LOGINDi desak untuk segera menikah oleh ayahnya. Kayana memutuskan untuk menyewa seorang pria yang pernah menolongnya untuk menjadi suami sementara sampai adiknya Rose menikah. Sebagai syarat agar dirinya tidak di langkah sebab pemikiran ayahnya yang masih kolot. Satu Minggu adalah pernikahan yang di tawarkan Kayana kepada Dirza. Namun karena satu hal pernikahan itu berlangsung satu bulan. Lalu bagaimana ketika benih cinta telah tumbuh di hati Dirza untuk Kayana. Akankah pernikahan itu selesai dalam satu bulan atau lebih. Lalu dengan keadaan status sosial yang berbeda mampukah Dirza bisa menyeimbangkan status Kayana yang merupakan sekretaris disebuah perusahaan internasional sedangkan dirinya hanya seorang kuli panggul di pasar.
View More“Litaaa! Anakmu nangis!”
Lita menarik napas panjang. Tidak jadi menyuap sarapan. Sesaat, ia memejamkan mata, kemudian membuang napas perlahan. Sejak skandal itu, sikap sang bapak kepadanya berubah drastis. Radit tidak lagi memberi perhatian dan kasih sayang seperti dulu. Lita tahu, ia telah membuat malu keluarga dengan hamil di luar nikah. Namun, perubahan sikap Raditlah yang membuat Lita semakin serba salah dalam bersikap.
“Tahu begini, ngapain Bapak sekolahin kamu tinggi-tinggi, kalau jatohnya cuma hamil di luar nikah!” Radit masih saja melanjutkan ocehannya. “Rindu yang cuma lulusan SMA bisa nikah sama orang kaya! Suaminya anggota dewan, mertuanya punya perusahaan! Kamu apa?”
Lita kembali menarik napas panjang sembari meninggalkan meja makan dengan langkah tergesa. Ia bergegas ke kamar, membuka pintu dengan hati yang gelisah dan mendapati Tirta, bayi laki-laki hasil hubungan terlarangnya terbangun.
Lita segera masuk kamar dan menutup pintu. Duduk di tepi ranjang, lalu membawa bayi berusia empat bulan itu ke dalam pangkuannya. Dengan cepat Lita membuka kancing kemeja dan segera mengASIhi Tirta.
Sejak Lita hamil di luar nikah, Radit kerap membandingkannya dengan saudara tirinya yang bernama Rindu. Anak gadis Tiara, wanita yang dinikahi Radit beberapa tahun yang lalu.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa diketuk. Lita berbalik cepat memunggungi Radit, yang sepertinya masih belum puas melepas emosinya.
“Kalau sudah begini, laki-laki mana yang mau sama kamu.” Radit kembali berceramah dari bibir pintu kamar Lita. “Perawan bukan, janda juga bukan, tapi punya anak! Keluarga mana yang mau terima, Ta!”
Lita menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Matanya berkedip berkali-kali dan berusaha untuk tidak menangis ketika tengah mengASIhi putranya.
“Ingat baik-baik pesan Bapak,” lanjut Radit. “Jangan pernah lagi bikin malu nama keluarga! Jangan lagi berhubungan dengan suami orang di tempat kerja yang baru! Syukur-syukur mertua Rindu mau ngasih kamu kerjaan. Bikin malu aja!”
“Bapak!” Tiara yang baru saja berbelanja sayur di depan rumah, segera masuk menghampiri sang suami ketika mendengar suara Radit yang terlampau keras. “Sudahlah! Kenapa tiap hari selalu ngomelin Lita dengan masalah yang sama?”
Radit berdecak sambil meninggalkan kamar putrinya. “Gedeg! Dibesarkan biar bisa kerja bener, terus cari suami kaya, malah jadi begitu!”
“Pak!” hardik Tiara bergegas menuju dapur dan meletakkan semua belanjaan di meja makan. Setelah itu, ia kembali menghampiri Radit yang berada di ruang tamu dan tengah memakai kaos kaki. “Jangan begitulah, Pak. Biar begitu, Lita juga anak Bapak.”
“Anak nggak tahu diuntung!” ucap Radit. “Kalau begini, siapa yang mau nikahin dia? Lihat aja badannya habis lahiran. Mukanya juga nggak pernah dirawat lagi. Ditambah, punya anak tapi nggak ada status nikahnya. Siapa yang mau sama dia, Bu?”
“Huss! Harusnya Bapak doain Lita biar dapat jodoh yang bener.”
“Laki-laki kaya mana yang mau sama dia?” ulang Radit mulai memakai sepatunya satu per satu.
Tiara menggeleng melihat sikap Radit yang masih saja keras hati, sejak putrinya ketahuan hamil di luar nikah. Bahkan, hati Radit tidak tersentuh sama sekali ketika melihat cucu pertamanya lahir ke dunia dengan selamat, tanpa kekurangan sesuatu apapun. “Lita hari ini sudah mulai kerja, jadi doain aja. Siapa tahu dapat jodoh di tempat kerja.”
Radit melepas tawa miris. “Sudah bagus-bagus dulu mau dijodohin sama Panji, tapi ogah-ogahan. Padahal Panji itu sudah mapan! Kerjaannya bagus, anaknya juga sopan.”
“Astaga, Pak. Sudah!” pinta Tiara kemudian berdiri, dan mengikuti Radit yang beranjak keluar rumah untuk berangkat kerja. Tanpa ingin memperpanjang masalah, Tiara meraih tangan Radit dan mencium punggung tangan suaminya. “Hati-hati di jalan.”
Karena sudah terlampau kesal, Radit pun tidak membalas ucapan istrinya. Ia segera menaiki motor dan melajukannya ke tempat kerja.
Sementara Tiara, kembali masuk dan langsung pergi ke kamar Lita untuk melihat kondisi putri sambungnya.
“Omongan bapak nggak usah dimasukin ke hati,” ujar Tiara langsung duduk di samping Lita yang tengah menyusui Tirta. “Sekarang, yang penting kamu kerja yang bener, dan fokus dulu sama Tirta juga masa depan. Masalah jodoh, serah—”
“Aku sudah nggak mikirin jodoh, Bu,” putus Lita menatap kosong pada jendela kamarnya. Radit benar. Mana ada pria baik yang mau dengan perempuan seperti Lita. Andaipun ada, Lita tidak yakin keluarga sang pria mau menerimanya dengan apa adanya.
Lita merasa tidak sanggup, jika harus menerima omongan miring dan hinaan dari orang terus-menerus. Belum lagi, jika perbuatanya dahulu kala diungkit-ungkit oleh pasangannya nanti. Untuk menghindari semua itu, Lita sudah memutuskan untuk hidup sendiri dan hanya membesarkan Tirta dengan baik.
Permintaan Lita saat ini tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin hidup berkecukupan dan bisa memberi pendidikan yang layak untuk putranya. Di masa lalu, Lita mungkin bukanlah seorang perempuan yang baik, tetapi di masa depan, ia bertekad untuk menjadi ibu yang luar biasa untuk putranya, Tirta.
“Ta, kamu masih muda, masih cantik,” kata Tiara menyemangati. “Jadi jangan ngomong begitu.”
“Nggak.” Lita sudah memutuskan semua hal dengan baik dan penuh perhitungan. “Aku cuma mau besarin Tirta, dan buktiin ke ayahnya kalau kami bisa hidup dengan baik tanpa dia, dan juga tanpa nafkah dari dia.”
Tiara mengusap punggung Lita dengan penuh rasa haru dan iba. “Ayahnya Tirta sudah tahu kalau kamu lahiran?”
“Nggak ngerti, Bu.” Lita mengendik sebentar. Ketika sadar Tirta sudah tidak lagi menyesap ASI-nya, Lita memperbaiki pakaiannya lalu meletakkan sang bayi kembali ke tempat tidur dengan perlahan. “Dan, aku juga sudah nggak mau tahu. Biarlah dia hidup sama anak istrinya, dan nggak usah lagi berhubungan dengan kami.”
Lita beranjak sambil mengancing kemejanya dengan menahan air mata yang kembali akan tumpah. Tidak ... Lita tidak boleh lagi menangis dan terpuruk seperti kemarin-kemarin.
Kemudian, Lita menggeleng cepat. Berusaha mengenyahkan pikiran negatif yang hinggap di kepala. Ia mematut diri di cermin, sambil merapikan lagi penampilannya kali ini. Sejenak, Lita menyentuh wajahnya yang kusam dan mengusapnya dengan perlahan. Lita juga melihat tubuhnya yang berisi dan sudah tidak seramping dahulu kala.
Radit benar.
Sejak Lita mengandung, ia sudah tidak pernah melakukan perawatan seperti dahulu kala. Lita sudah tidak memiliki penghasilan, ketika ia memutuskan resign dari perusahaan karena malu dengan aib yang ditanggungnya.
“Ya sudah.” Yang bisa Tiara lakukan saat ini hanyalah memberi dukungan pada Lita. “Sarapan dulu, terus berangkat kerja. Nanti siang, Ibu bawa Tirta ke tempat Rindu. Ada sopir nanti yang jemput jam 10an.”
Lita yang menoleh pelan pada Tiara. Jika tidak ada Tiara dan Rindu, entah apa jadinya hidup Lita saat ini. Lita pun kerap menyesali perbuatan buruk yang selalu dilakukannya pada saudara tirinya di masa lalu. Itu semua Lita lakukan, karena merasa iri dengan kehidupan Rindu yang selalu beruntung.
Dari paras Rindu yang sangat cantik dan bisa bekerja di perusahaan ternama meskipun hanya lulusan SMA. Ditambah, Rindu selalu lebih dulu memiliki barang yang selalu diidam-idamkan Lita. Karena itulah, dahulu kala Lita tidak pernah menyukai saudara tirinya itu sama sekali.
Lita kemudian mengangguk kecil, karena sudah mempercayakan Tirta sepenuhnya pada Tiara. Lita berjanji dalam hati, akan segera mencari pengasuh untuk Tirta ketika menerima gaji pertamanya nanti. Ia tidak ingin berlama-lama merepotkan ibu sambungnya seperti sekarang.
“Hati-hati, ya, Bu, dan … sampein salamku buat Rindu.”
~~~~~~~~~~~~
Haluu, Mba beb, kita melipir ke Jelita dulu yaaa … spin-off Cinderella Hot Story ... hepi ridiing ~~ Kissseesss 💋💋💋
Setelah acara pernikahan dadakan yang di buat Dirza selesai. Kini pengantin baru itu pun bersiap untuk masuk ke dalam kamar mereka untuk beristirahat."DIRZA!" teriak Kayana terkejut. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja Dirza menggendongnya tanpa mengatakan apapun."Aku tau kamu pasti lelah," kata Dirza.Kayana yang mendengar itu menundukkan kepalanya kepalanya. Ia ingin protes tapi Dirza sudah menyelanya terlebih dahulu."Jangan banyak protes," ucapnya dan hal itu membuat Kayana diam dan mengalungkan tangannya ke leher Dirza karena takut Dirza tiba-tiba saja menurunkannya.Dan selama diperjalanan menuju kamar mereka. Tanpa henti Kayana menatap Dirza dengan lekat. Begitu banyak perubahan yang terjadi pada diri Dirza terutama wajahnya. Mulai dari wajahnya, rahangnya yang kokoh yang di tumbuhi bulu bulu halus yang membuatnya terlihat lebih seksi. Dan entah kenapa Kayana ingin menyentuhnya. Tetapi rasa gengsinya leb
Perasaan Kayana saat ini sangat tegang. Apalagi ketika mereka akan melewati pintu aula. Kayana takut jika beberapa bodyguard Dirza ada yang mengenalinya. Setelah apa yang terjadi semalam tidak menutup kemungkinan Kecil jika pengawal Dirza mengenali dirinya."Tunggu!"Deg'Seketika langkah Kayana berhenti. Ketika penjaga pintu aula menahannya."Ada apa?" tanya Meisya."Maaf sebelumnya tapi kami harus mengecek kalian terlebih dahulu.""Apa yang kalian katakan. Mana mungkin calon pengantin harus diperiksa terlebih dahulu. Apa kalian ingin kehilangan kedua mata kalian karena melihat calon pengantin boss kalian terlebih dahulu sebelum boss kalian." kata Meisya membuat para bodyguard itu menelan ludah mereka kasar."Maafkan kami nona," ucapnya tertunduk malu. Kemudian para bodyguard itu pun membiarkan keduanya lewat begitu saja hingga akhirnya
Hari ini semesta sedang tidak berpihak kepada Kayana. Bagaimana tidak. Di saat Hati Kayana merasakan sesak setelah mengetahui kebenarannya. Saat ini langit terlihat cerah meskipun dimalam hari. Karena sinar rembulan dan bintang yang bertebaran di sana sebagai penghias langit sehingga malam ini menjadi begitu indah. Di tambah dengan angin malam yang halus mampu membuat menciptakan kedamaian di hari ini. Dan siapapun yang melihatnya seketika semua beban yang di tanggungnya hilang. Akan tetapi malam yang indah ini tidak mampu membuat hati Kayana merasa lebih baik.Malah Kayana berpikir jika saat ini semesta sedang menertawakan dirinya tentang penyesalannya. Dan mendukung Dirza dengan kebahagiaan yang akan dimulainya besok."kamu kenapa?" tanya Meisya. Ketika melihat Kayana yang sedang melamun sendiri di halaman rumahnya.Kayana yang menyadari bahwa ada Meisya menghampirinya pun masih diam enggan
"Maaf nona anda tidak bisa menyewa salah satu kamar di hotel ini," ucap sang resepsionis. "Tunggu apa maksudnya. Buakankah ini adalah hotel untuk umum. Lalu kenapa tidak bisa menyewa salah satu kamar yang ada di hotel ini," balas Kayana. "Maaf, tapi anda ada dalam daftar blacklist orang-orang yang tidak boleh menyewa hotel yang ada di Bali," jelas resepsionis tersebut memperlihatkan nama-nama yang telah di blacklist. Kayana yang melihat itu mengerjapkan matanya tidak percaya atas apa yang di lihatnya. Apa maksudnya kenapa ia berada dalam daftar burunoan memang hal kriminal apa yang telah dilakukannya. Sungguh Kayana tidak terima akan hal ini. Ia bukan kriminal atau lainnya. "Maaf mbak saya bukan kriminal atau buronan dan saya ke sini untuk liburan bukan jual diri. Tapi terimakasih atas informasinya, semoga anda bisa bertahan bekerja di hotel ini sampai besok pagi . Lagipula di sini masi
Lelah dengan semua yang telah terjadi. Akhirnya Dirza pun memutuskan akhir kisahnya. Ia tidak ingin terlalu banyak drama atau bertele-tele dalam mengatasi masalahnya saat ini. Ia lelah. Bukan hanya dirinya, tapi author yang sudah lelah jika harus memperpanjang kisahnya y
"Nona!" panggil sang asisten kepada Kayana yang saat ini tengah tertunduk sedih. Saat ini pandangannya kosong seolah-olah tidak ada kehidupan di dalamnya.Sehingga sang asisten yang melihat tingkah bossnya pun merasa khawatir. Tidak biasanya sang atasan berprilaku seperti
"Kita pergi sekarang," titah Kayana kepada asistennya yang selama ini menemaninya. Dalam menjalankan rencananya. Yaitu misi balas dedam atas kematian keluarganya."Tapi nona ini bukan waktunya," selanya."Kita tidak bisa terus mengulur waktu. Dan
Aku titip Lily sebentar," kata Dirza. "Mau kemana?" tanya Surya. "Aku akan memastikannya." "Itu tidak mungkin." "Lily tidak pernah berbohong." Setelah mengatakan itu Dirza pun pergi. Dan sesam












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews