Share

005. Dua Tuan Muda Lain

Author: azzurayna
last update Last Updated: 2026-02-11 11:25:55

“Leon, untuk apa kau datang kemari?” Zeron bertanya santai, suaranya tersirat kelembutan alami. “Tumben kamu tidak pergi ke klab malam?”

“Bosan, aku dengar terjadi sesuatu yang menarik di sini, jadi aku mampir sebentar.” Leon mengangkat kedua bahunya acuh saat menjawab.

“Tuan muda sekalian,” suara sopan Luna menginterupsi, menarik atensi dua pria tampan itu. “Saya akan membawa Bela kembali.”

Bela, yang masih berlutut di rerumputan, sontak menggeleng keras kepala. Kedua matanya memerah, bertingkah selayaknya korban teraniaya.

“Nona, saya tahu anda ingin memukuli saya lagi, kan?” Bela terisak sedih. “Saya tidak mau! Lebih baik anda bunuh saja saya!”

“Memukuli apa?” Kesabaran Luna mulai menipis. “Cepat kembali ke dalam!”

“Tuan muda, tolong selamatkan saya!” Bela beringsut mundur dengan sengaja, tubuh sintalnya menempel di kaki panjang Zeron.

Dada lembut wanita itu menggesek paha keras Zeron melalui suit pants hitamnya.

Pemandangan ‘sensual’ itu menarik siulan dari bibir Leon.

Luna segera meminta Anna menarik Bela mundur. Tubuh kecil Anna tak disangkanya menyimpan tenaga luar biasa kuat.

Bela diseret seperti ikan kering oleh Anna. Mereka berdua menghilang dari kelokan pintu utama.

Luna menatap Zeron dan Leon, tiada ketakutan dimatanya, hanya ada ketenangan yang terukur dan sikap hormat yang tertata rapi.

“Tuan muda, saya minta maaf atas kelakukan Bela,” ucapnya disertai senyuman formal. “Malam sudah larut, saya mohon undur diri.”

“Tunggu sebentar,” tahan Leon, lengan kanannya mencekal kuat tangan tebal Luna. “Kami belum memberimu izin, kenapa terburu-buru?”

“Ya?” Dahi Luna berkerut. Ia terpaksa berbalik karena cengkeraman Leon luar biasa kokoh. Ia yang gempal ini pun sulit melepaskan diri.

“Ck,” Leon berdecak, tetapi tidak kesal. Mata abu-abunya unik dan indah, menunjukkan pesona penggoda ulung. “Mau menghabiskan malam denganku, Nona Martino? Aku cukup bosan akhir-akhir ini.”

Kening Zeron berlipat setelah mendengar tawaran konyol Leon. “Kakak, jangan kurang ajar.”

“Kurang ajar?” Leon memiringkan wajah, sudut bibirnya terangkat alami. Sehingga ketika tersenyum, aura penggodanya keluar seketika. “Calon suaminya belum ditentukan, Nenek tidak bilang apa pun, bukankah aku juga punya kesempatan?”

Dorongan menggampar Leon tiba-tiba terlintas dibenak Luna. Pria tengil ini selain kurang ajar, mulutnya tidak punya fitur filter.

Pria itu— Leon Laventin— ialah anak kedua yang urak-urakkan. Leon sering menghabiskan waktu mengunjungi berbagai klab malam.

Profesi DJ Club menjadi kerjaan sampingan Leon. Di sisa waktu, Leon pun sama sibuknya mengurusi cabang perusahaan.

Jadi bisa dilihat pria seperti apa Leon ini. Pria rupawan penggoda dengan skill merayu wanita tingkat Dewa.

Dengan paras setampan itu, sulit bagi wanita untuk menolak undangannya. Pria sepertinya sering menikmati sensasi mempermainkan perasaan wanita seperti mainan belaka.

Dan Luna adalah target berikutnya.

“Tuan Leon, harap berhati-hati dengan cara bicara anda. Saya bukan badut yang menghibur rasa bosan seseorang,” Luna memberi balasan tegas dan tenang.

Zeron menghela napas, ia tersenyum perhatian. “Maafkan Kak Leon, dia hanya bercanda,” jelasnya lembut.

“Bercanda ada batasannya,” tukas Luna dengan wajah serius.

Ketegasan Luna memicu kekesalan dihati Leon. “Hei, gendut. Kau bahkan belum resmi bergabung sebagai Laventin, jadi kenapa aku harus berhati-hati pada setiap ucapanku?”

“.... yah, kamu bahkan tak pantas bersanding di sebelah saudaraku. Marios si manusia sempurna itu untuk sekedar melirikmu saja mungkin tak sudi.”

“Kakak,” Zeron memperingati. Iris coklat caramel dibalik lensa kacamatanya melotot ringan. “Bagaimana pun juga, Nenek meminta kita memperlakukan Nona Martino dengan baik.”

“Terserah,” timpal Leon apatis. Pria itu membalikkan tubuh tingginya, pergi dua langkah. Lalu menoleh ke belakang sesaat, bibirnya menyeringai mencurigakan. “Nona Martino, aku menyarankan kamu operasi sedot lemak. Pfft, aku takut kakakku mati lemas tertimpa tubuhmu saat malam pengantin kalian.”

Kulit wajah Luna merona merah usai dipermalukan. “Terima kasih atas saran baik hati anda, Tuan Leon,” jawab Luna dengan suara tertahan, rahangnya mengeras menahan benci.

“Nona Martino, Kak Leon suka bicara blak-blakkan, jangan dimasukkan ke hati,” hibur Zeron.

Luna hampir lupa masih ada satu tuan muda di sini. Ia tersenyum pengertian, “Terima kasih, Tuan Zeron. Saya tahu tubuh saya memang berlemak. Ucapan Tuan Leon tidak salah.”

Zeron membetulkan kacamatanya, netra coklatnya yang lembut menatap iba wanita bertubuh gempal itu. “Saya kembali dulu, ingat untuk menjaga ketenangan. Kak Marios membenci keributan.”

“Terima kasih, nasihat anda akan saya ingat baik-baik.”

Pria setinggi 1,92 meter itu mengangguk sekilas, kemudian berjalan mantap meninggalkan kawasan paviliun tempat Luna tinggal.

“Ugh,” Luna akhirnya mengerang setelah halaman depan sepi. “Betapa sial aku hari ini,” racaunya dalam suasana hati buruk.

Luna kembali ke gedung untuk istirahat lebih awal ketika ia dihadang oleh Bela dan sekelompok pelayan. Ekor matanya menangkap sosok Anna yang ditahan tiga pelayan wanita.

Mata violet Luna membeku, “Bela, tidakkah kau harus memberiku penjelasan? Anna maid pribadiku.”

“Tukang kebun rendahan sepertinya berani menjelekkan namaku di depan Tuan Zeron dan Tuan Leon, sebagai senior, aku memberinya sedikit pelajaran.”

Senyuman licik mengembang dibibir Bela, mata wanita itu menatap ganas ke arah Luna. “Minta maaf padaku, maka kumaafkan pelaya—akh!”

Luna menampar wajah Bela, bukan satu kali, tetapi tamparan tiga kali beruntun. Setelah itu ia meniup telapak tangan dengan wajah datar.

“Mau berapa tamparan lagi? Bilang saja, tak perlu sungkan,” Luna bersilang tangan di dada, dagu bulatnya terangkat, smirk disudut bibirnya tampak menakutkan.

Bela jatuh tersungkur ke atas lantai, pantatnya menghantam keras hingga terasa sakit. “Jalang!”

Bug!

Kaki kanan Luna baru saja menendang perut Bela. “Katakan sekali lagi.”

Tubuh Bela meringkuk kesakitan di lantai dingin. Wanita itu mengerang, air mata luruh dari sudut matanya. “Si— dasar! Akan ku laporkan kamu ke Tuan Marios.”

“Laporkan saja, aku juga bisa melaporkanmu.” Luna menunjuk Anna yang pakaiannya diacak-acak karena pergulatan sengit. “Anna punya bekas luka di wajahnya, aku pun punya bukti.”

Tiga pelayan di sisi Anna melepaskan wanita kecil itu. Mereka mundur tergesa-gesa, ketakutan menghadapi sikap tegas Marios Laventin yang kerap kali membayangi psikis mereka.

Bela menggertakan gigi, “Tunggu saja!” Lalu ia bangkit dibantu dua pelayan muda. Pergi ke area samping paviliun, tempat para pelayan tinggal.

“Bagaimana pun caranya, jalang itu harus disingkirkan! Aku bersumpah akan menyingkirkannya, apa bagusnya wanita kampung, gendut, jelek sepertinya? Aku, Bela, seratus kali lebih baik dari dia!”

Jika wanita seperti Luna Martino bisa mendapat kesempatan memasuki Laventin sebagai menantu, maka Bela juga bisa! Bahkan lebih pantas dari Luna Martino!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   007. Rencana Jahat

    “Sudahlah, dia bukannya melakukan itu dengan sengaja,” cetus Leon santai seolah kekacauan kecil tersebut sudah biasa baginya.Luna melotot ringan sebelum memalingkan muka. Ia menenggak air putih hingga tandas.Bela jelas bersikap semena-mena pada pemilik tubuh, namun respon empat tuan muda Laventin biasa-biasa saja.Seakan tindakan Bela bukan sesuatu yang mengganggu. Apa mungkin selereka mereka memang yang seperti Bela?Atau, Bela punya koneksi kuat yang membuat empat tuan muda bersedia memberinya wajah?“Bella, pergilah.” Leon mengusirnya dengan halus setelah selesai minum. “Aku perlu membicara urusan pribadi dengan Luna,” imbuhnya disertai kerlingan nakal.Bela tersipu malu. Wanita itu menyembunyikan kebencian serta cemburu terhadap Luna, kemudian pergi dengan enggan meninggalkan keduanya.“Gendut, kamu marah?” Jari telunjuk Leon menoel usil lemak pinggang Luna.Luna menepis jari kurang ajar Leon, “Tidak. Mengapa saya harus marah? Anda tidak berbuat kesalahan pada saya, tuan muda.”“

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   006. Godaan sang Pelayan

    “Selamat pagi, gendut!” sapaan familier datang dari luar pintu kamar. Pintu kamar putih itu tiba-tiba didobrak. “Apa yang ingin kamu lakukan hari ini?”Leon, dengan balutan atasan kaos dan bawahan celana panjang hitam tampak bersandar di kusen pintu. Mata abu indahnya mengerling nakal. “Kenapa tidak menjawbaku?“ Leon menyeringai, wajah tampannya tampak menggoda seperti seekor rubah jantan. Luna tercengang mendapati kehadiran Leon di kamar pribadinya. “Tuan muda, mengapa kamu ke sini?”“Entahlah,” bahunya terangkat acuh. “Aku sangat bosan, ayo hibur aku.”“Anda pikir saya seorang badut?” Luna menyipit sengit, sedikit marah diminta menghibur orang. Wajah bulat besarnya mengerut. Sontak Leon tertawa terbahak-bahak, memukuli permukaan pintu seraya memegangi perutnya yang keram. “Hahahaha! Wajahmu sangat lucu, tidak sia-sia aku datang kemari,” tukasnya menyeka setitik air disudut mata. Tawa Leon belum mereda sama sekali, “Perutku sampai mati rasa, hahaha, wajahmu bahkan lebih lucu dari

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   005. Dua Tuan Muda Lain

    “Leon, untuk apa kau datang kemari?” Zeron bertanya santai, suaranya tersirat kelembutan alami. “Tumben kamu tidak pergi ke klab malam?”“Bosan, aku dengar terjadi sesuatu yang menarik di sini, jadi aku mampir sebentar.” Leon mengangkat kedua bahunya acuh saat menjawab. “Tuan muda sekalian,” suara sopan Luna menginterupsi, menarik atensi dua pria tampan itu. “Saya akan membawa Bela kembali.”Bela, yang masih berlutut di rerumputan, sontak menggeleng keras kepala. Kedua matanya memerah, bertingkah selayaknya korban teraniaya.“Nona, saya tahu anda ingin memukuli saya lagi, kan?” Bela terisak sedih. “Saya tidak mau! Lebih baik anda bunuh saja saya!”“Memukuli apa?” Kesabaran Luna mulai menipis. “Cepat kembali ke dalam!”“Tuan muda, tolong selamatkan saya!” Bela beringsut mundur dengan sengaja, tubuh sintalnya menempel di kaki panjang Zeron. Dada lembut wanita itu menggesek paha keras Zeron melalui suit pants hitamnya. Pemandangan ‘sensual’ itu menarik siulan dari bibir Leon. Luna se

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   004. Memperbaiki Diri

    “Masalah ini akan kuselidiki, jangan membuat keributan lagi di masa depan.”Tiba-tiba Marios berkata. Lalu tanpa mengatakan apa pun, pria itu pergi diikuti Luca. Sementara Luna menghela napas pelan dan kembali ke kamarnya.Ia lelah. Badan ini menyiksanya.Malam harinya, seorang wanita muda berambut cokelat dan bermata hazel tiba-tiba muncul di depan kamar Luna.Namun, tidak seperti para pelayan sebelumnya, wanita muda itu mengetuk dengan sopan. Bahkan tutur katanya lembut saat akhirnya Luna membuka pintu.“Selamat malam, Nona. Saya adalah pelayan baru di paviliun ini. Nama saya Anna.”Luna menatap wanita muda itu dalam diam selama beberapa saat.“Tuan muda Marios mengirimmu kemari?” tanya Luna kemudian. “Benar, Nona. Saya diminta mengawasi gerak-gerik pelayan di gedung sekaligus menjadi pelayan pribadi anda!” Anna menjawab antusias. Luna mengangguk. Ia tidak melihat sikap buruk dari sikap Anna sejauh ini.“Baiklah. Bisakah kau bantu aku mengambil makan malam dari dapur?” tanya Luna

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   003. Saya Tidak Ingin Menikah

    Reaksi tersebut tidak lolos dari perhatian Luna, sang permaisuri kerajaan Emeros. Namun, gadis itu menjaga ekspresi netralnya. Benar, Luna Martino dibawa ke sini sebagai calon istri dari salah satu tuan muda Laventin. Bahkan, keempat tuan muda tersebut menjemput Luna Martino sendiri karena diperintah oleh sang nyonya besar. Sebelumnya, ia bersikap baik dan penurut. Dengan harapan bisa diterima oleh keluarga barunya. Luna Martino sempat berharap. Namun, keempat tuan muda tersebut tidak ada yang ramah pada gadis malang itu. Tidak ada yang membantunya, membiarkan Luna Martino menghadapi siksaan para pelayan, lalu terisolasi sendirian sampai mati konyol. Dengan situasi seperti itu, mana mungkin Luna mau menikah dengan salah satu dari tuan muda Laventin!? Lalu kenapa Marios terkejut dan tidak terima dengan pernyataannya? “Sombong sekali!” Luna menoleh ke sumber suara. Bukan Marios yang berucap, melainkan seorang pemuda berwajah tampan tapi dengan garis wajah lembut nan feminin. B

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   002. Drama Lanjutan

    Suara bariton itu menarik Luna untuk menoleh dan menemukan sesosok pria rupawan berdiri di ujung atas anak tangga. Tubuh pria itu tinggi tegap, dibalut kemeja formal hitam yang dipadukan celana kantor rapi. Setelan itu pas di badan, membuat otot tubuh pria itu tercetak jelas dari balik kain, terutama di area dada bidangnya dan lengan bagian atas. Sekalipun Luna punya segudang pengalaman melihat pria tampan di zaman kuno, bahkan punya haremnya sendiri, penampilan pria itu tetap membuatnya tertegun.Dari ingatan pemilik tubuh yang asli, Luna mengenali pria itu sebagai Marios Laventin, cucu pertama keluarga Laventin.Sosok itu mengambil langkah lebar menghampiri Luna. Mata hitamnya berkilat dingin, memancarkan ketidaksenangan atas tindakan Luna. “T-Tuan,” ucap Bela, memasang ekspresi sedih dan teraniaya. “Mohon maafkan saya. Saya bersalah karena tidak bisa memenuhi keinginan Nona Muda.”Bela langsung menangis usai mengatakan itu. Dirinya berlutut di bawah kaki Luna, meraung histeris

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status