تسجيل الدخول"Aku minta maaf.""Aku tidak butuh permintaan maafmu, Caleb."Caleb yang baru saja menyalakan mesin menoleh pelan. Jemarinya masih menggenggam kemudi. Tatapannya jatuh pada wajah wanita yang duduk di sampingnya."Aureli..."Aurelia mengangkat tangan, menghentikan kalimat itu sebelum sempat selesai."Tolong antarkan aku pulang."Caleb terdiam. Ia ingin mengatakan banyak hal. Ingin menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak mengetahui kedatanganNenek Moren. Ingin meminta maaf karena membiarkan Aurelia mendengar semua hinaan itu.Namun semua kalimat terasa tidak berguna."Baik."Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah mereka. Tidak ada lagi percakapan. Aurelia memilih menatap ke luar jendela.Mobil berhenti di depan rumah. Aurelia langsung melompat turun. "Bawa Maxi kemari," ucapnya tanpa menoleh pada Caleb.Ia bersyukur Caleb meninggalkan Maxi di kantornya. Jika tidak, putranya itu akan melihat hinaan yang dilontarkan padanya.Caleb menyusul dan menahan tangan Aurelia."Lepaskan aku, Cale
"Kenapa Nenek datang tanpa pemberitahuan?"Suara bariton Caleb terdengar berat dan dingin di tengah ruang tamu rumah mewahnya. Pria itu berdiri tegap dengan kemeja gulung lengan, menatap wanita tua yang duduk anggun di sofa utama dengan tongkat berukir emas di tangannya.Nyonya Moren mendongak. Matanya melayangkan tatapan tajam padanya. "Untuk apa memberi kabar jika kau sendiri menikah tanpa restuku?"Caleb mengembuskan napas pendek. "Aku sudah mengatakannya pada Nenek bulan lalu bahwa aku akan menikah.""Kau tidak mengatakan bahwa wanita itu adalah Aurelia!" Moren mengetukkan ujung tongkatnya ke lantai marmer dengan keras. "Adik Clarissa! Si wanita mata duitan yang menghasutmu dan memerosotkan uangmu demi membayar utangnya di mana-mana!" Tatapan wanita tua itu beralih tajam kepada Aurelia.Aurelia yang berdiri kaku di sudut ruangan memejamkan mata sejenak. Rahangnya mengeras. Keheningan yang ia pertahankan sejak tiba di rumah itu akhirnya runtuh."Berhenti mengatakan hal buruk
Maya melangkah keluar dari gedung media itu dengan dagu terangkat tinggi. Begitu pintu kaca menutup di belakangnya, senyum sinis perlahan mengembang di bibirnya.Ia membuka daftar kontak di ponselnya. Jarinya berhenti pada satu nama. Nenek Moren.Nada sambung baru terdengar dua kali sebelum panggilan diangkat."Ada apa, Maya?" Suara wanita tua itu tetap terdengar tegas meski usianya sudah senja.Maya mengembuskan napas pelan, sengaja memberi jeda. "Nenek apa kabar? Kudengar Nenek sakit?""Aku sudah membaik. Caleb bilang dia menemukan wanita yang dicintainya. Maya, kita tidak bisa memaksa keadaan."Maya tersenyum sinis. Untung saja nenek tua itu tidak melihatnya."Jadi, Caleb sudah mengatakan pada Nenek tentang wanita itu." "Kau juga sudah tahu?" Nenek Moren bertanya."Ya, aku tahu dia sudah menikah.""Menikah?""Ye, Nenek.""Berandalan itu!" Moren tertawa senang. "Kau mengenal wanita itu, Maya.""Kau mengenalnya, Nenek.""Siapa wanita itu?" tanya Moren akhirnya.Maya merapatkan bibi
"Aku tidak ingin kau memberikan pengaruh buruk padanya!" Suara Aurelia melengking tajam begitu pintu kamar utama tertutup rapat. Matanya menyalang menatap pria di hadapannya. Caleb berjalan santai menuju lemari pakaian. Ia mengambil kemeja putih yang tergantung rapi. "Aku hanya menjawab pertanyaannya." "Harusnya kau bisa memberikan jawaban yang lebih bijak, bukan menyesatkan!" sergah Aurelia cepat. Pipinya masih memerah membayangkan ucapan kepolosannya Maxi tadi. "Dia baru memasuki usia enam tahun, Caleb!" Caleb membalikkan badan. Ia menatap Aurelia sangat tenang, jemarinya sibuk memasang kancing kemeja satu per satu. "Putra kita bertanya hal yang didengarnya dari teman-temannya. Membohonginya justru akan membuat dia makin penasaran." "Tapi tidak dengan membahas hal mesum seperti itu!" "Kau yang berpikiran mesum, Aureli," potong Caleb datar. Ia meraih dasi hitam di dalam rak. "Aku tidak menyebutkan hal yang janggal pada Maxi." Aurelia membuang napas kasar. "Kau sen
Aurelia keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega yang membuncah. Kasur sudah kosong. Ia mengembuskan napas panjang, bersyukur tidak harus bertatap muka lagi dengan pria menyebalkan itu.Menduga Caleb mungkin sedang berolahraga di luar atau menyeduh kopi di dapur, Aurelia melangkah santai menuju kamar Maxi.Tanpa mengetuk pintu, ia langsung mendorongnya terbuka.Langkahnya terhenti seketika.Caleb dan Maxi baru saja keluar dari kamar mandi. Caleb hanya mengenakan sehelai handuk putih yang melilit longgar di sekeliling pinggangnya. Tetesan air masih mengalir perlahan melintasi dada bidangnya yang tegap, menelusuri lekukan otot perut bergaris tegas dengan sapuan bulu-bulu halus yang terawat.Aurelia membeku di ambang pintu. Tatapannya tertahan di sana, seolah terkunci dan enggan beralih sedikit pun.Caleb menyadari arah pandangan itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, menyuarakan nada sensual yang bernuansa menggoda. "Apa yang sedang kau lihat, Aureli?"Aurelia t
"Jangan dilepas, aku masih mau memeluk gulingku."Gumaman halus itu keluar dari bibir Aurelia yang mungil. Matanya masih terpejam rapat. Ia makin erat merangkul dada bidang Caleb, sementara salah satu kakinya yang mulus melingkar bebas di atas paha pria itu. Posisinya benar-benar menjadikan Caleb sebagai guling hidup di atas tempat tidur.Bantal pembatas yang semalam ditaruh di tengah kasur sudah terlempar entah ke mana.Kali ini bukan Caleb pelakunya, melainkan Aurelia.Caleb memandangi wajah polos Aurelia dalam jarak hanya beberapa sentimeter. Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden menerangi kulit mulus wanita itu. Jemari Caleb terulur, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi dahi dan pipi Aurelia."Kenapa kau harus sekeras kepala ini?" gumam Caleb lirih. Senyum tipis yang sempat mengukir bibir Caleb perlahan memudar. Matanya menatap lekat garis wajah wanita yang selalu mengisi pikirannya selama bertahun-tahun."Semoga kau tidak membenciku karena semua intim
Aurelia bersenandung riang di kamar mandi. Terlihat jika suasana hatinya sedang bagus. Aurelia keluar dari kamar mandi dan dirinya langsung disambut oleh senyuman hangat yang begitu menawan dari seorang laki-laki yang menatapnya penuh kagum. Yang membuat dunianya penuh warna selama lima tahun bela
Aureli merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya. Perlahan ia membuka mata. Rasa pusing menyerang. Ia memejamkan matanya lagi. Namun saat hidungnya mencium aroma yang tidak asing, nyawanya terkumpul sepenuhnya.Dia menoleh ke samping, matanya seketika membeliak setelah menyadari kondisi mereka.
Tanah masih basah saat sekop terakhir meninggalkan gundukan itu. Aurelia berdiri terpaku di depan pusara. Kakinya terasa mati rasa. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam, menghimpit setiap tarikan napas yang ia coba ambil. “Cas…” suaranya pecah lagi. Tangannya gemetar saat me
“Cas…?”Suara Aurelia pecah saat melihat Clarissa pingsan. “Clarissa!” Caleb mengguncang bahunya pelan. “Buka matamu.”Tidak ada respons. Aurelia sudah menangis. “Kita harus bawa dia ke rumah sakit!”Caleb tidak membuang waktu. Ia mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongan.Beberapa menit kemudi







