Share

Chapter 159

Author: Nyctus
last update publish date: 2026-09-12 14:52:30

Kini Anindya duduk di hadapan Arkana. Dan Arkana kembali menyimpan semua kekhawatiran itu di balik wajah tenangnya.

“Aku mau menjelaskan soal kemarin,” kata Anindya.

“Aku ada di sana kemarin.”

“Aku tahu kamu ada di sana.” Anindya menarik napas. “Tapi aku ingin kamu mendengarnya langsung dariku.”

Arkana mengangguk. Anindya kemudian menjelaskan semuanya. Tentang Rafael yang datang ke kampus. Tentang percakapan mereka. Tentang masalah Rafael dengan Citra. Tentang bagaimana ia justru menyarankan R
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 159

    Kini Anindya duduk di hadapan Arkana. Dan Arkana kembali menyimpan semua kekhawatiran itu di balik wajah tenangnya.“Aku mau menjelaskan soal kemarin,” kata Anindya.“Aku ada di sana kemarin.”“Aku tahu kamu ada di sana.” Anindya menarik napas. “Tapi aku ingin kamu mendengarnya langsung dariku.”Arkana mengangguk. Anindya kemudian menjelaskan semuanya. Tentang Rafael yang datang ke kampus. Tentang percakapan mereka. Tentang masalah Rafael dengan Citra. Tentang bagaimana ia justru menyarankan Rafael memperbaiki hubungannya dengan Citra. Dan kemudian tentang kedatangan Citra.Semuanya diceritakan tanpa ada yang ditutupi. Arkana mendengarkan. Diam. Tetapi kali ini diamnya bukan karena tidak peduli. Ia sedang memperhatikan setiap kata Anindya. Setiap perubahan ekspresi. Setiap jeda. Seolah ia ingin memastikan tidak ada sesuatu yang disembunyikan.“Aku tidak pernah punya niat apa-apa dengan Rafael,” kata Anindya setelah selesai.Arkana tetap diam.“Aku bahkan sudah bilang kepada Rafael ba

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 158

    Setelah Rafael pulang, Anindya tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia berdiri cukup lama di ruang tamu, menatap halaman rumah yang mulai sepi.Percakapannya dengan Rafael tadi seharusnya membuatnya lega. Setidaknya satu masalah sudah selesai. Rafael sudah meminta maaf kepada keluarganya, dan Anindya juga sudah menyampaikan batas yang ingin ia buat.Ia tidak ingin lagi ikut campur dalam hubungan Rafael dan Citra. Namun ada satu hal yang justru membuat pikirannya semakin gelisah. Arkana.Anindya mengambil ponselnya. Tidak ada pesan. Ia membuka percakapan mereka. Tetap tidak ada.Sejak Arkana mengantarnya pulang kemarin, laki-laki itu tidak lagi mencoba menghubunginya. Padahal kemarin mereka baru saja melewati kejadian yang sangat kacau.Anindya masih ingat bagaimana Arkana datang ke kantin dan berdiri di antara mereka. Bagaimana ia menyentuh pipinya dan bertanya apakah sakit. Bagaimana ia kemudian membela hubungan mereka di depan semua orang.Setelah itu, Arkana hanya mengantarnya pulan

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 157

    Rafael pulang menjelang siang. Begitu mobilnya memasuki halaman rumah, ia sudah bisa melihat kedua orang tuanya menunggu di ruang tengah. Tidak seperti biasanya, ayah dan ibunya sama-sama belum melanjutkan aktivitas masing-masing. Keduanya jelas sedang menunggunya.Begitu Rafael masuk, ibunya langsung berdiri. “Bagaimana?”Pertanyaan itu keluar begitu cepat sampai Rafael hampir tersenyum. “Tenang, Ma.”Rafael meletakkan kunci mobil di atas meja, lalu duduk di sofa.“Aku sudah bertemu Nenek Anindya dan Anindya.”Ayahnya ikut mendekat. “Bagaimana tanggapan keluarga Wijaya?”“Baik.” Rafael menghela napas pelan. “Mereka menerima permintaan maafku. Nenek Anindya memang menegurku, tapi beliau tidak menyalahkanku atas apa yang Citra lakukan. Beliau hanya mengingatkanku supaya masalah hubungan kami tidak lagi menyeret Anindya.”Ibunya mengembuskan napas lega. “Syukurlah.”Ayahnya yang sejak tadi terlihat tegang akhirnya bersandar. “Bagaimana dengan Anindya?”Rafael terdiam sesaat. “Dia juga b

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 156

    Pagi itu, Rafael benar-benar datang ke rumah keluarga Wijaya. Ia datang sendirian. Bahkan Rafael meminta sopir menunggunya di luar.Sejak meninggalkan rumah Citra semalam, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ucapan ayah dan ibunya masih terngiang-ngiang.'Kami tidak akan lagi membela Citra.'Dan yang lebih mengganggunya adalah satu hal sederhana. Untuk pertama kalinya, Rafael sendiri tidak memiliki keinginan untuk membela Citra.Ia menekan bel. Tidak lama kemudian, seorang pelayan membukakan pintu dan mempersilakannya masuk. Beberapa menit kemudian, Nenek Anindya datang ke ruang tamu.Rafael langsung berdiri. "Selamat pagi, Nyonya.""Rafael."Tatapan Nenek Anindya tidak sehangat biasanya. Rafael bisa memahami alasannya."Silakan duduk."Rafael duduk. Nenek Anindya mengambil tempat di seberangnya. Tidak ada basa-basi."Saya sudah melihat videonya."Rafael menundukkan kepala. "Saya juga.""Saya tidak akan menyalahkanmu atas tindakan Citra."Rafael mengangkat wajah."Tetapi saya

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 155

    Anindya duduk di atas ranjang dengan punggung bersandar pada kepala tempat tidur. Lampu kamar hanya menyala redup.Di tangannya, ponsel terus menampilkan video yang sejak beberapa jam terakhir memenuhi media sosial. Video Citra menjambak rambutnya. Video ketika Citra menamparnya. Video ketika Rafael berusaha menahan Citra. Video ketika Arkana datang dengan kursi rodanya. Semuanya sudah tersebar. Bukan hanya di lingkungan kampus. Orang-orang yang bahkan tidak mengenal mereka pun kini ikut membicarakannya.Anindya mengembuskan napas panjang sebelum membuka salah satu unggahan yang baru saja muncul. Jumlah tayangannya sudah sangat tinggi. Jarinya bergulir ke bagian komentar. Sebagian besar membelanya."Jelas-jelas Anindya yang diserang duluan. Kenapa malah dia yang disalahkan?""Citra kelewatan banget. Kalau cemburu, bicara, bukan main tangan.""Kasihan Anindya, dia bahkan kelihatan nggak ngerti apa-apa."Anindya membaca beberapa komentar itu tanpa banyak perasaan. Ia bersyukur masih ad

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 154

    Berita mengenai insiden di kantin itu menyebar jauh lebih cepat daripada yang Rafael bayangkan. Belum sampai satu jam setelah ia meninggalkan rumah Citra, video-video yang direkam mahasiswa di kafetaria Universitas Garuda Nasional sudah beredar di berbagai platform media sosial.Awalnya hanya satu video. Kemudian muncul video lain dari sudut berbeda. Ada yang merekam ketika Citra datang dan menarik rambut Anindya. Ada yang menangkap momen ketika tamparan itu mendarat di wajah Anindya. Ada pula video ketika Rafael menahan Citra dan Arkana datang dengan kursi rodanya, lalu berdiri di antara mereka.Potongan-potongan video itu kemudian disebarkan dengan berbagai judul. Nama Anindya mulai dicari. Nama Rafael ikut muncul. Begitu pula nama Arkana.Dan ketika orang-orang mulai mengetahui siapa mereka sebenarnya, berita itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar keributan antar mahasiswa.Pewaris keluarga Mahendra. Pewaris keluarga Pratama. Pewaris keluarga Wijaya. Tig

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 6

    Sudah tiga hari sejak Arkana pindah ke Nusantara Academy. Tiga hari pula nama Anindya Wijaya dan Arkana Pratama menjadi topik utama seluruh sekolah. Ada yang bilang Anindya sedang mencari perhatian. Ada yang bilang Arkana hanya terlalu sopan untuk menolak. Ada juga yang yakin hubungan mereka diam-d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 5

    Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 4

    Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 3

    Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status