LOGINSebelum Nicolle sempat mengucapkan satu kata penolakan pun, pria itu sudah lebih dulu melangkah pergi tanpa berpamitan.
Pria itu melewati ambang pintu. “Siap, Mayor.” Alex cepat menyingkir ke samping supaya Raiden bisa leluasa lewat sambil menunduk sopan saat atasannya melintas. Nicolle tidak bergerak dari tempatnya hingga suara langkah Raiden benar-benar menghilang di ujung koridor. Baru setelah itu wanita itu mengembuskan napas legPisau di tangan Tasya berhenti tepat di tengah potongan wortel. Bahu Tasya sedikit menegang. Mata yang tadi tenang kini tampak berkaca-kaca.Tasya berbalik menatap Naomi sambil tersenyum. Senyum yang begitu tulus hingga membuat Naomi sedikit kehilangan kata-kata.“Tidak perlu,” jawab Tasya lembut. “Kecuali kamu mau istirahat, silakan pakai kamar depan.”Naomi berkedip. Reaksi itu sama sekali tidak sesuai dengan yang dia bayangkan.Kalau ini terjadi sembilan tahun lalu, Tasya mungkin sudah menyerahkan sapu, pel, lap meja, dan daftar pekerjaan rumah lain sebelum Naomi sempat duduk.Namun sekarang? Wanita paruh baya itu justru mempersilahkannya beristirahat.“Kenapa kami diperlakukan berbeda?”Pertanyaan itu keluar begitu saja.Tasya terdiam.Sementara Naomi menggenggam sandaran kursi. Sebenarnya bukan itu yang ingin dia tanyakan.Yang ingin Naomi ketahui adalah kenapa Tasya berubah? Kenapa wanita
“Dokter Nicolle mengenalnya?” Bisikan itu muncul tepat di belakang telinga Naomi.“Ah!” Naomi tersentak keras. Jantung Naomi seperti melonjak ke tenggorokan. Secara refleks dia melompat menjauh sambil memegangi dada.Beberapa langkah darinya, Tasya berdiri dengan wajah penuh penyesalan.“Maaf.” Wanita paruh baya itu mengangkat kedua tangannya. “Saya tidak bermaksud membuat Dokter kaget.”Naomi mengembuskan napas panjang. Dadanya masih naik turun akibat kejutan mendadak itu.“Tidak apa-apa,” jawab Naomi setelah napasnya kembali normal.Naomi melihat Tasya membawa sebuket bunga mawar putih segar. Tampaknya wanita paruh baya itu hendak mengunjungi makam Lucy.Pandangan Naomi kembali mengarah ke makam Lucy.Dante masih berada di sana.Pria itu berdiri membelakangi mereka. Bahunya sesekali bergetar. Entah sedang menangis atau tenggelam dalam pikirannya sendiri. Yang jelas, dia sama sekali tidak men
Senyum mengejek Viktor tidak langsung menghilang.Pria itu bersandar santai di kursinya, seolah posisi sebagai narapidana yang menunggu hukuman mati tidak mengubah apa pun.Namun Naomi tetap tenang.“Tidak,” jawab Naomi pelan. “Ada hal lain yang ingin saya ketahui.”Viktor mendengkus.“Kamu pikir saya akan memberitahumu?” tanya Viktor sinis. “Apa pun yang ingin kamu ketahui itu, Naomi Frances?”Nada suaranya dipenuhi ejekan, seolah nama keluarga Frances adalah sesuatu yang menjijikkan.Naomi memejamkan mata sesaat. Wanita itu menarik napas panjang.Dia datang bukan untuk bertengkar. Apalagi membiarkan Viktor mengendalikan emosinya.Saat membuka mata kembali, Naomi langsung menatap pria itu.“Soal Lucy,” ucap Naomi. “Apa benar bukan Anda yang melakukannya?”Tatapan Viktor spontan menajam. Senyum mengejek di bibirnya perlahan memudar.“Seperti hasil persidangan.” Viktor akhirnya
Gideon berdeham pelan sambil menatap satu per satu orang yang masih berada di halaman belakang. Semua mata tertuju kepadanya, menunggu apa pun yang akan keluar dari mulutnya.Semua orang, kecuali Vance. Karena hanya mereka berdua yang selama ini mengetahui cerita itu.Gideon akhirnya menoleh pada bawahan paling setianya itu.“Bagaimana, Vance?” tanya Gideon pelan. “Ini cerita tentang kedua putrimu. Saya akan menghormati keputusanmu sebagai ayah mereka.”Seketika seluruh perhatian beralih kepada Vance.Pria itu diam cukup lama. Lalu mendengkus.“Rencananya, cerita ini tidak akan disembunyikan selama ini,” ucap Vance akhirnya. “Perasaan bersalah saya pada Naomi begitu besar. Sampai-sampai saya takut menceritakan kondisi kesehatan adiknya.”Vance menatap putrinya.Jantung Naomi berdegup lebih cepat.“Sekitar 28 tahun lalu,” lanjut Vance pelan, “saat Naomi berusia tiga tahun, Nicolle yang baru berusia satu
Naomi hampir saja berdiri mengikuti Vance dan Brandon ke dalam rumah. Namun sebuah tangan menahan pundaknya.“Jangan.” Suara Raiden terdengar tegas. “Kamu di sini saja. Jaga Aveline dan yang lain.”Naomi menoleh.Tatapan mereka bertemu sesaat.Pria itu sudah mengenakan ekspresi yang biasa Raiden pakai sebelum menghadapi sesuatu yang berpotensi berbahaya.Naomi mengangguk pelan.Raiden mengusap puncak kepala Naomi singkat sebelum berbalik.Begitu Raiden pergi, Alex langsung mengikuti dari belakang tanpa banyak bicara.Melihat itu, Naomi spontan menoleh ke arah putrinya.“Aveline, sini sayang.”Gadis kecil itu yang sejak tadi sibuk memperhatikan dekorasi pesta langsung berlari kecil mendekat.“Ada apa, Ma?”“Tidak ada apa-apa.” Naomi menarik Aveline berdiri di dekatnya. “Di sini saja dulu.”Aveline menurut tanpa membantah.Sementara itu, Olivia dan Henry saling
Naomi tersenyum. Kali ini senyumnya benar-benar tulus.Kepergian dari Palvenia terasa berat. Namun mengetahui masih ada orang-orang yang peduli padanya membuat dada Naomi menghangat.“Saya akan rutin menghubungi Dokter Henry dan Perawat Olivia,” janji Naomi.Henry mengangguk pelan.“Saya akan menagihnya jika Dokter Nicolle lupa.” Pria paruh baya itu melirik ke arah Olivia yang masih berdiri membeku seperti patung. “Ah ya, berpamitan pada Perawat Olivia pasti lebih sulit.”Olivia langsung menoleh. “Dokter Henry!”“Semoga berhasil, Dokter Nicolle,” lanjut Henry tanpa rasa bersalah.Naomi tertawa kecil. Kemudian dia menoleh ke arah Olivia.“Ada waktu sebentar untuk mengopi?” tanya Naomi.Mata Olivia perlahan memerah.“Kalau mau pergi, pergi saja, Dokter,” sahut Olivia berusaha terdengar tegar. “Palvenia dan Lavel masih satu negara. Zaman sekarang,
Nicolle menoleh, lalu mengangkat salah satu alisnya menatap Raiden. “Mayor tidak ada urusan lain selain menginterogasi saya?” tanya Nicolle datar. Raiden bergeming. “Petugas wanita di farmasi tadi menyebut nama Dante,” ujar Raiden pelan. “Dan dia mengaitkan Dokter dengan pria itu.” Nicolle
Lucy. Untuk sesaat, dunia di sekitar Nicolle terasa sunyi. Suara ambulans di kejauhan, langkah kaki tenaga medis, obrolan orang-orang di area parkir, semuanya memudar. Kini yang tersisa hanya satu kalimat yang berputar tanpa henti di kepalanya.
Baling-baling helikopter berputar semakin kencang. Kabin sempit itu dipenuhi suara mesin dan getaran halus yang merambat sampai ke kursi. Sebenarnya perjalanan dari pedalaman ke pusat kota bisa saja dilakukan secara darat, tetapi tidak ada akomodasi jika Nicolle pergi sendiri.
Nicolle baru saja membuka mulut, ketika suara Raiden lebih dulu memotong. “Biar saya seorang saja yang menanggung hukumannya, Dokter.” Nicolle menoleh cepat. Alis wanita itu terangkat, antara kesal dan tidak percaya. “Mayor,” sela Nicolle dingin sebelum Henry sempat menjawab, “Dokter Henry adala







