مشاركة

Bab 2

مؤلف: Er_Su
last update تاريخ النشر: 2026-09-24 18:28:12

Tubuh Budi terasa kaku, tatapannya kosong dan telinganya dipenuhi suara tawa mereka memenuhi ruangan. Di pertengahan malam yang sunyi, Budi dibuly oleh mereka dengan ukuran belalainya.

Napas Budi tersengal pendek pendek, perutnya juga mulai terasa mual dengan tangan gemetar panas dingin “Huaaa!” Budi memekik dengan begitu keras, seolah tak peduli jika ada orang yang mendengar suaranya dan datang ke ruangan itu.

Sakit sekali hati Budi dengan ledekan mereka. Dada Budi sesak dan perih, rasanya seperti disayat sayat dengan sembilu, ngilu sampai ke tulang. Air yang sejak tadi ia tahan, akhirnya menetes dari netranya yang memerah.

“Yaah, nangis dia. Atutututu!” Sinta meledek lagi dengan wajah yang begitu menyebalkan.

Budi bangkit dari tempat itu, dan tanpa aba aba ia segera lari untuk keluar dari sana. Gerak kakinya begitu cepat menyusuri tiap lorong dari kantor itu hingga keluar ke taman panti yang ada di tengah halaman luas.

“ Tuhan! Kenapa mereka harus menghinaku seperti ini, mentartawakanku dengan begitu bahagia atas kelemahan yang aku miliki. Kenapa semuanya terjadi? Kenapa milikku tak seperti mereka yang bisa dibanggakan?” Budi merutuki nasibnya yang malang itu.

Seketika ingatannya kembali pada beberapa bulan lalu, saat sang kekasih meninggalkannya hanya karena rudal mini yang ia miliki. Hinaannya sama seperti apa yang dikatakan, sama dengan yang dikatakan Sinta tadi.

Bahkan, saat itu kekasih Budi mentertawakannya bersama kekasih baru yang digadang gadang memiliki rudal yang lebih besar.

“Aarghh! Mereka semua jahat!” Budi memekik menebas kasar sebuah tanaman lidah mertua yang kebetulan ada di sampingnya.

“Aduh!” Budi mengibaskan tangannya beberapa kali karena tanaman itu ternyata keras.

“Kau! Iya, Kau! Kau seperti mereka semua, lidahmu tajam dan menyakitkan!” Budi melampiaskan kemarahannya dengan tanaman hias yang tak bersalah apapun itu.

Dengan airmata yang masih menetes, Budi menyibak kasar rambutnya yang cukup panjang itu. Ia jambak sendiri dalam beberapa detik, lalu ia lepaskan dengan dengkusan napas yang kasar. Airmatanya juga langsung ia usap.

Saat sedikit tenang, Budi segera pulang ke rumah lansianya. Ia masuk, masih sempat memastikan para lansia itu tidur dengan baik di kamar masing masing dan ia benarkan posisi yang cukup berantakan.

Budi masuk ke dalam kamarnya sendiri, ia lepas kemeja kerja yang ia kenakan dan menyisakan kaos oblong di tubuh kurusnya itu. Ia melamun sejenak, teringat kembali akan nasibnya yang malang.

“Bahkan aku sempat ingin menabung dan mencari dukun agar bisa membesarkannya. Tapi, aku keburu ditinggalkan sebelum perjuanganku terlihat hasilnya.”

Pria berusia 28 tahun itu melamun dengan tatapan kosong selama beberapa saat, hingga akhirnya ia berbaring memejamkan mata. Ia tetap harus profesional untuk pekerjaannya mengurus para lansia.

Dalam tidurnya yang lelap itu, Budi terbawa ke dalam sebuah mimpi. Ia berada di tempat yang sangat sepi, lalu ia berjalan terus meski ia tak tahu apa yang sedang ia cari. Hingga kemudian, Budi melihat seorang pria sedang duduk memegangi tongkatnya dan menatap ke depan kosong.

Budi tahu pria itu, ia mendekat dan ia raih bahunya untuk menyapa. “Kek Bono?” panggil Budi padanya.

“Kamu datang juga. Kakek, sudah tunggu kamu daritadi,” ucap pria tua dengan usia terakhir 78 tahun itu.

Tubuhnya dingin, sangat terasa di tangan Budi. Apalagi saat telapak tangan kakek Bono meraih tangan Budi, membawanya untuk duduk bersama di kursi satu lagi yang ada di sana.

“Kamu kenapa?” tanya kakek pada perawat yang sudah ia anggap cucu itu.

“Nggak papa, Kek. Cuma, ada sesuatu yang terasa menyakitkan belakangan ini. Ditinggal pacar pas lagi sayang sayangnya, sekarang malah ditinggal sama Kakek pas lagi akrab akrabnya.” Budi tertunduk lesu. Dari yang ia ucapkan saat ini, tergambar semua rasa sakit yang ia alami.

“Ya, Kakek tahu. Tapi, ini sudah janji kakek pada-Nya.” Kakek Bono menarik napas panjang. “Hanya saja, ada yang lupa belum kakek berikan padamu, Bud.” Pria tua itu menyambung ucapan dengan begitu serius,

Budi terdiam, bibirnya serasa terkunci dengan apa yang kakek Bono ucapkan padanya barusan. Ia hanya tatap sang kakek, dan kakek justru tersenyum padanya sembari mengeluarkan sebuah wadah kain kecil dari saku jubah yang ia kenakan.

Pria berjenggot itu tampak sangat tenang, auranya bersih dan ia selalu tersenyum tipis ketika melihat Budi yang sudah sempat ia anggap cucunya sendiri. Tak ada perawat lain yang bisa sabar merawatnya selain Budi.

Kantong kain itu sudah ada di tangan Budi, dan tangan kakek Bono segera menyingkir dari sana.

“Itu buatmu, sebagai tanda terimakasih karena kamu sudah membantu dan merawat kakek selama ini. Kakek … tidak punya apa apa lagi,” ucapnya, sekali lagi terlihat menarik napas panjang.

Budi menatap kantong itu, lalu ia tatap lagi kakek Bono yang perlahan tubuhnyga memudar menjadi sebuah bayangan di matanya.

“Tapi Kek, ini apa? Kenapa Kakek berikan pada saya? Kek!” Budi memekik, kakek Bono semakin lama semakin tidak terlihat lagi dari pandangan matanya.

~*~

“Tiarap! Ada tembakan dari arah jam 2. Selamatkan diri kalian!”

Suara seorang kakek dari kamar 03 rumah B1 itu terdengar begitu keras, sampai Budi membuka matanya tiba tiba dan tersadar dari mimpinya.

Budi menghela napas lagi. Kakek Veteran tentara itu pasti kembali teringat masa masa perangnya dulu hingga berteriak bahwa mereka mendapat serangan dari berbagai arah oleh para musuh.

“Buset! Aku kesiangan ini tandanya!” Budi bergegas bangun, raih jaket dan keluar dari kamarnya saat itu.

Satu rumah lansia berisi empat kamar, tapi hanya tinggal tiga lansia semenjak kepergian kakek Bono kemarin. Tiga lansia saja, rasanya seperti mengasuh puluhan balita dalam satu waktu sangking repotnya.

“Mbah Mul, kenapa itu?” tanya Budi yang akhirnya menemukan pria berusia 89 tahun itu di bawah kolong meja makan.

“Ada Londo. Mereka datang bawa mobil gredek sama bedil! Sembunyi, nanti kamu mati!” ucap pria tua itu.

Budi menarik napas panjang dan berusaha setenang mungkin ladeni kakek itu. “Udah saya usir tadi, sama senapan saya yang lebih gede. Sekarang aman. Kakek mandi dulu, yuk. Nanti kita senam bareng di lapangan,” bujuk Budi padanya.

Kakek Mul celingukan kanan kiri, dan pastikan keadaan benar benar aman untuk ia keluar. Tak lama kemudian, salah satu kakek juga keluar dengan handuk di pundak dan gayung berisi peralatan mandi.

“Mbah Harjo mau mandi?” tanya Budi padanya.

“Iya, mandi duluan. Tadi saya ngompol, tolong bersihin, ya?” pinta kakek berusia 70 tahun itu.

“Ya, Kek. Hati hati di kamar mandinya, licin,” balas Budi, yang kemudian bantu Kek Mul keluar dari bawah kolong dengan perlahan agar tidak kejedot kepalanya.

“Kek Burhan mana?” tanya Budi pada pria tua itu.

“Paling itu, nganu, godain Lastri di sebelah.” Kek Mul berusaha menjelaskan kebiasaan teman serumahnya itu.

Memang Griya terdiri dari beberapa rumah, dipisah antara nenek dan kakek. Tapi kadang, asmara lansia bisa saja terjadi tak ingat usia.

“Yowes, Kakek mandi dulu. Tak mandiin!” ucap Budi, dan kek Mul terlihat senang sekali ketika diperlakukan seperti balita.

Dua lansia itu sudah mandi, sudah pakai baju cukup rapi dan berjalan bersama menuju lapangan untuk senam pagi bersama. Rombongan lansia dari rumah lain juga, tak jarang mereka jalan bergandengan seperti anak kecil dengan wajah yag ceria.

Budi lega ketika mereka sudah pergi. Ia bereskan kamar para kakek, dan sekaligus ganti seprai yang sudah kena ompol tadi meski aromanya semriwing sekali. Ia taruh semuanya di keranjang, agar diambil tim loundry nanti.

Setelah itu, Budi bersihkan diri sendiri dengan cepat. Ia harus susul mereka semua ke lapangan untuk ikut senam dan atur para lansia yang kadang suka berantakan di barisan. Belum lagi, lansia yang suka kaburan.

“Bajuku ini, kenapa rasanya sempit? Apa aku gemukan, ya?” gumam Budi ketika mengenakan seragamnya yang bersih.

“Entahlah, mungkin ini efek baru dicuci, agak mengkerut dia. Ke lapangan dulu, keburu Mbah Upik kabur lagi nanti kalau nggak diawasin.” Budi berlari kecil setelah menutup pintu rumah lansianya itu.

Saat Budi masuk ke barisan, ia merasa mereka semua orang menatapnya dengan begitu aneh. Budi sempat tak sadar, hingga seorang nenek menghampirinya dengan tatapan begitu penasaran.

Tatapan yang dipenuhi rasa penasaran itu, juga Budi rasakan dari mereka semua yang ada di sana. Mereka melihat Budi seperti orang asing.

“Ada apa sih? Apa yang beda?” lirih Budi, bertanya dan menatap diri sendiri.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 8

    Pertanyaan dan kekagetan bu Puspa saat itu membuat Budi langsung menutup bagian rudalnya. Ia gugup dan wajahnya memerah."Anu Bu, maaf, mungkin ini gara gara kedinginan tadi, jadinya-""Kamu butuh kehangatan?" Bu Puspa memancing dan pandangannya terus tertuju pada rudal itu."Bu-bukan gitu, maksudnya-""Udahlah, kamu ini, kayak sama siapa aja." Bu Puspa langsung mengibaskan tangan ke wajah Budi."Kamu, lihatin punya saya?" Wanita itu melirik mata Budi yang sejak tadi mengarah ke pepaya mengkalnya."Nggak ngelihatin, Bu. Wong kelihatan, gimana?" balas Budi."Kamu tahu, kalau saya nggak pakai kacamata? Hayo!" Mata bu Puspa menyipit, dan Budi langsung salah tingkah dibuatnya.Melihat Budi yang bingung sendiri, bu Puspa tertawa gemas. "Iya, memang nggak pake. Kan, biar gampang bukanya nanti."Wanita itu kemudian duduk membelakangi Budi, lalu menurunkan bagian atas kimononya hingga ke pinggul. Tangannya memegangi bagian depan agar tak ikut melorot.Gluk!Budi terpana dengan kemulusan tubuh

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 7

    Akhirnya, Budi tetap menaikinya. Kakinya dorong motor itu dengan begitu cepat bergerak, hingga ia dan motornya menjauh dari rumah Naning. Setelah itu, ia belok dan masuk ke gerbang Griya.Napas Budi ngos ngosan, tubuhnya berkeringat seperti orang yang baru saja olahraga. Tapi, itu memang olahraga tanpa disengaja.Budi istirahat sebentar, ia standarkan motornya dan ia sendiri duduk di pinggir gerbang untuk normalkan irama napasnya yang masih berat.“Haduh, gila! Ada aja penemuanku dari kemaren. Udahlah mergoki pak kepala, sekarang mergokin Naning main sendiri pula. Hah! Haaah!”Tapi kemudian Budi memegangi rudal mininya lagi, yang sempat menonjol dan tegak dua kali hanya karena dekat dengan Naning. Ia heran, kenapa belakangan ini si mini cepat sekali terpancing dengan hal hal yang kecil.“Aku tahu, kamu sekarang udah lumayan besar dari yang biasa. Tapi aku masih bingung, aku juga masih takut kalau kamu … belum bisa seperti yang aku inginkan.”Budi masih belum percaya diri dengan ukura

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 6

    “Uh, lembut banget. Memang selembut ini kah, rasanya? Meski aroma asi, tapi justru kenapa wangi sekali? Aku seperti berada di surga!” Budi terus meracau dalam hati.Budi mungkin sedang berkhayal bahwa ia berada diantara bantalan empuk yang sangat nyaman, ia bisa tidur sepuasnya tanpa gangguan dari para lansia seperti biasa.Aroma asi yang keluar dari melon super itu, juga seperti menjadi relaksasi untuk Budi yang sempat stres ditekan pekerjaan. Belum lagi dengan semua hinaan semalam yang masih terngiang di kepala.“Oh, maaf, Mas Bud. Kekencengan, ya?” tanya Naning.Sontak saja semua khayalan Budi dengan semua kenikmatan yang ia rasakan jadi buyar. Ia langsung melepaskan kepalanya dari cengkraman melon jepang yang seolah akan menghisap wajahnya sampai kehabisan napas.“Enggak, Mbak Ning. Terusin aja, nggak papa.” Budi sendiri berusaha untuk tetap tenang.Wanita itu wajahnya bersemu merah, ia takut jika Budi salah paham padanya hanya karena kejadian ini.“Yaudah, kita lanjutin, ya?” lanj

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 5

    “Astaga, Mbak Ning!” Budi terbelalak melihat Naning yang sedang tidur di ranjang bersama putra yang masih balita.Janda cantik itu mengenakan daster pendek, sangat tipis yang sepertinya ia beli di toko serba 35. Bagian atas tubuhnya terbuka, dan terlihat anaknya masih menyusu. Sangking nyenyaknya tidur, ia tak sadar jika bagian bawah daster pendeknya itu juga sudah naik hingga memperlihatkan dalamannya.Jakun Budi naik turun menatap itu, ia toleh kanan kiri. Pemandangan yang sangat indah dipandang mata, tapi juga tidak baik jika ia nikmati dalam waktu lama. Belum lagi jika ada orang mendadak masuk, disangka ia mau melakukan sesuatu pada Naning nanti.“Aduh, gimana ini, ya? Bangunin, apa pergi?” galau Budi yang berdiri tepat di depan pintu kamar itu.Hatinya bimbang. Langkah kakinya perlahan mundur, ia membalik badan dan segera keluar menuju motor tuanya yang terparkir di halaman salon kecil itu.“Tapi, nanti kalau ada orang lain masuk dan lihat dia dalam keadaan yang begitu, malah jad

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 4

    Tubuh Mely jatuh tepat di atas Budi, wajahnya di leher Budi dengan hembusan yang terasa sampai ke telinga dan membuat bulu kuduknya berdiri. Bagian dadanya menempel di telapak tangan Budi saat ini dan gerakan yang naik turun dengan irama napas yang tidak teratur.Tubuh Budi mematung. Tangannya tremor, tapi ia tetap berusaha untuk menopang tubuh Mely agar tak semakin ambruk ke tubuhnya. Dan satu yang ia sadari, bahwa ia kuat. Tangannya mampu menahan tubuh itu cukup lama.Budi termenung sejenak menatap punggung tangan yang terlihat ototnya, bukan urat kurus.“Mas, maaf. Rupanya malah jatuh sama sama,” ucap Mely padanya, tak enak karena tak berhasil menolong.Tapi saat akan tegak, Mely baru sadar jika telapak tangan Budi ada di dadanya. Ia yang kaget plus malu itu menarik napas panjang, wajahnya panik dan sudah akan teriak.“Eh, jangan!” Budi langsung lepas salah satu tangan di dada Mely itu untuk membungkam mulut gadis itu, dan tangan yang satunya masih di tempat tak beranjak sama seka

  • Mas Bud, Bikin Cenat Cenut   Bab 3

    “Mas ngganteng ini, sopo toh?” tanya mbah Upik yang sampai tidak jadi kabur ketika melihat sosok yang terasa asing di matanya itu.Awalnya Budi anggap karena wanita tua itu memang sudah pikun, tapi tiba tiba Sinta datang menghampirinya.“Mas Budi?” sapa wanita itu dengan dahi mengerenyit heran. Ia pandangi tubuh Budi dari ujung kepala sampai ujung kaki, ia telusuri tubuh pria yang ia rasa berbeda tiba tiba. Sinta sampai bersedekap, dan bibirnya miring kanan kiri menahan pertanyaan yang mungkin bingung harus ia mulai darimana.Budi yang masih canggung itu teringat kejadian semalam, terutama ketika tatapan Sinta seolah berhenti sejenak pada belalai mininya yang semalam ia hina dan ia tertawakan dengan begitu membabi buta.Dari tatapan mata Sinta, itu menggambarkan semua isi hatinya.“Ya, Bu Sinta. Maaf saya agak telat ikut senam, karena tadi urus rumah dulu. Jadinya—”“Loh, Mas Budi toh ini? Kok beda? Hahaha!” Mbah Ipah lantas tertawa padanya.“Beda? Beda apanya, Mbah?” tanya Budi yang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status