LOGINMalam itu, Bayu, Maudy dan ibunya sedang bersiap untuk pergi ke rumah paman maudy. Selama di perjalanan, Maudy sempat mencemaskan sesuatu.“Bu, gimana kalau sikap keluarga paman Heru masih sama seperti dulu?” tanya Maudy pada Ibunya.“Semoga aja nggak Maudy. Tapi, biar bagaimanapun, hari ini mereka kembali ke kota ini setelah bertahun tahun pindah. Dan hanya tinggal ibu saja saudara kandung paman kamu. Jadi, entah bagaimanapun sikap mereka, kita tetap harus menemui dan menyambut kedatangan mereka di kota ini dengan baik,” tutur Ibu Maudy pada putrinya.Maudy mengangguk saat mendengar nasehat ibunya. Sementara Bayu, dia cukup dibuat heran dengan topik pembahasan mereka.“Ada apa sih?” tanya bayu.“Nanti aja aku ceritain di rumah,” sahut Maudy, lalu bayu pun mengangguk mengerti.Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan Rumah megah bergaya kolonial di kawasan pemukiman elit. Paman Heru, kakak kandung dari ibunda Maudy, sengaja memilih kediaman ini untuk menandai kembalinya mereka ke ibu
Di belahan kota yang lain, jarum jam bergerak tenang mendekati waktu makan malam. Bayu baru saja menginjakkan kakinya di dalam rumah setelah menembus kemacetan kota. Kemeja kerjanya sudah sedikit dilonggarkan, namun gurat ketegasan di wajahnya tidak memudar. Di dalam kamar utama, Maudy sudah terlihat anggun mengenakan gaun semi-formal bernuansa pastel, siap untuk menghadiri acara syukuran paman kandungnya malam ini.Melihat suaminya baru pulang, Maudy tersenyum hangat dan melangkah mendekat. "Mas baru pulang? Ayo cepat bersiap, aku sudah menyiapkan kemeja batikmu di atas tempat tidur. Kita tidak enak kalau datang terlambat ke rumah Paman Heru."Namun, alih-alih langsung bergegas ke kamar mandi atau meraih kemeja batiknya, Bayu justru menatap Maudy dengan pandangan mata yang dalam dan serius. Pria itu meraih kedua tangan Maudy, menggenggamnya dengan lembut, lalu menuntun istrinya untuk duduk bersama di sofa panjang yang terletak di sudut kamar mereka.Maudy mengernyitkan alisnya, me
Suasana di dalam ruang tengah rumah peninggalan Baron itu kian memanas, terasa begitu menyesakkan hingga oksigen seolah enggan singgah. Ani terbelalak, wajah paruh bayanya memerah padam menahan syok dan amarah yang meluap. Seumur hidupnya, Silvy tidak pernah sekalipun meninggikan suara, sampai membentaknya seperti ini."Silvy! Berani-beraninya kamu membentak Ibu?! Ibu ini orang tuamu! Semua yang Ibu lakukan itu demi kebaikanmu dan anakmu! Kamu benar-benar sudah buta karena mengemis belas kasihan pada Pak Bayu sampai tega memperlakukan Ibumu sendiri seperti ini?!" pekik Ani dengan suara bergetar karena tersinggung. "Demi kebaikan atau demi uang bulanan Ibu?!" balas Silvy dengan sisa-sisa keberaniannya, meskipun air matanya kini ikut luruh karena mendurhakai ibunya sendiri.Di atas karpet, Dara yang menyisakan trauma mendalam pasca-kematian ayahnya kian histeris. Anak kecil itu menekuk kedua lututnya, menyembunyikan wajah di balik lengan mungilnya yang gemetar. Melihat dua orang d
Langkah kaki Silvy terasa begitu goyah saat ia menuruni anak tangga menuju lantai dasar gedung kantor Bayu. Angin sore yang berembus di luar gedung perlahan mengeringkan sisa air mata di pipinya. Di dalam taksi yang membawanya pulang, Silvy terdiam menatap jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan. Pikiran wanita itu berkecamuk. Ia tahu betul, kegagalannya membawa Bayu pulang malam ini akan memicu amarah baru dari ibunya, Ani.Namun, ada satu hal yang berbeda dari diri Silvy sore ini. Ketegasan sorot mata Bayu dan pengingat tentang batas rumah tangga pria itu seolah menampar kewarasan Silvy yang sempat mati suri. Ia sadar, memeras emosi Bayu demi menuruti kepanikan rumahnya adalah tindakan yang keliru. Kali ini, di dalam benaknya yang mulai mendingin, Silvy membulatkan tekad. Dia tidak akan lagi membiarkan dirinya menjadi boneka yang disetir oleh hasutan penuh keserakahan sang ibu. Apapun yang dikatakan Ani di rumah nanti, ia akan teguh berdiri pada pemikirannya sendiri.Begitu p
Keheningan kembali merayap di antara dinding kaca ruang kerja yang luas itu. Bayu masih terdiam, tidak mengekspresikan emosi apa pun yang bisa dibaca. Dalam hati, Bayu mengembus napas pendek. Tebakannya sama sekali tidak meleset, kedatangan Silvy memang bertujuan untuk menariknya kembali ke dalam pusaran duka dan trauma yang dialami Dara, persis seperti skenario yang dikhawatirkan Maudy semalam.Bayu tidak langsung menjawab. Pria tegap itu berdiri diam, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menimbang-nimbang keputusan di dalam kepalanya. Logikanya berputar cepat. Di satu sisi, nuraninya sebagai seorang pria yang menghormati mendiang rekan bisnisnya merasa iba pada kondisi Dara. Namun di sisi lain, batas tegas yang telah dia janjikan kepada Maudy semalam terus berdengung di telinganya bagai sebuah alarm peringatan.Di tengah keheningan dan kebimbangan yang mencekam itu, tiba-tiba terdengar suara getaran pendek dari atas meja kerja Bayu.Drrttt…drrttt…Bayu mengalihkan pandan
Desakan yang bertubi-tubi dari ibunya serta tangis histeris Dara yang tak kunjung reda akhirnya meruntuhkan pertahanan mental Silvy. Berada di bawah tekanan emosional yang begitu hebat, logika sehatnya seolah lumpuh. Di tengah keputusasaan yang mendalam, wanita itu akhirnya menyerah pada keadaan. Siang itu, dengan langkah kaki yang terasa seberat timah dan hati yang didera rasa bersalah, Silvy terpaksa melangkah menuju gedung pencakar langit yang menjadi pusat dari gurita bisnis milik Bayu.Gedung kantor pusat perusahaan Bayu berdiri megah di pusat kota, memancarkan atmosfer profesionalisme yang kaku dan dingin. Begitu melangkah masuk ke area lobi utama yang dilapisi marmer mengilat, Silvy langsung merasa terasing. Pakaian rumahnya yang buru-buru ia ganti dengan blus sederhana tampak sangat kontras dengan lalu-lalang para karyawan yang mengenakan setelan kerja necis dan formal.Dengan sisa-sisa keberaniannya, Silvy menaiki lift menuju lantai teratas, tempat ruangan direksi berada. B
Malam kian beringsut menuju puncaknya, membawa serta keheningan yang semakin pekat di luar dinding kamar. Setelah keputusan bulat Maudy untuk menahannya malam itu, Bayu tidak ingin menyia-nyiakan ketenangan yang baru saja mereka menangkan. Dengan gerakan yang tegas tanpa ragu, Bayu meraih kembali
Hari demi hari terus bergulir, melangkah lambat bersama dengan perubahan musim yang kian tak menentu. Tuan Pradipta akhirnya diizinkan pulang oleh tim dokter setelah kondisinya dinyatakan cukup stabil untuk menjalani rawat jalan di rumah. Rumah megah keluarga Pradipta yang biasanya sunyi kini teras
Hari-hari berikutnya di rumah sakit berjalan dengan ritme yang teramat lambat dan menyiksa bagi Alena. Aroma cairan antiseptik yang tajam, bunyi monoton dari mesin indikator jantung, serta dinding-dinding putih kamar perawatan VIP itu seolah menjelma menjadi penjara yang mengurung pikirannya.Sepa
Pada saat yang bersamaan, Sedan hitam milik Bayu melaju dengan kecepatan sedang, membelah aspal jalanan ibu kota yang mulai merayap padat menjelang siang. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, suasana mencekam yang tadinya menyelimuti perjalanan menuju rumah sakit kini telah sepenuhnya mencair. Ha







