공유

Memilih Pesisir daripada Padang Pasir
Memilih Pesisir daripada Padang Pasir
작가: Bagel

Bab 1

작가: Bagel
Perjalanan kelulusan ini adalah sesuatu yang sudah lama kurencanakan bersama Roman.

Selama beberapa tahun kuliah, aku telah mengikuti pacar mafiaku itu ke banyak tempat.

Jalanan gunung bersalju, ngarai yang dalam, area arena tembak pribadi, hingga balapan liar.

Semuanya adalah tempat bermain untuk memuaskan jiwanya yang haus tantangan.

Pada malam menjelang kelulusan kami, aku bersandar di dadanya dan menyampaikan keinginanku sekali.

"Roman, ayo kita ke pantai untuk foto-foto."

"Kita cari kota pesisir, yang orang-orangnya nggak kenal kita. Kita bisa tidur sampai bangun sendiri, memotret burung camar, dan menikmati angin laut tanpa ada pengawal atau harus buru-buru."

Hari itu, dia mencium rambutku dan langsung menyetujuinya.

"Nggak masalah. Kamu sendiri yang tentukan liburan kelulusan ini."

Aku sudah menantikannya sejak lama, bahkan membuat tiga versi draf rencana perjalanan untuk sesi foto.

Hotel sudah dipesan tepat di tepi garis pantai, lengkap dengan balkon terbuka tempat kami bisa mengabadikan siluet mercusuar di malam hari.

Aku bahkan diam-diam membeli setelan pakaian dalam renda yang seksi, ingin melakukan sesuatu yang romantis dengannya diiringi suara deburan ombak.

Namun, hanya seminggu sebelum berangkat, Clara mendadak mengirimkan peta rute luar jalur Grand Canyon di grup obrolan kami.

[Perjalanan kelulusan itu harusnya ke tempat yang menantang.]

[Kalau cuma ke pantai yang membosankan, kita kapan saja bisa ke sana. Tapi jalan di luar jalur, ke tempat ekstrem di ngarai itu kesempatan langka.]

Roman membalas pesannya dalam sekejap.

[Rute ini menantang sekali!]

Aku menatap layar ponsel, ujung jariku tertahan cukup lama di atas papan ketik tanpa menekan apa pun.

Pada akhirnya, aku hanya mengetik satu kalimat.

[Tapi bukannya kita sudah sepakat mau ke pantai?]

Clara langsung membalas pesanku.

[Blair, kamu nggak benaran mau ngubah liburan kelulusan kita jadi seperti liburan orang di panti jompo, ‘kan?]

[Kita semua masih muda. Jangan kaku-kaku jadi orang.]

Teman-teman pria lain dari gengnya, ikut nimbrung di grup obrolan untuk mengejekku.

Ada yang bilang ngarai adalah satu-satunya tempat yang cocok untuk pria sejati.

Ada juga yang bilang pantai itu benar-benar membosankan.

Seseorang bilang akan sangat disayangkan jika orang-orang yang terlahir menyukai tantangan seperti Roman dan Clara, tidak ikut balapan di ngarai.

Roman tidak menuliskan sepatah kata pun di grup untuk membelaku.

Dia hanya mengirimiku pesan pribadi.

[Jangan merusak suasana.]

[Clara benar. Aku bisa ajak kamu ke tempat seperti pantai kapan saja nanti.]

Nanti.

Selalu ada kata "nanti" bersamanya.

Namun, setiap kata "nanti" yang dijanjikannya selalu berakhir untuk orang lain.

Aku menatap pesan itu, merasa seolah ada sesuatu yang meremas dadaku dengan erat.

Pada akhirnya, aku dengan patuh membalas singkat, [Oke.]

Jadi, aku dalam diam membatalkan semua rencana perjalanan ke pantai.

Aku begadang lagi untuk meriset rute ngarai, menyewa mobil SUV, memesan area perkemahan, memeriksa peringatan badai pasir, membuat daftar perlengkapan, dan bahkan menyiapkan kotak P3K.

Clara memberikan komentar santai di grup.

[Blair memang selalu jago kalau urusan logistik.]

Kalimat itu diikuti dengan emotikon jempol.

Melihat kalimatnya itu, aku tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Pada hari keberangkatan, Roman mengendarai mobil SUV hitam yang sudah dimodifikasi untuk menjemputku.

Clara sudah duduk di kursi penumpang depan.

Dia mengenakan kacamata hitam. Kaki panjangnya yang terbalut celana pendek terangkat ke atas dasbor, dan dia sedang memutar-mutar gelas berisi tequila dengan es batu.

Melihatku keluar membawa kotak peralatan yang berat, dia mengarahkan dagunya padaku.

"Blair, kamu duduk di belakang, ya."

"Aku gampang mabuk mobil, jadi butuh duduk di depan agar dapat udara segar," katanya.

Aku juga gampang mabuk mobil, dan Roman tahu betul soal itu dibanding siapa pun.

Tepat saat aku hendak berbicara, Roman sudah membukakan pintu belakang untukku.

"Turuti saja. Clara semalaman pesta di bar sampai jam tiga pagi, sekarang kepalanya sedang pusing."

"Di belakang tempatnya luas kok, kamu bisa tiduran kalau mau istirahat."

Aku memperhatikan bagaimana dia mengatur kenyamanan wanita lain dengan begitu alami.

Mendadak, aku teringat pada tahun pertama kami berpacaran saat kuliah.

Pertama kali aku ikut ke luar kota untuk acara keluarganya, aku mengalami mabuk mobil yang parah hingga wajahku pucat.

Saat itu, dia memberikan kursi depan untukku tanpa ragu.

Pewaris mafia yang terbiasa bersikap dingin itu justru rela berdesakan di kursi belakang, menyodorkan air, tisu, dan permen mint sepanjang jalan.

Waktu itu dia berkata, "Memangnya kenapa kalau pacarku agak manja? Aku memang suka memanjakannya."

"Aku senang merawatnya."

Namun kini, dia melempar barang bawaanku ke bagasi begitu saja.

Dia menoleh lalu bersiul ke arah Clara. "Pakai sabuk pengamanmu. Siap-siap nikmati perjalanannya."

Aku berdiri di samping mobil dan tersenyum tipis.

Ternyata, menjadi orang kesayangannya ada tanggal kedaluwarsanya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Memilih Pesisir daripada Padang Pasir   Bab 12

    Aku menghentikan langkahku. Dia menatapku selama beberapa detik."Waktu itu, aku benar-benar memandang rendah dirimu.""Aku kira kamu lemah, manja, dan nggak punya pemikiran sendiri.""Roman bakal mewarisi kediaman keluarga, mustahil dia bisa menikahi wanita seperti kamu untuk menjadi istrinya.""Tapi akhir-akhir ini aku sadar, aku nggak jauh lebih baik dari kamu.""Aku berakting seolah aku nggak takut apa-apa. Padahal kenyataannya, aku cuma ingin membuktikan kalau akulah yang layak berdiri di sampingnya."Clara memberikan senyuman menyindir diri sendiri yang terasa sedikit sedih."Kalau dipikir-pikir sekarang, hal itu benar-benar bodoh."Aku tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi Clara tidak berhenti berbicara."Hari itu di pompa bensin, aku sengaja nggak mengingatkannya."Aku mengangkat mataku untuk menatapnya, dan dia membalas tatapanku secara jujur."Aku melihat dengan mataku sendiri saat kamu mendorong pintu mobil dan berjalan ke minimarket kumuh itu.""Saat dia menekan pedal gas,

  • Memilih Pesisir daripada Padang Pasir   Bab 11

    Malam harinya, aku menerima telepon dari ibuku.Ibuku bertanya dengan lembut, apakah aku menyesuaikan diri dengan baik tinggal sendirian.Aku memberi tahunya dengan nada santai bahwa semuanya berjalan lancar.Ibuku hening sejenak di seberang sana, lalu merendahkan suaranya dan menghela napas. "Sayang, Ibu sebenarnya ingin memberitahumu dari dulu. Setiap kamu pulang dari perjalanan bersama Roman, binar di matamu benar-benar hilang.""Tapi kamu menyukainya, dan Ibu takut bilang begitu bakal membuatmu sedih."Mataku mendadak terasa hangat."Ibu, apa aku dulu benar-benar bodoh?"Ibuku tertawa pelan di ujung telepon."Sama sekali nggak bodoh.""Saat masih muda, orang-orang memang selalu keras kepala mengejar hal-hal yang mereka pikir memang ditakdirkan untuk mereka.""Asal kamu berhasil menemukan jalan keluar, semuanya terasa sepadan."Aku bergumam mengiyakan.Setelah mengakhiri panggilan, aku bersandar diam-diam di ambang jendela apartemenku, menatap pantai di kejauhan. Pemandangan malam k

  • Memilih Pesisir daripada Padang Pasir   Bab 10

    Roman bersikeras bertahan di kota pesisir ini selama lima hari penuh.Pewaris yang tinggi hati itu akan muncul di sudut jalan rumahku tepat waktu setiap hari. Kadang dia menyuruh pengawalnya mengantarkan air mineral bersoda impor yang mahal. Kadang dia membawakanku makanan Italia langsung dari restoran kelas atas.Kadang dia bahkan menyuruh orang menerbangkan pencuci mulut khas Prancis, yang dulu pernah kusebutkan sekali saat mengobrol santai.Jika semua ini terjadi setengah tahun lalu, aku pasti sudah sangat bersemangat hingga tidak bisa tidur semalaman.Namun tepat pada saat ini, aku hanya merasa perhatian yang terlambat ini sangat konyol.Pada hari kelima, Clara akhirnya tidak tahan lagi dan datang mencariku.Kali ini, dia datang sendirian. Dia berdiri sendirian di pintu masuk kompleks, wajahnya yang jelita terlihat sangat lesu tidak seperti biasanya."Blair, kurasa kamu menang."Aku menatapnya bingung, merasa hal ini sangat tidak masuk akal untuk sejenak.Dia mendadak tertawa. "Kes

  • Memilih Pesisir daripada Padang Pasir   Bab 9

    Roman langsung berhenti berbicara.Karena dia sendiri tidak mampu mengarang alasan yang terdengar lebih baik.Aku menyelesaikan paruh kedua dari kalimatnya."Kamu cuma menikmati perhatianku, tapi kamu juga merasa sikap hati-hatiku membuatmu malu.""Kamu cuma terbiasa ada seseorang yang selalu menopangmu saat jatuh, tapi kamu meremehkanku karena nggak bisa mengikuti kecepatanmu dalam mencari tantangan.""Kamu cuma butuh pengasuh berkedok pacar buat mengurus detail membosankan untukmu. Tapi jauh di dalam hati, kamu merasa usahaku sama sekali nggak berharga."Air mata mendadak menetes dari mata Roman.Ini pertama kalinya aku melihatnya menangis.Dulu, dia selalu bangga dan sombong karena mengendalikan segalanya.Kesombongan yang lahir dari darah mafianya, seolah seluruh dunia harus memberi jalan untuknya.Namun kini, saat berdiri di gang tepi laut yang lembap ini, matanya sama merahnya dengan seorang remaja laki-laki yang baru saja membuat kekacauan besar.Jika ini terjadi di masa lalu, h

  • Memilih Pesisir daripada Padang Pasir   Bab 8

    Pada malam harinya, Clara tiba dan menemuiku hanya berselang beberapa jam setelah Roman.Begitu keluar dari mobil, dia langsung melangkah menghampiriku dengan sepatu hak tingginya."Blair, kamu belum puas juga?""Roman meninggalkan semua urusannya cuma buat cari kamu. Negosiasi rute ngarai ditunda, dan dia bahkan membatalkan pembicaraan dengan keluarga sekutu!""Kamu tahu nggak, kami sudah menyiapkan rencana ekspansi itu selama enam bulan penuh?"Aku menatap dingin wajahnya yang terlihat jengkel. "Apa hubungannya denganku?"Dia jelas tidak mengira aku akan membalas seperti itu, dan wajahnya langsung muram."Bagaimana bisa nggak ada hubungannya denganmu?""Kamu tahu betul, perjalanan ini juga mencakup misi penting buat bertemu dengan pemimpin faksi lain! Tapi saat kamu membatalkan hotel dan pura-pura hilang, Roman benar-benar hilang akal, keluar begitu saja dari meja negosiasi, lalu lari ke pantai buat mencarimu!""Kamu mengamuk cuma gara-gara cemburu, lalu merusak kerja keras setengah

  • Memilih Pesisir daripada Padang Pasir   Bab 7

    Jantungku bergetar hebat.Ternyata kesiapanku yang mendetail, hal yang selama ini dipandang sebelah mata, sama sekali tidak membosankan.Sikap hati-hatiku juga tidak merusak suasana.Hanya saja, di masa lalu, semua perhatian itu kuberikan kepada orang yang salah.Sore itu, aku mengabadikan pemandangan matahari terbenam yang memukau di atas garis pantai.Aku mengunggahnya ke media sosial tanpa tulisan apa pun, hanya foto saja.Baru sepuluh menit berlalu, Roman menyukai foto tersebut.Tepat setelahnya, pesan pribadinya muncul.[Aku akan ke sana untuk menemanimu.]Aku mengabaikannya....Keesokan sorenya, dia benar-benar muncul di lantai bawah studio.Dia jelas terlihat sudah menyetir semalaman. Rambut pendeknya yang biasa tertata rapi kini berantakan, dan ada lingkaran hitam kelelahan di bawah matanya yang cekung.Kerah kemejanya terbuka, memperlihatkan bekas luka lama yang tak asing di tulang selangkanya.Saat melihatku, dia menghela napas lega terlebih dahulu, lalu memasang raut wajah

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status