Share

007. Rencana Jahat

Penulis: azzurayna
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-19 11:42:48
“Sudahlah, dia bukannya melakukan itu dengan sengaja,” cetus Leon santai seolah kekacauan kecil tersebut sudah biasa baginya.




Luna melotot ringan sebelum memalingkan muka. Ia menenggak air putih hingga tandas.




Bela jelas bersikap semena-mena pada pemilik tubuh, namun respon empat tuan muda Laventin biasa-biasa saja.




Seakan tindakan Bela bukan sesuatu yang mengganggu. Apa mungkin selereka mereka memang yang seperti Bela?




Atau, Bela punya koneksi kuat yang membuat empat tuan muda bersedia memberinya wajah?




“Bella, pergilah.” Leon mengusirnya dengan halus setelah selesai minum. “Aku perlu membicara urusan pribadi dengan Luna,” imbuhnya disertai kerlingan nakal.




Bela tersipu malu. Wanita itu menyembunyikan kebencian serta cemburu terhadap Luna, kemudian pergi dengan enggan meninggalkan keduanya.




“Gendut, kamu marah?” Jari telunjuk Leon menoel usil lemak pinggang Luna.




Luna menepis jari kurang ajar Leon, “Tidak. Mengapa saya harus marah? Anda tidak berbuat kesalahan pada saya, tuan muda.”




“Benarkah? Tapi ekspresi wajahmu tadi berkata lain,” goda Leon tiada henti. “Kamu cemburu dengan Bela, kan?”




“Tuan muda, saran saya jika anda sakit carilah dokter, jangan mengganggu saya.” Luna beranjak kesal sambil berkata ketus. “Terima kasih sudah menemani saya, silahkan kembali dan beristirahat tuan muda.”




Rasa geli terpancar dari sorot mata abu Leon. Pria itu ikut bangun, berdiri dan mengikuti Luna dari belakang.




“Tuan muda!” Kesabaran Luna hampir habis. Ia berusaha mempertahankan kelembutan dalam nada bicaranya, “Saya mau menikmati hari dengan damai, mengapa anda malah mengikuti saya lagi?”




”Entahlah, aku hanya bosan. Berada didekatmu memberiku sedikit kesenangan. Kenapa? Tidak suka?”




Leon tahu Luna tidak bisa mengatakan ketidaksukaannya dengan gamblang karena wanita itu hanyalah tamu Laventin saat ini.




“Saya tidak berani,” jawab Luna, kepalanya merunduk sopan. “Kalau begitu, silahkan gunakan paviliun sesuka hati anda. Saya akan ke kamar dan membaca buku.”




Senyum kemenangan terbit dibibir Leon, mata tajam pria itu menyipit puas mendengar jawaban Luna.




”Buku apa yang kamu baca? Aku mau melihatnya juga.”




”Bukan buku yang bagus, tuan muda pasti bosan melihatnya.”




“Aku belum mencobanya, dari mana kamu bisa tahu aku akan bosan?” Leon menikmati kebencian tertahan di wajah bulat Luna. Sungguh hiburan menarik ditengah rasa bosan.




Kedekatan mereka memicu diskusi sekelompok maid. Mereka menerka-nerka apakah si jalang desa itu sedang mencoba merayu tuan muda kedua?




Tak tahu malu!




Bela meremas rok hitam maidnya ketika menyaksikan kedekatan Leon dan Luna di anak tangga menuju lantai dua.




Matanya memicing benci memandangi sosok gempal Luna yang gemuk dan hitam jelek. Bagaimana mungkin Tuan Leon mau berdekatan dengan sapi jelek sepertinya?




Ia, Bela, seratus kali lebih baik dari pada Luna Martino! Tapi mengapa Tuan Leon tidak pernah memperlakukannya dengan baik? Menyebalkan!




“Bela, ada apa? Kamu sakit?” Salah satu maid bertanya cemas, kata-katanya menyanjung. “Wajahmu merah sekali. Pergilah istirahat, biar aku yang lanjut mencuci piringnya.”




Lamunan kebencian Bela hancur, ia menoleh ke rekannya. Ia dengan sombong menyerahkan pekerjaannya, lalu pergi ke kamar pribadinya.




Di depan pintu kamarnya, berdiri seorang pria dengan pakaian maid serupa. Pria itu menunggu di depan pintu mirip orang bodoh.




Saat matanya menangkap kehadiran Bela, si pria berlari kecil mendekati Bela dan menyerahkan sekotak coklat mahal.




“Bela, aku membelikannya khusus untukmu!” kata si pria tersenyum cerah. “Madam bilang kamu suka coklat manis dari merk ini, jadi aku membelinya semalam. Cobalah!”




Tatapan Bela menajam. Sebuah ide terbesit dipikirannya saat melihat pria bodoh tersebut.




“Terima kasih banyak, Veen.” Bela menerima cokelat mahal itu dengan senang hati, tangannya meraba punggung tangan pria itu dengan sengaja.




Sontak pria itu memerah malu, jantungnya berdebar-debar. “Sama-sama, Bela!”




“Ngomong-ngomong Veen,” Bela tiba-tiba mendekatkan tubuhnya, dadaya menempel ke tubuh atas Veen. “Malam ini, kamu ada waktu tidak?”




Veen sangat gugup ditabrak dada lembut Bela. “A-ada!” sahutnya tergagap. Apakah Bela menerima cintanya mulai sekarang?




“Ada kamar kosong di lantai dua, di sana ada balkon yang menghadap taman. Pemandangan malamnya sangat bagus, mau melihat-lihat bersamaku malam ini?”




”A-aku mau!”




Bela memeluk Veen dan berterima kasih. Sudut bibirnya tertarik licik ke atas. Malam ini, ia akan membuat Luna dipermalukan dan didepak paksa dari keluarga Laventin.




Lihat saja, wanita jelek itu akan hancur ditangannya malam ini!




***




Malam harinya.




“Nona!” Anna muncul setelah turun mengambilkan makan malam, namun gadis muda itu tampak aneh.




Luna berhenti membaca buku, “Ada apa?” Ia melihat Anna menyodorkan nampan berisi makanan. Ekspresi Luna berubah halus.




”Bela memberimu ini?”




Anna mengangguk jujur.




“Aneh, dia bukan wanita murah hati yang mau memberiku makanan enak selama ini.”




“Karena itu rasanya semakin mencurigakan, nona!” Anna menatap horor makanan mewah di tangannya. “Jangan-jangan makanan ini telah dicampur racun?”




“Tidak, Bela tidak seberani itu untuk merenggut nyawaku.” Luna mengambil sendok, kemudian menyendok setiap lauk untuk ia endus baunya.




Bela tidak berani membunuhnya, tetapi wanita itu berani mempermalukannya.




Makan malamnya ternyata dicampur obat afrodisiak. Luna tertawa sinis usai mendeteksi aroma familier itu. Ia, Permaisuri Emeros, sudah hafal betul bagaimana bau obat afrodisiak.




Pria liar mana yang ingin Bela berikan padanya nanti?
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   007. Rencana Jahat

    “Sudahlah, dia bukannya melakukan itu dengan sengaja,” cetus Leon santai seolah kekacauan kecil tersebut sudah biasa baginya.Luna melotot ringan sebelum memalingkan muka. Ia menenggak air putih hingga tandas.Bela jelas bersikap semena-mena pada pemilik tubuh, namun respon empat tuan muda Laventin biasa-biasa saja.Seakan tindakan Bela bukan sesuatu yang mengganggu. Apa mungkin selereka mereka memang yang seperti Bela?Atau, Bela punya koneksi kuat yang membuat empat tuan muda bersedia memberinya wajah?“Bella, pergilah.” Leon mengusirnya dengan halus setelah selesai minum. “Aku perlu membicara urusan pribadi dengan Luna,” imbuhnya disertai kerlingan nakal.Bela tersipu malu. Wanita itu menyembunyikan kebencian serta cemburu terhadap Luna, kemudian pergi dengan enggan meninggalkan keduanya.“Gendut, kamu marah?” Jari telunjuk Leon menoel usil lemak pinggang Luna.Luna menepis jari kurang ajar Leon, “Tidak. Mengapa saya harus marah? Anda tidak berbuat kesalahan pada saya, tuan muda.”“

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   006. Godaan sang Pelayan

    “Selamat pagi, gendut!” sapaan familier datang dari luar pintu kamar. Pintu kamar putih itu tiba-tiba didobrak. “Apa yang ingin kamu lakukan hari ini?”Leon, dengan balutan atasan kaos dan bawahan celana panjang hitam tampak bersandar di kusen pintu. Mata abu indahnya mengerling nakal. “Kenapa tidak menjawbaku?“ Leon menyeringai, wajah tampannya tampak menggoda seperti seekor rubah jantan. Luna tercengang mendapati kehadiran Leon di kamar pribadinya. “Tuan muda, mengapa kamu ke sini?”“Entahlah,” bahunya terangkat acuh. “Aku sangat bosan, ayo hibur aku.”“Anda pikir saya seorang badut?” Luna menyipit sengit, sedikit marah diminta menghibur orang. Wajah bulat besarnya mengerut. Sontak Leon tertawa terbahak-bahak, memukuli permukaan pintu seraya memegangi perutnya yang keram. “Hahahaha! Wajahmu sangat lucu, tidak sia-sia aku datang kemari,” tukasnya menyeka setitik air disudut mata. Tawa Leon belum mereda sama sekali, “Perutku sampai mati rasa, hahaha, wajahmu bahkan lebih lucu dari

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   005. Dua Tuan Muda Lain

    “Leon, untuk apa kau datang kemari?” Zeron bertanya santai, suaranya tersirat kelembutan alami. “Tumben kamu tidak pergi ke klab malam?”“Bosan, aku dengar terjadi sesuatu yang menarik di sini, jadi aku mampir sebentar.” Leon mengangkat kedua bahunya acuh saat menjawab. “Tuan muda sekalian,” suara sopan Luna menginterupsi, menarik atensi dua pria tampan itu. “Saya akan membawa Bela kembali.”Bela, yang masih berlutut di rerumputan, sontak menggeleng keras kepala. Kedua matanya memerah, bertingkah selayaknya korban teraniaya.“Nona, saya tahu anda ingin memukuli saya lagi, kan?” Bela terisak sedih. “Saya tidak mau! Lebih baik anda bunuh saja saya!”“Memukuli apa?” Kesabaran Luna mulai menipis. “Cepat kembali ke dalam!”“Tuan muda, tolong selamatkan saya!” Bela beringsut mundur dengan sengaja, tubuh sintalnya menempel di kaki panjang Zeron. Dada lembut wanita itu menggesek paha keras Zeron melalui suit pants hitamnya. Pemandangan ‘sensual’ itu menarik siulan dari bibir Leon. Luna se

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   004. Memperbaiki Diri

    “Masalah ini akan kuselidiki, jangan membuat keributan lagi di masa depan.”Tiba-tiba Marios berkata. Lalu tanpa mengatakan apa pun, pria itu pergi diikuti Luca. Sementara Luna menghela napas pelan dan kembali ke kamarnya.Ia lelah. Badan ini menyiksanya.Malam harinya, seorang wanita muda berambut cokelat dan bermata hazel tiba-tiba muncul di depan kamar Luna.Namun, tidak seperti para pelayan sebelumnya, wanita muda itu mengetuk dengan sopan. Bahkan tutur katanya lembut saat akhirnya Luna membuka pintu.“Selamat malam, Nona. Saya adalah pelayan baru di paviliun ini. Nama saya Anna.”Luna menatap wanita muda itu dalam diam selama beberapa saat.“Tuan muda Marios mengirimmu kemari?” tanya Luna kemudian. “Benar, Nona. Saya diminta mengawasi gerak-gerik pelayan di gedung sekaligus menjadi pelayan pribadi anda!” Anna menjawab antusias. Luna mengangguk. Ia tidak melihat sikap buruk dari sikap Anna sejauh ini.“Baiklah. Bisakah kau bantu aku mengambil makan malam dari dapur?” tanya Luna

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   003. Saya Tidak Ingin Menikah

    Reaksi tersebut tidak lolos dari perhatian Luna, sang permaisuri kerajaan Emeros. Namun, gadis itu menjaga ekspresi netralnya. Benar, Luna Martino dibawa ke sini sebagai calon istri dari salah satu tuan muda Laventin. Bahkan, keempat tuan muda tersebut menjemput Luna Martino sendiri karena diperintah oleh sang nyonya besar. Sebelumnya, ia bersikap baik dan penurut. Dengan harapan bisa diterima oleh keluarga barunya. Luna Martino sempat berharap. Namun, keempat tuan muda tersebut tidak ada yang ramah pada gadis malang itu. Tidak ada yang membantunya, membiarkan Luna Martino menghadapi siksaan para pelayan, lalu terisolasi sendirian sampai mati konyol. Dengan situasi seperti itu, mana mungkin Luna mau menikah dengan salah satu dari tuan muda Laventin!? Lalu kenapa Marios terkejut dan tidak terima dengan pernyataannya? “Sombong sekali!” Luna menoleh ke sumber suara. Bukan Marios yang berucap, melainkan seorang pemuda berwajah tampan tapi dengan garis wajah lembut nan feminin. B

  • Malas Terlibat Drama Percintaan, Nona Tolak 4 Pria Dominan   002. Drama Lanjutan

    Suara bariton itu menarik Luna untuk menoleh dan menemukan sesosok pria rupawan berdiri di ujung atas anak tangga. Tubuh pria itu tinggi tegap, dibalut kemeja formal hitam yang dipadukan celana kantor rapi. Setelan itu pas di badan, membuat otot tubuh pria itu tercetak jelas dari balik kain, terutama di area dada bidangnya dan lengan bagian atas. Sekalipun Luna punya segudang pengalaman melihat pria tampan di zaman kuno, bahkan punya haremnya sendiri, penampilan pria itu tetap membuatnya tertegun.Dari ingatan pemilik tubuh yang asli, Luna mengenali pria itu sebagai Marios Laventin, cucu pertama keluarga Laventin.Sosok itu mengambil langkah lebar menghampiri Luna. Mata hitamnya berkilat dingin, memancarkan ketidaksenangan atas tindakan Luna. “T-Tuan,” ucap Bela, memasang ekspresi sedih dan teraniaya. “Mohon maafkan saya. Saya bersalah karena tidak bisa memenuhi keinginan Nona Muda.”Bela langsung menangis usai mengatakan itu. Dirinya berlutut di bawah kaki Luna, meraung histeris

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status