بيت / Male Adult / Marlon Menantu Terhebat / BAB 53: Menjalankan Rencana Jahat

مشاركة

BAB 53: Menjalankan Rencana Jahat

مؤلف: Langit Berawan
last update تاريخ النشر: 2026-07-03 22:17:14

“Wah, gagah sekali kamu... sampai pangling Om melihatnya,” ujar Andhika saat bertemu dengan Marlon di lantai tiga kantor MHG yang merupakan kantor manajemen untuk departemen perobatan. Di lantai itu pula ruang kerja Marlon beserta bapak mertuanya.

“Terima kasih, Om,” balas Marlon sambil tersenyum ramah.

Sebenarnya Marlon agak terkejut dengan sambutan Andhika yang di luar ekspektasinya. Dia membayangkan Andhika akan bermuka masam saat bertemu dan menunjukkan sikap tidak senang karena dia telah m
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 186: MENOLAK LINGKARAN KORPORASI

    "Kakek, Papa, tolong dengarkan ini sebagai sebuah keputusan akhir yang tidak akan pernah saya ubah lagi," ujar Marlon dengan nada suara yang teramat tenang, namun mengandung getaran ketegasan yang sanggup mengunci seluruh perdebatan di dalam ruang perawatan VIP tersebut.Sugalih menatap menantunya dengan dahi berkerut, masih berusaha mencerna arah pemikiran pemuda jenius di hadapannya. "Marlon, apakah kamu benar-benar sudah memikirkan dampaknya? Menjadi penasihat eksternal mungkin melindungimu dari beberapa aturan direksi, tetapi menarik diri sepenuhnya dari lingkaran operasional akan membuatmu kehilangan kendali langsung atas Megah Hardiyata Group."Marlon tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang tidak menyiratkan rasa angkuh, melainkan sebuah kedamaian jiwa yang sangat murni. "Papa, kendali sejati tidak pernah terletak pada ruangan megah di lantai atas gedung pusat atau pada kartu nama bertuliskan jabatan tinggi. Kendali saya atas keselamatan keluarga ini ada pada kekuatan fo

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 185: KEPUTUSAN BESAR MARLON

    Marlon yang sejak tadi berdiri tenang di sisi Erinka, langsung mengulurkan tangannya yang hangat. Ia menggenggam jemari Erinka yang terasa dingin akibat kecemasan yang memuncak. Sentuhan fisik dari Marlon seketika mengirimkan gelombang ketenangan yang luar biasa ke dalam tubuh Erinka, seolah-olah pria itu adalah jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam di dalam badai memori masa lalu.Marlon menatap istrinya dengan kelembutan yang teramat dalam, sepasang matanya seolah berkata bahwa apa pun keputusan yang diambil, ia akan selalu berdiri sebagai benteng pelindung terdepan. Marlon memahami betul bahwa luka hati tidak bisa disembuhkan hanya dengan menyerahkan aset miliaran rupiah atau posisi komisaris utama. Kedamaian jiwa Erinka adalah prioritas tertinggi di atas segala bentuk kejayaan materi yang ditawarkan oleh dinasti Hardiyata.Dengan kehadiran Marlon yang begitu meneduhkan di sampingnya, Erinka menarik napas dalam-dalam, berusaha mengusir bayang-bayang kelam faksi Adam dan ra

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 184: DILEMA DI HATI ERINKA 

    Erinka bergulat dengan dilema batin yang hebat antara menghormati amanah kakeknya untuk meneruskan dinasti bisnis dan rasa takut akan kembalinya trauma masa lalu akibat kelicikan anggota keluarga lainnya. Di dalam ruang perawatan VIP Rumah Sakit Pusat Megah Medika yang sunyi dan steril, tumpukan berkas pengalihan aset senilai miliaran rupiah itu justru tampak seperti sebuah monumen yang mengintimidasi. Lembar demi lembar kertas legalitas tersebut mencerminkan kekuasaan, takhta, dan kendali atas Megah Hardiyata Group yang baru saja dibersihkan dari faksi-faksi korup. Bagi sebagian besar orang di luar sana, dokumen di atas meja kaca ini adalah berkah luar biasa yang diimpikan seumur hidup. Namun, bagi Erinka, setiap huruf yang tercetak di sana terasa seperti rantai tak terlihat yang siap menyeretnya kembali ke dalam labirin penderitaan yang baru saja berhasil ia lalui dengan penuh air mata.Sementara ia bimbang, suaminya, Marlon, memberikan dukungan moral yang kuat di tengah suasana

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 183: LOGIKA BISNIS SUGALIH

    "Nak Marlon, cobalah lihat ini dari sudut pandang yang lebih luas dan objektif," ujar Sugalih sambil melangkah mendekat ke arah meja kaca, menatap menantunya dengan sorot mata yang penuh dengan keserius. "Ini bukan lagi sekadar masalah pembagian harta warisan keluarga atau hadiah atas jasa masa lalu. Ini adalah keputusan strategis yang akan menentukan hidup dan matinya korporasi kita di pasar global."Marlon melipat kedua tangannya di dada, mendengarkan dengan saksama tanpa memotong kalimat bapak mertuanya itu sedikit pun. "Saya mendengarkan, Pah. Apa yang sebenarnya sedang Papa rencanakan?”Sugalih menarik napas dalam-dalam, lalu menepuk pundak Marlon dengan penuh rasa percaya yang teramat sangat mendalam. "Sebagai CEO yang baru, aku tahu betul batasan kemampuanku dalam menghadapi serigala-serigala politik di luar sana. Megah Hardiyata Group membutuhkan sebuah benteng pertahanan yang tidak hanya cerdas secara finansial, tetapi juga memiliki kekuatan untuk mengeksekusi keputusan tanpa

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 182: WARISAN MILIARAN RUPIAH

    "Tanda tangani ini, Marlon, Erinka. Jangan biarkan sisa hidup Kakek dipenuhi oleh rasa bersalah karena menunda keadilan bagi kalian berdua," ujar Kakek Hardiyata dengan suara yang bergetar namun sarat akan ketegasan yang tidak ingin dibantah lagi.Erinka menatap selembar dokumen tebal bersampul kulit hitam dengan logo emas keluarga Hardiyata yang baru saja diletakkan di atas meja kaca ruang perawatan. Matanya melebar saat membaca baris demi baris teks legalitas yang tertera di halaman depan. "Kakek, ini... ini terlalu banyak. Kami tidak bisa menerima semua aset ini begitu saja. Kehadiran kami untuk membantu Kakek dan Papa bukan karena harta ini.""Kakek tahu, Erinka. Justru karena Kakek tahu kalian tidak serakah seperti yang lain, Kakek dengan sukarela menyerahkan semua ini," sahut Kakek Hardiyata sambil mengarahkan pandangan matanya yang mulai meredup namun penuh kehangatan kepada Marlon. "Marlon, bagaimana menurutmu? Apakah kamu akan menolak niat baik seorang tua yang ingin menebus

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 181: PERMOHONAN TULUS KAKEK HAR 

    Suasana pagi di area taman dalam Rumah Sakit Pusat Megah Medika terasa begitu sejuk, dipenuhi oleh aroma embun yang membasahi dedaunan hijau di sepanjang jalur refleksi. Meskipun matahari mulai meninggi dan memancarkan sinarnya yang hangat, keheningan di paviliun khusus VIP itu tetap terjaga dengan sangat ketat oleh barisan pengawal dari tim keamanan. Tempat ini sengaja disterilkan dari hiruk-pikuk publik agar para petinggi keluarga yang sedang menjalani perawatan bisa menikmati ketenangan tanpa gangguan dari pihak luar maupun kejaran media massa. Di bawah keteduhan pohon pelindung yang rindang, waktu seolah bergerak lebih lambat, memberikan ruang bagi hati yang lelah untuk merenungkan kembali setiap garis takdir yang telah terlewati dengan penuh lika-liku.Di sudut paviliun yang langsung menghadap ke taman bunga bervariasi itu, keheningan beralih ke dalam sebuah ruang perawatan yang luas dan berfasilitas lengkap. Kakek Hardiyata duduk tegak di kursi rodanya sambil menatap Marlon d

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 10: JERAT WANITA BERGINCU TEBAL

    Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 9: KETAHUAN BERBOHONG

    Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 8: DIIKUTI WANITA PENGGODA

    “Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu

  • Marlon Menantu Terhebat   BAB 7: MEMILIKI BLACK CARD 

    Setelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.“Marlon, selama per

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status