تسجيل الدخول
“Pak Jon, jangan di sini, nanti ketahuan, loh. Kalau ada yang lewat, gimana?”
“Tenang, semua aman. Kalau ada yang sampai lihat, nggak akan berani lapor sama Puspa.”
Suara berisik itu terdengar oleh Budi yang sedang berjalan menuju ruangan Bosnya. Hari sudah malam dan suasana sepi hingga suara yang lirih itu tedengar di telinga Budi.
“Heh, itu suara siapa? Kok, kayak kenal?”
Lampu ruangan memang menyala, tadinya Budi kira itu karena memang pak Jono memanggilnya untuk bicara empat mata untuk membahas tentang surat kematian dan asuransi kakek Bono yang baru saja meninggal.
Budi mendekat, mencondongkan telinga sebelah kirinya ke arah pintu untuk memastikan suara itu. Suaranya semakin lama semakin keras, dan desahan si wanita semakin terdengar sedang keenakan di dalam sana.
“Aah! Pak! Tadi, bukannya Bapak panggil Mas Bud? Nanti dia ke sini, terus—”
“Udah, nggak papa. Dia itu lagi sedih kehilangan kakek Bono yang sudah akrab sama dia. Pasti masih nangis di rumah itu, atau langkahnya berat mau ke sini. Mungkin… besok!” Pria bicara diselingi helaan napas yang berat.
Budi terkesiap, ketika suara pria itu terdengar di telinganya. Ia sangat paham jika suara itu adalah suara pak Jono.
“Ya, beneran itu pak Jono. Sama siapa dia? Gilak! Main di ruangan kerja. Apa nggak takut ketahuan istrinya?” Budi menjadi semakin penasaran dan ia semakin mendekati pintu ruangan itu dengan langkahnya yang pelan.
Sialnya, ternyata pintu ruangan itu tidak tertutup dengan rapat. “Waduh, gimana ini? Lanjut apa enggak? Aku penasaran sama siapa yang ada di dalem.” Budi bergeming dalam hati.
Akan tetapi, rasa penasaran Budi lebih tinggi. Matanya kemudian ia posisikan tepat di cela pintu yang terbuka itu dan--
Gluk!
Yang ada di sana benar benar Jono, Kepala Griya Wilasita atau lebih dikenal sebagai panti jompo tempatnya bekerja. Pria itu sedang bersama Sinta, Kepala perawat di Griya yang memang baru saja menyandang gelar janda.
Sudah satu tahun Budi kerja di panti ini dan sejauh ia bekerja, setiap hari ia mendengar kasak-kusuk penghuni panti membicarakan betapa cantiknya Sinta. Ia tak berani mencaritahu banyak karena ia sadar Sinta atasannya yang harus dihormati.
Biasanya, Budi hanya melihat Sinta dengan seragam panti. Tak jarang pula hanya mengenakan kaos dengan rambut dikuncir kuda. Itu saja, Sinta sudah sangat cantik, bahkan dengan tubuhnya yang ramping dan aduhai, Budi tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada Sinta.
Tapi sekarang, Budi melihat semuanya.
Makin lama Budi makin asyik menonton pertunjukan panas itu. Ia seolah menikmati, tanpa sadar ia terus melongok dari celah pintu itu hingga ia kehilangan keseimbangan diri dan tubuhnya limbung ke depan.
“Eh! Eh! Eh!” Budi memekik dan masih berusaha menahan diri agar tubuhnya tetap terjaga, tapi sudah tak bisa.
Bruk!
Tubuh kurus itu jatuh tersungkur di atas lantai, tepat di hadapan mereka berdua. Budi mengepalkan tangan kurusnya, memejamkan mata dan mati arah dibuatnya.
“Sial!” Pak Jono merutuk dan dengan begitu marah menatapnya.
“Ng-nganu, Pak… saya bisa jelaskan.” Budi berusaha bangkit dari lantai itu, ia berdiri menghadap mereka dan membuang muka.
Budi yang tidak bisa menutupi rasa malunya karena sudah ketahuan mengintip meski awalnya tidak sengaja. Sinta justru terlihat santai membenarkan posisi dan menurunkan roknya sembari menatap ekspresi Budi saat ini. Bukan gugup, bukan takut atau malu.
“Kamu ngapain di sana? Sudah lama kamu ngintipnya?” tanya pak Jono dengan nada ketus karena diganggu pas lagi enak enaknya.
“Ma-maaf, Pak. Saya ke sini, karena Bapak yang panggil. Bukannya, tadi mau—”
“Alasan! Harusnya kamu-“ Tangan pak Jono yang menunjuk wajah Budi itu diraih oleh Sinta dengan gerakan pelan.
“Pak Jon, sudah lah. Toh, dia sudah lihat, kan? Buat apa lagi ditutupi. Tapi, jangan sampai dia bilang ke orang lain.” Wanita itu menelengkan kepala melihat Budi yang sepertinya gelisah karena hal yang ia lihat barusan.
Sinta tersenyum pada pak Jono, kemudian meminta pria itu untuk tenang dan ia yang ambil alih keadaan. Lalu pak Jono menyandarkan tubuhnya di meja tempat tadi ia berkuda.
Sinta yang kemejanya masih berantakan itu lantas mendekati Budi. Ia sengaja tidak merapikan diri, dan sengaja melihat reaksi pria kurus ceking itu terhadapnya.
“Mas Budi,” panggil Sinta dengan suara yang lembut sekali. Tangan ia ulurkan ke wajah Budi yang juga mulai berkeringat.
“I-iya, Bu Sinta.” Budi menjawab dengan suara yang gagap. “Anu, maaf. Tadi saya nggak sengaja. Tadinya mau tutup pintu, tapi malah kedorong dan-“
“Tadi lihat apa?” tanya Sinta dengan nada yang begitu manja dan menggoda.
“E-engga lihat apa apa.” Budi menggelengkan kepala. Tubuhnya gemetaran dan bibirnya mulai terlihat pias.
“Bohong, ih! Pasti Mas Budi, tadi lihat sesuatu, kan? Gimana, Sinta cantik, nggak, tadi?” goda Sinta dengan tangan meraba beberapa bagian tubuhnya sendiri.
“Saya janji, nggak akan bilang ke siapa siapa termasuk Bu Puspa!” imbuh Budi yang kemudian mengangkat dua jari.
Pertanyaan Sinta saat itu membuat tubuh Budi merinding dari ujung kaki sampai ujung kepala. Karena gugup, omongan Budi sedikit tidak nyambung.
Belaian tangan Sinta turun dari wajah ke leher Budi, ia usap lembut dengan jemari lentik yang sesekali ia mainkan seperti tengah bermain piano, lalu wajah cantik dengan bibir yang merah itu ia dekatkan ke wajah Budi.
“Mas Bud, mau juga?” tanya Sinta secara tiba tiba.
Tubuh Budi langsung bergidik sampai kepalanya menengadah ke atas. Apalagi saat ia rasakan hembusan udara hangat yang keluar dari hidung dan bibir Sinta yang terasa begitu memburu.
“Bu… saya, nggak—”
“Enggak apa?” tanya Sinta lagi, yang justru terus maju mendorong tubuh Budi yang kurus itu hingga jatuh terbaring di atas sofa besar yang ada di ruangan itu.
Bugh!
“Aishh!” Budi meringis. Bukan karena sakit, tapi karena ia sadar bahwa ia sudah terjebak dalam sebuah moment yang sulit.
Sinta justru tertawa dengan ekspresi kikuk Budi padanya. Terlihat seperti perjaka ting ting yang baru akan ia renggut kehormatannya dengan paksa. Tubuhnya dingin dan bibirnya pucat sekali seperti kumbang larva.
“Iiih, Mas Budi lucu banget. Gemessssh!” Sinta dengan suara imutnya itu kemudian naik tubuh Budi dan menindihnya dengan rok yang sudah naik tinggi.
Sinta mulai beraksi. Ia dengan tenaganya yang cukup kuat lalu cengkram tangan Budi lalu ia tahan di atas kepala. Budi yang kurus itu kalah tenaga, belum lagi memang karena gusinya masih sakit efek giginya patah satu saat menolong kek Bono yang jatuh.
Tanpa ragu ia kecupi pipi Budi, sampai Budi menggeliat dan memejamkan mata. Pasti Ia sudah merasakan gelenyar hangat merambat di tubuhnya.
“Mas, jangan malu malu.” Sinta meraih dagu Budi, dan membawa wajah itu agar keduanya saling bertatapan.
“Enggak, Bu, jangan!” Budi memekik dengan keras, lalu mencoba memberontak. Ia seperti tidak punya harga diri lagi di hadapan mereka.
Pak Jono yang sedang merokok di sana tertawa sinis melihat Budi yang cupu sekali, dan terlihat sedikit kecemburuan di wajahnya terhadap tingkah Sinta.
Sinta godai Budi lagi, ia semakin gencar bergerak dan tangan satunya semakin liar meraih bagian bawah Budi. Bahkan dengan cepat tangannya menyentuh bagian bawah Budi.
“Bu, jangan!” Budi menahan tangan wanita itu sebelum benar benar menyentuh miliknya.
Sinta mengerutkan dahi, Budi dorong wanita itu di sofa dan langsung berdiri untuk segera pergi daripada ia semakin dibully nanti.
“Sa-saya akan bersikap bodoh dan pura pura nggak pernah lihat apapun, permisi!” Budi gugup, ia membalik badan dan pergi.
Tapi saat ia melangkah, ia tersandung dengan ujung karpet yang melengkung. Tubuhnya limbung, dan satu kaki yang lain menginjak ujung celananya sendiri yang kendor saat akan jatuh.
Srek!
Brak!
Budi jatuh dalam posisi telungkup dan celana yang ia kenakan melorot saat itu.
Sinta sempat takut jika kepalanya terbentur dan bisa jadi bahaya. Ia balik tubuh Budi, tapi ia lihat sesuatu di bawah sana dengan celana yang melorot sampai ke lutut.
“Heh! Kok gitu?” Sinta langsung mengerutkan dahi.
“Apa, Dek? Kenapa kamu seperti itu?” tanya pak Jono dengan mata penasarannya.
Keadaan hening, Budi menelan saliva dan ia takut sekali dengan ekspresi Sinta terhadap penemuannya.
“Pak! Hahahaha!” Sinta langsung tertawa terbahak bahak. Mulutnya sangat lebar. “Mas Budi, kamu serius, ukurannya cuma segitu?” tanya Sinta dengan tatapan yang begitu meledeknya.
“Mana, lihat?” Pak Jono justru mendekat dan melongok melirik ke dalam celana Budi yang dibuka oleh Sinta.
“Astaga, Bud … Bud! Belalainya imut!” Mereka tertawa bersama tanpa peduli bagaimana reaksi Budi yang malu luar biasa.
Pertanyaan dan kekagetan bu Puspa saat itu membuat Budi langsung menutup bagian rudalnya. Ia gugup dan wajahnya memerah."Anu Bu, maaf, mungkin ini gara gara kedinginan tadi, jadinya-""Kamu butuh kehangatan?" Bu Puspa memancing dan pandangannya terus tertuju pada rudal itu."Bu-bukan gitu, maksudnya-""Udahlah, kamu ini, kayak sama siapa aja." Bu Puspa langsung mengibaskan tangan ke wajah Budi."Kamu, lihatin punya saya?" Wanita itu melirik mata Budi yang sejak tadi mengarah ke pepaya mengkalnya."Nggak ngelihatin, Bu. Wong kelihatan, gimana?" balas Budi."Kamu tahu, kalau saya nggak pakai kacamata? Hayo!" Mata bu Puspa menyipit, dan Budi langsung salah tingkah dibuatnya.Melihat Budi yang bingung sendiri, bu Puspa tertawa gemas. "Iya, memang nggak pake. Kan, biar gampang bukanya nanti."Wanita itu kemudian duduk membelakangi Budi, lalu menurunkan bagian atas kimononya hingga ke pinggul. Tangannya memegangi bagian depan agar tak ikut melorot.Gluk!Budi terpana dengan kemulusan tubuh
Akhirnya, Budi tetap menaikinya. Kakinya dorong motor itu dengan begitu cepat bergerak, hingga ia dan motornya menjauh dari rumah Naning. Setelah itu, ia belok dan masuk ke gerbang Griya.Napas Budi ngos ngosan, tubuhnya berkeringat seperti orang yang baru saja olahraga. Tapi, itu memang olahraga tanpa disengaja.Budi istirahat sebentar, ia standarkan motornya dan ia sendiri duduk di pinggir gerbang untuk normalkan irama napasnya yang masih berat.“Haduh, gila! Ada aja penemuanku dari kemaren. Udahlah mergoki pak kepala, sekarang mergokin Naning main sendiri pula. Hah! Haaah!”Tapi kemudian Budi memegangi rudal mininya lagi, yang sempat menonjol dan tegak dua kali hanya karena dekat dengan Naning. Ia heran, kenapa belakangan ini si mini cepat sekali terpancing dengan hal hal yang kecil.“Aku tahu, kamu sekarang udah lumayan besar dari yang biasa. Tapi aku masih bingung, aku juga masih takut kalau kamu … belum bisa seperti yang aku inginkan.”Budi masih belum percaya diri dengan ukura
“Uh, lembut banget. Memang selembut ini kah, rasanya? Meski aroma asi, tapi justru kenapa wangi sekali? Aku seperti berada di surga!” Budi terus meracau dalam hati.Budi mungkin sedang berkhayal bahwa ia berada diantara bantalan empuk yang sangat nyaman, ia bisa tidur sepuasnya tanpa gangguan dari para lansia seperti biasa.Aroma asi yang keluar dari melon super itu, juga seperti menjadi relaksasi untuk Budi yang sempat stres ditekan pekerjaan. Belum lagi dengan semua hinaan semalam yang masih terngiang di kepala.“Oh, maaf, Mas Bud. Kekencengan, ya?” tanya Naning.Sontak saja semua khayalan Budi dengan semua kenikmatan yang ia rasakan jadi buyar. Ia langsung melepaskan kepalanya dari cengkraman melon jepang yang seolah akan menghisap wajahnya sampai kehabisan napas.“Enggak, Mbak Ning. Terusin aja, nggak papa.” Budi sendiri berusaha untuk tetap tenang.Wanita itu wajahnya bersemu merah, ia takut jika Budi salah paham padanya hanya karena kejadian ini.“Yaudah, kita lanjutin, ya?” lanj
“Astaga, Mbak Ning!” Budi terbelalak melihat Naning yang sedang tidur di ranjang bersama putra yang masih balita.Janda cantik itu mengenakan daster pendek, sangat tipis yang sepertinya ia beli di toko serba 35. Bagian atas tubuhnya terbuka, dan terlihat anaknya masih menyusu. Sangking nyenyaknya tidur, ia tak sadar jika bagian bawah daster pendeknya itu juga sudah naik hingga memperlihatkan dalamannya.Jakun Budi naik turun menatap itu, ia toleh kanan kiri. Pemandangan yang sangat indah dipandang mata, tapi juga tidak baik jika ia nikmati dalam waktu lama. Belum lagi jika ada orang mendadak masuk, disangka ia mau melakukan sesuatu pada Naning nanti.“Aduh, gimana ini, ya? Bangunin, apa pergi?” galau Budi yang berdiri tepat di depan pintu kamar itu.Hatinya bimbang. Langkah kakinya perlahan mundur, ia membalik badan dan segera keluar menuju motor tuanya yang terparkir di halaman salon kecil itu.“Tapi, nanti kalau ada orang lain masuk dan lihat dia dalam keadaan yang begitu, malah jad
Tubuh Mely jatuh tepat di atas Budi, wajahnya di leher Budi dengan hembusan yang terasa sampai ke telinga dan membuat bulu kuduknya berdiri. Bagian dadanya menempel di telapak tangan Budi saat ini dan gerakan yang naik turun dengan irama napas yang tidak teratur.Tubuh Budi mematung. Tangannya tremor, tapi ia tetap berusaha untuk menopang tubuh Mely agar tak semakin ambruk ke tubuhnya. Dan satu yang ia sadari, bahwa ia kuat. Tangannya mampu menahan tubuh itu cukup lama.Budi termenung sejenak menatap punggung tangan yang terlihat ototnya, bukan urat kurus.“Mas, maaf. Rupanya malah jatuh sama sama,” ucap Mely padanya, tak enak karena tak berhasil menolong.Tapi saat akan tegak, Mely baru sadar jika telapak tangan Budi ada di dadanya. Ia yang kaget plus malu itu menarik napas panjang, wajahnya panik dan sudah akan teriak.“Eh, jangan!” Budi langsung lepas salah satu tangan di dada Mely itu untuk membungkam mulut gadis itu, dan tangan yang satunya masih di tempat tak beranjak sama seka
“Mas ngganteng ini, sopo toh?” tanya mbah Upik yang sampai tidak jadi kabur ketika melihat sosok yang terasa asing di matanya itu.Awalnya Budi anggap karena wanita tua itu memang sudah pikun, tapi tiba tiba Sinta datang menghampirinya.“Mas Budi?” sapa wanita itu dengan dahi mengerenyit heran. Ia pandangi tubuh Budi dari ujung kepala sampai ujung kaki, ia telusuri tubuh pria yang ia rasa berbeda tiba tiba. Sinta sampai bersedekap, dan bibirnya miring kanan kiri menahan pertanyaan yang mungkin bingung harus ia mulai darimana.Budi yang masih canggung itu teringat kejadian semalam, terutama ketika tatapan Sinta seolah berhenti sejenak pada belalai mininya yang semalam ia hina dan ia tertawakan dengan begitu membabi buta.Dari tatapan mata Sinta, itu menggambarkan semua isi hatinya.“Ya, Bu Sinta. Maaf saya agak telat ikut senam, karena tadi urus rumah dulu. Jadinya—”“Loh, Mas Budi toh ini? Kok beda? Hahaha!” Mbah Ipah lantas tertawa padanya.“Beda? Beda apanya, Mbah?” tanya Budi yang







