LOGINArdy heran kenapa tante Kalia sampai mengirim dua orang pria. Apakah uang lima puluh juta itu dibawakan secara tunai dalam tas yang mereka bawa?
Herannya kenapa tidak ditransfer saja lebih praktis. Namun, Ardy menepis pikiran itu, karena pikirnya tunai berarti tidak meninggalkan jejak.Pemuda itu kesenangan dalam hatinya. Matanya menjadi hijau menatap lekat ke arah tas ransel yang dipakai salah satu dari mereka.“Apa benar kamu yang bernama Ardy?” tanya pria botakPikiran Raka tidak tenang. Pria itu begitu mengkhawatirkan orang tuanya di desa, tetapi di saat bersamaan dia juga merasa terbeban dengan situasi Felly dan Shakira.“Mas Raka, temen Oma Nanik nyari kamu itu! Dia ada masalah dengan kakinya.” Dinda bagian yang khusus melayani tamu VIP dan VVIP, mendekati Raka yang termangu di depan pintu ruangan tante Nilam.“Apa?” “Kamu bengong saja dari tadi kenapa, apa ada bahaya di balik pintu tante Nilam, apa kamu buat salah?” cecar Dinda dengan pertanyaan.“Masalah apa … mana mungkin aku buat masalah di sini, hehe … hehe ….” Raka tertawa canggung.“Lah itu sekarang lagi ngapain sampai gak denger aku ngomong apa barusan. Lagian biasanya juga nyantai sambil makan di ruang tunggu.” Dinda berdiri di depan Raka dengan kedua tangan yang dilipat di dada, seperti seorang yang sedang menginspeksi.“Itu … aku lagi nungguin Vero. Ada yang mau aku tanyakan.” Raka menatap ke arah pintu tinggi yang sejak
“Sudah lama tidak bertemu sekarang jadi sombong ya?” Suara sapaan itu membuat Raka yang baru datang jadi terkejut. “Vero?” Dia terkejut melihat siapa yang muncul. “Masih inget sama aku?” sahut Vero dengan santai. “Mana mungkin lupa.” Raka meletakkan helmnya dan mengibaskan rambut sebelum menyugarnya kembali dengan jari-jari tangannya. Gerakannya ini bisa membuat semua perempuan tertegun kagum padanya. Dengan tubuh dan wajahnya sekarang, mereka akan tergila-gila padanya. Namun, berbeda dengan teman perempuannya yang satu ini. Bulu di wajah dan seluruh tubuhnya seolah menjadi tameng untuk kharisma pria bercincin kuno itu. Veronika, meskipun dia berbulu, tetapi tentu saja tidak selebat monyet. Hanya saja rambut-rambut di pori-pori seluruh tubuhnya itu lebih lebat dan panjang daripada perempuan pada umumnya. Sepintas dalam benaknya terpikirkan bagaimana dengan bulu di bagian keti
Raka bisa menangkap ketakutan di mata Winda. Ia yakin ada hal lain yang sedang disembunyikan gadis itu. Semuanya terasa janggal baginya. Om Joko yang dikenalnya, selalu menempel pada Tante Feli. Tapi … mungkin saja itu hanya topeng. Bukankah ia sendiri sempat melihat lelaki itu keluar bersama seorang wanita. Bukan itu saja, Raka juga sempat memergokinya di cafe tempat Vero bekerja. “Mas … mau bantu aku, kan?” tanya Winda lagi. Raka menganggukkan kepalanya. Walau ia enggan menerima klien seperti tante Feli, tapi ia tahu … ia tak akan bisa selalu menghindar dan memberikan kuotanya pada Calvin. Itu sangat tidak profesional. Anggukan itu membuat senyum di bibir Winda merekah. “Makasih Mas. Nisa benar, Mas Raka satu-satunya yang bisa diandalkan buat masalah ini. Aku … berhutang sama Mas.” Raka tersenyum tipis. “Aku bahkan belum melakukan apa-apa.” Ting! Suara bel terdengar saat seseorang melangkah masuk melalui pintu c
Napas Winda hampir putus karena terus berlari dengan beban berat tas di punggungnya. Ia tak kuat lagi. Gadis itu berhenti dan segera bersembunyi di balik pohon. Kalau ia memaksakan berlari lagi, bisa-bisa lelaki tua itu justru berhasil menangkap dan menyeretnya kembali ke rumah besar itu. “Windaaa … kamu mau ngajak papa main petak umpet?” Teriak Joko. Jalannya terhuyung, Winda dapat melihatnya dengan jelas dengan bantuan cahaya lampu jalan. “Keluar. Ayok kita pulang. Ini sudah malam, Sayang.” Tubuh Winda merosot. Celakanya, kakinya justru terasa lemas di saat-saat genting seperti ini. “Winda sayang ….” Joko kembali memanggil namanya. “Kamu beneran mau ninggalin mama kamu? Dia luka parah … jangan sampai dia kehabisan darah hanya gara-gara nungguin kamu balik ke rumah.” Mendengar kata ‘mama’ membuat Winda teringat kembali pada Feli. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada ibunya, tapi teriak kesakitan yang didengarnya dari luar kamar, jel
Joko semakin geram. Ucapan Feli benar-benar memprovokasinya. Lelaki tua itu meraih tangan Feli dan menariknya menjauh dari Winda. Tubuh Feli terhempas, menabrak meja jati, tempat Winda belajar. Perempuan cantik itu meringis kesakitan. Ia memegang punggungnya yang menghantam bagian pinggiran meja. Tapi Joko tak peduli. Ia kembali menarik tubuh Winda telapak tangan kasarnya menyentuh gumpalan kenyal di dada gadis itu dan meremasnya dengan penuh hasrat. “Winda … papa cuma mau ajak kamu merasakan surga nikmatnya dunia,” ucap Joko. Lelaki itu menekan suaranya hingga membuat tubuh Winda semakin gemetar saking takutnya. Kepalanya menggeleng pelan. Tubuhnya semakin tegang. Susah payah, ia menelan ludahnya, melepaskan diri dari cekikan rasa kering di tenggorokannya. “Mama … tolong—” lirih Winda. Matanya melirik Feli yang masih terduduk di atas lantai keramik. Perempuan cantik itu berusaha kembali berdiri. Bagaimanapun ia tidak ingin
“Oma … jangan sungkan. Kalau perutnya kerasa begah lagi, ke sini aja.” Raka dengan ramahnya membuka pintu ruang VIP itu bagi Oma Nanik. Perempuan tua itu tersenyum melihat kesopanan lelaki muda itu. “Iya. Asal kamu nggak keberatan rawat nenek nenek ini.” “Ah … kalau liat bugar dan kencangnya kulit Oma, orang nggak mungkin nyadar kalo usia Oma udah tujuh puluhan.” Raka mulai menggombal. “Oma nggak kalah, kok sama tante-tante yang terapi di sini. Masih keliatan muda dan cantik.” Oma Nanik tertawa terkekeh. “Ya udah. Nanti Oma titipin tips buat gombalan kamu ke Dinda. Ada-ada aja anak muda jaman sekarang.” Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal saking salah tingkahnya. “Makasih Oma. Sampai ketemu kembali.” Melihat Oma Nanik menghampiri meja Dinda, Raka pun segera naik ke lantai atas. Ia segera menyambar kaos dan memakainya dengan cepat. Sudah satu jam ia membiarkan Winda menunggu. Ia tidak ingin gadis itu kebosanan seperti
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan







