Share

Bab 7 - Malam ini?

Penulis: Ayuwine
last update Tanggal publikasi: 2026-08-13 13:32:41

Malik membalikkan badan, menatap Sheila dengan raut bingung. Apalagi yang harus dikatakan? Bukannya semuanya sudah jelas? batinnya bertanya-tanya.

Malik mengangguk tegas. "Katakan, Mbak, ada apa?"

Sheila masih terdiam, namun tanpa Malik sadari, kedua tangan perempuan itu terkepal kuat sejak tadi.

"Apa Mbak baik-baik saja?" tanya Malik lagi. Kali ini ia melangkah satu pijakan, mencoba mendekati Sheila.

Namun, perempuan itu langsung mundur menjauh, membuat Malik tertegun. ‘Kenapa dengan perempuan ini? Tadi dia memaksaku, tapi sekarang seolah tak sudi?’

"Begini..." ucap Sheila. Suaranya terdengar gugup, tetapi aura ketegasannya masih mendominasi.

Malik mengangguk pelan, setia menunggu apa yang akan Sheila katakan padanya.

"Aku... emm, soal yang tadi..."

"Nyonya..."

Tiba-tiba teriakan nyaring dari arah belakang menyela perkataan Sheila. Rupanya itu asisten rumah tangga yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka.

Keduanya spontan menoleh ke arah asisten tersebut.

"Ada apa, Bi?" tanya Sheila seraya mengerutkan dahi.

"Anu... di depan ada Tuan Besar," bisiknya, membuat netra Sheila seketika menegang.

"Oke, Bi. Suruh Papi menunggu beberapa menit lagi, aku akan segera ke sana," titahnya, yang langsung mendapat anggukan patuh dari Bi Inem.

Malik yang masih terdiam di sana dengan sabar tetap menunggu perkataan yang hendak Sheila sampaikan padanya.

Sheila menoleh ke arah pria itu.

Namun tanpa mengatakan sepatah kata pun, Sheila langsung membalikkan badan dan pergi begitu saja, mengabaikan rasa penasaran yang membuncah di benak Malik.

"Orang kaya memang suka bersikap seenaknya!" keluh Malik sambil memandangi punggung perempuan itu hingga menghilang di balik pintu taman.

Ia langsung meraup wajahnya kasar, lalu mendudukkan diri di atas kursi taman.

"Astaga, mimpi apa aku? Ini termasuk hoki atau penderitaan? Mencicipi tubuh istri sahabat sekaligus dapat uang?" gumamnya sambil menelan ludah dengan susah payah.

Sebagai pria normal, sejak tadi pandangan Malik memang begitu liar menatap dada dan bokong semok Sheila. Bahkan beberapa kali ia harus menyembunyikan miliknya yang kian mengeras tiap melihat pergerakan Sheila yang terkesan kasar hingga membuat dadanya memantul-mantul.

.

.

.

Waktu bergulir cepat hingga malam pun tiba—saat di mana Malik diminta Aris untuk memulainya.

"Tak apa, Lik, jangan gugup. Perkenalan aja dulu, bagus-bagus kalau langsung main," ucap Aris sambil menepuk bahu Malik dan mengedipkan mata, berupaya menyemangati sahabatnya.

Yang membuat Malik heran, kenapa pria ini sama sekali tidak sedih atau setidaknya menunjukkan raut tidak rela? Sebaliknya, Aris justru terlihat begitu bersemangat.

"Kenapa malah bengong? Ayo lakukan, Lik, sana masuk!" titahnya lagi. Kali ini ia membukakan pintu kamar dirinya dan Sheila dari luar. Tanpa mau berlama-lama, tangan Aris mendorong kuat tubuh kekar Malik agar segera masuk ke dalam.

"Tunggu, Ris, aku mau..."

"Ah, sudahlah, cepat, Lik! Jangan buang-buang waktu, have fun ya!"

Bruk!

Aris tak mau mendengar alasan Malik lagi. Dengan gerakan cepat, ia langsung mendorong tubuh Malik ke dalam dan menutup pintu dengan cepat.

Ceklek!

Terdengar suara pintu dikunci dari luar.

Malik membulatkan matanya lebar-lebar. Ia harus senang atau sedih? Pikirannya benar-benar campur aduk sekarang.

Belum reda detak jantungnya yang bertalu-talu bagai drum, kepanikan dan rasa kaget kembali menghantamnya saat ia membalikkan badan. Sheila, istri sahabatnya, sudah menunggu di sana hanya dengan mengenakan kimono tanpa dalaman apa pun.

Semuanya tercetak jelas. Apalagi dengan rambut yang digelung asal serta anak rambut berjatuhan, memberikan kesan manis sekaligus menggoda.

Lekuk tubuh itu benar-benar menonjol. Pinggangnya ramping, sementara dadanya yang sebesar buah melon tampak bulat dan padat, dibungkus kimono tipis menerawang berwarna biru.

Malik tak bisa menahan pandangannya. Seolah terhipnotis, matanya benar-benar terpaku ke arah sana, menatap liar keindahan yang disuguhkan di hadapannya.

Sheila langsung terkekeh pelan saat melihat ekspresi Malik yang tampak begitu bodoh dan lucu.Lengkungan tawa itu seketika menyadarkan Malik, membuat pria itu terburu-buru memalingkan wajah ke arah lain.

"Maaf..."

"Kenapa harus meminta maaf? Bukannya sebentar lagi kamu akan mencicipi seluruh tubuhku?" sela Sheila cepat dan tajam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 9 - "Bagaimana rasanya?"

    "Lik, bagaimana?" tanya Aris tanpa basa-basi. Namun, saat mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, ia mengerutkan dahi. "Di mana istriku, Lik?" tanyanya lagi. Rupanya, sesaat terdengar kunci diputar dari luar, Sheila dengan cepat berlari ke kamar mandi untuk menyembunyikan dirinya yang masih rapi. Begitu juga dengan Malik yang sengaja menyemprotkan parfum milik Sheila ke tubuhnya. "Dia ke kamar mandi, Ris," balas Malik begitu lancar, seolah mereka benar-benar baru saja melakukannya. Wajah Aris terlihat begitu sumringah. Ia langsung merangsak masuk ke dalam kamar. Apalagi saat mencium aroma tubuh istrinya menempel di tubuh Malik, Aris makin yakin jika keduanya telah berbagi keringat. Aris mengangguk senang. "Bagaimana menurutmu, Lik? Rasanya... apa kamu atau dia puas?" Pertanyaan gamblang itu tak pelak membuat Malik risih. "Jangan sungkan, Lik. Kamu pasti puas, kan? Apalagi kamu sudah lama tidak mendapat sentuhan atau belaian seorang perempuan!" Aris kembali mengoc

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 8 - Ada yang janggal

    Namun, setelah mengatakan hal demikian, napas Sheila tiba-tiba memburu. Dengan gerakan cepat tapi lemas, perempuan itu mendudukkan diri di atas meja rias dengan bahu merosot. Malik mengerutkan dahi, merasa ada yang janggal dengan sikap perempuan di hadapannya itu. "Mbak, apa kamu baik-baik saja?" tanya Malik. Namun, ia tetap menjaga jarak, tak berani mendekat. Sheila mendesah. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangan merengkuh di atas meja rias. "Tidak, ini belum saatnya!" ucap Sheila. Ia kembali berdiri, menatap Malik dengan pandangan rapuh yang tak pernah ia perlihatkan pada Aris sekalipun. "Sepertinya ada masalah? Mbak duduk dulu, tenangkan diri. Aku akan mengambilkan minum," balas Malik. Ia berjalan ke arah meja di sebelah ranjang. Malik menuangkan segelas air putih, lalu dengan ragu-ragu menyerahkan gelas itu. Sheila menerima gelas tersebut, lalu mendudukkan bokongnya di atas ranjang yang super empuk. Hening. Selama beberapa menit, suasana begitu senyap. Keheni

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 7 - Malam ini?

    Malik membalikkan badan, menatap Sheila dengan raut bingung. Apalagi yang harus dikatakan? Bukannya semuanya sudah jelas? batinnya bertanya-tanya. Malik mengangguk tegas. "Katakan, Mbak, ada apa?" Sheila masih terdiam, namun tanpa Malik sadari, kedua tangan perempuan itu terkepal kuat sejak tadi. "Apa Mbak baik-baik saja?" tanya Malik lagi. Kali ini ia melangkah satu pijakan, mencoba mendekati Sheila. Namun, perempuan itu langsung mundur menjauh, membuat Malik tertegun. ‘Kenapa dengan perempuan ini? Tadi dia memaksaku, tapi sekarang seolah tak sudi?’ "Begini..." ucap Sheila. Suaranya terdengar gugup, tetapi aura ketegasannya masih mendominasi. Malik mengangguk pelan, setia menunggu apa yang akan Sheila katakan padanya. "Aku... emm, soal yang tadi..." "Nyonya..." Tiba-tiba teriakan nyaring dari arah belakang menyela perkataan Sheila. Rupanya itu asisten rumah tangga yang berlari tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Keduanya spontan menoleh ke arah asisten tersebut.

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 6 - Desakan Suami istri

    Atmosfer di taman belakang itu seketika membeku. Tak ada satu pun dari kedua pria itu yang mengira jika Sheila tak sekadar menerima permintaan gila ini—ia bahkan balik memegang kendali dan menantang keinginan suaminya dengan taruhan yang jauh lebih besar. "Sayang?" Aris tercekat. Ia melepaskan genggamannya pada kedua bahu Sheila. Sheila tersenyum dan bahkan mengangguk yakin. "Kamu benar, Mas. Aku memang butuh dipuaskan. Aku menerima tawaran itu..." "Tunggu, tunggu..." sela Malik, merasa terhimpit dengan kedua pasangan suami istri itu. "Kalian ngomong apa? Bahkan aku belum mengatakan apa pun pada kalian," ucapnya dengan menatap keduanya bergantian. "Apa uang seratus juta itu masih kurang? Bahkan kamu bisa sambil tinggal beberapa hari di sini sebelum kamu mencari kontrakan yang layak!" Kali ini Sheila maju mendekat pada Malik sambil mengatakan perkataan tersebut. Aris semakin melongo dengan perlakuan Sheila yang begitu frontal itu. Di luar dugaan, istrinya justru balik mem

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 5 - Seratus Juta?

    ​"Kamu menyuruh orang lain untuk memuaskanku, Mas? Yang benar saja!" Sheila melangkah cepat menghampiri suaminya. Wajahnya merah padam, meluapkan protes keras atas ucapan Aris yang dengan gampangnya menawarkan dirinya pada pria asing bagi dirinya. Tidak peduli ada Malik di sana. ​"Ini demi kebaikan kita, Sheila! Kamu tidak pernah puas dengan permainanku. Setidaknya sekali dalam seumur hidupmu, kamu harus merasakan kepuasan yang sebenarnya!" balas Aris lancar, tanpa ada keraguan sedikit pun saat melontarkan kalimat gila itu. ​Sheila menelan ludahnya dengan kasar. Tenggorokannya mendadak terasa amat kering. ​Memang benar... batin Sheila mengakui. Jauh di dalam hatinya, ia harus jujur bahwa ia sudah terlalu muak setiap kali Aris mengundangnya ke ranjang. Permainan suaminya selalu monoton, singkat, dan teramat membosankan. Tidak pernah ada letupan gairah yang bisa memuaskannya. ​Secara refleks, netra Sheila bergulir menatap Malik. Wanita itu mengamatinya dengan tatapan menyelidi

  • Malam Gila Di Ranjang Istri Sahabat   Bab 4 - Menguping?

    ​"Siapa, Sayang?" Tiba-tiba, saat Malik baru saja ingin mengatakan sesuatu, suara Aris samar-samar terdengar dari seberang telepon. ​"Ini, Mas. Kayaknya temanmu menelepon." ​"Malik?" ​"Halo, Lik? Ada apa?" Tiba-tiba suara Aris kembali terdengar nyaring. ​Karena tak ada jalan lain, Malik akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan seluruh kemalangan yang baru saja menimpanya. ​Mendengar penuturan sahabatnya, Aris tanpa ragu langsung menyuruh Malik untuk tinggal di kediamannya untuk sementara waktu. ​Tentu saja Malik menolak keras. Ia hanya ingin meminjam sedikit uang untuk membayar DP kontrakan baru sampai hari gajian tiba. Namun, Aris memang punya watak keras kepala sejak dulu—selalu ingin didengar dan dituruti. Malik bahkan kesulitan meyakinkan Aris bahwa uang itu pasti akan ia kembalikan tiga hari lagi. ​"Aku bukannya gak percaya, Lik. Kita ini sahabat. Aku tahu kamu, dan kamu tahu jelas aku seperti apa. Udahlah, sementara tinggal aja di sini," ucap Aris terus me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status