiam, namun tanpa Malik sadari, kedua tangan perempuan itu terkepal kuat sejak tadi. "Apa Mbak baik-baik saja?" tanya Malik lagi. Kali ini ia melangkah satu pijakan, mencoba mendekati Sheila. Namun, perempuan itu langsung mundur menjauh, membuat Malik tertegun. ‘Kenapa dengan perempuan ini? Tadi dia memaksaku, tapi sekarang seolah tak sudi?’ "Begini..." ucap Sheila. Suaranya terdengar gugup, tetapi aura ketegasannya masih mendominasi. Malik mengangguk pelan, setia menunggu apa yang akan Sheila katakan padanya. "Aku... emm, soal yang tadi..." "Nyonya..." Tiba-tiba teriakan nyaring dari arah belakang menyela perkataan Sheila. Rupanya itu asisten rumah tangga yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Keduanya spontan menoleh ke arah asisten tersebut.

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 6 - Desakan Suami istri

    Atmosfer di taman belakang itu seketika membeku. Tak ada satu pun dari kedua pria itu yang mengira jika Sheila tak sekadar menerima permintaan gila ini—ia bahkan balik memegang kendali dan menantang keinginan suaminya dengan taruhan yang jauh lebih besar. "Sayang?" Aris tercekat. Ia melepaskan genggamannya pada kedua bahu Sheila. Sheila tersenyum dan bahkan mengangguk yakin. "Kamu benar, Mas. Aku memang butuh dipuaskan. Aku menerima tawaran itu..." "Tunggu, tunggu..." sela Malik, merasa terhimpit dengan kedua pasangan suami istri itu. "Kalian ngomong apa? Bahkan aku belum mengatakan apa pun pada kalian," ucapnya dengan menatap keduanya bergantian. "Apa uang seratus juta itu masih kurang? Bahkan kamu bisa sambil tinggal beberapa hari di sini sebelum kamu mencari kontrakan yang layak!" Kali ini Sheila maju mendekat pada Malik sambil mengatakan perkataan tersebut. Aris semakin melongo dengan perlakuan Sheila yang begitu frontal itu. Di luar dugaan, istrinya justru balik mem

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 5 - Seratus Juta?

    ​"Kamu menyuruh orang lain untuk memuaskanku, Mas? Yang benar saja!" Sheila melangkah cepat menghampiri suaminya. Wajahnya merah padam, meluapkan protes keras atas ucapan Aris yang dengan gampangnya menawarkan dirinya pada pria asing bagi dirinya. Tidak peduli ada Malik di sana. ​"Ini demi kebaikan kita, Sheila! Kamu tidak pernah puas dengan permainanku. Setidaknya sekali dalam seumur hidupmu, kamu harus merasakan kepuasan yang sebenarnya!" balas Aris lancar, tanpa ada keraguan sedikit pun saat melontarkan kalimat gila itu. ​Sheila menelan ludahnya dengan kasar. Tenggorokannya mendadak terasa amat kering. ​Memang benar... batin Sheila mengakui. Jauh di dalam hatinya, ia harus jujur bahwa ia sudah terlalu muak setiap kali Aris mengundangnya ke ranjang. Permainan suaminya selalu monoton, singkat, dan teramat membosankan. Tidak pernah ada letupan gairah yang bisa memuaskannya. ​Secara refleks, netra Sheila bergulir menatap Malik. Wanita itu mengamatinya dengan tatapan menyelidi

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 4 - Menguping?

    ​"Siapa, Sayang?" Tiba-tiba, saat Malik baru saja ingin mengatakan sesuatu, suara Aris samar-samar terdengar dari seberang telepon. ​"Ini, Mas. Kayaknya temanmu menelepon." ​"Malik?" ​"Halo, Lik? Ada apa?" Tiba-tiba suara Aris kembali terdengar nyaring. ​Karena tak ada jalan lain, Malik akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan seluruh kemalangan yang baru saja menimpanya. ​Mendengar penuturan sahabatnya, Aris tanpa ragu langsung menyuruh Malik untuk tinggal di kediamannya untuk sementara waktu. ​Tentu saja Malik menolak keras. Ia hanya ingin meminjam sedikit uang untuk membayar DP kontrakan baru sampai hari gajian tiba. Namun, Aris memang punya watak keras kepala sejak dulu—selalu ingin didengar dan dituruti. Malik bahkan kesulitan meyakinkan Aris bahwa uang itu pasti akan ia kembalikan tiga hari lagi. ​"Aku bukannya gak percaya, Lik. Kita ini sahabat. Aku tahu kamu, dan kamu tahu jelas aku seperti apa. Udahlah, sementara tinggal aja di sini," ucap Aris terus me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status