MasukMalam itu Yunling terasa seperti sarang yang ditusuk dari dalam. Kabut turun semakin tebal, menelan jalan setapak dan menutupi lentera-lentera yang tergantung di pohon pinus. Kadang cahaya tampak seperti titik kecil yang hampir mati, lalu menghilang lagi. Angin dingin menyapu dinding kayu Paviliun Pengawas, membuatnya berderit pelan, seolah bangunan pun sedang waspada. Aku duduk di depan meja, menatap gulungan salinan yang sudah diikat kembali oleh Lin Suyin. Benangnya hitam, simpulnya rapi, kain pembungkusnya bersih. Semuanya tampak seperti benda yang sudah lama disiapkan, bukan benda yang ‘kebetulan’ ditemukan malam ini. Lin Suyin berdiri di sisi pintu, telinga tajamnya menangkap suara diluar. Ia tidak menyalakan pelita terang, hanya lentera kecil yang redup, tapi cukup untuk membuat ruangan berpendar hangat. “Masih ada waktu,” katanya pelan. Aku mengangkat kepala. “Sampai pagi?” Lin Suyin mengangguk. “Sampai Han Qiao membawa gulungan itu ke tetua. Setelah itu… semua sudah
Paviliun Pengawas terasa lebih sempit ketika aku kembali. Bukan karena dindingnya bergerak, melainkan karena setelah sidang tadi, aku akhirnya mengerti, Yunling tidak menahanku demi melindungi, tetapi demi memastikan aku tetap berada di tempat ketika mereka membutuhkan kambing hitam. Dua karakter yang kutulis di aula masih terbayang di mata: 忍 dan 任. Aku menulisnya sebagai cara bertahan, sebagai cara menahan nama lamaku agar tidak bangkit. Tetapi aku tahu, bagi orang-orang yang memandangku dengan curiga, permainan karakter hanya akan dianggap licik. Lin Suyin berjalan di belakangku sepanjang jalan pulang tanpa berkata apa pun. Aku bisa merasakan napasnya tertahan seperti marah yang tidak dikeluarkan, curiga yang terus bekerja. Begitu pintu paviliun tertutup, ia menoleh padaku. “Kau sengaja menulis 任?” tanyanya. Aku mengangguk pelan. “Aku tidak bisa menulis nama lamaku.” Lin Suyin menatapku beberapa napas, lalu berkata, “Benar.” Aku terkejut. Lin Suyin menambahkan, “Kalau k
Pagi di Yunling datang dengan bunyi lonceng yang berat dan dingin. Kabut belum pergi ketika seorang murid datang ke Paviliun Pengawas, mengetuk pintu tiga kali dengan ritme resmi. Aku sudah duduk sejak sebelum fajar, karena tidurku patah-patah oleh bayangan jarum racun dan suara pedang di dalam gelap. Di luar, dua penjaga berganti jaga. Di dalam, Lin Suyin berdiri seperti biasa—diam, tetapi siaga. Murid itu menangkupkan tangan pada Lin Suyin. “Saudara Lin. Tetua memanggil Ren ke Aula Pedang.” Dadaku langsung mengencang, tapi Lin Suyin tidak tampak terkejut. “Sekarang?” “Sekarang,” jawab murid itu. Aku menarik napas pelan dan berdiri. Kakiku masih terasa nyeri, tetapi aku memaksa wajahku tetap tenang. Aku sudah menjadi “tamu” Yunling. Artinya setiap langkahku akan dinilai. Kami berjalan menuju Aula Pedang melewati halaman latihan. Pagi itu lebih ramai dari kemarin. Murid-murid berlatih, namun tidak ada tawa. Pedang beradu dengan suara yang terlalu keras, seperti orang yang
Paviliun Pengawas berdiri di sisi timur Yunling, sedikit lebih tinggi daripada Paviliun Samping. Tempat itu tidak besar, namun posisinya seperti mata yang menatap lereng gunung. Dari serambinya, aku bisa melihat jalan setapak menuju gerbang, barisan pohon pinus, juga kabut yang menggulung turun seperti ombak. Di sinilah orang-orang sekte menahan tamu yang “terlalu penting untuk dilepas” dan “terlalu berbahaya untuk dibiarkan bebas.” Aku disuruh duduk di dalam ruangan kayu yang cukup rapi. Tidak ada tali yang mengikat, tetapi dua murid berjaga di luar pintu, pedang mereka tidak pernah jauh dari tangan. Lin Suyin berdiri di sudut ruangan, punggungnya bersandar pada tiang, matanya menghadap ke luar jendela yang tertutup setengah. Ia tidak bicara. Ia tampak seperti patung yang diletakkan untuk mengingatkan bahwa aku tidak sendirian, tapi juga tidak bebas. Aku mencoba menenangkan detak jantungku. Kabut di luar bergerak pelan, namun pikiranku bergerak lebih cepat. Aku teringat kat
Malam di Yunling biasanya sunyi. Sekte pedang tidak suka suara berlebihan setelah lonceng malam berbunyi. Para murid kembali ke paviliun masing-masing, tetua beristirahat, dan hanya penjaga gerbang yang tetap berjalan di lorong-lorong batu, langkah mereka teratur seperti ritme napas. Namun malam ini, kesunyian itu patah. Aku mengikuti Lin Suyin keluar dari Paviliun Samping dengan jubahku yang basah oleh kabut dan keringat dingin. Di belakang kami, lentera paviliun bergoyang pelan, seolah ikut gemetar. Lin Suyin tidak memberi waktu untuk menenangkan diri, tidak memberi ruang untuk bertanya. Ia menggenggam lenganku kuat, menarikku berjalan cepat di bawah pohon pinus yang menjulang seperti bayangan. “Kau yakin harus sekarang?” bisikku. Lin Suyin tidak menoleh. “Sekarang atau terlambat.” Kami melewati jalan setapak yang naik ke Aula Pedang. Kabut makin tebal. Aku hampir tidak bisa melihat ujung langkahku sendiri. Di kejauhan, suara gong kecil terdengar sekali, lalu dua kali seba
Langit di Yunling selalu tampak lebih dekat. Kabut menggantung di antara pohon pinus, menyapu pelan atap-atap bangunan sekte yang berjajar rapi di lereng gunung. Angin membawa aroma kayu basah dan daun, serta satu bau lain yang tidak pernah ada di istana, bau besi dari pedang yang sering disarungkan dan ditarik, bau keringat latihan, bau tanah yang diinjak ribuan langkah. Aku berjalan mengikuti seorang murid sekte menuju Paviliun Samping, tempat aku ditempatkan. Di belakangku, Aula Pedang sudah tertutup kembali, namun suasana barusan tidak hilang begitu saja. Kata-kata tetua masih menempel di telingaku. Mandat Langit. Aku bahkan tidak tahu sepenuhnya apa maksudnya, tapi aku tahu itu bukan istilah ringan. Istana tidak akan mengirim Burung Hitam, sekte tidak akan menghunus pedang di gerbang, hanya untuk sesuatu yang kecil. Murid yang membawaku tidak berbicara banyak. Wajahnya muda, mungkin baru belasan, tetapi langkahnya tegas. Di pinggangnya ada pedang pendek, tangannya sesek







