Home / Male Adult / Marlon Menantu Terhebat / BAB 161: PENGGEREBEKAN RUMAH BOBBY

Share

BAB 161: PENGGEREBEKAN RUMAH BOBBY

last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-06 22:54:22

Brak!

Surat perintah penyitaan berlogo Garuda Emas dipukul keras menggunakan palu kayu kecil, lalu ditempelkan tepat di tengah gerbang besi rumah mewah bergaya Eropa modern itu.

Garis kuning bertuliskan "Garis Kejaksaan - Dilarang Melintas" langsung dibentangkan dengan cepat oleh dua orang petugas berseragam dinas abu-abu.

Di dalam halaman rumah, suasana tenang pagi hari seketika pecah berantakan. Jasmin Hardiyata yang tadinya sedang bersantai di tepi kolam renang sambil menyesap teh langsung
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 165: ERA BARU MEGAH HARDIYATA GROUP

    Plak...! Plak...! Plak...!Suara tepuk tangan menggema dengan ritme yang solid di dalam ruang sidang utama lantai paling atas gedung pencakar langit MHG. Seluruh jajaran direksi, komisaris independen, dan perwakilan pemegang saham institusi yang tersisa berdiri tegak dengan tatapan penuh rasa hormat. Ketakutan yang sempat membayangi mereka selama masa pembersihan internal kini telah lenyap, digantikan oleh rasa optimis yang membumbung tinggi.Kakek Hardiyata duduk di kursi rodanya di ujung meja konperensi, mengenakan kemeja batik sutra terbaiknya. Meskipun gurat-gurat kelelahan masih membekas di wajah senjanya, sepasang mata elang beliau memancarkan kelegaan yang teramat sangat mendalam. Di samping kanan dan kirinya, Marlon dan Erinka berdiri dengan anggun. Marlon tampak berwibawa dengan setelan jas hitam potongan modern yang pas di tubuh tegapnya, sementara Erinka memukau semua orang dengan gaun formal berwarna biru dongker yang elegan."Semuanya, silakan duduk kembali," ucap Kak

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 164: MENJADI GELANDANGAN

    Brak!Bobby menghempaskan tubuhnya ke atas kasur busa tipis tanpa seprai yang terletak di sudut ruangan. Kamar kontrakan berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat pengap. Dindingnya yang terbuat dari semen semi-permanen tampak berjamur di beberapa sudut, menyebarkan bau lembap yang menusuk hidung. Di langit-langit, sebuah lampu pijar lima watt bergoyang pelan, memancarkan cahaya kuning temaram yang suram."Panas sekali di sini... Aku tidak bisa bernapas, Bobby," keluh Jasmin sambil mengibas-ngibaskan selembar kardus bekas ke arah wajahnya.Mantan sosialita itu kini duduk bersila di atas lantai semen yang dingin. Daster katun murah yang ia kenakan tampak kusut, dan tidak ada lagi kilau perhiasan berlian di leher maupun jemarinya. Setelah berhasil meloloskan diri dari kejaran penagih utang misterius di halte bus kemarin, mereka terpaksa bersembunyi di kawasan kumuh pinggiran kota ini, memutus seluruh akses komunikasi dan meninggalkan Inspektur Zakie yang memilih jalur pelarian

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 163: SANKSI SOSIAL 

    Gubrak!Sebuah koper kain murah bermotif kotak-kotak dilemparkan secara kasar dari atas tangga teras, mendarat tepat di atas genangan air hujan yang mulai menggenang di trotoar. Pakaian-pakaian murah di dalamnya sedikit menyembul keluar dari resletingnya yang rusak."Pergi kalian dari sini! Jangan pernah injak kaki di kompleks ini lagi!" bentak seorang petugas keamanan perumahan berbadan tegap sambil mengacungkan tongkat pemukulnya ke arah Bobby dan Jasmin. "Kalian itu buronan sosial! Seluruh penanam modal dan vendor garmen bergantian datang ke pos jaga setiap jam hanya untuk mencari kepala kalian!"Bobby Hardiyata memungut koper tersebut dengan tangan yang gemetar hebat karena menahan amarah dan rasa malu. Ia menarik lengan Jasmin yang masih membeku menatap rumah mewah mereka yang kini sudah digembok rantai besi besar dan ditempeli stiker segel Kejaksaan Agung. "Ayo, Jasmin... jangan buat keributan lagi. Kita tidak punya hak apa-apa lagi di sini.""Tapi Bobby... semua baju desainer

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 162: KEBANGKRUTAN GURITA GARMEN

    Brak!Bobby Hardiyata menghempaskan selembar kertas koran ke atas satu-satunya meja kayu yang tersisa di dalam ruang tamu mereka. Wajahnya yang dahulu bersih dan terawat kini dipenuhi janggut tipis yang berantakan. Lingkaran hitam tebal menghiasi kedua matanya yang tampak cekung karena kurang tidur selama berhari-hari."Lihat ini! Lihat!" bentak Bobby, suaranya parau dan bergetar hebat. Telunjuknya menunjuk kasar ke arah halaman depan koran tersebut. "Gurita Garmen Hardiyata resmi dinyatakan pailit oleh pengadilan! Saham kita jatuh ke titik nol, Jasmin! Nol!"Jasmin yang sedang duduk bersandar di sudut dinding kosong hanya bisa melipat lututnya rapat-rapat. Gaun smahalnya kini telah berganti dengan daster katun murah yang kusut. Rumah mewah mereka yang dahulu megah kini terasa laksana gudang hantu yang sepi. Seluruh sofa kulit, televisi layar lebar, hingga lukisan dinding bernilai miliaran rupiah telah diangkut habis oleh tim sita kejaksaan dua hari yang lalu."Kenapa kamu berteria

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 161: PENGGEREBEKAN RUMAH BOBBY

    Brak!Surat perintah penyitaan berlogo Garuda Emas dipukul keras menggunakan palu kayu kecil, lalu ditempelkan tepat di tengah gerbang besi rumah mewah bergaya Eropa modern itu. Garis kuning bertuliskan "Garis Kejaksaan - Dilarang Melintas" langsung dibentangkan dengan cepat oleh dua orang petugas berseragam dinas abu-abu.Di dalam halaman rumah, suasana tenang pagi hari seketika pecah berantakan. Jasmin Hardiyata yang tadinya sedang bersantai di tepi kolam renang sambil menyesap teh langsung melompat berdiri dari kursinya. Cangkir keramik mahal di tangannya terlepas, jatuh menghantam lantai batu alam hingga hancur berkeping-keping."Apa-apaan ini?! Siapa kalian?! Berani sekali masuk ke pekarangan rumah saya tanpa izin!" jerit Jasmin, suaranya melengking tinggi memenuhi area taman belakang. Ia berkacak pinggang, mencoba menutupi tubuhnya yang gemetar dengan jubah sutra merahnya.Seorang penyidik senior kejaksaan melangkah maju dengan tenang. Ia menarik selembar kertas tebal dari dal

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 160: ALIRAN DANA ILEGAL JASMIN 

    Drap! Drap! Drap! Sepatu bot para prajurit intelijen berdentum keras di atas lantai ruang tamu Jasmin. Bobby dan Jasmin hanya bisa duduk bersimpuh di dekat sofa, dengan tangan terangkat di atas kepala. Wajah mereka yang biasanya angkuh kini dipenuhi peluh dingin dan kepasrahan mutlak.Marlon Pramudya melangkah masuk, jubah putihnya melambai pelan seiring langkah kakinya yang stabil. Ia tidak memandang Jasmin maupun Bobby. Tatapannya tertuju pada ruangan yang sudah berantakan oleh tumpukan uang tunai dan paspor yang gagal dikemas."Bawa kursinya ke sini," perintah Marlon pendek kepada Walfred.Walfred dengan sigap menarik sebuah kursi kayu ek bergaya Gotik ke tengah ruangan. Marlon perlahan duduk, melipat kaki kanannya di atas lutut kiri, lalu menatap dingin ke arah pasangan suami istri di depannya."Tuan Marlon! Tolong kasihanilah kami! Kami hanya dijebak oleh Inspektur Zakie!" jerit Jasmin, tubuhnya gemetar hebat hingga perhiasan berlian di lehernya bergemerincing halus. Ia mencoba

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 4: MENCARI IDENTITAS MARLON

    “Orang-orang brengsek! Bukannya menolong malah ‘misuh-misuh’ engga jelas!” ucap Tony yang hanya bisa melihat Hendrik terjebak di dalam mobil.“Tolong aku, Bro... kakiku kejepit, sakit sekali nih rasanya...” ujar Hendrik memanggil Tony yang sedang duduk di luar mobil yang posisinya dalam keadaan ter

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 3 : DISEREMPET LAMBORGHINI

    Setelah Marlon memandu mobil Avanza berwarna hitam itu di jalan raya, Erinka bisa merasakan kalau hari ini Marlon sangat berbeda. Rupanya dia piawai memandu mobil, cara menyetirnya halus dan tenang, membuat penumpang merasa nyaman. Erinka menyimpulkan, kalau suaminya itu mempunyai sisi lain pada di

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 2: BATAS KESABARAN

    Menjelang siang hari saat mengerjakan tugas rutin membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, Marlon kembali menerima sebuah pesan di ponselnya. Dia pun langsung tersenyum lebar mengetahui bahwa dirinya telah mendapat hadiah yang begitu banyak hari ini. Mulai dari uang 100 Milyar yang ditransf

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 1: MENANTU YANG TERTINDAS

    “Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagia

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status