LOGIN"Siapa pria tampan itu? Aku belum pernah melihatnya di kalangan kita," bisik salah satu teman Santy dengan mata berbinar.Santy tidak menjawab. Ia langsung berdiri, membawa segelas sampanye, dan berjalan mendekati Marlon dengan senyuman paling memikat yang ia miliki. "Hai... sepertinya kamu sendirian di malam seindah ini? Boleh aku menemanimu?" tanya Santy dengan suara yang dibuat memikat.Marlon menatap Santy dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia tahu persis jenis wanita seperti apa Santy, namun prinsipnya untuk menghargai ketertarikan wanita membuatnya tersenyum manis. Senyuman Marlon yang menawan langsung membuat jantung Santy berdegup kencang."Tentu saja, wanita secantik dirimu tidak boleh dibiarkan berdiri sendirian," jawab Marlon menyambut tangan Santy dan mengecup punggung tangannya dengan sopan namun sensual.Malam itu mengalir dengan liar. Di bawah pengaruh alkohol dan pesona karisma Marlon, Santy sepenuhnya jatuh ke dalam pelukan sang bloody killer. Mereka berpindah ke ka
Malam itu, langit di atas ibu kota menggantung pekat, menyembunyikan kilatan bintang di balik polusi dan kabut tipis. Bagi dunia luar, malam itu hanyalah malam biasa yang penuh dengan hiruk-pikuk kemacetan dan gemerlap lampu kota. Namun bagi Marlon Pramudya, malam ini adalah gerbang kebebasan yang sesungguhnya. Tepat pada hari ini, usianya menginjak dua puluh tahun. Kontrak lima tahun atas fasilitas mewah, perlindungan total, dan pendidikan elit yang diberikan oleh orangtua angkatnya, Tante Goldies, telah resmi berakhir. Lima tahun yang lalu, ia hanyalah seorang remaja berusia lima belas tahun yang hancur, sebelum akhirnya dilarikan ke tempat aman oleh jaringan Tante Goldies untuk dipersiapkan menjadi eksekutor masa depan.Di balik kemegahan statusnya sebagai anak angkat pemimpin tertinggi The Shadow of Death, lima tahun terakhir hidup Marlon sebenarnya dihabiskan di dalam sebuah ‘sangkar emas’ yang sangat keras. Tubuhnya yang penuh memar kala itu disembuhkan secara total melalui fa
Malam semakin larut menyelimuti kota metropolitan dengan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di dalam ruang tengah rumah megah keluarga Hardiyata yang sunyi, bayangan pilar-pilar besar tampak laksana jeruji besi yang mengurung sesosok wanita paruh baya yang tak lagi berdaya. Hanya suara detak jam dinding kuno yang memecah keheningan, berdentang ritmis seolah menghitung sisa-sisa waktu dari kejayaan yang telah runtuh. Lampu gantung kristal yang mewah sengaja dibiarkan padam oleh perawat medis yang sudah malas melayaninya, menyisakan kegelapan yang pekat dan suasana mencekam yang seakan menelan seluruh ruang kehidupan di tempat tersebut.Kebencian Kemala kepada Marlon kini telah mendarah daging hingga ke sumsum tulang terdalamnya, menjadi racun yang mengalir di setiap sisa aliran darahnya yang tersumbat stroke. Meskipun tubuhnya sudah lumpuh total di atas kursi roda dan lidahnya kelu untuk berucap, sepasang matanya yang merah masih memancarkan kilatan amarah yang luar biasa pe
"Mengapa rumah ini begitu sepi, Suster? Di mana semuanya?" erang Kemala dengan suara yang terputus-putus dan sangat tidak jelas, lidahnya yang kelu menyulitkannya untuk mengecap kata-kata dengan sempurna."Nyonya, mohon tenang sedikit. Tuan Sugalih sedang ada rapat penting di kantor dan berpesan akan pulang agak terlambat malam ini," jawab perawat pribadi dengan nada suara datar tanpa ekspresi, sambil merapikan selimut wol tebal yang menutupi kaki kaku Kemala."Tapi... tapi ini sudah sangat sore... matahari sudah mau tenggelam..." rintih Kemala lagi, matanya yang mulai sayu dan dipenuhi guratan penyesalan menatap tajam ke arah jam dinding besar berbahan kayu jati yang berdentang lambat di ruang tengah.Perawat itu tidak lagi menyahut, ia hanya menghela napas pendek kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan, menyisakan Kemala seorang diri dalam keheningan yang begitu mencekam dan dingin di dalam rumah besar tersebut.Suara langkah kaki sang perawat yang kian menjauh dan menghilang
Di sebuah kawasan elit yang dahulu menjadi simbol kejayaan, sebuah rumah besar berdiri dengan keheningan yang mencekam dan aura yang begitu meredup.Lorong-lorong megah yang dahulunya sering menggema oleh suara tawa sombong dan langkah kaki penuh keangkuhan kini berubah menjadi sunyi, menyisakan bau obat-obatan yang menyengat dan penyesalan yang terlambat. Di sinilah, roda kehidupan berputar ke titik paling bawah bagi mereka yang dahulu merasa berada di atas segalanya.Kontras yang sangat tajam dan begitu menyedihkan kini terjadi di rumah lamanya, tempat di mana Kemala harus menerima kenyataan pahit akibat keserakahan masa lalu yang tak pernah ada habisnya. Wanita paruh baya yang dahulunya merupakan seorang sosialita yang selalu mengenakan pakaian mahal dan perhiasan berkilau, kini tidak lagi memiliki daya untuk sekadar menegakkan kepalanya sendiri. Segala bentuk keangkuhan, kesombongan, dan tatapan merendahkan yang dahulu sering ia layangkan kepada Marlon sebagai menantu yang tida
Gemerlap cahaya jingga di ufuk barat perlahan tenggelam, digantikan oleh selimut malam yang tenang di pinggiran kota yang asri itu. Suara jangkrik mulai bersahut-sahutan di antara rimbunnya pohon pinus yang memagari pekarangan klinik herbal mandiri milik Marlon dan Erinka. Udara malam yang sejuk berembun berembus lembut, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa wangi masakan rempah yang tadi siang diolah di dapur umum. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk keserakahan duniawi ini, sebuah harmoni kehidupan baru telah lahir dan mengakar dengan sangat kuat.Masyarakat sekitar menaruh rasa hormat yang teramat sangat mendalam kepada pasangan suami istri yang dikenal sangat serasi dan berhati mulia ini. Bagi para penduduk desa yang mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh kasar, keberadaan klinik sederhana tersebut bukan lagi sekadar tempat berobat biasa. Tempat itu telah menjelma menjadi sebuah tempat bernaung yang damai, di mana setiap orang yang datang dengan tubuh lunglai akibat penya
“Orang-orang brengsek! Bukannya menolong malah ‘misuh-misuh’ engga jelas!” ucap Tony yang hanya bisa melihat Hendrik terjebak di dalam mobil.“Tolong aku, Bro... kakiku kejepit, sakit sekali nih rasanya...” ujar Hendrik memanggil Tony yang sedang duduk di luar mobil yang posisinya dalam keadaan ter
Setelah Marlon memandu mobil Avanza berwarna hitam itu di jalan raya, Erinka bisa merasakan kalau hari ini Marlon sangat berbeda. Rupanya dia piawai memandu mobil, cara menyetirnya halus dan tenang, membuat penumpang merasa nyaman. Erinka menyimpulkan, kalau suaminya itu mempunyai sisi lain pada di
Menjelang siang hari saat mengerjakan tugas rutin membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, Marlon kembali menerima sebuah pesan di ponselnya. Dia pun langsung tersenyum lebar mengetahui bahwa dirinya telah mendapat hadiah yang begitu banyak hari ini. Mulai dari uang 100 Milyar yang ditransf
“Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagia







