MasukFajar baru Megah Hardiyata Group di bawah kepemimpinan Sugalih telah dimulai dengan gemilang, dan Marlon siap menyapu bersih setiap ancaman internasional yang mencoba mengusiknya.Meskipun telah memegang kekuasaan tertinggi di perusahaan raksasa itu, Sugalih tidak pernah tinggi hati. Ia secara berkala meminta pengawasan langsung dan bimbingan strategis dari Marlon. Di bawah bimbingan dan pengawasan super ketat dari Marlon, proyek obat pneumonia yang sempat tertunda akhirnya dilanjutkan kembali. Marlon memberikan instruksi kepada seluruh tim riset untuk menyingkirkan segala bentuk zat kimia berbahaya. Mereka fokus menyempurnakan komposisi menggunakan ekstrak herbal murni yang aman bagi tubuh manusia."Pah, pastikan semua data riset dari faksi lama dienkripsi ulang dengan kunci biometrik Erinka," ujar Marlon melalui sambungan telepon satelit yang aman, sesaat setelah mobilnya bergerak meninggalkan area industri pelabuhan."Sudah dilakukan, Marlon," jawab Sugalih dari seberang telepon.
"Tuan Marlon Pramudya! Saya baru saja tiba di TKP dermaga utara bersama satu regu penuh pasukan provost," lapor Letkol Hermawan dengan nada suara yang bersemangat namun sarat akan kewaspadaan. "Kondisi mobil boks milik Zakie masih mengeluarkan asap hitam, dan jasad target masih berada di dalam kabin dalam posisi terduduk. Namun, ada sesuatu yang aneh di sini, Tuan.""Apa yang kamu temukan, Letkol?" tanya Marlon, matanya menyipit tajam."Kami menemukan sebuah perangkat pemancar sinyal frekuensi radio aktif yang sengaja ditanam di bawah sasis mobil boks tersebut," jelas Letkol Hermawan, terdengar suara deru angin pelabuhan yang berisik di balik laporannya. "Pemancar ini terus-menerus mengirimkan data koordinat lokasi ke sebuah satelit komersial asing. Seseorang sengaja membiarkan mobil ini mudah dilacak agar kita semua berkumpul di titik ini."Marlon tersennyum dingin, sebuah senyuman yang sangat tipis namun memancarkan aura membunuh yang mengerikan. "Sudah aku duga. Itu adalah umpan."
Angin laut yang berembus kencang dari arah pelabuhan membawa aroma garam dan besi yang pekat, menyelimuti mobil SUV hitam yang sedang melaju cepat membelah jalanan lingkar luar kota. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat menekan. Marlon Pramudya duduk bersandar dengan tatapan mata yang lurus menembus kaca jendela yang gelap. Meskipun tubuhnya tampak rileks, setiap otot di tubuh tegapnya sebenarnya sedang berada dalam kondisi siaga penuh. Bayangan proyektil perak berukir huruf "V" yang kini tersimpan aman di dalam saku dalam jaketnya terus berputar-putar di dalam benaknya.Kembalinya organisasi Vivos bukan sekadar ancaman biasa bagi faksi militer rahasianya dahulu; itu adalah deklarasi perang terbuka. Namun, hal yang paling membuat rahang Marlon mengeras bukanlah fakta bahwa nyawanya kembali diincar, melainkan keselamatan orang-orang yang kini teramat sangat berharga baginya. Megah Hardiyata Group baru saja dibersihkan dari tikus-tikus korporasi sep
"Di mana kamu menemukan peluru ini, Walfred?" tanya Marlon dengan suara yang sangat rendah.Suasana di dalam lift eksekutif yang baru saja tertutup itu mendadak terasa membeku. Ketegangan yang tadinya sempat mencair setelah kemenangan di ruang sidang pleno kini kembali merayap, jauh lebih pekat dan mencekam dari sebelumnya.Walfred menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab. "Tepat di dalam mobil boks hitam milik Inspektur Zakie, Tuan. Mobil itu ditemukan dalam kondisi hancur terbakar di pinggiran dermaga utara. Tim intelijen militer Letkol Hermawan baru saja mengonfirmasi bahwa Zakie tewas dieksekusi di tempat sebelum pasukannya tiba. Dan peluru ini... bersarang tepat di jantungnya."Marlon tidak langsung merespons. Ia mengambil proyektil logam berwarna perak kusam berdiameter sembilan milimeter itu dari balutan kain beludru hitam di tangan Walfred. Ujung jarinya meraba permukaan logam yang dingin, merasakan lekukan ukiran huruf Latin kuno berbentuk "V" di pangkal selongsongnya
Plak...! Plak...! Plak...!Suara tepuk tangan menggema dengan ritme yang solid di dalam ruang sidang utama lantai paling atas gedung pencakar langit MHG. Seluruh jajaran direksi, komisaris independen, dan perwakilan pemegang saham institusi yang tersisa berdiri tegak dengan tatapan penuh rasa hormat. Ketakutan yang sempat membayangi mereka selama masa pembersihan internal kini telah lenyap, digantikan oleh rasa optimis yang membumbung tinggi.Kakek Hardiyata duduk di kursi rodanya di ujung meja konperensi, mengenakan kemeja batik sutra terbaiknya. Meskipun gurat-gurat kelelahan masih membekas di wajah senjanya, sepasang mata elang beliau memancarkan kelegaan yang teramat sangat mendalam. Di samping kanan dan kirinya, Marlon dan Erinka berdiri dengan anggun. Marlon tampak berwibawa dengan setelan jas hitam potongan modern yang pas di tubuh tegapnya, sementara Erinka memukau semua orang dengan gaun formal berwarna biru dongker yang elegan."Semuanya, silakan duduk kembali," ucap Kak
Brak!Bobby menghempaskan tubuhnya ke atas kasur busa tipis tanpa seprai yang terletak di sudut ruangan. Kamar kontrakan berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat pengap. Dindingnya yang terbuat dari semen semi-permanen tampak berjamur di beberapa sudut, menyebarkan bau lembap yang menusuk hidung. Di langit-langit, sebuah lampu pijar lima watt bergoyang pelan, memancarkan cahaya kuning temaram yang suram."Panas sekali di sini... Aku tidak bisa bernapas, Bobby," keluh Jasmin sambil mengibas-ngibaskan selembar kardus bekas ke arah wajahnya.Mantan sosialita itu kini duduk bersila di atas lantai semen yang dingin. Daster katun murah yang ia kenakan tampak kusut, dan tidak ada lagi kilau perhiasan berlian di leher maupun jemarinya. Setelah berhasil meloloskan diri dari kejaran penagih utang misterius di halte bus kemarin, mereka terpaksa bersembunyi di kawasan kumuh pinggiran kota ini, memutus seluruh akses komunikasi dan meninggalkan Inspektur Zakie yang memilih jalur pelarian
“Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu
Setelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.“Marlon, selama per
Siapa saja yang mendengar nama Meygi, pasti akan membayangkan seorang wanita cantik tapi memiliki hati yang kejam. Dalam kalangan pebisnis kelas atas, namanya sangat ditakuti karena dia tidak akan segan-segan menghabisi siapa saja yang bermasalah dengan dirinya.Seperti halnya para pebisnis lainnya
Erinka masih diliputi dengan cemas atas kejadian di jalan raya akhirnya sampai juga ke hotel bintang lima tempat reuni ditemani Marlon. “Ayo, kita turun...” ucap Erinka saat Marlon sudah mematikan mesin mobil di parkiran basement hotel.“Tunggu dulu, Beb...” ucap Marlon sambil menahan lengan kanan







