ANMELDENSudah beberapa hari terakhir bunda Arshavina lebih sering melamun.Bukan karena pekerjaan atau karena urusan sosialita maupun karena ayah yang kembali sibuk dengan pekerjaannya namun karena satu hal.Siap lagi kalau bukan putrinya, Kaluna yang tengah hamil besar.Tangannya berkali-kali membuka galeri ponsel.Foto Kaluna waktu video call.Foto Kaluna sedang berdiri di depan rumah yang dibangun.Foto Kaluna yang sedang tertawa sambil mengusap perut besarnya.Dan setiap kali melihat itu—dada bunda terasa hangat sekaligus rindu.Kehamilan Kaluna sudah masuk bulan-bulan yang membuat seorang ibu mulai sering khawatir.Meski bukan makanan yang bunda khawatirkan karena di Lembang sana hasil bumi melimpah ruah, melainkan usia kandungan trimester kedua itu sedang masa-masanya sudah tidur, perut begah, engap, kaki bengkak dan pinggang yang sering sakit karena tubuh mulai melengkung ke belakang lantaran ditarik perut yang terus membesar.Dan mes
New York ternyata tidak seperti yang dibayangkan Ratu.Bukan soal gedung tingginya.Bukan soal saljunya.Bukan soal kehidupan yang katanya glamor.Yang paling berbeda justru ritmenya.Cepat. Sangat cepat. Dan Ratu hampir tidak bisa mengimbangi.Dan di kota itu—tidak ada yang benar-benar peduli siapa kamu.Kalau tertinggal, ya tertinggal.Kalau tidak sanggup, ya silakan pulang.Beberapa minggu pertama, Ratu hampir menangis setiap malam.Bukan karena tidak mampu.Tapi karena ternyata menjadi mahasiswa S2 Teknik Sipil di negeri orang benar-benar melelahkan.Kelas padat.Diskusi panjang.Tugas yang rasanya tidak ada habisnya.Presentasi.Penelitian.Belum lagi banyak istilah teknis yang sebenarnya dia pahami tapi tetap membutuhkan waktu untuk menyesuaikan bahasa.Setiap hari dia bangun pagi.Merapikan tempat tidur.Membuat kopi.Lalu berangkat.Apartemen mahasiswa yang dia tempati sangat nyaman.Terlalu nyaman malah.Ruangannya luas.Ada meja kerja besar.Kursi e
Sudah memasuki bulan kedelapan kehamilan Kaluna.Perutnya kini benar-benar besar.Bahkan untuk berdiri dari kursi saja dia butuh waktu beberapa detik.Kalau mengambil barang jatuh—lebih baik menyerah dan memanggil orang lain.Tapi anehnya—semakin hari justru Kaluna semakin sulit diam di rumah.Seperti hari ini, dia ikut Satria ke gudang utama.Katanya hanya sebentar.Katanya hanya ingin melihat pengiriman.Katanya hanya duduk saja.Nyatanya sekarang dia sudah berdiri hampir dua puluh menit sambil mengamati aktivitas di depannya, bahkan sesekali menjadi mandor dengan memberi arahan.Gudang besar itu terasa lebih hidup.Suara forklift.Suara plastik wrapping.Suara roda troli.Suara orang memanggil.Suara kendaraan keluar masuk.Di salah satu sisi terlihat deretan cold storage besar berjajar rapi.Di sisi lain—hasil panen sedang melalui proses sortir.Tomat. Paprika. Selada. Strawberry. Kentang.Buah dan sayur dengan kualitas terbaik.Dan di antara semua kesibukan it
Siang itu, sebuah ruko dua lantai yang menjual material bahan bangunan tampak jauh lebih ramai dibanding biasanya.Karung semen ditumpuk. Pipa dipindahkan.Beberapa pegawai keluar masuk gudang.Suara forklift kecil dan kendaraan bongkar muat terdengar bersahutan.Di tengah keramaian itu—Deni berdiri sambil memegang kertas order.Matanya bergerak cepat membaca rincian.Semen. Besi. Bata ringan. Wiremesh. Keramik. Material struktur. Material finishing.Jumlahnya sangat besar.Sampai beberapa detik Deni hanya diam.Lalu menatap kertas ditangannya dengan seksama. Membaca ulang. Takut salah namun tetap sama.Nominal yang tertulis membuat sudut bibirnya perlahan naik.“Pak?” Salah satu pegawai memanggil.Deni masih melihat lembar itu sebelum akhirnya tertawa kecil.“Siapin semuanya.”Pegawai bingung. “Pak?”Deni akhirnya mengangkat wajah.Kali ini wajahnya benar-benar hidup. “Order besar.”Pegawai melangkah mendekat. “Di antar ke mana?”Deni menggeleng kecil. “Belum tahu.
Malam itu ketika Arthur dan Daviandra sudah tidur, Kanaya masih betah duduk di ruang televisi Penthouse suaminya yang mewah.Kepala Kanaya bersandar di pundak Ryley yang tangannya tengah mengusap ujung kepala Kanaya.Tatapan Kanaya fokus ke depan, menonton talk show terlaris di NewYork.“Kamu beneran sengaja bisnis sama Satria atau ada yang nyuruh?” Kanaya tiba-tiba bertanya.Ryley sampai menoleh. “Kalau aku ada yang nyuruh, bisa kamu tebak siapa?”Kanaya diam sebentar kemudian menjawab, “Bunda atau Luna.”Ryley tertawa renyah. “Kamu salah sayang, yang nyuruh Zyandru.” Kanaya sampai menegakan kepala kemudian menatap Ryley tidak percaya.“Zyandru mencintai Ratu, adiknya Satria ….”Kanaya ternganga, matanya membulat, terkejut.“Dia sepertinya benar-benar mencintai Ratu … sedangkan Ratu menyayangi kakaknya, dia yang menyuruh aku untuk mengajak Satria berbisnis.” Ryley melanjutkan.“Dasar tukang ikut campur urusan orang ….” Kanaya mengumpat sang adik.“Tapi tenang dulu, aw
Pagi itu Satria sudah rapi jauh sebelum ibu dan Kaluna selesai membuat sarapan pagi.Kemeja hitam digulung sampai siku.Jam tangan sudah terpasang.Tablet dan beberapa dokumen dimasukkan ke dalam tas kerja.Kaluna yang berdiri di dapur memperhatikannya sambil sesekali mengaduk bihun goreng di wajan.Sekarang perutnya sudah cukup besar.Gerakannya tidak secepat dulu.Tapi entah kenapa—dia sedang semangat memasak.Karena ini salah satu masakan yang dia cukup percaya diri membuatnya.Bihun goreng dan Satria suka.Kaluna mematikan kompor lalu mulai memasukkan bihun ke kotak bekal.Satria muncul di ambang dapur.“Sayang?”Kaluna menoleh. “Aku buat bekal untuk kamu.”Satria mendekat lalu mengintip isi kotak.Seketika sudut bibirnya naik. “Bihun?” Sorot matanya tampak antusias.Kaluna mengangguk bangga. “Iya.”Satria menatap istrinya beberapa detik, tawa kecilnya terdengar hangat. “Kamu tahu enggak…”Kaluna mengangkat kedua alisnya, menunggu.“Aku paling suka dibekelin,” l
Kaluna terbangun dari tidurnya yang nyenyak, tidak ada lagi begadang, pikirannya sudah tenang sekarang setelah dia memenangkan tender dari klien Jepang.Punggungnya menegak, mengangkat kedua tangan meregangkan tubuh.Dia lantas turun ke lantai satu setelah mencuci wajah.Weekend di mansion Gunad
Ruang rapat lantai dua puluh satu terasa lebih dingin dari biasanya.Empat perwakilan perusahaan Jepang duduk dengan postur tegak, tablet dan dokumen terbuka rapi di depan mereka. Para direksi anak perusahaan AG Group yang Kaluna pimpin terlihat duduk di sisi lain meja panjang, tegang namun
Ruang rawat VIP itu sunyi.Kaluna tertidur setelah infus bekerja.Satria duduk di sofa dekat jendela. Laptop terbuka. Slide presentasi terpampang.Ia memeriksa ulang angka.Mengoreksi tata bahasa.Menandai potensi pertanyaan yang mungkin muncul dari klien Jepang.Sesekali ia melirik ke arah r
Presentasi dengan klien besar dari Jepang tinggal hitungan hari. Ruang CEO berubah seperti markas perang.Meja panjang penuh dengan berkas, grafik, catatan tangan, sticky notes warna-warni, dan iPad yang tidak pernah benar-benar mati.Kaluna sedang berdiri di depan layar proyektor, mengulang s







