เข้าสู่ระบบ"Kalian langsung pulang?" tanya Gerrard ketika mereka tengah melangkah menuju parkiran bandara. "Tentu. Takut ngerepotin kalau mampir dulu, ini udah malem banget, Ge."Panggilan diantara mereka masih sama, tidak ada imbuhan apapun karena memang itu yang Gerrard minta. Ia ingin antara dia dan Bastian tetap sama. "Nggak lah. Rumahku udah jadi rumahmu juga. Santai aja, Bas!" desis Gerrard sembari tersenyum. "Oh ... pasti kalian nggak mau diganggu, kan? Takut kedengeran pas lagi gituan?"Sontak tawa Bastian pecah, diliriknya Gerrard dengan tatapan gemas. Ah otak laki-laki! Tidak kaget dia kalau hal ini yang Gerrard bahas pada obrolan kali ini. "Kayak lupa aja dulu habis kawin gimana." ledek Bastian balas menyerang. "Eh! Nggak ada, ya!" kilah Gerrard tidak berbohong. "Ah masa? Kagak yakin aku!" Bastian menolak percaya. "Serah kamu lah, intinya cukup lama setelah surat nikah keluar terus kami baru intens gituan." jawab Gerrard apa adanya. "Iya deh iya, Evelyn udah cerita kok." desis
"Papa satu mobil sama aku!" tegas Evelyn langsung menarik lengan Aji dan mendekapnya erat-erat. Gerrard mencebik, ia menatap adiknya dengan tatapan gemas. "Kenapa nggak satu mobil aja sih? Gede itu mobil yang satunya!" gerutu Gerrard dengan nada kesal. "Kita lima orang ini!" tegas Evelyn mengingatkan dengan nada yang sama kesalnya. "Bagasi belakang muat kamu, sama itu koper-koper papa!"Mata Evelyn melotot, ia segera menoleh dan menatap Bastian dengan tatapan memelas. "Mas! Terima kamu istrimu disuruh duduk di belakang gitu?" Evelyn mengadu, membuat Bastian kontan garuk-garuk kepala sembari tersenyum kecut. "Nggak usah sok ngadu, mana berani suamimu sama aku!" ucap Gerrard langsung melangkah menuju mobil. "Ayo, Pa! Jam berapa ini?""Jadinya gimana ini?" tanya Aji tak tega dengan sorot mata memohon Evelyn. "Satu mobil aja, Pa. Ngapain bawa dua mobil?" Gerrard tidak jadi melangkah, kembali menoleh dan sontak mendengus kesal. "Nanti emang Eve sama Bastian mau kesini lagi? Nggak l
"Eh Bang!" sapa Bastian yang seketika membuat wajah jahil Gerrard berubah masam. Gerrard menekuk wajah, menggebuk punggung Bastian berulang kali. Bukannya memekik kesakitan, Bastian malah terbahak-bahak, membuat Gerrard rasanya ingin memukuli lelaki yang kini sah berstatus adik iparnya. "Panggil kayak biasa aja kenapa sih? Hah? Nyari perkara?" tantang Gerrard gemas. Kini wajah itu yang nampak cemberut, ia menatap mata Gerrard, hendak mengajukan protes kalau dilihat dari gerak-geriknya. "Kalo panggil kayak biasa, ntar dikatain kurang ajar sama kakak ipar ... ini dipanggil abang eh malah kena gebuk. Serba salah, ya!" protes Bastian dengan wajah pura-pura lesu. Gerrard tersenyum, ia meraih bahu Bastian, memaksa lelaki itu sedikit lebih dekat dengannya. "Masih ingat janjimu dulu, Bas?" tanya Gerrard keluar dari pembahasan awal mereka. Bastian mengerutkan kening, nampak gelisah dan menatap sekeliling. Tidak ada yang berada di teras rumah, kecuali mereka berdua! "Janji yang mana?" b
"Udah mau balik, Ge?" Langkah terburu Gerrard sontak terhenti, ia menoleh dan mendapati Willy sudah berdiri di belakangnya. "Iya nih, ditunggu karena mau nganter papa balik." jawab Gerrard apa adanya. "Pasien mu yang kemarin, nanya-nanyain kamu terus." Gerrard yang tadinya hendak pamit, seketika mengurungkan niat. Jangan bilang yang dimaksud Willy dengan pasiennya itu adalah ... "Dia keknya nyesel banget dulu misahin kamu sama anaknya, Ge." lanjut Willy yang seolah paham dengan apa yang ada dalam pikiran Gerrard. "Ah udah berlalu juga. Nggak perlu dibahas sih sebenarnya." ucap Gerrard yang kini sudah sangat paham siapa yang Willy maksud. Dugaannya tidak salah! "Iya emang sih, tapi beliau terus ngerasa bersalah gitu, Ge. Bahkan sampai kontrol terakhir kemarin, masih aja nanyain kamu." Gerrard tertawa lirih, begitukah? Bukannya dulu mereka sama sekali tidak mau Gerrard masuk ke dalam keluarga mereka? Sampai tega membunuh darah daging Gerrard yang bahkan baru memulai k
"Hai, Mbak!"Sherly yang sedang membantu Farida menyusun botol dot dan perlengkapan pumping di mesin sterilisasi, kontan menoleh. Ia tersenyum lebar ketika mendapati Evelyn sudah berdiri di depan pintu dengan beberapa tentengan di tangan. "Eh, halo pengantin baru!" sorak Sherly yang langsung melepaskan botol dan membalikkan badan. Mereka berpelukan sejenak, seolah-olah sudah beberapa bulan tidak bertemu. Sherly menatap wajah itu dengan saksama, rona wajah dan sorot mata itu membuat Sherly seketika nyengir lebar. "Berapa kali semalem, Lyn?" goda Sherly dengan suara lirih. Seketika wajah itu memerah, ia segera menjejalkan plastik-plastik itu ke tangan Sherly. Bibirnya menggerucut, hendak pergi dari depan pintu ketika ia teringat sesuatu. "Itu buat mbak Farida satu, Mbak. Cepet dimakan, keburu dingin!" pesannya lalu menghilang dengan segera. Sherly terkekeh, ia segera menyerahkan bungkusan yang dimaksud pada pengasuh anaknya itu. "Dari Evelyn, cepet dimakan, ya!""Terimakasih bany
"Masih sakit banget?" Bastian memperhatikan langkah Evelyn, nampak tidak selincah biasanya. Wajah istrinya pun sedikit pucat, membuatnya segera mencecar guna memastikan istrinya itu baik-baik saja. "Agak nggak nyaman sih, cuma nggak apa-apa." ucapnya sembari tersenyum. Kening Bastian berkerut, matanya tak lepas dari wajah itu. "Order online aja? Makan di rumah? Kamu perlu banyak Istirahat." desisnya sembari mengusap pipi Evelyn. Nampak wajah itu berpikir sejenak, cukup lama sampai kemudian ia menghela napas panjang sembari mengangguk pelan. "Tapi nanti jadi ke rumah mas Ge sama anterin papa, kan?" tanya Evelyn dengan wajah memohon. "Jadi, Sayang!" senyum Bastian merekah, ia lantas menjatuhkan kecupan di puncak kepala Evelyn. "Kamu pengen makan apa?""Aku boleh makan apa aja?" tanya Evelyn memastikan. "Asal jangan makan yang tak lazim aja sih." Tawa Evelyn pecah, memang apa yang mau dia makan? Dia memang pemakan sengala, tapi bukan berarti makanan ekstrim dan tak lazim juga di







