Share

Bab 53

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-03-14 14:56:58

Jika di dalam kamar kontrakan sederhana itu, Maudy merasa penuh kedamaian. Lain halnya yang terjadi di kamar Rio. Pertengkaran di kamar yang telah hancur itu kian memanas, melampaui batas kewajaran. Haris dan Devi sudah lama meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru, menyisakan Rio dan Lyra yang kini saling tatap dengan kebencian yang murni. Tidak ada lagi sisa-sisa kemesraan yang dulu mereka pamerkan di apartemen.

​Lyra mondar-mandir dengan napas memburu, memegangi kepalanya yang terasa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 75

    “Udah, jangan malu. Kalau mau ngajak ketemu, harusnya di hotel dong. Jangan di rumah sakit begini. Kan nggak seru..” cerocos Bayu yang masih terus berusaha menggoda Maudy agar kembali ceria.“Emangnya kamu berani ketemuan sama aku di hotel? Kamu nggak takut sama Ibuku?” sahut Maudy dengan ceria. Seolah dia tidak usai mengalami dehidrasi parah.“Siapa takut? Lihat saja, nanti kalau aset keluargaku sudah resmi kembali ke tanganku, jangankan ngajak kamu ke hotel, ngajak kamu nikah pun Ibu kamu pasti setuju..”“Pede banget…”“Pede lah, aku kan ganteng. Kuat dan tahan lama. Sampai sampai…”“Iiih Bayu, udah! Jangan diterusin!” Keduanya terus saja bercanda tawa saling menggoda. Hingga membuat Maudy lupa jika dirinya sedang dipasang jarum infus di tangannya.​Maudy menyandarkan kepalanya di bantal yang ditinggikan, menatap Bayu dengan mata yang masih sayu namun binar kebahagiaannya mulai kembali. Rasa mual yang menyiksa sejak semalam mendadak surut, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 74

    Pagi itu, Bayu sedang terduduk di lantai kontrakannya yang sempit, dikelilingi oleh tumpukan berkas kusam yang menjadi saksi bisu perjuangannya selama ini. Di tangannya, sebuah map plastik berisi bukti transfer gelap dan rekaman saksi kunci sudah siap untuk diserahkan ke markas kepolisian. Hari ini seharusnya menjadi hari di mana ia mengetuk palu keadilan untuk menyeret Rio ke balik jeruji besi atas percobaan pembunuhan yang menimpanya semalam.​Namun, sebuah getaran dari ponsel usangnya mengubah segalanya. Sebuah pesan dari seseorang yang dia mintai tolong untuk diam diam menjaga Maudy tanpa sepengetahuan Maudy, tiba tiba muncul di layar ponselnya. "Maudy dilarikan ke Rumah Sakit. Kondisinya sangat lemah, terus-menerus muntah sejak tadi malam." tulis penjaga rahasia tersebut.​Seketika, fokus Bayu pecah. Keadilan yang sudah di depan mata mendadak terasa tidak sepenting nyawa wanita yang ia cintai. Tanpa berpikir dua kali, Bayu menyambar jaket lusuhnya dan melemparkan map berisi bukt

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 73

    Ayah Maudy berdiri mematung di sisi ranjang, menatap wajah putrinya yang gelisah dalam tidur, sementara Ibunya masih duduk kaku dengan tangan bersedekap, raut wajahnya mengeras setelah mendengar igauan Maudy yang menyebut nama Bayu.​"Dengar itu, Bu. Maudy tidak sedang mengada-ada. Dalam tidurnya pun, hatinya mencari Bayu. Mungkin ini bukan sekadar mual biasa. Bayi di dalam kandungannya seolah memiliki ikatan batin, dia ingin ayahnya ada di sini,” bisik Ayah Maudy dengan suara berat yang sarat akan keprihatinan.​Ibu Maudy mendengus, memalingkan wajah dengan sinis sambil menanggapi ucapan suaminya. "Bapak angan bicara mitos. Itu cuma igauan biasa karena Maudy terlalu banyak memikirkan laki-laki itu belakangan ini. Pikiran bawah sadarnya sedang kacau, itu saja. Tidak ada hubungannya dengan bayi atau ikatan batin apa pun. Maudy hanya butuh istirahat total, bukan butuh kehadiran orang yang hanya membawa masalah ke keluarga kita!” tegas Ibunya Maudy.​"Tapi kondisinya tidak membaik, Bu!

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 72

    Di balik situasi panas yang menyerang keluarga Rio, hal lain terjadi di kediaman orang tua Maudy. Suasana malam yang biasanya tenang kini berubah menjadi penuh kecemasan. Jarum jam baru saja melewati angka dua belas malam, tapi lampu di kamar Maudy dan area dapur masih menyala terang. Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar di koridor yang sunyi, diikuti oleh suara erangan pelan dari balik pintu kamar mandi.​Maudy berlutut di lantai kamar mandi yang dingin, jemarinya mencengkeram pinggiran wastafel dengan sisa tenaga yang ia miliki. Wajahnya yang biasanya merona kini sepucat kertas, dengan butiran keringat dingin yang membasahi kening dan lehernya. Untuk kesekian kalinya malam itu, tubuhnya terguncang hebat oleh rasa mual yang tak tertahankan.​Apapun yang masuk ke dalam perutnya, bahkan seteguk air putih yang diberikan ibunya beberapa menit lalu, seolah ditolak mentah-mentah oleh perutnya. Ia memuntahkan segala isinya hingga yang tersisa hanyalah cairan bening dan rasa pahit

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 71

    Malik perlahan meletakkan cerutunya di atas asbak kristal. Ia tidak segera menjawab, melainkan menatap Rio dengan tatapan yang sangat datar, hampir menyerupai rasa iba yang dingin. Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit saat Malik menghela napas panjang, sebuah gestur yang sangat jarang ditunjukkan oleh seorang pengacara yang biasanya haus akan uang panas.​"Ambil kembali tasmu, Pak Rio. Simpan uangmu. Aku tidak bisa menerima kasus ini!” tolak Malik dengan suara rendah yang berat.​Rio tertegun. Ia mengerutkan dahi, mengira pendengarannya sedang bermasalah. "Apa? Kamu bercanda, Malik? Aku belum menyebutkan nominal pastinya, tapi aku jamin nilainya tiga kali lipat dari kasus terbesar yang pernah kamu tangani. Rekening baruku sudah siap, tunai pun aku bisa usahakan!" tegas Rio untuk meyakinkan Malik.​Malik menggeleng perlahan. Ia memutar kursi kebesarannya, menatap deretan buku hukum di dinding ruangannya. "Ini bukan soal bayaran, Rio. Kamu bisa memberiku gunung emas sekalipun, tapi

  • Mau Lagi, Nyonya?   Bab 70

    Setelah langkah kaki Bayu menghilang di balik lorong lift, kesunyian di ruang direksi itu terasa mencekik leher Rio. Ia berdiri mematung di tengah kemegahan yang kini terasa asing. Napasnya memburu, matanya menatap liar ke arah kursi kebesaran ayahnya yang kini kosong melongpong. Namun, di balik rasa syok dan ketakutan yang melanda, sebuah seringai tipis yang sarat akan kelicikan perlahan muncul di sudut bibir Rio.​Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponselnya kembali. Sebelum mulai menekan tombolnya, ​Rio menarik napas panjang, mencoba menjernihkan pikirannya yang sempat kalut. Ia tahu Bayu mungkin sudah membekukan aset utama perusahaan dan kepemilikan tanah dan rumah. Namun Bayu tidak tahu satu rahasia besar. Rio bukanlah anak penurut yang hanya menerima uang saku. Selama tiga tahun terakhir, dengan bantuan beberapa notaris nakal yang ia suap, Rio diam-diam telah mengalihkan beberapa bidang tanah strategis di pinggiran kota dan deretan ruko di kawasan elit ke atas namanya sendiri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status