LOGINRino meraih kaki jenjang itu. Lelaki itu mengecupi kulitnya yang putih dan lembut itu dari ujung jari hingga pangkal pahanya.
Luna mendesah. Tubuhnya menegang dan gelisah. Saat lelaki itu mulai mendekatkan kepalanya tepat di antara kedua pahanya.“Ooh … Mas, hmmp, aaah ….” Luna mendesah tak karuan saat merasakan sesuatu menggelitik di dalam intinya.Tubuhnya bergetar, gelisah, menggelinjang tak karuan. Sentuhan Rino benar-benar membuatnya frustasi. Namun kedua taNamun, sebelum lutut Pak Bambang menyentuh lantai marmer, sebuah tangan kokoh tiba - tiba mencengkram pundaknya dari belakang, menariknya berdiri tegak dengan sekali hentakan bertenaga.Pak Bambang tersentak. Ia menoleh dengan mata basah dan terbelalak.Di hadapannya, berdiri Parto dengan seragam satpam yang sangat rapi dan tatapan mata yang teramat tajam. Di samping Parto, berdiri Vico dengan postur tegap, melipat tangan di dada seraya memandang jijik ke arah dua tamu mabuk tersebut."Cukup, Pak Bambang," ucap Parto dengan suara baritonnya yang berat, tegas, dan berwibawa memenuhi ruangan VIP. "Seragam dan posisi Bapak mungkin sedang jatuh di hadapan mereka, tapi martabat manusia tidak boleh diinjak - injak begitu saja di tempat kami bertugas."Dua tamu mabuk itu terkejut melihat kehadiran satpam yang mendadak ikut campur. "Heh, satpam bodoh! Jangan ikut campur urusan tamu!" bentak salah satu dari mereka.Vico melangkah maju satu langkah
Langkah kaki Pak Bambang yang terburu - buru membawanya tiba di area koridor VIP 2. Suara keributan dan bentakan suara lelaki terdengar menggelegar dari dalam ruangan, memancing perhatian para staf dan pengunjung yang lewat.Begitu Pak Bambang mendorong pintu ruang VIP 2 terbuka, ia mendapati dua orang tamu pria berbadan besar dengan aroma alkohol yang pekat sedang berdiri marah-marah. Meja di hadapan mereka berantakan, gelas- gelas pecah berserakan di lantai dan Mita berdiri di sudut ruangan dengan wajah ketakutan yang sengaja dilebih - lebihkan."Manajer macam apa kamu, hah?!" bentak tamu bertubuh gempal sambil menunjuk tepat di muka Pak Bambang. "Pemandu lagu kamu ini pelayanannya buruk! Sudah dibayar mahal, tapi malah sok jual mahal sama tamu! Kasih kami kompensasi atau kami pastikan tempat karaoke ini ditutup karena berita buruk!"Pak Bambang yang tadinya biasa bersikap arogan di depan anak buahnya mendadak ciut nyali begitu menghadapi tamu VIP yang mabuk dan berduit. Ia langsung
Suara putaran kunci di lubang pintu terdengar begitu nyaring, memecah keheningan ruang kerja Pak Bambang yang temaram. Sudar merasakan aliran darahnya berdesir hebat. Jantungnya berdegup kencang seolah hendak meloncat keluar dari rongga dada.Gawat! Pak Bambang balik lebih cepat dari dugaan! batin Sudar panik.Tidak ada waktu lagi untuk berpikir panjang. Pintu depan sudah mulai berderit terbuka, menampilkan celah cahaya dari koridor luar. Dengan refleks kilat yang luar biasa gesit untuk ukuran tubuhnya yang gempal, Sudar melompat kecil ke sisi belakang meja kerja yang lebar, lalu menjatuhkan diri tiarap di balik tirai beludru panjang yang menjuntai sampai ke lantai untuk menutupi bagian bawah meja.Untung saja meskipun bertubuh paling montok di antara semua anggota agensi, tetapi berkat latihan yang selalu dilakukan setiap hari, Sudar bisa bergerak cukup gesit dan bisa berpikir taktis di kala terjepit.Ceklek.Pintu terbuka lebar. Langkah kaki berat Pak Bambang terdengar memasuki ruan
Pak Bambang menurunkan kakinya dan menatap Parto yang tak segera menjawab dengan rasa kesal. Sikap satpam itu yang selalu berpenampilan tenang, cuek dan muka datarnya sungguh mengesalkan bagi manager tersebut.“Cepat bilang ada gangguan keamanan apa!”"Tadi beberapa menit lalu, saat saya melakukan patroli keliling, saya memergoki ada gerak - gerik mencurigakan dari seorang tamu pria mabuk yang mondar - mandir di dekat lorong VIP 4, area tempat Mita biasa bekerja," jelas Parto dengan nada sangat formal dan meyakinkan. "Pria itu terlihat mengawasi Mita dengan gelagat tidak senonoh dan berniat melakukan pelecehan terselubung saat Mita lengah."Mendengar nama Mita dan potensi insiden pelecehan disinggung, Pak Bambang langsung duduk tegak. Sebagai orang yang turut merancang skenario jebakan untuk menjatuhkan satpam, telinganya langsung berdengung mendengar kata 'pelecehan' yang dikaitkan dengan Mita."Apa?! Pelecehan terhadap Mita?!" sergah Pak Bambang
Malam perlahan merambat naik, menyelimuti kawasan hiburan malam di Jalan Rambutan. Bauran cahaya neon warna-warni yang berpendar di atas basahnya aspal sehabis hujan sore tadi. Suasana di dalam gedung karaoke tampak mulai sibuk dengan datangnya para pengunjung malam yang memenuhi area lorong utama dan ruang-ruang VIP. Di lorong lantai dua, tepat di dekat area pos pantau utama, Vico menjalankan bagian pertama dari strategi besar yang telah disusun bersama agensi Sentosa saat rapat kemarin malam. Dengan balutan seragam dinas Agensi Sentosa yang sangat rapi dan wibawa khas seorang personel senior, Vico sengaja mengambil posisi berdiri di ruang terbuka yang ramai dilalui oleh para staf, pemandu lagu, serta kasir. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Siska tampak sedang merapikan beberapa dokumen nota di meja kecil dekat lorong dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Vico melangkah mendekat dengan langkah santai namun terukur.
Hadi, Dimas, dan Seno masih berdiri kikuk di tempat mereka sebelumnya. Beberapa anak buah yang baru datang juga berhenti di teras. Mereka semua mendadak tegang karena ekspresi Rino yang tidak santai. “Ada apa ini ya? Apa si jalang itu cerita sama dia? Sialan! Kupikir wanita jalang itu mudah banget dirayu tapi ternyata enggak! Tamat sudah riwayatku!” Hadi membatin kalut. Ia takut usahanya untuk mengacau akan jadi sia- sia. Di sisi lain, Seno dan Dimas juga merinding begitu sosok Rino berada di hadapan mereka. Keduanya pun saling melirik satu sama lain. Sama-sama cemas. “Apa nih? Apa nih? Kenapa dia keliatan murka? Apa karena latihanku yang terlihat malas-malasan tadi? Tapi, jujur banget badanku udah mau remuk padahal masih latihan aja. Duh…gimana ini.” Seno membatin gelisah. Takut ditendang dari agensi ini. “Kok balik - balik keliatan marah? Apa ada ancaman?” Dimas membatin penuh semangat tanpa sebab. “Semuan
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan







