LOGINRaka mengatupkan rahangnya. Tatapannya beralih ke jendela kamar yang gelap.
“Justru mungkin kamu yang nggak akan pernah melirik pemuda hitam, dekil, miskin yang bayar kos saja nunggak,” sahut Raka.Lelaki muda itu melirik ke arah benda kecil yang melingkar di jarinya. Garis tipis berwarna keemasan itu seperti mengejeknya. Tanpa campur tangan benda itu, tak satu pun wanita yang akan melirik apalagi mendekat seperti sekarang.“Kamu benaran mikir seperti itu?”“Dulu aku pikir, selama aku bisa mengatasi semuanya, aku nggak perlu merepotkan orang lain,” katanya lirih. “Aku selalu berusaha terlihat baik-baik saja, sampai kadang-kadang aku sendiri lupa bagaimana caranya mengakui kalau aku sedang nggak baik-baik saja.”Raka mendengarkan tanpa menyela. “Lalu … ketika aku mengenal kamu, aku merasa kamu nggak jauh berbeda denganku. Selalu berusaha tetap tegar, walau terus ditempa kesulitan,” lanjut Shakira, “karena itu aku ingin mengenalmu lebih lagi. Bukan karena aku kasihan, Raka. Aku ingin tahu lebih banyak lagi tentang kamu.” Jemari Raka bergerak menyentuh benda kecil yang melingkar di jarinya. Untuk sesaat, ia kembali memandangi lingkaran keemasan itu.Selama ini ia sering bertanya-tanya apakah perhatian yang diterimanya benar-benar ditujukan kepadanya atau hanya kepada sesuatu yang melekat pada dirinya. Ia tidak ingin menghabiskan sisa hidup dengan meragukan ketulusan setiap orang yang mendekat.
Raka mengatupkan rahangnya. Tatapannya beralih ke jendela kamar yang gelap.“Justru mungkin kamu yang nggak akan pernah melirik pemuda hitam, dekil, miskin yang bayar kos saja nunggak,” sahut Raka. Lelaki muda itu melirik ke arah benda kecil yang melingkar di jarinya. Garis tipis berwarna keemasan itu seperti mengejeknya. Tanpa campur tangan benda itu, tak satu pun wanita yang akan melirik apalagi mendekat seperti sekarang. “Kamu benaran mikir seperti itu?”“Dulu, aku nggak punya apa-apa, Kira.” Suara Raka terdengar lebih pelan. “Aku bahkan nggak tahu bagaimana caranya memastikan hidupku sendiri besok. Aku sibuk memikirkan bagaimana cari uang buat bayar sewa kos, buat makan, dan bagaimana caranya bertahan sampai akhir bulan.”Shakira menarik sudut bibirnya. Ia bisa merasakan sisi rapuh lelaki itu. Sisi rapuh saat ia menceritakan masa lalu itu justru membuat Shakira ingin merengkuhnya lebih erat. Raka tidak seperti Ryu yang sem
Raka langsung menghentikan langkahnya.“Apa?”Shakira meremas ujung selimut dengan tangan kirinya. Wajahnya mulai terasa panas. “Aku cuma ingin dengar suara kamu.”Raka bergeming. Tangannya yang semula hendak memutar kunci kontaknya mendadak berhenti bergerak. Ia menelan ludahnya, memastikan dirinya tidak salah mendengar perkataan Shakira.“Apa?” tanyanya sekali lagi, kali ini jauh lebih pelan.“Aku cuma ingin dengar suara kamu,” ulang Shakira nyaris tak terdengar. Untuk beberapa saat, Raka tidak mampu mengatakan apa-apa. Shakira hanya ingin mendengar suaranya. Kenyataan itu terdengar begitu manis, seperti menyiram sebuah harapan yang mekar di dalam hatinya.Raka menunduk, menatap helm di tangannya. Namun sudut bibirnya perlahan melengkung ke atas, membentuk seulas senyuman. “Shakira,” panggilnya.“Hmm –”“Kamu tahu sekarang jam berapa?” tanya Raka kemudian.“Tahu.” Jawaban
Malam semakin larut, tetapi Shakira belum juga bisa memejamkan mata. Ia sudah beberapa kali mengubah posisi tidurnya, menarik selimut hingga ke dada, lalu menyingkirkannya kembali karena merasa gerah.Pikirannya terus berputar, mengingat percakapannya dengan Raka sore tadi. Perubahan sikap lelaki itu, terus mengganggu pikirannya. Raka memang tidak mengatakan apa-apa, tetapi Shakira cukup mengenalnya untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang membuatnya kecewa.Shakira meraih ponsel di atas nakas. Ia membuka daftar kontak, lalu berhenti pada satu nama yang belakangan ini terlalu sering muncul di pikirannya.Ibu jarinya masih menggantung di atas tombol panggilan, sementara pikirannya sibuk menimbang. Apa Raka sudah tidur? Bagaimana kalau teleponnya justru dianggap mengganggu? Bukankah tadi mereka sudah membicarakan urusan Danu Artha Jaya sampai selesai?Shakira meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Tapi beberapa detik kemudian, ia kembali meraih benda pipih itu.“Kenapa aku jadi be
Begitu pintu berbahan mahoni tebal itu tertutup rapat, sosok angkuh Bu Maya runtuh seketika. Ruangan itu terasa hening dan mencekam, meninggalkan rentetan kejadian barusan dalam pikirannya. Wajah sinis yang dipamerkannya tadi kini berubah menjadi raut cemas. Riasannya berkerut seiring dengan keningnya yang berlipat, berpikir keras saat ini. Rahangnya pun mengeras dengan tangan yang mengepal di atas meja kerjanya itu,Bagaimana mungkin Raka, seorang pemuda yang dianggap sepele itu, bisa mengetahui kejadian rahasianya dengan Mita secara detail. Apakah mungkin seseorang secara tidak sengaja melihat hal tersebut dan melaporkannya pada pemuda itu. Padahal dia sudah memastikan gang itu dalam kondisi sepi dan semua kejadian tak ada yang mengetahui, kecuali dirinya, Mita dan pria itu. Dia yakin sekali tak ada saksi lain, tetapi ternyata keyakinan itu baru saja dirontokkan oleh musuh.Bahkan angka tepat sepuluh juta itu, bagaimana bisa dia tahu. Apakah R
Raka menatap Bu Maya dengan senyum dingin, dia tidak gentar sedikitpun dengan gertakan perempuan itu. Sikapnya yang tenang dan penuh percaya diri membuat mantan artis itu merasa tidak nyaman.“Ancaman Bu Maya cukup menarik sekali.” Suara pemuda itu mengalun tenang di ruangan luas dengan aroma cendana itu, “tapi sebelum Bu Maya memanggil banyak koneksi wartawan ataupun pengacara, mari kita bicarakan mengenai hadiah sepuluh juta rupiah yang ibu berikan pada Mita.”Senyum culas di wajah Bu Maya seketika membeku. Matanya membelalak kaget dan tanpa sadar tangannya yang memegang cangkir porselen pun bergetar. Bagaimana bisa Raka mengetahui rahasia yang hanya diketahui oleh segelintir orang?“A-apa maksudmu?” tanya Bu Maya dengan suara gagap. Intonasi suaranya tak lagi tinggi, tetapi terdengar diselimuti kepanikan yang nyaris tak bisa di tutupi.“Uang sepuluh juta apa? Kamu jangan asal tuduh ya, saya bisa melaporkan kamu dengan pencemaran nama baik” tegas perempuan itu berusaha untuk menutup
Air dingin yang menyentuh kulit Raka, terasa begitu menyegarkan. Namun perasaan aneh itu tak bisa diacuhkannya lagi. Bukan saja tentang kejadian semalam, tapi juga yang ia amati pagi ini. Tubuhnya berubah! Bagaimana bisa tubuhnya yang kurus, tiba-tiba saja padat, berisi dengan otot perut layaknya
Mata Raka langsung melotot saat melihat cincin di dalam kotak kayu itu. Ia meraih logam putih itu dan mengamatinya dengan seksama. Matanya tertuju pada bagian dalam lingkaran itu. Ada grafir halus dengan huruf yang tak dikenalnya di sepanjang lingkaran itu. Mungkin itu tulisan kuno atau bahkan tuli
Rakasya baru saja membuka pintu kamarnya, saat tante Feli tanpa basa-basi menyeruak masuk. Wanita itu sama sekali tak peduli ataupun canggung dengan penampilan Raka yang saat ini hanya memakai celana boxer saja. Niatnya untuk menagih sewa kamar, sudah dapat ditebak oleh Raka. Wanita itu menengadah
"Baru pulang, Ka?" "I-iya, Tante." Rakasya Gutawa langsung gugup, saat mendapati ibu kost menegurnya. Raka baru saja menjagrak miring sepeda motornya, sebelum menutup pintu pagar rumah kost. Tapi ia sudah disambut dengan pemandangan indah, yang sering menghiasi imajinasinya dalam kamar kost yan







