LOGIN“Selamat pagi, gendut!” sapaan familier datang dari luar pintu kamar. Pintu kamar putih itu tiba-tiba didobrak. “Apa yang ingin kamu lakukan hari ini?”
Leon, dengan balutan atasan kaos dan bawahan celana panjang hitam tampak bersandar di kusen pintu. Mata abu indahnya mengerling nakal.
“Kenapa tidak menjawbaku?“ Leon menyeringai, wajah tampannya tampak menggoda seperti seekor rubah jantan.
Luna tercengang mendapati kehadiran Leon di kamar pribadinya. “Tuan muda, mengapa kamu ke sini?”
“Entahlah,” bahunya terangkat acuh. “Aku sangat bosan, ayo hibur aku.”
“Anda pikir saya seorang badut?” Luna menyipit sengit, sedikit marah diminta menghibur orang. Wajah bulat besarnya mengerut.
Sontak Leon tertawa terbahak-bahak, memukuli permukaan pintu seraya memegangi perutnya yang keram.
“Hahahaha! Wajahmu sangat lucu, tidak sia-sia aku datang kemari,” tukasnya menyeka setitik air disudut mata. Tawa Leon belum mereda sama sekali, “Perutku sampai mati rasa, hahaha, wajahmu bahkan lebih lucu dari badut.”
Rahang Luna mengetat, jemari berisinya meremas sendok dan garpu ditangan. Mata ungunya berpaling menatap arah lain.
Jangan sampai kebencian dimatanya terlihat Leon karena saat ini ia hanyalah penumpang sementara di Mansion Laventin.
“Gendut, kamu tidak menjawabku,” gerutu Leon usai duduk di sofa, tepat di sebelah Luna. Ia menoel pinggang berlipat wanita itu. “Wow, seperti kue lapis.” Pujinya setengah meledek.
Luna menepis perlahan jari kurang ajar Leon, “Tuan muda, geli. Jangan sentuh di sana.”
“Biarkan aku menyentuhnya sedikit lebih lama. Rasanya mirip squishy.”
“Tuan muda,” nada suara Luna berubah tajam meski ekspresinya dipenuhi senyuman. “Saya mau lari pagi, bisakah anda berhenti mencubiti pinggang saya?”
Senyuman wanita itu kaku sepersekian detik saat Leon mencubit kencang karena gemas dengan lemaknya.
Luna meringis kesakitan sedangkan Leon tertawa terbahak-bahak melihat raut lucu di paras bulat Luna.
“Baiklah, aku ikut kamu lari pagi saja. Lagi pula aku juga belum lari pagi hari ini.”
Siapa yang mengajak pria itu? Kenapa tiba-tiba nyelonong masuk ikut campur urusan kegiatan Luna?
Naasnya Luna pun tak bisa berkutik atau menentang keinginan Leon.
Ia rindu kehidupannya ketika menjabat posisi Permaisuri Emeros. Tidak ada yang berani menentang apalagi mengejeknya.
”Anna, bereskan sarapanku. Aku mau ganti baju dulu,” Luna memerintah ke wanita berseragam pelayan itu. “Tuan Muda, silahkan tunggu di luar.”
Leon menopang kepalanya ke punggung sofa, tersenyum meremehkan, mata abunya bergerak naik turun seolah memindai tubuh Luna.
”Untuk apa aku keluar? Kamu bukan tipeku, bahkan jika kamu membuka bajumu di depanku, aku juga tak tertarik.”
Sudut bibir Luna berkedut mempertahankan senyuman sopan sedari tadi. “Baiklah, terserah anda!”
Luna bukan orang gila yang akan menerima tantangan disengaja dari Leon. Ia mengambil kaos abu polos dan celana hitam selutut.
Kemudian pergi ke kamar mandi berganti pakaian.
Lalu keduanya berjalan bersama pergi ke halaman depan paviliun.
Luna berlari duluan meninggalkan Leon di belakang. Walau tubuh gempal Luna beratnya hampir mencapai seratus kilogram, ia, Luna Emeros adalah Permaisuri Agung.
Keluarga kandungnya merupakan keluarga militer. Jadi sejak kecil Luna Emeros menerima pelatihan khusus meski terlahir sebagai perempuan.
Ia bertekad menguruskan badannya sesegera mungkin karena tubuh besar ini membuatnya kesulitan beraktifitas.
Apalagi dunia modern punya kebiasaan buli yang parah melebihi orang kuno. Wanita gendut seperti Luna Martino termasuk sasaran empuk.
Bertubuh gemuk dan kurang cantik pun menjadi faktor mengapa Luna kurang percaya diri ketika dibuli. Sejak kecil Luna Martino bukanlah anak percaya diri.
Berbanding terbalik dengan Luna Emeros yang lincah, percaya diri, dan berani.
“Staminamu boleh juga,” ucap Leon, pria itu menyamakan frekuensi kecepatan kakinya dalam berlari supaya sejajar dengan Luna.
“Tuan muda terlalu muji, anda lebih baik dari saya,” jawab Luna berbasa-basi.
Namun, Luna harus mengakui bahwa dia iri pada tubuh Leon.
Pria itu setinggi 1,95 meter dengan sepasang kaki panjang, bahu lebar, pinggang ramping kuat, dan jangan lupakan punggung lebar dan tangannya yang kuat berotot.
Leon masih terlihat bersih dan tampan setelah berlari tiga putaran sekaligus, sedangkan Luna sudah banjir keringat.
Napas Luna mulai terengah-engah, “Tak ku sangka berlari bisa sesulit ini,” gerutunya pelan. Ia menyeka dagunya menggunakan punggung tangan.
Di kehidupan aslinya, ia kuat berlari mengelilingi lapangan prajurit sebanyak sepuluh kali tanpa lelah atau terbebani.
Tapi sekarang, Luna mendesah kecewa. Mau bagaimana lagi. Jika tidak begini, Luna tidak akan berubah sama sekali.
Penampilan adalah kunci yang harus ia pulihkan sesegera mungkin. Faktanya, menjadi cantik akan membuat seseorang diperlakukan lebih baik dan sopan.
Zaman kuno atau zaman modern, kecantikan tetap menjadi keuntungan besar bagi para wanita. Namun bagi Luna, kecantikan tanpa kecerdasan hanyalah boneka kosong yang dipoles.
“Hei, gendut. Sudah tidak kuat lagi, ya?“ Leon mengejek dari kejauhan, pria itu berlari mundur agar bisa memberi Luna senyum meledek. “Lari tidak cocok untukmu, pertimbangkan usulanku semalam. Pergilah ke rumah sakit dan sedot semua lemakmu hahaha!”
Leon kembali berbalik menghadap depan, berlari pagi menemani Luna meski lebih tepat disebut berlari sambil menghina Luna.
Tetapi berkat ejekan dan ledekan Leon-lah semangat Luna terus berkorbar. Wanita itu berlari memutari halaman depan sebanyak sepuluh kaki.
Pencapaian yang terhitung luar biasa untuk tubuh besar Luna Martino.
“Nona, Tuan Muda Leon, saya membawakan air minum. Silahkan dinikmati.” Bela berkata lembut setibanya didekat Luna dan Leon.
Pelayan itu membungkukkan tubuhnya, memperlihatkan seragam atas yang sengaja tidak dikancing. Alhasil belahan dada putihnya tampak jelas nan menggoda.
Leon tersenyum dengan wajah miring ke kiri, tangan kuatnya yang berurat mengambil salah satu gelas air putih dingin.
Selama proses, punggung jari Leon tak sengaja menyentuh dada Bela. Wanita itu sengaja mejulurkan dadanya ke depan.
“Ah! Maafkan saya!” Bela merona malu-malu padahal semua ini sesuatu yang telah dia rencanakan.
Luna berdecih ke samping tanpa suara. Ia pun mengambil gelas air satunya, sesaat kemudian—
“Agh, Nona! Maafkan saya, saya bersalah! Mohon jangan pukuli saya!”
Air gelas Luna tumpah karena Bela sengaja membuat goyangan halus pada nampan, gelas kaca tumpah membasahi baju kerja Bela.
Luna belum siap dan lengah.
Bela langsung berlutut dengan bahu gemetar. Tampak ketakutan. Aktingnya terlalu mulus untuk dianggap kepura-puraan.
“Bela, kenapa kau menggoyangkan nampanku saat aku ingin mengambil air minum?”
“Sudahlah, dia bukannya melakukan itu dengan sengaja,” cetus Leon santai seolah kekacauan kecil tersebut sudah biasa baginya.Luna melotot ringan sebelum memalingkan muka. Ia menenggak air putih hingga tandas.Bela jelas bersikap semena-mena pada pemilik tubuh, namun respon empat tuan muda Laventin biasa-biasa saja.Seakan tindakan Bela bukan sesuatu yang mengganggu. Apa mungkin selereka mereka memang yang seperti Bela?Atau, Bela punya koneksi kuat yang membuat empat tuan muda bersedia memberinya wajah?“Bella, pergilah.” Leon mengusirnya dengan halus setelah selesai minum. “Aku perlu membicara urusan pribadi dengan Luna,” imbuhnya disertai kerlingan nakal.Bela tersipu malu. Wanita itu menyembunyikan kebencian serta cemburu terhadap Luna, kemudian pergi dengan enggan meninggalkan keduanya.“Gendut, kamu marah?” Jari telunjuk Leon menoel usil lemak pinggang Luna.Luna menepis jari kurang ajar Leon, “Tidak. Mengapa saya harus marah? Anda tidak berbuat kesalahan pada saya, tuan muda.”“
“Selamat pagi, gendut!” sapaan familier datang dari luar pintu kamar. Pintu kamar putih itu tiba-tiba didobrak. “Apa yang ingin kamu lakukan hari ini?”Leon, dengan balutan atasan kaos dan bawahan celana panjang hitam tampak bersandar di kusen pintu. Mata abu indahnya mengerling nakal. “Kenapa tidak menjawbaku?“ Leon menyeringai, wajah tampannya tampak menggoda seperti seekor rubah jantan. Luna tercengang mendapati kehadiran Leon di kamar pribadinya. “Tuan muda, mengapa kamu ke sini?”“Entahlah,” bahunya terangkat acuh. “Aku sangat bosan, ayo hibur aku.”“Anda pikir saya seorang badut?” Luna menyipit sengit, sedikit marah diminta menghibur orang. Wajah bulat besarnya mengerut. Sontak Leon tertawa terbahak-bahak, memukuli permukaan pintu seraya memegangi perutnya yang keram. “Hahahaha! Wajahmu sangat lucu, tidak sia-sia aku datang kemari,” tukasnya menyeka setitik air disudut mata. Tawa Leon belum mereda sama sekali, “Perutku sampai mati rasa, hahaha, wajahmu bahkan lebih lucu dari
“Leon, untuk apa kau datang kemari?” Zeron bertanya santai, suaranya tersirat kelembutan alami. “Tumben kamu tidak pergi ke klab malam?”“Bosan, aku dengar terjadi sesuatu yang menarik di sini, jadi aku mampir sebentar.” Leon mengangkat kedua bahunya acuh saat menjawab. “Tuan muda sekalian,” suara sopan Luna menginterupsi, menarik atensi dua pria tampan itu. “Saya akan membawa Bela kembali.”Bela, yang masih berlutut di rerumputan, sontak menggeleng keras kepala. Kedua matanya memerah, bertingkah selayaknya korban teraniaya.“Nona, saya tahu anda ingin memukuli saya lagi, kan?” Bela terisak sedih. “Saya tidak mau! Lebih baik anda bunuh saja saya!”“Memukuli apa?” Kesabaran Luna mulai menipis. “Cepat kembali ke dalam!”“Tuan muda, tolong selamatkan saya!” Bela beringsut mundur dengan sengaja, tubuh sintalnya menempel di kaki panjang Zeron. Dada lembut wanita itu menggesek paha keras Zeron melalui suit pants hitamnya. Pemandangan ‘sensual’ itu menarik siulan dari bibir Leon. Luna se
“Masalah ini akan kuselidiki, jangan membuat keributan lagi di masa depan.”Tiba-tiba Marios berkata. Lalu tanpa mengatakan apa pun, pria itu pergi diikuti Luca. Sementara Luna menghela napas pelan dan kembali ke kamarnya.Ia lelah. Badan ini menyiksanya.Malam harinya, seorang wanita muda berambut cokelat dan bermata hazel tiba-tiba muncul di depan kamar Luna.Namun, tidak seperti para pelayan sebelumnya, wanita muda itu mengetuk dengan sopan. Bahkan tutur katanya lembut saat akhirnya Luna membuka pintu.“Selamat malam, Nona. Saya adalah pelayan baru di paviliun ini. Nama saya Anna.”Luna menatap wanita muda itu dalam diam selama beberapa saat.“Tuan muda Marios mengirimmu kemari?” tanya Luna kemudian. “Benar, Nona. Saya diminta mengawasi gerak-gerik pelayan di gedung sekaligus menjadi pelayan pribadi anda!” Anna menjawab antusias. Luna mengangguk. Ia tidak melihat sikap buruk dari sikap Anna sejauh ini.“Baiklah. Bisakah kau bantu aku mengambil makan malam dari dapur?” tanya Luna
Reaksi tersebut tidak lolos dari perhatian Luna, sang permaisuri kerajaan Emeros. Namun, gadis itu menjaga ekspresi netralnya. Benar, Luna Martino dibawa ke sini sebagai calon istri dari salah satu tuan muda Laventin. Bahkan, keempat tuan muda tersebut menjemput Luna Martino sendiri karena diperintah oleh sang nyonya besar. Sebelumnya, ia bersikap baik dan penurut. Dengan harapan bisa diterima oleh keluarga barunya. Luna Martino sempat berharap. Namun, keempat tuan muda tersebut tidak ada yang ramah pada gadis malang itu. Tidak ada yang membantunya, membiarkan Luna Martino menghadapi siksaan para pelayan, lalu terisolasi sendirian sampai mati konyol. Dengan situasi seperti itu, mana mungkin Luna mau menikah dengan salah satu dari tuan muda Laventin!? Lalu kenapa Marios terkejut dan tidak terima dengan pernyataannya? “Sombong sekali!” Luna menoleh ke sumber suara. Bukan Marios yang berucap, melainkan seorang pemuda berwajah tampan tapi dengan garis wajah lembut nan feminin. B
Suara bariton itu menarik Luna untuk menoleh dan menemukan sesosok pria rupawan berdiri di ujung atas anak tangga. Tubuh pria itu tinggi tegap, dibalut kemeja formal hitam yang dipadukan celana kantor rapi. Setelan itu pas di badan, membuat otot tubuh pria itu tercetak jelas dari balik kain, terutama di area dada bidangnya dan lengan bagian atas. Sekalipun Luna punya segudang pengalaman melihat pria tampan di zaman kuno, bahkan punya haremnya sendiri, penampilan pria itu tetap membuatnya tertegun.Dari ingatan pemilik tubuh yang asli, Luna mengenali pria itu sebagai Marios Laventin, cucu pertama keluarga Laventin.Sosok itu mengambil langkah lebar menghampiri Luna. Mata hitamnya berkilat dingin, memancarkan ketidaksenangan atas tindakan Luna. “T-Tuan,” ucap Bela, memasang ekspresi sedih dan teraniaya. “Mohon maafkan saya. Saya bersalah karena tidak bisa memenuhi keinginan Nona Muda.”Bela langsung menangis usai mengatakan itu. Dirinya berlutut di bawah kaki Luna, meraung histeris







