MasukSuara bariton itu menarik Luna untuk menoleh dan menemukan sesosok pria rupawan berdiri di ujung atas anak tangga.
Tubuh pria itu tinggi tegap, dibalut kemeja formal hitam yang dipadukan celana kantor rapi. Setelan itu pas di badan, membuat otot tubuh pria itu tercetak jelas dari balik kain, terutama di area dada bidangnya dan lengan bagian atas. Sekalipun Luna punya segudang pengalaman melihat pria tampan di zaman kuno, bahkan punya haremnya sendiri, penampilan pria itu tetap membuatnya tertegun. Dari ingatan pemilik tubuh yang asli, Luna mengenali pria itu sebagai Marios Laventin, cucu pertama keluarga Laventin. Sosok itu mengambil langkah lebar menghampiri Luna. Mata hitamnya berkilat dingin, memancarkan ketidaksenangan atas tindakan Luna. “T-Tuan,” ucap Bela, memasang ekspresi sedih dan teraniaya. “Mohon maafkan saya. Saya bersalah karena tidak bisa memenuhi keinginan Nona Muda.” Bela langsung menangis usai mengatakan itu. Dirinya berlutut di bawah kaki Luna, meraung histeris meminta pengampunan. Seperti mendapatkan isyarat, pelayan lain mengikuti akting Bela. Mereka turut berlutut di kaki Luna. Mendengar kegaduhan itu, Marios mengernyit. Sebagai penanggung jawab mansion Laventin selama sang nenek pergi, ia tidak suka mengurusi drama tidak penting seperti ini. “Kenapa kau selalu membuat keributan di sini?” Luna menahan dirinya agar tidak memutar bola matanya mendengar itu dan menjawab, “Tuan Muda, saya hanya memberi pelajaran yang pantas karena–” “Nona, mohon maafkan kebodohan saya!” Bela buru-buru berkata, menampilkan dirinya sebagai korban menyedihkan dengan wajah bersimbah air mata. Tak bisa disangkal, ia cemas lantaran Luna tidak seperti biasanya. “Tuan, tolong jangan marahi Nona lagi. Saya yang salah!” “Cukup.” Marios berkata. “Jangan hanya menangis. Berdiri dan jelaskan masalahnya.” Bela tampak takut-takut saat berdiri. Tubuhnya gemetar. “Maaf, Tuan. Beberapa hari yang lalu, Nona ingin makan sushi dan daging asap. Tapi sepertinya buatan kami kurang sesuai dengan selera Nona, jadi sudah dua hari ini Nona mengurung diri di kamar,” terang Bela dengan kepala tertunduk. “K-kami tadi berusaha membujuk Nona untuk makan. Tapi….” Pelayan itu kembali mengakhiri ceritanya dengan isak tangis yang dramatis. Sorot mata Marios semakin dalam usai mendengar penuturan tersebut. Pria itu menoleh menatap Luna dan hendak menegurnya. Namun, tanpa sadar, Marios justru tertegun dengan ketenangan Luna, meski keningnya sedikit tampak berkerut. Seingatnya Luna Martino cenderung penakut dan sensitif. Dengan masalah sebesar ini, seharusnya Luna sudah gemetar memohon maaf padanya. “Kau tidak berniat membela diri?” tanya Marios. Baru setelah itu, Luna mendongak menatap pria itu. “Saya tidak ingat pernah melakukan itu,” tutur Luna tenang, tapi tegas. “Yang saya tahu, Luna Martino mengunci diri di kamar karena tidak ingin dipaksa makan makanan basi yang disediakan oleh para pelayan.” “Nona, mohon jangan mengatakannya seperti itu.” Bela langsung membantah. Ia menatap Marios. “Itu fitnah, Tuan. Saya memang salah karena tidak sanggup memenuhi keinginan Nona. Tapi saya tidak tahu mengapa Nona berbohong seperti itu.” Para pelayan lain sontak mengiakan ucapan Bela tersebut, otomatis menuding Luna melakukan fitnah tak tahu malu. “Tuan, mohon bersikap adil,” ucap salah seorang pelayan. “Benar, Tuan.” “Kami sudah lama bekerja di sini, bahkan jauh sebelum Nona datang.” “Tuan pasti lebih tahu. Mana mungkin kami berani memperlakukan Nona dengan buruk, Tuan.” Bela kembali berucap. Ia merasa lebih tenang karena mendapat dukungan. “Nona adalah tamu penting keluarga Laventin–” “Sekarang, kau mengakuiku sebagai tamu?” potong Luna, akhirnya muak dengan sandiwara di hadapannya. “Lalu kenapa kalian memukuliku?” “Nona, mohon jangan memfitnah!” “Nona, kami tidak pernah!” “Jangan membuat Tuan salah paham, Nona.” “Selama ini, apa pun yang Nona inginkan, kami selalu berusaha–” “Diam.” Suara dalam Marios menghentikan teriakan para pelayan di sekitarnya. Kepalanya mulai sakit. Pria itu memberikan isyarat pada ajudannya untuk membawa para pelayan di sana pergi, meski dengan sedikit paksaan karena Bela memutuskan untuk kembali menangis. Padahal dalam hati, wanita culas itu sudah yakin Luna akan dihukum oleh tuan muda pertama keluarga Laventin tersebut. Bela yakin Luna tidak punya bukti apa pun. Semua pelayan di sini berada dalam kendalinya. Dan lagi, ada Madam yang mendukung semua gerak-geriknya menindas Luna agar gadis kampung itu tidak betah di sini. Setelah semua pelayan pergi, di sana hanya tersisa Luna dan Marios. Gadis itu menghela napas, merasa agak lelah. Tubuh barunya ini terasa berat. Tadi Luna bahkan kesulitan untuk sekedar bangkit duduk dan napasnya jadi pendek akibat usaha yang harusnya tidak seberapa itu. Bagaimana pemilik tubuh sebelumnya hidup dengan tubuh seberat ini, ia tidak tahu. Padahal penampilan asli Luna Martino cantik dan potensial, dengan sepasang mata violet sebesar anggur. Namun, semua fitur itu tidak kelihatan, bahkan rambut pirangnya sekarang lebih mirip bulu ayam kusut. “Apa kau punya pembelaan?” Luna mendongak dan mendapati Marios kembali berucap tajam. “Sebagai perempuan dari desa, sepertinya kau sering dimanjakan.” Alis Luna terangkat satu. “Anda lebih memercayai para pelayan dibandingkan saya?” tanyanya. “Aku melihatmu menamparnya.” “Lalu Anda memutuskan untuk percaya pada cerita karangan mereka juga? Saya bahkan tidak tahu bagaimana bentuk makanan yang tadi disebutkan oleh mereka,” balas Luna. “Selama ini, mereka hanya memberikan makanan basi. Mereka bahkan menyebut saya wanita murahan dan jalang. Berkali-kali merendahkan saya.” Luna menarik napas dalam-dalam. “Dibandingkan semua perbuatan buruk yang mereka lakukan ke saya selama beberapa bulan ini, satu tamparan dari saya tidak berarti banyak.” Marios tidak mengatakan apa pun, membuat Luna menghela napas. “Silakan lakukan penyelidikan kalau memang tidak percaya pada saya.” Mata hitam Marios menyorot menyelidik. “Kuharap kau tidak mengada-ada, Luna. Karena aku tidak berminat menjadikan pembohong sebagai calon istriku.” “Saya pun tidak berminat. Baik itu dengan Anda, ataupun dengan tiga saudara lainnya.” Ucapan tegas itu membuat Marios mengernyit. Dan tanpa mereka sadari, ada sepasang mata asing yang tengah menonton mereka.“Sudahlah, dia bukannya melakukan itu dengan sengaja,” cetus Leon santai seolah kekacauan kecil tersebut sudah biasa baginya.Luna melotot ringan sebelum memalingkan muka. Ia menenggak air putih hingga tandas.Bela jelas bersikap semena-mena pada pemilik tubuh, namun respon empat tuan muda Laventin biasa-biasa saja.Seakan tindakan Bela bukan sesuatu yang mengganggu. Apa mungkin selereka mereka memang yang seperti Bela?Atau, Bela punya koneksi kuat yang membuat empat tuan muda bersedia memberinya wajah?“Bella, pergilah.” Leon mengusirnya dengan halus setelah selesai minum. “Aku perlu membicara urusan pribadi dengan Luna,” imbuhnya disertai kerlingan nakal.Bela tersipu malu. Wanita itu menyembunyikan kebencian serta cemburu terhadap Luna, kemudian pergi dengan enggan meninggalkan keduanya.“Gendut, kamu marah?” Jari telunjuk Leon menoel usil lemak pinggang Luna.Luna menepis jari kurang ajar Leon, “Tidak. Mengapa saya harus marah? Anda tidak berbuat kesalahan pada saya, tuan muda.”“
“Selamat pagi, gendut!” sapaan familier datang dari luar pintu kamar. Pintu kamar putih itu tiba-tiba didobrak. “Apa yang ingin kamu lakukan hari ini?”Leon, dengan balutan atasan kaos dan bawahan celana panjang hitam tampak bersandar di kusen pintu. Mata abu indahnya mengerling nakal. “Kenapa tidak menjawbaku?“ Leon menyeringai, wajah tampannya tampak menggoda seperti seekor rubah jantan. Luna tercengang mendapati kehadiran Leon di kamar pribadinya. “Tuan muda, mengapa kamu ke sini?”“Entahlah,” bahunya terangkat acuh. “Aku sangat bosan, ayo hibur aku.”“Anda pikir saya seorang badut?” Luna menyipit sengit, sedikit marah diminta menghibur orang. Wajah bulat besarnya mengerut. Sontak Leon tertawa terbahak-bahak, memukuli permukaan pintu seraya memegangi perutnya yang keram. “Hahahaha! Wajahmu sangat lucu, tidak sia-sia aku datang kemari,” tukasnya menyeka setitik air disudut mata. Tawa Leon belum mereda sama sekali, “Perutku sampai mati rasa, hahaha, wajahmu bahkan lebih lucu dari
“Leon, untuk apa kau datang kemari?” Zeron bertanya santai, suaranya tersirat kelembutan alami. “Tumben kamu tidak pergi ke klab malam?”“Bosan, aku dengar terjadi sesuatu yang menarik di sini, jadi aku mampir sebentar.” Leon mengangkat kedua bahunya acuh saat menjawab. “Tuan muda sekalian,” suara sopan Luna menginterupsi, menarik atensi dua pria tampan itu. “Saya akan membawa Bela kembali.”Bela, yang masih berlutut di rerumputan, sontak menggeleng keras kepala. Kedua matanya memerah, bertingkah selayaknya korban teraniaya.“Nona, saya tahu anda ingin memukuli saya lagi, kan?” Bela terisak sedih. “Saya tidak mau! Lebih baik anda bunuh saja saya!”“Memukuli apa?” Kesabaran Luna mulai menipis. “Cepat kembali ke dalam!”“Tuan muda, tolong selamatkan saya!” Bela beringsut mundur dengan sengaja, tubuh sintalnya menempel di kaki panjang Zeron. Dada lembut wanita itu menggesek paha keras Zeron melalui suit pants hitamnya. Pemandangan ‘sensual’ itu menarik siulan dari bibir Leon. Luna se
“Masalah ini akan kuselidiki, jangan membuat keributan lagi di masa depan.”Tiba-tiba Marios berkata. Lalu tanpa mengatakan apa pun, pria itu pergi diikuti Luca. Sementara Luna menghela napas pelan dan kembali ke kamarnya.Ia lelah. Badan ini menyiksanya.Malam harinya, seorang wanita muda berambut cokelat dan bermata hazel tiba-tiba muncul di depan kamar Luna.Namun, tidak seperti para pelayan sebelumnya, wanita muda itu mengetuk dengan sopan. Bahkan tutur katanya lembut saat akhirnya Luna membuka pintu.“Selamat malam, Nona. Saya adalah pelayan baru di paviliun ini. Nama saya Anna.”Luna menatap wanita muda itu dalam diam selama beberapa saat.“Tuan muda Marios mengirimmu kemari?” tanya Luna kemudian. “Benar, Nona. Saya diminta mengawasi gerak-gerik pelayan di gedung sekaligus menjadi pelayan pribadi anda!” Anna menjawab antusias. Luna mengangguk. Ia tidak melihat sikap buruk dari sikap Anna sejauh ini.“Baiklah. Bisakah kau bantu aku mengambil makan malam dari dapur?” tanya Luna
Reaksi tersebut tidak lolos dari perhatian Luna, sang permaisuri kerajaan Emeros. Namun, gadis itu menjaga ekspresi netralnya. Benar, Luna Martino dibawa ke sini sebagai calon istri dari salah satu tuan muda Laventin. Bahkan, keempat tuan muda tersebut menjemput Luna Martino sendiri karena diperintah oleh sang nyonya besar. Sebelumnya, ia bersikap baik dan penurut. Dengan harapan bisa diterima oleh keluarga barunya. Luna Martino sempat berharap. Namun, keempat tuan muda tersebut tidak ada yang ramah pada gadis malang itu. Tidak ada yang membantunya, membiarkan Luna Martino menghadapi siksaan para pelayan, lalu terisolasi sendirian sampai mati konyol. Dengan situasi seperti itu, mana mungkin Luna mau menikah dengan salah satu dari tuan muda Laventin!? Lalu kenapa Marios terkejut dan tidak terima dengan pernyataannya? “Sombong sekali!” Luna menoleh ke sumber suara. Bukan Marios yang berucap, melainkan seorang pemuda berwajah tampan tapi dengan garis wajah lembut nan feminin. B
Suara bariton itu menarik Luna untuk menoleh dan menemukan sesosok pria rupawan berdiri di ujung atas anak tangga. Tubuh pria itu tinggi tegap, dibalut kemeja formal hitam yang dipadukan celana kantor rapi. Setelan itu pas di badan, membuat otot tubuh pria itu tercetak jelas dari balik kain, terutama di area dada bidangnya dan lengan bagian atas. Sekalipun Luna punya segudang pengalaman melihat pria tampan di zaman kuno, bahkan punya haremnya sendiri, penampilan pria itu tetap membuatnya tertegun.Dari ingatan pemilik tubuh yang asli, Luna mengenali pria itu sebagai Marios Laventin, cucu pertama keluarga Laventin.Sosok itu mengambil langkah lebar menghampiri Luna. Mata hitamnya berkilat dingin, memancarkan ketidaksenangan atas tindakan Luna. “T-Tuan,” ucap Bela, memasang ekspresi sedih dan teraniaya. “Mohon maafkan saya. Saya bersalah karena tidak bisa memenuhi keinginan Nona Muda.”Bela langsung menangis usai mengatakan itu. Dirinya berlutut di bawah kaki Luna, meraung histeris







