LOGINMalik membalikkan badan, menatap Sheila dengan raut bingung. Apalagi yang harus dikatakan? Bukannya semuanya sudah jelas? batinnya bertanya-tanya.
Malik mengangguk tegas. "Katakan, Mbak, ada apa?" Sheila masih terdiam, namun tanpa Malik sadari, kedua tangan perempuan itu terkepal kuat sejak tadi. "Apa Mbak baik-baik saja?" tanya Malik lagi. Kali ini ia melangkah satu pijakan, mencoba mendekati Sheila. Namun, perempuan itu langsung mundur menjauh, membuat Malik tertegun. ‘Kenapa dengan perempuan ini? Tadi dia memaksaku, tapi sekarang seolah tak sudi?’ "Begini..." ucap Sheila. Suaranya terdengar gugup, tetapi aura ketegasannya masih mendominasi. Malik mengangguk pelan, setia menunggu apa yang akan Sheila katakan padanya. "Aku... emm, soal yang tadi..." "Nyonya..." Tiba-tiba teriakan nyaring dari arah belakang menyela perkataan Sheila. Rupanya itu asisten rumah tangga yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Keduanya spontan menoleh ke arah asisten tersebut. "Ada apa, Bi?" tanya Sheila seraya mengerutkan dahi. "Anu... di depan ada Tuan Besar," bisiknya, membuat netra Sheila seketika menegang. "Oke, Bi. Suruh Papi menunggu beberapa menit lagi, aku akan segera ke sana," titahnya, yang langsung mendapat anggukan patuh dari Bi Inem. Malik yang masih terdiam di sana dengan sabar tetap menunggu perkataan yang hendak Sheila sampaikan padanya. Sheila menoleh ke arah pria itu. Namun tanpa mengatakan sepatah kata pun, Sheila langsung membalikkan badan dan pergi begitu saja, mengabaikan rasa penasaran yang membuncah di benak Malik. "Orang kaya memang suka bersikap seenaknya!" keluh Malik sambil memandangi punggung perempuan itu hingga menghilang di balik pintu taman. Ia langsung meraup wajahnya kasar, lalu mendudukkan diri di atas kursi taman. "Astaga, mimpi apa aku? Ini termasuk hoki atau penderitaan? Mencicipi tubuh istri sahabat sekaligus dapat uang?" gumamnya sambil menelan ludah dengan susah payah. Sebagai pria normal, sejak tadi pandangan Malik memang begitu liar menatap dada dan bokong semok Sheila. Bahkan beberapa kali ia harus menyembunyikan miliknya yang kian mengeras tiap melihat pergerakan Sheila yang terkesan kasar hingga membuat dadanya memantul-mantul. . . . Waktu bergulir cepat hingga malam pun tiba—saat di mana Malik diminta Aris untuk memulainya. "Tak apa, Lik, jangan gugup. Perkenalan aja dulu, bagus-bagus kalau langsung main," ucap Aris sambil menepuk bahu Malik dan mengedipkan mata, berupaya menyemangati sahabatnya. Yang membuat Malik heran, kenapa pria ini sama sekali tidak sedih atau setidaknya menunjukkan raut tidak rela? Sebaliknya, Aris justru terlihat begitu bersemangat. "Kenapa malah bengong? Ayo lakukan, Lik, sana masuk!" titahnya lagi. Kali ini ia membukakan pintu kamar dirinya dan Sheila dari luar. Tanpa mau berlama-lama, tangan Aris mendorong kuat tubuh kekar Malik agar segera masuk ke dalam. "Tunggu, Ris, aku mau..." "Ah, sudahlah, cepat, Lik! Jangan buang-buang waktu, have fun ya!" Bruk! Aris tak mau mendengar alasan Malik lagi. Dengan gerakan cepat, ia langsung mendorong tubuh Malik ke dalam dan menutup pintu dengan cepat. Ceklek! Terdengar suara pintu dikunci dari luar. Malik membulatkan matanya lebar-lebar. Ia harus senang atau sedih? Pikirannya benar-benar campur aduk sekarang. Belum reda detak jantungnya yang bertalu-talu bagai drum, kepanikan dan rasa kaget kembali menghantamnya saat ia membalikkan badan. Sheila, istri sahabatnya, sudah menunggu di sana hanya dengan mengenakan kimono tanpa dalaman apa pun. Semuanya tercetak jelas. Apalagi dengan rambut yang digelung asal serta anak rambut berjatuhan, memberikan kesan manis sekaligus menggoda. Lekuk tubuh itu benar-benar menonjol. Pinggangnya ramping, sementara dadanya yang sebesar buah melon tampak bulat dan padat, dibungkus kimono tipis menerawang berwarna biru. Malik tak bisa menahan pandangannya. Seolah terhipnotis, matanya benar-benar terpaku ke arah sana, menatap liar keindahan yang disuguhkan di hadapannya. Sheila langsung terkekeh pelan saat melihat ekspresi Malik yang tampak begitu bodoh dan lucu.Lengkungan tawa itu seketika menyadarkan Malik, membuat pria itu terburu-buru memalingkan wajah ke arah lain. "Maaf..." "Kenapa harus meminta maaf? Bukannya sebentar lagi kamu akan mencicipi seluruh tubuhku?" sela Sheila cepat dan tajam.Serangan itu langsung menyerbu Malik dan Leo. Keempatnya bergerak bersamaan. Bahkan pria yang baru saja dilempar oleh Leo kembali bangkit untuk membalas dendam. Peta pertempuran terbagi: tiga orang mengeroyok Malik, dan satu orang menghadapi Leo.Tendangan demi tendangan melayang mengincar Malik. Namun, Malik yang memang memiliki dasar bela diri mumpuni tak begitu kesusahan. Pria itu terus menangkis, memukul, dan menendang. Meski begitu, ketiganya jelas bukan lawan sembarangan—mereka mengerti teknik bertarung.Sambil menangkis serangan, Malik menyeringai. Pukulan kerasnya mendarat tepat di wajah salah satu lawan. Dalam hitungan detik, iris matanya menangkap pergerakan lawan lain yang mencoba menghantamnya dari belakang. Malik langsung memutar tubuh dan melayangkan tendangan memutar yang mengenai dada pria tersebut.BUGH! BUGH!Kedua pria itu tersungkur ke tanah. Satu pria berkumis tebal yang berdiri tak jauh dari sana tergagap melihat kelincahan dan dominasi Malik.Namun, pertempuran
Setelah mendapat panggilan telepon dari Leo, Malik langsung berbalik arah hendak pergi. Namun, langkahnya ditahan oleh Nunu. "Pak Malik mau kemana? Sotonya belum habis," ucap Nunu, merasaka kecewa karena soto spesial buatannya baru tersentuh sedikit. "Aduh, Mbak Nunu, maaf banget saya ada urusan penting," balas Malik sambil merogoh saku celananya dan menyerahkan uang sebesar dua ratus ribu rupiah. "Maaf sekali lagi, ya, Mbak Nunu." Setelah menyerahkan uang tersebut, Malik bergegas pergi menjauh dengan tergesa-gesa. Ia sempat tertegun saat melihat jalanan masih macet akibat jam pulang para pekerja. Malik mendesah panjang. Di seberang lokasi proyek, ia melihat salah satu pekerjanya—seorang pemuda yang mengendarai moge—masih nongkrong. Malik langsung mendekatinya dengan langkah tegap dan terburu-buru, membuat pemuda itu seketika menegang khawatir jika dirinya telah melakukan kesalahan hingga didatangi oleh pria tegap tersebut. "Arul, kamu masih mau diam di sini?" tanya Malik.
"Aku benci sama kelakuan si Juki. Kurang ajar memang anak itu. Makanya, kemarin sepulang kerja, aku melabrak rumahnya berniat untuk menghajarnya lagi. Tapi, begitu sampai di gang rumahnya, aku melihat dia sedang berbicara dengan seseorang. Luka pria asing itu memang sudah mengering, tetapi bengkak dan lebam di wajahnya masih terlihat jelas. Dari kondisinya saja sudah kelihatan kalau orang yang menghajarnya benar-benar beringas," jelas Leo sambil bergidik ngeri.Tiba-tiba, ingatannya kembali pada kejadian ketika Malik menghajarnya sampai demam.Mendengar itu, Malik hanya mengangguk."Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Leo pada Malik, memandanginya penuh rasa penasaran."Aku harus bagaimana? Tapi melihat kelakuannya, aku enggak bisa diam. Juki benar-benar membuatku penasaran, apa alasan dan motifnya?""Mungkin ingin menjatuhkanmu," balas Leo menebak."Bahkan aku belum hebat, apalagi kaya," balas Malik santai. Tatapannya masih tertuju pada layar ponsel yang digenggamnya hingga redup dan
Pria itu tidak menjawab. Ia justru makin mengeratkan pelukannya pada pinggang Sheila, bahkan memindahkan kepalanya ke ceruk leher Sheila. Hal itu membuat perempuan itu makin membeku, merasakan perasaan aneh yang pelan-pelan mengelilingi jiwanya. "Ehhmm... Lik?" panggil Sheila. Suaranya terdengar gugup merasakan sapuan napas hangat di lehernya—apalagi keduanya masih telanjang bulat. Namun dengan gerakan tangan kekarnya, Malik menyambar selimut dan menutup tubuh mereka berdua sebatas leher. "Biarkan begini dulu, Mbak, aku mohon. Setelah ini Mbak bebas memakiku, bahkan jika ingin menendangku sekalipun, aku tidak akan marah. Aku akan menerimanya. Tapi untuk malam ini, biarkan seperti ini... Setidaknya untuk beberapa jam saja, sampai kamu tertidur terlelap," ucapnya panjang lebar. Suaranya terdengar serak dan sedikit bergema karena bibirnya masih bersandar di ceruk leher Sheila. Mendengar penjelasan panjang itu, Sheila terdiam makin kaku. Namun, ada perasaan hangat dan aneh yang menyu
Malik maupun Sheila melengguh panjang. Tubuh Malik yang lelah serta pikirannya yang dipenuhi beban seolah benar-benar membutuhkan pelepasan yang hebat malam ini.Tanpa membuang waktu, Malik membalikkan tubuh Sheila kembali terlentang. Ia menunduk, mendaratkan ciuman-ciuman panas di setiap inci kulit mulus Sheila. Perempuan itu melengkungkan tubuhnya, merinding merasakan sentuhan, hisapan, dan jilatan halus yang membakar dari bibir Malik."Engghh... Malik..." erang Sheila pasrah. Tangannya terangkat menjambak pelan rambut tebal Malik saat bibir pria itu merayap makin turun, menyusuri paha dalamnya dengan lembut penuh perasaan.Malik seolah meluapkan seluruh rasa lelah dan beban pikiran yang menghantamnya selama beberapa hari terakhir ke dalam setiap sentuhannya. Ia mulai menjulurkan lidahnya, memanjakan pusat keintiman Sheila yang sudah membasah.Sheila mengerang makin keras dalam kenikmatan yang membubung tinggi. Tubuhnya terangkat ke atas, paha mulusnya menjepit kepala Malik yang ber
Mendengar itu, Malik tanpa banyak bicara langsung melepaskan pakaian atasnya di hadapan Sheila. Seketika, Sheila terperangah. Pandangannya tanpa sadar tertuju pada tubuh tegap Malik, dengan garis-garis otot di dada dan perut yang kini terlihat jelas. Untuk sesaat, ia bahkan lupa harus berkata apa. Perempuan itu seolah tak bisa lagi menahan diri. Apalagi setelah panggilan video tempo hari, Sheila terus merasa gelisah dan membayangkan tubuh kekar yang selalu menindihnya dengan kehangatan yang membakar. Malik terdiam membeku, menatap wajah sayu Sheila yang seolah benar-benar terpikat oleh pesonanya. "Mbak..." panggil Malik gugup. Namun tiba-tiba, tangan halus Sheila terangkat. Jari-jari lentiknya mengelus lembut deretan otot perut Malik yang keras bahkan di sana masih ada sisa-sisa jejak lebam, membuat pria itu memekik dan menahan napas seketika. Sentuhan hangat itu merambat cepat, memicu getaran liar yang membuat Malik memejamkan mata rapat-rapat. Otot-otot tubuhnya makin men







