"Adelia!" panggil Adrian."Maaf, Mas aku terburu-buru," ucap Adelia manakala berpapasan dengan Adrian di depan pintu kantornya."Selamat atas pernikahanmu," kata Adrian menyela. Meski Adelia tidak mau menoleh ke arahnya.Degh, Adelia cukup kaget mendengar perkataan Adrian. Mengucapkan selamat adalah hal yang tidak mungkin di ucapkan sosok Adrian. Tapi, sekarang ia mendengar sendiri Adrian memberinya selamat atas pernikahannya kemarin."Terima kasih," jawab Adelia. Ia memilih cepat-cepat pergi daripada terlibat pembicaraan dengan mantan suaminya.Rasa itu memang sudah hilang entah kemana, namun tiap kali bertemu Adrian ia merasa canggung. Seolah melihat wajah Adrian selalu mengingatkan masa lalunya. Wajar, karena lelaki itu pernah menghiasi hatinya antara suka dan duka. Meski prosentasi dukanya jauh lebih banyak."Cie, yang pengantin baru," goda Kartika. Perempuan cantil itu tiba-tiba sudah muncul di ambang pintu ruang kerja Adelia."Kamu, ngagetin saja. Ketuk pintu dulu, kek. Ngagetin
"Maaf, Pak," kata Adrian. Ia langsung mengangkat dengan hati-hati kardus yang bertumpuk di sekitarnya untuk di masukkan dalam truk. Pekerjaan yang tidak di sukai, namun sekarang menjadi pekerjaan tetapnya. Andai saja ada lowongan staf kantor, ia ingin bekerja di bagian kantor saja. Adrian tidak terbiasa bekerja kasar seperti yang di lakukannya sekarang."Kamu yang sabar, memang Pak Kepala seperti itu." Seseorang menepuk pundak Adrian. Adrian hanya tersenyum sedikit menanggapi pria yang telah berbicara padanya.Ia sebenarnya tidak peduli dengan makian atasannya itu. Adrian selama ini bertahan bekerja selain untuk menghidupi dirinya, ia berharap kemungkinan sewaktu-waktu dapat bertemu dengan Adelia. Adelia sudah menjadi cinta dalam khayalannya. Mencintainya dari jauh, dan memendam di hatinya yang paling dalam. Karena Adrian sadar, dia tidak akan mampu meraih apa yang di inginkannya.Setelah menyelesaikan pekerjaannya yang bertumpuk-tumpuk akhirnya, jam istirahat tiba. Waktu yang di tung
"Maaf sayang, kita harus pulang hari ini," kecup Arga."Eumm, tidak apa-apa," ucap Adelia sambil mengemasi pakaiannya dalam koper.Mereka berdua terpaksa mengakhiri bulan madunya karena memang Arga ada jadwal penting dengan klien. Perjalanan pulang tidak terkendala apapun. Hanya saja Adelia keheranan karena Arga bukan mengajak pulang ke apartemennya melainkan sebuah rumah yang tidak di kenali penghuninya."Ini rumah siapa, Mas?" tanya Adelia mengagumi kemegahan rumah yang di singgahinya."Rumah ini kita yang akan menempatinya sekarang. Ini hadiah pernikahan kita untukmu, Sayang," ucap Arga."Berarti ini rumah baru yang akan kita tempati?" tanya Adelia dengan wajah berbinar.Arga mengangguk pelan, Adelia langsung menghamburkan dirinya memeluk Arga sebagai tanda terima kasihnya."Terima kasih, Sayang," ucap Adelia lirih. Adelia ternganga tidak menyangka suaminya akan membelikan rumah baru untuknya. Tak sabar ingin tahu isinya seperti apa, Adelia buru-buru masuk."Loh kok kosong tidak ad
"Minumlah sedikit, agar tubuhmu terasa hangat," kata Arga."Maaf, ya. Harusnya aku yang melayanimu," sesal Adelia." Enggak sayang, ini mauku kok," kata Arga. Adelia menyesap coklat panas buatan Arga sedikit demi sedikit."Enak juga, coklat panas buatanmu. Takarannya pas," puji Adelia."Kamu bisa membalas rasa terimakasihmu dengan ini."Arga kembali mendudukkan Adelia di pahanya, ia lalu melumat bibir Adelia hingga tidak ada yang terlewatkan sedikit pun. Terdengar erangan kecil di antara percikan api di perapian yang menambah makin membaranya hasrat kedua pengantin baru.Tak sengaja Kartika berpapasan dengan Adam di supermarket. Ia pura-pura tidak mengenalnya meskipun Adam memandanginya. Kartika hanya melewatinya."Kartika!" panggil Adam.Kartika tidak mengindahkan panggilan Adam. Ia mempercepat langkahnya seolah tidak ingin menemui pria yang telah menyakiti hatinya itu.Adam mempercepat langkahnya, mencoba menyeimbangkan posisinya sejajar dengan Kartika."Bagaimana kabarmu?" sapa Ada
Adelia terlihat begitu lapar setelah melakukan itu memang menguras banyak tenaganya."Kamu jadi lahap makannya, Sayang.""Tau gini, kalau kamu malas makan aku kerjain saja dulu. Biar kamu makannya banyak," kata Arga tanpa rasa bersalah."Tuh, kan ujung-ujungnya pembahasannya pasti sampai ke sana," sahut Adelia."Tapi... kamu menikmatinya juga kan?" goda Arga."Aww!" teriak Arga."Kok nyubitin aku, sih." Gantian Adelia yang senyum-senyum karena berhasil menyubit lengan Arga."Habis, Mas godain aku terus. Tuh, makanannya keburu dingin. Buruan di makan, Mas apa enggak lemes gitu. Kan, kita udah keluar tenaga banyak," ucap Adelia sambil mengunyah makanannya."Mas, kan Banteng. Tenaganya besar, bisa terkam kamu sewaktu-waktu," lanjut Arga."Kok Mas nakutin aku sih.""Loh, kok nakutin? Perasaan Mas bukan hantu yang menyeramkan?" kata Arga balik bertanya."Maksudnya... aku kan jadi bayangin lakuin itu sama Banteng, Mas," ujar Adelia.Pengakuan Adelia sontak membuat Arga tertawa. Ternyata luc
"Hemm, di puncak udaranya seger ya, Mas. Tapi dingin banget." Adelia masih bergumul dalam selimutnya."Memang aku sengaja pilih tempat yang dingin agar kamu selalu pingin peluk aku, hehehe," goda Arga."Ah, Mas ini," pukul Adelia di dada bidang Arga. Arga makin memeluk erat istrinya."Tadi malam, kita belum lakuin apa-apa kamu sudah menguap terus. Aku enggak tega bangunin kamu yang sudah ketiduran," tutur Arga."Iya, maaf ya Mas. Berdiri terus sambil nyalamin tamu membuatku kecapekan," terang Adelia."Enggak apa-apa, kan masih banyak waktu. Misalnya, seperti sekarang pas sekali dingin-dingin empuk," goda Arga lagi. Pipi Adelia langsung memerah seperti kepiting rebus.Arga turun dari ranjangnya, ia ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dengan air hangat lalu wudhu."Solat subuh dulu yuk, setelah itu baru kita melakukannya," bujuk Arga setelah keluar dari kamar mandi."Eh, iya."Adelia tidak menyangka di ajak sholat subuh oleh suami barunya. Ia makin terkesan dengan Arga. Tak banyak