LOGINAlis Arthur tampak mengerut halus di balik topeng emasnya.
Pria itu kemudian berdiri kembali, menegakkan tubuhnya, lalu menatap Arthur dengan mata biru pucatnya yang jernih dan tidak berkedip.
Hening.
Arthur tidak mengatakan apa pun. Sinar lampu di dalam ruangan memantul di mata biru gelapnya yang indah namun penuh kewaspadaan.
Menatapnya, Diana tersenyum tipis sebelum kemudian melangkah melewati pria itu untuk duduk di bangku kecil di sudut ruangan. Di sana sudah disiapkan teh dan beberapa kudapan, tampaknya memang ada untuk ritual malam pernikahan.
Dengan tenang ia menuangkan teh tersebut ke dua cangkir porselen halus, lalu menatap Arthur sambil tersenyum.
“Yang Mulia, Anda tidak mau menemani saya meminum teh angsa bersama?”
Ritual teh angsa–tradisi kuno malam pernikahan di mana kedua pengantin harus menautkan dan menyilangkan tangan sebelum meminum teh pertama mereka sebagai suami-istri.
Arthur mendekat tanpa menjawab, langkahnya berat dan penuh dominasi.
Pria itu duduk di hadapan Diana dan sebelum ia menyentuh cangkir yang disediakan Diana, Arthur bertanya, “Apa yang kau rencanakan?”
Diana menaikkan alis kirinya, raut wajahnya tenang seperti permukaan danau.
“Seperti yang sudah seharusnya, saya berencana menjadi istri Anda–”
“Kau tidak lari?” Arthur memotong dengan suara dingin.
Diana tersenyum. Dengan gerakan ringan, Diana meneguk teh di cangkir miliknya.
Lalu, Diana memasang wajah sepolos mungkin saat kembali fokus pada Artur dan menjawab, “Untuk apa saya berniat lari dari Yang Mulia?”
Diana mencondongkan kepala sedikit, seolah bingung sungguhan. “Bukankah sekarang kita adalah suami-istri?”
Alis di balik topeng emas itu tampak bertaut. Ekspresi Arthur tampak rapuh sekilas, seperti tidak percaya dengan jawaban Diana.
Namun, hanya sepintas. Sebelum ekspresi dingin itu kembali menguasai wajah di balik topeng emas itu.
“Ada beberapa dari kalian,” ucap sosok itu pelan, “yang sebelumnya bersikap sok berani sepertimu.”
Arthur lalu mengangkat tangan. Perlahan, ia membuka topeng emasnya.
Ketika topeng itu terlepas sepenuhnya, Diana bisa melihat wajah asli dari sang putra mahkota.
Pesona mata indah Arthur dan senyum pria itu tertutup separuh kulit wajahnya yang menghitam seperti terbakar racun. Tidak hanya itu, wajah itu pun juga dilapisi luka-luka bernanah yang menyebar dari pelipis ke rahang.
Orang pada umumnya akan mengeryit jijik, atau bahkan muntah karena mual.
Namun, Diana tidak demikian.
Sebagai dokter kulit, Diana sudah sering menyaksikan kondisi serupa, bahkan lebih parah.
Oleh karena itu, saat melihat wajah Arthur, Diana justru langsung menganalisisnya.
Ini bukan wajah buruk rupa, melainkan sebuah kondisi kulit yang terkena racun dalam kurun waktu yang lama.
Siapa … yang meracuni pria ini?
Tangan Diana terangkat pelan. Ia mendekat. Jari-jari lembutnya hendak menyentuh area kulit yang rusak untuk memeriksa lebih jauh.
Akan tetapi, Arthur menangkap pergelangan tangannya lebih cepat.
Cekalan itu dingin dan kasar.
“Apa yang kau lakukan?” Suara Arthur turun oktaf, tajam.
Diana menatap pria itu lurus. “Saya hanya ingin memeriksa–”
Arthur menghempaskan tangannya kasar hingga Diana hampir kehilangan keseimbangan, lalu mengenakan topengnya kembali dengan gerakan dingin dan jengkel.
Mendapati penolakan dari pria itu, Diana menghela napas pelan..
“Mohon maaf, Yang Mulia,” ucap Diana kemudian. “Saya tidak bermaksud lancang. Namun, apabila Yang Mulia mengizinkan, saya bisa–”
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Diana tersedak. Sepasang matanya membola begitu saja sementara wajahnya memerah hebat.
Tanpa tanda-tanda sebelumnya, kini tubuh Diana terasa panas. Suhu dalam dirinya naik drastis seperti ada api yang menyala di bawah kulitnya, membuat napasnya naik turun dengan cepat.
Melihat itu, Arthur mengerutkan kening. “Ada apa?” tanyanya.
Diana menggeleng, tidak mengerti. Gadis itu merasakan jantungnya berdegup kencang.
Tetapi … bukan hanya itu. Ada sensasi di bawah pusarnya yang berkedut keras dan tidak normal, membuat seluruh tubuhnya bergetar.
“Apa yang–”
Pandangannya jatuh pada cangkir tehnya yang telah kosong.
Seketika ia meraih teko porselen dan membuka tutupnya. Indra penciumannya langsung menangkap aroma samar tanaman herbal menyeruak keluar—aroma yang ia kenal baik. Ia pernah mempelajari sumber bau ini dari buku kuno soal pengobatan Asia.
Daun Eroli.
Daun itu berasal dari tanaman langka yang hanya tumbuh di kaki gunung, terkenal karena fungsinya untuk membangkitkan gairah ekstrem dalam waktu singkat.
“Tidak mungkin…” gumam Diana dengan wajah merah, napasnya tersengal.
Melihat reaksi Diana, Arthur meraih teko itu dari tangannya dengan kasar. Ia mencium aromanya singkat.
Tatapan mereka bertemu. Keduanya langsung paham apa yang sedang terjadi.
Diana mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, sebelum susah payah meraih lengan Arthur. Tubuhnya gemetar hebat.
“Yang Mulia–”
“Ini pasti ulah Kaisar,” gumam Arthur dengan kening berkerut.
“Yang Mulia!!” Diana mengeraskan suaranya. Sepasang matanya tampak sayu, kelopak matanya berkedip pelan. “Penawarnya. Saya … butuh penawarnya. Sekarang.”
Arthur terdiam sesaat.
Kemudian menjawab datar.
“Tidak ada.”
“… Apa?” Diana membeku. Tubuhnya bergetar pelan karena merasakan seperti ada sesuatu di bawah kulitnya. “L-lalu bagaimana–”
“Tidak ada penawarnya.” Artur berkata dengan nada yang sama. “Kita harus pakai cara lain.”
Dua minggu telah berlalu sejak guntur peperangan di perbatasan Barat berhenti bergemuruh. Sisa-sisa reruntuhan benteng pertahanan Kekaisaran Delore yang hancur perlahan-lahan mulai dimusnahkan oleh pasukan gabungan Norvenia dan faksi klan Rumi. Tanah tandus yang dulunya bersimbah darah kini dibersihkan, mengubur dalam-dalam memori kelam tentang tirani Alon yang telah runtuh berkeping-keping. Kaisar Arthur tiba kembali di Ibu Kota Norvenia tepat di saat musim dingin benar-benar telah angkat kaki dari daratan. Hamparan salju putih yang membeku kini sepenuhnya menghilang, digantikan oleh hamparan rumput hijau dan kuncup-kuncup bunga krisan yang mulai bermekaran. Suhu udara yang hangat dan bersahabat menyambut kepulangan sang Dewa Perang beserta pasukan elitenya. Aroma kemenangan membubung tinggi di sepanjang jalan kota, di mana ribuan rakyat bersorak-sorai mengelu-elukan namanya. Namun, Arthur tidak memedulikan semua kemegahan itu. Ia bahkan melewati barisan sambutan upacara dari para
Sorakan kemenangan menyerukan nama Kaisar Arthur dan kejayaan Kekaisaran Norvenia menggema dengan sangat lantang di sepanjang lembah perbatasan. Suara gemuruh dari ratusan ribu prajurit memecah keheningan pegunungan salju, mengubur sisa-sisa ketakutan yang sempat mencekam beberapa saat lalu. Begitu tubuh Kaisar Alon tumbang tak bernyawa di atas hamparan salju yang membeku, runtuh pula pilar Kekaisaran Delore. Kemenangan mutlak kini sah menjadi milik Norvenia.Namun, di tengah atmosfer euforia yang membara itu, kedamaian belum sepenuhnya mendarat. Tak lama setelah Alon mengembuskan napas terakhirnya, sepasang mata tajam milik Arthur menangkap pergerakan dari arah celah bukit. Pasukan lain yang mengenakan zirah perang lengkap tiba-tiba muncul dan merangsek masuk ke dalam area pertempuran.Melihat kedatangan rombongan asing tersebut, Arthur, Sai, dan Adipati Deon secara refleks kembali memasang raut wajah waspada. Tangan mereka kembali mencengkeram gagang pedang yang masih bersimbah dara
Diana masih duduk berlutut dengan khusyuk di atas bantalan beludru merah. Jemarinya yang ramping bergerak ritmis, memindahkan sebutir demi sebutir biji tasbih Buddha berukuran besar yang terbuat dari kayu gaharu hitam. Ia telah berada di posisi itu sejak fajar menyingsing, mengabaikan rasa kaku yang mulai menyerang persendiannya. Bibi Erna berdiri tidak jauh di belakangnya, meremas selendangnya dengan gundah. Matanya menatap cemas pada punggung Permaisuri yang tampak tegang. "Yang Mulia, Anda sudah berdoa terlalu lama hari ini. Saya khawatir Anda akan jatuh sakit nanti jika terus memaksakan diri dalam kondisi mengandung seperti ini," ucap Bibi Erna, suaranya sarat akan rasa cemas yang mendalam. Diana tidak beranjak sedikit pun dari posisinya. Tasbih besar di tangannya terus bergerak tanpa henti. Ia melirik Bibi Erna sekilas melalui sudut matanya, lalu menjawab dengan suara rendah yang datar namun bergetar oleh emosi, "Bagaimana mungkin aku bisa makan dan tidur dengan tenang, jika
"Saya telah membunuh Raja Debi," ucap Althaf sekali lagi, suaranya terdengar seperti ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati dalam keheningan kamar. Denada menatap ksatria di hadapannya dengan sepasang mata yang membelalak lebar. Jantungnya berdegup kencang, menabrak rongga dadanya hingga ia merasa sedikit pening. Segala skenario yang telah ia susun rapi bersama Isabella seolah koyak di bagian tepi oleh tindakan impulsif ksatria ini. "Apa... apa yang sebenarnya terjadi, Althaf? Kenapa kau bertindak sendiri tanpa perintah?" tanya Denada, mencoba menekan getaran dalam suaranya agar tetap terdengar seperti seorang permaisuri yang berwibawa, meski kedok rapuhnya semalam masih membekas. Althaf tetap berlutut dengan tegak, zirah peraknya yang ternoda darah memantulkan cahaya lilin yang temaram. "Yang Mulia Selir Isabella telah menceritakan semua fakta tentang Kaisar Alon kepada saya sore tadi, sebelum jamuan dimulai. Hamba telah mengetahui semuanya, Yang Mulia. Pengkhianat besar
BRAK! Pintu peraduan yang berat itu tiba-tiba terbuka dengan sentakan yang tidak sabaran. Sesosok gadis dengan jubah pelayan yang sedikit berantakan berlari masuk menembus tirai-tirai kelambu sutra dengan napas yang terengah-engah. "Yang Mulia! Yang Mulia Permaisuri!" panggil Embun dengan suara setengah berteriak, matanya berbinar-binar penuh dengan luapan emosi yang tak tertahankan. Bibi Erna yang sedang memegang handuk kering seketika mendongak. Wajahnya yang tegas berkerut dalam, memancarkan ketidaksetujuan yang nyata atas kelancangan pelayan muda tersebut. Ia berdiri dan langsung menghadang jalan Embun. "Perhatikan sikap dan suaramu, Embun! Kita saat ini berada di Istana Kediaman Kaisar, bukan di paviliun pribadi kita!" tegur Bibi Erna dengan nada berbisik namun tajam. "Kelancanganmu bisa dihukum cambuk jika terdengar oleh pengawal pribadi Yang Mulia!" Embun seketika menghentikan langkahnya, menyengir bersalah sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada untuk memoh
Aula utama Istana Norvenia seketika berubah menjadi medan kekacauan yang tak terkendali. Pekikan histeris dari para selir bergema, bersahutan dengan deru derap langkah kaki para prajurit pengawal yang langsung menghunus pedang, membentuk barikade melingkar untuk melindungi podium kerajaan. Di tengah kegaduhan yang memekakkan telinga itu, seorang tabib istana dengan jubah yang sedikit berantakan tampak berlari terbirit-birit menaiki tangga podium, wajahnya pucat pasi seolah maut sendiri yang sedang mengejarnya.Sebelum tabib itu sempat menyentuh Diana, Embun bergerak cepat dari arah belakang kursi permaisuri. Dengan napas yang memburu namun tangan yang luar biasa stabil, ia menyodorkan sebuah kotak kayu cendana berukir rumit ke hadapan sang tabib."Tuan Tabib, gunakan ini saja! Ini adalah alat medis pribadi milik Yang Mulia Permaisuri!" seru Embun dengan suara yang lantang, memotong kepanikan pria tua itu.Tabib istana itu tidak memiliki waktu untuk berpikir panjang atau mempertanyakan
Diana mengikuti langkah Arthur menuju ruang kerja pria itu tanpa banyak bicara. Bahkan setelah pintu ditutup dan suara langkah Nyonya Sarah tak lagi terdengar di kejauhan, ia tetap tidak memahami alasan Arthur membawanya kemari. Jika hanya urusan mendesak, bukankah cukup Sai saja yang melapor? Na
Arthur menatap Diana singkat, sorot matanya datar seperti biasa, seolah kehadiran wanita itu di dalam tendanya hanyalah detail kecil yang tidak perlu terlalu diperhatikan. Tanpa menunggu respons apa pun, pria itu melanjutkan langkah ke arah pemandian di balik tirai pemisah sambil berkat
Di dalam kamar Arthur, Diana berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada, menatap peti-peti besar miliknya yang kini berjejer rapi di pojok ruangan. Peti kayu berukir itu tampak asing berada di kamar Putra Mahkota—kamar yang sejak awal memancarkan aura dingin, kaku, dan terlalu maskulin. Aroma k
“Apa yang kau lakukan di sini?”Suara Arthur terdengar datar, dingin, dengan kening yang terlipat sedikit. Nada itu cukup untuk membuat para pelayan yang berada di sekitar halaman menunduk lebih dalam, sementara udara pagi yang semula terasa ringan mendadak menegang tanpa alasa







