로그인Raka baru saja keluar dari ruangan Tante Nilam. Pemilik klinik terapi itu baru saja memintanya untuk melakukan terapi untuk pundak dan lehernya yang kaku.
Dinda sudah menyambutnya dengan nada ketus, khas setiap kali Raka harus menerima klien yang diduga kekasih olehnya.“Dia nggak mau dilayani Calvin,” ketusnya, “gila deh, kamu. Masa macarin cewek yang pantasnya jadi ibu kamu.”Raka tertawa geli melihat tingkah Dinda yang lebih mirip istri yang lagi cemburu itu.Raka baru saja keluar dari ruangan Tante Nilam. Pemilik klinik terapi itu baru saja memintanya untuk melakukan terapi untuk pundak dan lehernya yang kaku. Dinda sudah menyambutnya dengan nada ketus, khas setiap kali Raka harus menerima klien yang diduga kekasih olehnya. “Dia nggak mau dilayani Calvin,” ketusnya, “gila deh, kamu. Masa macarin cewek yang pantasnya jadi ibu kamu.” Raka tertawa geli melihat tingkah Dinda yang lebih mirip istri yang lagi cemburu itu. “Siapa? Tante Nilam?” tanya Raka yang tak langsung memahami arah pembicaraan Dinda.Dinda mengerucutkan bibirnya. “Dih, Tante Nilam mana mau sama kamu. Tuh … tante Fely, kekasihmu.” Raka mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia baru menyadari bahwa wanita yang membuat Dinda kesal adalah pemilik kos lamanya.“Ooh …” Dinda menirukan Raka mengangguk-anggukkan kepala dengan sebal. “Udah sana, dia nunggu di room satu.”“Adinda … dia itu cuma mantan,” goda Raka
Tuan besar Anom Sadewa yang menguasai sektor perkebunan itu pun memegang lengan pengawalnya dan dia berdiri dengan mudahnya. Hal itu membuat semua orang terkejut. Pria itu bahkan mengangkat kakinya yang sakit beberapa kali, meskipun masih terasa sedikit kaku, tetapi hal ini sudah luar biasa sekali. Tak disangka karena salah orang dia sudah membuat keributan besar di tempat ini. “Bagaimana Tuan?” tanya Raka sopan. “Kamu benar-benar sehebat yang dikatakan Nanik.” ujarnya memuji. “Kakiku ini sudah satu bulan sakit dan tak bisa digerakan dan sudah mencoba banyak tukang pijat, tetapi baru kamu yang bisa membuatku berdiri.” Pujian itu tidak muluk-muluk, tetapi sesuai dengan kenyataan. Pria itu tersenyum tipis menatap ke arah kakinya. Dia senang bisa berdiri lagi. “Beberapa sesi lagi, Anda sudah bisa berjalan dengan normal, Tuan Sadewa.” Raka lega melihat bagaimana pria itu senang. Ini benar-benar
Di gedung sebelah, seorang pria setengah baya dengan setelah berwarna hitam duduk di atas kursi roda. Di belakang pria itu tampak dua orang bertubuh kekar yang mengawalnya dan beberapa orang lainnya berdiri mengitari.Suasana di lobby tempat pijat khusus pria itu tampak begitu menegangkan. Sama dengan panti pijat khusus wanita, di sana juga ada beberapa terapis pria dan wanita yang bertugas, sesuai dengan keinginan dari tamu. Raka melihat seorang terapis pria dicengkeram lehernya oleh salah satu pengawal pria itu. Wajahnya sudah memerah dan urat-urat di lehernya menegang karena aliran oksigen yang terhambat. Tak ada orang yang berani mendekat. Satpam-satpam di sana pun kebingungan. Mereka tak berani langsung lapor ke polisi, karena kasus ini bisa berdampak besar, apalagi keberadaan tante Nilam sedang tidak ada di dalam kota.“Paman, tolong lepaskan rekanku.” Raka segera mendekat dan menatap pengawal itu dengan lekat.“Orang ini sud
Pikiran Raka tidak tenang. Pria itu begitu mengkhawatirkan orang tuanya di desa, tetapi di saat bersamaan dia juga merasa terbeban dengan situasi Felly dan Shakira.“Mas Raka, temen Oma Nanik nyari kamu itu! Dia ada masalah dengan kakinya.” Dinda bagian yang khusus melayani tamu VIP dan VVIP, mendekati Raka yang termangu di depan pintu ruangan tante Nilam.“Apa?” “Kamu bengong saja dari tadi kenapa, apa ada bahaya di balik pintu tante Nilam, apa kamu buat salah?” cecar Dinda dengan pertanyaan.“Masalah apa … mana mungkin aku buat masalah di sini, hehe … hehe ….” Raka tertawa canggung.“Lah itu sekarang lagi ngapain sampai gak denger aku ngomong apa barusan. Lagian biasanya juga nyantai sambil makan di ruang tunggu.” Dinda berdiri di depan Raka dengan kedua tangan yang dilipat di dada, seperti seorang yang sedang menginspeksi.“Itu … aku lagi nungguin Vero. Ada yang mau aku tanyakan.” Raka menatap ke arah pintu tinggi yang sejak
“Sudah lama tidak bertemu sekarang jadi sombong ya?” Suara sapaan itu membuat Raka yang baru datang jadi terkejut. “Vero?” Dia terkejut melihat siapa yang muncul. “Masih inget sama aku?” sahut Vero dengan santai. “Mana mungkin lupa.” Raka meletakkan helmnya dan mengibaskan rambut sebelum menyugarnya kembali dengan jari-jari tangannya. Gerakannya ini bisa membuat semua perempuan tertegun kagum padanya. Dengan tubuh dan wajahnya sekarang, mereka akan tergila-gila padanya. Namun, berbeda dengan teman perempuannya yang satu ini. Bulu di wajah dan seluruh tubuhnya seolah menjadi tameng untuk kharisma pria bercincin kuno itu. Veronika, meskipun dia berbulu, tetapi tentu saja tidak selebat monyet. Hanya saja rambut-rambut di pori-pori seluruh tubuhnya itu lebih lebat dan panjang daripada perempuan pada umumnya. Sepintas dalam benaknya terpikirkan bagaimana dengan bulu di bagian keti
Raka bisa menangkap ketakutan di mata Winda. Ia yakin ada hal lain yang sedang disembunyikan gadis itu. Semuanya terasa janggal baginya. Om Joko yang dikenalnya, selalu menempel pada Tante Feli. Tapi … mungkin saja itu hanya topeng. Bukankah ia sendiri sempat melihat lelaki itu keluar bersama seorang wanita. Bukan itu saja, Raka juga sempat memergokinya di cafe tempat Vero bekerja. “Mas … mau bantu aku, kan?” tanya Winda lagi. Raka menganggukkan kepalanya. Walau ia enggan menerima klien seperti tante Feli, tapi ia tahu … ia tak akan bisa selalu menghindar dan memberikan kuotanya pada Calvin. Itu sangat tidak profesional. Anggukan itu membuat senyum di bibir Winda merekah. “Makasih Mas. Nisa benar, Mas Raka satu-satunya yang bisa diandalkan buat masalah ini. Aku … berhutang sama Mas.” Raka tersenyum tipis. “Aku bahkan belum melakukan apa-apa.” Ting! Suara bel terdengar saat seseorang melangkah masuk melalui pintu c
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya







