FAZER LOGINAgus dan Vico yang sedang asyik berbincang mengenai apa saja yang terjadi di dalam terkejut, ketika melihat mobil polisi berhenti di depan gedung.
“Mobil polisi berhenti di depan, coba lihat apa ada tabrakan?” Agus menunjuk ke arah luar pintu kaca satu arah.“Loh iya, ayo kita cek ada apa di depan.” Vico berjalan menuju pintu untuk melihat apa yang terjadi.Mereka berdua sudah lupa dengan percakapan sebelumnya. TIdak lagi diburu keinginan untuk bergantian dengan ToAgus dan Vico langsung tegang mendengar suara Tora yang berteriak nyaring di dalam gedung. Kedua orang tersebut tidak bisa melihat apa yang terjadi, karena pintu kaca satu arah membatasi pandangan mereka berdua.“Bang Vicooo tolongin Toraaaa!” teriak Tora lagi dari dalam. Di dalam gedung, Tora melihat kalau Agus dan Vico baik-baik saja. Dia tidak melihat kalau ada polisi di sisi lain, karena terhalang oleh poster besar. Pemuda itu jadi kesal melihat wajah santai kedua temannya itu yang menoleh ke dalam, tetapi mengacuhkan dirinya. Tora trauma sekali ditangkap oleh polisi. Dulu saat masih jadi preman, dia juga pernah ditangkap polisi dan dipukuli di dalam sel. Saat itu, pemuda tersebut diduga komplotan pencuri telur dan minyak di toko sembako pasar.Sekarang kedua tangannya sudah di borgol ke belakang. Padahal dia bekerja beneran bukan lagi preman pasar yang suka meminta uang pada pedagang. “Ampun, Pak Polisi. Aku ini kerja beneran disi
Agus dan Vico yang sedang asyik berbincang mengenai apa saja yang terjadi di dalam terkejut, ketika melihat mobil polisi berhenti di depan gedung. “Mobil polisi berhenti di depan, coba lihat apa ada tabrakan?” Agus menunjuk ke arah luar pintu kaca satu arah.“Loh iya, ayo kita cek ada apa di depan.” Vico berjalan menuju pintu untuk melihat apa yang terjadi.Mereka berdua sudah lupa dengan percakapan sebelumnya. TIdak lagi diburu keinginan untuk bergantian dengan Tora mengontrol ke dalam ruangan. Beberapa mobil polisi yang datang sudah cukup membuat kedua orang satpam itu penasaran habis.“Mas, ada apa?” tanya receptionist heran melihat mereka berdua membuka pintu luar. “Ada polisi di depan!” sahut keduanya serempak.“Polisi?” Resepsionis itu langsung berdiri dengan wajah kaget.Sayang sekali Agus dan Vico tidak menyadari kecemasan di wajah reseptionis tersebut. Mereka juga tidak tahu kalau perempuan yang berjaga di bag
Tora dan Agus langsung menatap ke arah Vico dengan kesal. Orang yang paling dewasa dari mereka berdua itu bersikap polos seolah tidak melakukan kesalahan apapun.“Kalau kamu satpam di sekolahan, grape itu ya anggur, tapi kita di karaokean, anggur ndasmu!” maki Agus yang kesal, gara-gara Vico menghancurkan moodnya. “Ndasmu itu!” Vico membalas sambil menahan tawa.“Grape-grape itu ya raba-raba, tau!” Agus geregetan. Pemuda itu sampai memperagakan dengan meraba-raba tubuhnya sendiri. Sikap Agus membuat Vico tertawa semakin lebar dan resepsionis tersenyum.“Pertama ya, Mas lihat orang grape-grape?” tanya resepsionis. “Kalau di karaokean sih biasa. Mereka kan sebenarnya pacaran atau suami istri yang mau mesra-mesraan.”“Memang di sini ada Pemandu Karaoke yang bebas di grape-grape?” Vico dengan sikap konyol mengucapkan kata grape dengan istilah inggris, grepe-grepe.“Enggak ada, Mas, semuanya di sini meskipun dijuluki LC dan pakai baj
Di sisi lain. Ini hari pertama Tora, Vico dan Agus bekerja pada Karaoke di jalan langsep. Sedangkan Sudar, Gufron dan Parto bertugas di jalan Duku. Mereka berangkat bekerja dengan penuh semangat. Enam orang di dua tempat karaoke milik artis terkenal. Masing-masing dari mereka naik sepeda motor ke lokasi yang dituju, Anak buah Raka tersebut mendapatkan shift malam, dari jam tujuh malam hingga empat pagi. Tumbler besar berisi kopi sudah siap menemani mereka bekerja. “Tora, ini hari pertama kita kerja beneran.” Agus berteriak penuh semangat. “Yaa, rasanya lebih keren ya daripada cuma jadi tukang parkir dan preman pasar.” Tora membalas teriakan Agus yang mengendarai motor di sebelahnya. “Tukang parkir ya enak loh, banyak duitnya!” Vico yang duduk di boncengan Agus tidak terima Tora merendahkan pekerjaan ayahnya. “Aku tau, aku dulu kan ya tukang parkir. Cuma itu rebutan wilayah, mana
“Jess!” Raka melambaikan tangannya ke arah perempuan cantik berkulit pucat itu. Malam itu setelah lima belas menit ia menunggu, akhirnya perempuan bermata sipit itu pun muncul di hadapannya. Jessica melangkah tegas ke arah Raka dan langsung duduk di hadapannya. Tanpa basa basi ia langsung melotot kesal. “Kamu beneran gila, ya!” kesalnya, “bisa-bisanya ngedeketin aku di jam kerja.” “Aku kan cuman nyapa, Jess.” Raka menjawab dengan santai. “Cuman nyapa? Kamu nggak cuman, Raka. Kamu … diem di depanku, cukup lama dan … bahkan kamu bikin aku kena tegur Pak Devon!” Jessica masih melebarkan mata sipitnya. “Kenapa? Dia mau batalin rencana pernikahanmu dengan anaknya?” tanya Raka, lagi, dengan santainya. “Bukannya … itu emang yang kamu mau?” “Aku —” Jessica menghela napas panjang. “Aku masih butuh kerjaan ini.” “Jess, percaya sama aku. Kamu … bakal terus dipakai oleh perusahaan ini,
Raka terkejut mendengar makian Pak Jaelani. Lelaki muda itu segera memeriksa tampilan di layarnya. Matanya ikut melotot saat melihat foto Luna dan Rino sedang berciuman! “Heh! Kapan dia pakai hape aku? Rino sialan!” Makinya dalam hati. Tapi Raka segera mengendalikan emosinya. Ia bisa mengurus Rino nanti, tapi merayu Pak Jaelani adalah hal yang utama. Ia tidak mau mengecewakan Shakira. Ia harus mengumpulkan paling tidak dua puluh persen saham tambahan agar posisi Shakira tidak akan tergoyahkan. “Bukan. Bukan itu, tapi gambar ini, Pak Jaelani.” Raka langsung menarik layar ponselnya ke sisi kanan. Kini di layarnya, tampak sebuah berkas tentang nama-nama semua pemegang saham. Pak Jaelani langsung meraih ponsel Raka. Lelaki itu mencubit layarnya, membuat tampilannya jadi lebih besar. Matanya langsung melebar saat melihat beberapa nama yang dikenalnya sudah diberikan tanda. “Apa maksudnya ini?” “Berkas ini saya dapat dari meja se
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan







