Share

004. Memperbaiki Diri

Author: azzurayna
last update Last Updated: 2026-02-11 07:05:56

“Masalah ini akan kuselidiki, jangan membuat keributan lagi di masa depan.”

Tiba-tiba Marios berkata. Lalu tanpa mengatakan apa pun, pria itu pergi diikuti Luca. Sementara Luna menghela napas pelan dan kembali ke kamarnya.

Ia lelah. Badan ini menyiksanya.

Malam harinya, seorang wanita muda berambut cokelat dan bermata hazel tiba-tiba muncul di depan kamar Luna.

Namun, tidak seperti para pelayan sebelumnya, wanita muda itu mengetuk dengan sopan. Bahkan tutur katanya lembut saat akhirnya Luna membuka pintu.

“Selamat malam, Nona. Saya adalah pelayan baru di paviliun ini. Nama saya Anna.”

Luna menatap wanita muda itu dalam diam selama beberapa saat.

“Tuan muda Marios mengirimmu kemari?” tanya Luna kemudian.

“Benar, Nona. Saya diminta mengawasi gerak-gerik pelayan di gedung sekaligus menjadi pelayan pribadi anda!” Anna menjawab antusias.

Luna mengangguk. Ia tidak melihat sikap buruk dari sikap Anna sejauh ini.

“Baiklah. Bisakah kau bantu aku mengambil makan malam dari dapur?” tanya Luna lagi. “Aku sedikit kesulitan.”

“Laksanakan!” Anna menghilang cepat dari pandangan Luna.

Sepeninggal Anna, Luna menutup pintu. Ia kemudian mendekati lemari putih minimalis di dekat ranjang dan memilah piyama gaun merah muda.

Beres mengganti pakaian, tubuh gemuknya berjalan ke meja rias. Tidak ada perawatan kulit apa pun di sana. Hanya ada sisir yang geriginya patah beberapa dan botol kaca yang aromanya menyengat.

“Aku perlu membeli beberapa produk perawatan. Tapi aku harus punya uang dulu,” helanya frustasi. Baru kali ini Permaisuri Emeros tertekan karena tak punya uang.

Foto masa kecil Luna Martino saja luar biasa cantik dan manis. Tetapi saat dewasa malah jadi buruk rupa karena mengabaikan perawatan diri. Seharusnya, tubuh yang ia huni sekarang punya kulit putih bersih, dengan rambut pirang bergelombang, dan bibir merah cerah.

Luna mulai mengeringkan rambut pirangnya. Setelah dicuci selama dua jam, helaian surainya menjadi lembut.

Ia telah menyusun rencana. Terlepas dari keputusannya soal pernikahan yang diatur oleh Nyonya Laventin, Luna harus bertahan hidup dulu. Ia tidak bisa selamanya di kamar saja hanya karena susah bergerak.

Lalu, ia juga menolak memandang cermin dan mendapati wajah buruk rupa si pemilik tubuh asli.

Semasa menjadi Luna Emeros, ia dianugerahi penampilan secantik peri, semua orang mencintainya. Tiada pria normal yang mampu menolak pesonanya.

Paling tidak, dengan penampilan yang lebih baik, tidak akan ada orang yang meremehkannya.

Sang permaisuri juga harus belajar soal zaman modern ini. Banyak hal yang tidak ia ketahui.

Ingatan Luna Martino pun tidak bisa diandalkan karena ia adalah gadis dari desa. Tidak terlalu paham teknologi dan tren.

Ah, banyak sekali yang harus Luna lakukan.

Setelah tugas membersihkan diri berhasil sukses. Luna meninggalkan area meja rias, berpindah ke sofa menikmati makan malam ditemani Anna.

Setelah itu, Luna berjalan-jalan di halaman depan gedung untuk membakar lemak. Sesekali mendengarkan Anna berbicara tentang tren drama tahun ini.

Di sela kedamaian mereka, Bela entah dari mana, muncul di depan Luna. Wanita itu mendadak berlutut dan menangis histeris.

Luna tercengang, menjadi manusia tak tahu malu ada batasannya, kan?

“Bela, berdiri!” ucapnya tajam. “Jika aku tidak berhenti tepat waktu, aku bisa saja menginjakmu hingga masuk rumah sakit!”

Bela seolah tuli dan buta, sibuk menangis sambil berlutut di depan Luna. Terisak sesenggukan, “Ampuni saya! Ampuni saya, Nona! Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi! Mohon ampuni nyawa saya!”

Bibir Anna terbuka lebar, merasa malu melihat tingkah absurd Bela. Pelayan ini juga menindasnya bermodalkan status ‘Senior’ sebelumnya.

“Nona Martino, keributan apalagi yang anda perbuat malam-malam begini?”

Suara itu terdengar lembut, mengandung ketenangan dan kebijaksanaan seorang pria dewasa.

Berselang tiga detik, sosok tinggi keluar dari bayangan malam. Tubuh tinggi tegapnya dibalut setelan formal atasan biru cerah dengan bawahan celana hitam.

Zeron Laventin, putra ketiga sekaligus anak haram dari keluarga Laventin. Si perfeksionis kedua setelah Marios. Bedanya, pria itu selalu memasang ekspresi lembut.

Luna berdecak kagum, genetik keluarga Laventin sungguh berkualitas tinggi. Tatapan violetnya turun memandangi Bela yang tertangkap basah melirik licik ke arah Zeron Laventin.

Pelayan ini punya keberanian sebesar gunung. Memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk menarik perhatian para tuan muda Laventin.

“Tuan muda salah paham, saya sedang jalan-jalan saat Bela tiba-tiba berlutut dan menangis di kaki saya. Ternyata ...” Lirikan matanya tertuju ke paras rupawan Zeron, “Anda sedang berjalan kemari.”

Anna menimpali bersungut dari samping, “Wanita ini sengaja mencari gara-gara!”

Bela melotot marah pada Anna, pelayan rendahan sepertinya bahkan berani mengadu domba!

“Tuan muda, tolong beri saya keadilan!” Bela berpindah gesit dari kaki Luna ke kaki panjang Zeron. Berlutut di bawah pria itu.

Matanya berkilat rakus saat aroma cendana dari tubuh Zeron memasuki indera penciumannya.

“Tuan muda ...” Bela mendongak dengan wajah berlinang air mata, leher jenjangnya terangkat mulus, memperlihatkan belahan dada dari balik kerah seragam yang terbuka.

Luna merinding mendengar panggilan sayu Bela. “Tuan muda, biar saya sendiri yang mengurus masalah Bela. Anda pasti lelah setelah bekerja seharian.”

Zeron membetulkan letak kacamata dibatang hidung tingginya, wanita ini betulan berubah. Lebih percaya diri dan berani membalas ucapannya.

Penampilannya juga tertata rapi, enak dipandang, berbeda dari masa lalu.

Ketika Zeron hendak membuka mulutnya berbicara, suara malas menyahut duluan dari belakang.

“Zeron, seingatku kau bukan orang yang mau ikut campur masalah orang lain. Tingkahmu aneh malam ini.”

Sosok tinggi lainnya muncul, Leon Laventin, anak kedua dari keluarga Laventin. Penampilannya berbeda jauh dari Marios dan Zeron.

Leon berpenampilan asal-asalan, dengan kemeja atas terbuka mempertontonkan sepasang dada kuat berotot, wajahnya tampan menggoda, dan surai pirangnya tergerai acak-acakan, menambahkan kesan seksi dan liar.

Pria itu menyeringai saat bertemu tatapan tenang Luna, “Hai gendut, rambutmu tampak lebih rapi malam ini.”

Luna memejam. Jadi dalam satu hari ini, dia sudah harus menghadapi empat pria Laventin?

Apakah Tuhan tidak mendengar keinginannya untuk dijauhkan dari para pria di kehidupan kali ini!?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   007. Rencana Jahat

    “Sudahlah, dia bukannya melakukan itu dengan sengaja,” cetus Leon santai seolah kekacauan kecil tersebut sudah biasa baginya.Luna melotot ringan sebelum memalingkan muka. Ia menenggak air putih hingga tandas.Bela jelas bersikap semena-mena pada pemilik tubuh, namun respon empat tuan muda Laventin biasa-biasa saja.Seakan tindakan Bela bukan sesuatu yang mengganggu. Apa mungkin selereka mereka memang yang seperti Bela?Atau, Bela punya koneksi kuat yang membuat empat tuan muda bersedia memberinya wajah?“Bella, pergilah.” Leon mengusirnya dengan halus setelah selesai minum. “Aku perlu membicara urusan pribadi dengan Luna,” imbuhnya disertai kerlingan nakal.Bela tersipu malu. Wanita itu menyembunyikan kebencian serta cemburu terhadap Luna, kemudian pergi dengan enggan meninggalkan keduanya.“Gendut, kamu marah?” Jari telunjuk Leon menoel usil lemak pinggang Luna.Luna menepis jari kurang ajar Leon, “Tidak. Mengapa saya harus marah? Anda tidak berbuat kesalahan pada saya, tuan muda.”“

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   006. Godaan sang Pelayan

    “Selamat pagi, gendut!” sapaan familier datang dari luar pintu kamar. Pintu kamar putih itu tiba-tiba didobrak. “Apa yang ingin kamu lakukan hari ini?”Leon, dengan balutan atasan kaos dan bawahan celana panjang hitam tampak bersandar di kusen pintu. Mata abu indahnya mengerling nakal. “Kenapa tidak menjawbaku?“ Leon menyeringai, wajah tampannya tampak menggoda seperti seekor rubah jantan. Luna tercengang mendapati kehadiran Leon di kamar pribadinya. “Tuan muda, mengapa kamu ke sini?”“Entahlah,” bahunya terangkat acuh. “Aku sangat bosan, ayo hibur aku.”“Anda pikir saya seorang badut?” Luna menyipit sengit, sedikit marah diminta menghibur orang. Wajah bulat besarnya mengerut. Sontak Leon tertawa terbahak-bahak, memukuli permukaan pintu seraya memegangi perutnya yang keram. “Hahahaha! Wajahmu sangat lucu, tidak sia-sia aku datang kemari,” tukasnya menyeka setitik air disudut mata. Tawa Leon belum mereda sama sekali, “Perutku sampai mati rasa, hahaha, wajahmu bahkan lebih lucu dari

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   005. Dua Tuan Muda Lain

    “Leon, untuk apa kau datang kemari?” Zeron bertanya santai, suaranya tersirat kelembutan alami. “Tumben kamu tidak pergi ke klab malam?”“Bosan, aku dengar terjadi sesuatu yang menarik di sini, jadi aku mampir sebentar.” Leon mengangkat kedua bahunya acuh saat menjawab. “Tuan muda sekalian,” suara sopan Luna menginterupsi, menarik atensi dua pria tampan itu. “Saya akan membawa Bela kembali.”Bela, yang masih berlutut di rerumputan, sontak menggeleng keras kepala. Kedua matanya memerah, bertingkah selayaknya korban teraniaya.“Nona, saya tahu anda ingin memukuli saya lagi, kan?” Bela terisak sedih. “Saya tidak mau! Lebih baik anda bunuh saja saya!”“Memukuli apa?” Kesabaran Luna mulai menipis. “Cepat kembali ke dalam!”“Tuan muda, tolong selamatkan saya!” Bela beringsut mundur dengan sengaja, tubuh sintalnya menempel di kaki panjang Zeron. Dada lembut wanita itu menggesek paha keras Zeron melalui suit pants hitamnya. Pemandangan ‘sensual’ itu menarik siulan dari bibir Leon. Luna se

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   004. Memperbaiki Diri

    “Masalah ini akan kuselidiki, jangan membuat keributan lagi di masa depan.”Tiba-tiba Marios berkata. Lalu tanpa mengatakan apa pun, pria itu pergi diikuti Luca. Sementara Luna menghela napas pelan dan kembali ke kamarnya.Ia lelah. Badan ini menyiksanya.Malam harinya, seorang wanita muda berambut cokelat dan bermata hazel tiba-tiba muncul di depan kamar Luna.Namun, tidak seperti para pelayan sebelumnya, wanita muda itu mengetuk dengan sopan. Bahkan tutur katanya lembut saat akhirnya Luna membuka pintu.“Selamat malam, Nona. Saya adalah pelayan baru di paviliun ini. Nama saya Anna.”Luna menatap wanita muda itu dalam diam selama beberapa saat.“Tuan muda Marios mengirimmu kemari?” tanya Luna kemudian. “Benar, Nona. Saya diminta mengawasi gerak-gerik pelayan di gedung sekaligus menjadi pelayan pribadi anda!” Anna menjawab antusias. Luna mengangguk. Ia tidak melihat sikap buruk dari sikap Anna sejauh ini.“Baiklah. Bisakah kau bantu aku mengambil makan malam dari dapur?” tanya Luna

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   003. Saya Tidak Ingin Menikah

    Reaksi tersebut tidak lolos dari perhatian Luna, sang permaisuri kerajaan Emeros. Namun, gadis itu menjaga ekspresi netralnya. Benar, Luna Martino dibawa ke sini sebagai calon istri dari salah satu tuan muda Laventin. Bahkan, keempat tuan muda tersebut menjemput Luna Martino sendiri karena diperintah oleh sang nyonya besar. Sebelumnya, ia bersikap baik dan penurut. Dengan harapan bisa diterima oleh keluarga barunya. Luna Martino sempat berharap. Namun, keempat tuan muda tersebut tidak ada yang ramah pada gadis malang itu. Tidak ada yang membantunya, membiarkan Luna Martino menghadapi siksaan para pelayan, lalu terisolasi sendirian sampai mati konyol. Dengan situasi seperti itu, mana mungkin Luna mau menikah dengan salah satu dari tuan muda Laventin!? Lalu kenapa Marios terkejut dan tidak terima dengan pernyataannya? “Sombong sekali!” Luna menoleh ke sumber suara. Bukan Marios yang berucap, melainkan seorang pemuda berwajah tampan tapi dengan garis wajah lembut nan feminin. B

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   002. Drama Lanjutan

    Suara bariton itu menarik Luna untuk menoleh dan menemukan sesosok pria rupawan berdiri di ujung atas anak tangga. Tubuh pria itu tinggi tegap, dibalut kemeja formal hitam yang dipadukan celana kantor rapi. Setelan itu pas di badan, membuat otot tubuh pria itu tercetak jelas dari balik kain, terutama di area dada bidangnya dan lengan bagian atas. Sekalipun Luna punya segudang pengalaman melihat pria tampan di zaman kuno, bahkan punya haremnya sendiri, penampilan pria itu tetap membuatnya tertegun.Dari ingatan pemilik tubuh yang asli, Luna mengenali pria itu sebagai Marios Laventin, cucu pertama keluarga Laventin.Sosok itu mengambil langkah lebar menghampiri Luna. Mata hitamnya berkilat dingin, memancarkan ketidaksenangan atas tindakan Luna. “T-Tuan,” ucap Bela, memasang ekspresi sedih dan teraniaya. “Mohon maafkan saya. Saya bersalah karena tidak bisa memenuhi keinginan Nona Muda.”Bela langsung menangis usai mengatakan itu. Dirinya berlutut di bawah kaki Luna, meraung histeris

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status