Share

Bab 2. Wajah Yang Mengerikan

Author: nanadvelyns
last update Last Updated: 2025-11-26 16:52:43

Diana berkedip.

Apakah pria itu sedang meremehkannya? 

Mungkin dia berpikir Diana akan ketakutan, menangis, gemetar seperti pengantin lain sebelum dia.

Jika benar begitu, pria ini salah besar.

Diana menegakkan punggungnya, menatap Arthur lurus-lurus sebelum membalas senyuman itu. Iris biru pucat khas keluarga Sinclair di matanya berkilat tajam, menunjukkan ketegaran dan ketenangan yang membuat Arthur mengernyit samar.

Diana kemudian berdiri perlahan dari duduknya, kain pengantin merahnya menjuntai mengikuti gerakan tubuhnya.

Bunga phoenix emas yang terpasang di mahkotanya berkilau lembut diterpa cahaya lilin kamar.

Ia menunduk dengan anggun, membungkuk tepat di hadapan pria bertopeng emas itu.

“Saya menyapa Yang Mulia Putra Mahkota,” ucapnya formal, suaranya jernih dan stabil.

Alis Arthur tampak mengerut halus di balik topeng emasnya.

Diana tahu itu. Reaksinya tidak terlewat sedikit pun.

Ia kemudian berdiri kembali, menegakkan tubuhnya, lalu menatap Arthur dengan mata biru pucatnya yang jernih dan tidak berkedip.

Hening. 

Arthur tidak mengatakan apa pun. Sinar lampu di dalam ruangan memantul di mata biru gelapnya yang indah namun penuh kewaspadaan.

Menatapnya, Diana tersenyum tipis sebelum kemudian melangkah melewati pria itu untuk duduk di bangku kecil di sudut ruangan. Di sana sudah disiapkan teh dan beberapa kudapan, tampaknya memang ada untuk ritual malam pernikahan.

Dengan tenang ia menuangkan teh tersebut ke dua cangkir porselen halus, lalu menatap Arthur sambil tersenyum.

“Yang Mulia, Anda tidak mau menemani saya meminum teh angsa bersama?”

Ritual teh angsa–tradisi kuno malam pernikahan di mana kedua pengantin harus menautkan dan menyilangkan tangan sebelum meminum teh pertama mereka sebagai suami-istri.

Arthur mendekat tanpa menjawab, langkahnya berat dan penuh dominasi. 

Pria itu duduk di hadapan Diana dan sebelum ia menyentuh cangkir yang disediakan Diana, Arthur bertanya, “Apa yang kau rencanakan?”

Diana menaikkan alis kirinya, raut wajahnya tenang seperti permukaan danau.

“Seperti yang sudah seharusnya, saya berencana menjadi istri Anda–”

“Kau tidak lari?” Arthur memotong cepat, dingin.

Diana menahan tawa di dalam hati. Benar … jadi pria ini memang mengira Diana Sinclair akan kabur.

Intuisinya tepat. Kalau itu 'Diana' yang asli, tentu gadis itu akan melarikan diri.

Tapi ia bukan Diana yang asli.

Dengan gerakan ringan, Diana meneguk teh di cangkir miliknya. Lalu, Diana memasang wajah sepolos mungkin saat kembali fokus pada Artur dan menjawab, “Untuk apa saya berniat lari dari Yang Mulia?”

Diana mencondongkan kepala sedikit, seolah bingung sungguhan. “Bukankah sekarang kita adalah suami-istri?”

Alis di balik topeng emas itu tampak bertaut. Ekspresi Arthur tampak rapuh sekilas, seperti tidak percaya dengan jawaban Diana.

Namun, hanya sepintas. Sebelum ekspresi dingin itu kembali menguasai wajah di balik topeng emas itu.

“Ada beberapa dari kalian,” ucap sosok itu pelan, “yang sebelumnya bersikap sok berani sepertimu.”

Arthur lalu mengangkat tangan. Perlahan, ia membuka topeng emasnya.

Ketika topeng itu terlepas sepenuhnya, Diana bisa melihat wajah asli dari sang putra mahkota.

Pesona mata indah Arthur dan senyum pria itu tertutup separuh kulit wajahnya yang menghitam seperti terbakar racun. Tidak hanya itu, wajah itu pun juga dilapisi luka-luka bernanah yang menyebar dari pelipis ke rahang. 

Orang pada umumnya akan mengeryit jijik, atau bahkan muntah karena mual.

Namun, Diana tidak demikian.

Sebagai dokter kulit, Diana sudah sering menyaksikan kondisi serupa, bahkan lebih parah.

Oleh karena itu, saat melihat wajah Arthur, Diana justru langsung menganalisisnya.

Ini bukan wajah buruk rupa, melainkan sebuah kondisi kulit yang terkena racun dalam kurun waktu yang lama.

Siapa … yang meracuni pria ini?

Tangan Diana terangkat pelan. Ia mendekat. Jari-jari lembutnya hendak menyentuh area kulit yang rusak untuk memeriksa lebih jauh.

Akan tetapi, Arthur menangkap pergelangan tangannya lebih cepat.

Cekalan itu dingin dan kasar.

“Apa yang kau lakukan?” Suara Arthur turun oktaf, tajam.

Diana menatap pria itu lurus. “Saya hanya ingin memeriksa–”

Arthur menghempaskan tangannya kasar hingga Diana hampir kehilangan keseimbangan, lalu mengenakan topengnya kembali dengan gerakan dingin dan jengkel.

Mendapati penolakan dari pria itu, Diana menghela napas pelan..

“Mohon maaf, Yang Mulia,” ucap Diana kemudian. “Saya tidak bermaksud lancang. Namun, apabila Yang Mulia mengizinkan, saya bisa–”

Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Diana tersedak. Sepasang matanya membola begitu saja sementara wajahnya memerah hebat.

Tanpa tanda-tanda sebelumnya, kini tubuh Diana terasa panas. Suhu dalam dirinya naik drastis seperti ada api yang menyala di bawah kulitnya, membuat napasnya naik turun dengan cepat.

Melihat itu, Arthur mengerutkan kening. “Ada apa?” tanyanya.

Diana menggeleng, tidak mengerti. Gadis itu merasakan jantungnya berdegup kencang.

Tetapi … bukan hanya itu. Ada sensasi di bawah pusarnya yang berkedut keras dan tidak normal, membuat seluruh tubuhnya bergetar.

“Apa yang–”

Pandangannya jatuh pada cangkir tehnya yang telah kosong. 

Seketika ia meraih teko porselen dan membuka tutupnya. Indra penciumannya langsung menangkap aroma samar tanaman herbal menyeruak keluar—aroma yang ia kenal baik. Ia pernah mempelajari sumber bau ini dari buku kuno soal pengobatan Asia.

Daun Eroli.

Daun itu berasal dari tanaman langka yang hanya tumbuh di kaki gunung, terkenal karena fungsinya untuk membangkitkan gairah ekstrem dalam waktu singkat.

“Tidak mungkin…” gumam Diana dengan wajah merah, napasnya tersengal.

Melihat reaksi Diana, Arthur meraih teko itu dari tangannya dengan kasar. Ia mencium aromanya singkat.

“Ini pasti ulah Kaisar,” gumam Arthur dengan kening berkerut.

Diana mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, sebelum susah payah meraih lengan Arthur. Tubuhnya gemetar hebat.

“Yang Mulia!!” Diana mengeraskan suaranya. Sepasang matanya tampak sayu, kelopak matanya berkedip pelan. “Penawarnya. Saya … butuh penawarnya. Sekarang.”

Arthur terdiam sesaat.

Kemudian menjawab datar.

“Tidak ada.”

“… Apa?” Diana membeku. Tubuhnya bergetar pelan karena merasakan seperti ada sesuatu di bawah kulitnya. “L-lalu bagaimana–”

“Tidak ada penawarnya.” Artur berkata dengan nada yang sama. “Kita harus pakai cara lain.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 156. Dua Zat yang Tak Seharusnya Bersatu

    “Tuan Damar.”Suara Diana terdengar tegas, tidak keras, tetapi cukup untuk membuat udara kembali menegang.Tatapan matanya lurus, mengandung peringatan yang jelas.Tuan Damar yang masih membungkuk segera menundukkan kepala lebih dalam. “Maafkan saya, Putri. Pelayan rendah ini tidak terima karena difitnah telah lancang pada Putri.”Nada suaranya terdengar tulus, namun juga penuh penyesalan.Diana tertawa di dalam hati.Inilah ‘pukulan’ yang ia maksud kepada Embun di dalam kereta kuda tadi.Bukan pukulan dengan kemarahan.Bukan dengan teriakan.Melainkan dengan membiarkan kebenaran berdiri di tengah keramaian dan berbicara sendiri.Ia tidak menjawab permohonan maaf Tuan Damar. Tidak perlu.Sebaliknya, ia menoleh pada tangan yang masih mencengkeram lengannya.“Menepi.”Suaranya datar.Tiara membatu di tempatnya. Jari-jarinya perlahan terlepas dari lengan Diana, seolah baru menyadari apa yang telah ia lakukan.Semua orang melihatnya.Untuk sesaat, Tiara berdiri tanpa suara, lalu lututnya

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 155. Wajah dan Kebenaran yang Terkelupas

    Tiara seketika tampak pucat.Wajahnya yang tadi berseri karena sanjungan kini kehilangan warna, seolah darah dalam tubuhnya mengalir mundur. Matanya menatap wanita yang berteriak kesakitan itu dengan kebingungan yang nyata—bukan pura-pura.Diana yang berdiri paling dekat memutuskan untuk mendekat. Langkahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam mengamati setiap detail.Wanita itu masih terduduk di tanah, kedua tangannya mencengkeram pipinya sendiri.“Panas… sakit… ahh!”Jeritannya membuat beberapa tamu mundur ngeri.Diana membungkuk sedikit untuk melihat lebih jelas—“Ah!”Ia mendadak mundur satu langkah, menutup setengah wajahnya dengan lengan hanfu, seolah terkejut oleh pemandangan di depannya.Reaksi itu membuat Tiara ikut terdorong rasa penasaran dan ketakutan. Ia menerobos kerumunan, jantungnya berdegup kencang.Begitu melihat kondisi wanita itu, napasnya tercekat.Wajah wanita tersebut kini memerah seluruhnya, bukan sekadar ruam biasa. Kulitnya tampak mengilap aneh, beberapa bagi

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 154. Pukulan Telak di Bawah Matahari Siang

    Setelah segala persiapan selesai, Diana melangkah keluar dari paviliunnya dengan langkah mantap. Gaun hanfu berwarna biru pucat yang dikenakannya tampak sederhana, namun potongannya elegan dan jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi tusuk rambut phoenix yang menjadi lambang kedudukannya sebagai Putri Mahkota.Kereta kuda telah menunggu di depan.Embun berdiri di sampingnya, memegang ujung rok sang Putri agar tidak terseret tanah.Diana menaiki kereta tanpa banyak kata. Tirai ditutup, roda mulai berputar, dan kereta bergerak meninggalkan halaman istana menuju Kediaman keluarga Mahen.Di dalam kereta, suasana hening beberapa saat. Cahaya matahari siang menembus celah tirai, membentuk garis-garis tipis di wajah Diana yang tetap tenang.Embun menatap majikannya dengan raut heran yang sejak tadi ia tahan. Akhirnya ia tidak sanggup lagi.“Putri,” ujarnya pelan namun penuh rasa ingi

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 153. Peniru

    Isabella duduk tegak di hadapan cermin peraknya.Pantulan wajahnya terlihat sempurna—kulit pucat tanpa cela, bibir merah muda yang terlukis rapi, dan mata yang dingin bagai danau beku di musim dingin. Tidak ada siapa pun yang akan mengira bahwa di balik ketenangan itu, pikirannya berputar tanpa henti.Di belakangnya, seorang pelayan perempuan berdiri dengan tangan terampil, menyisir rambut panjang Isabella yang hitam berkilau. Setiap helai jatuh lembut di punggung gaunnya, menciptakan kontras indah dengan kain sutra berwarna gading yang ia kenakan.Hari ini ia harus menghadiri undangan Tiara Mahen.Undangan yang tampaknya sederhana—jamuan teh dan perbincangan ringan—tetapi Isabella tahu, tidak ada pertemuan di lingkungan bangsawan yang benar-benar tanpa maksud.Apalagi jika Diana juga akan hadir.Isabella menatap pantulannya tanpa berkedip.Ia tidak boleh kalah.Tidak dalam hal sikap.

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 152. Pagi yang Berbeda

    Diana terbangun perlahan saat merasakan sesuatu yang hangat menyentuh wajahnya.Sentuhan itu lembut, bergerak perlahan dari pelipis ke pipinya, seolah seseorang sedang memastikan ia benar-benar nyata. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit.Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata biru gelap yang begitu dekat.Arthur.Pria itu berbaring miring menghadapnya, satu tangan terangkat, jemarinya masih berada di sisi wajah Diana. Tatapannya dalam, tidak berkedip, seolah sedang mengamati sesuatu yang sangat berharga.Jantung Diana berdebar tanpa aba-aba.Pagi itu cahaya matahari yang menyelinap melalui tirai tipis jatuh tepat di wajah Arthur, membuat warna matanya terlihat lebih tajam, lebih hidup.Ia tampak… sangat menawan.Tanpa sadar, sudut bibir Diana terangkat.“Tampan sekali…” gumamnya pelan, suara seraknya masih bercampur sisa kantuk.Hening sejenak.Arthur mengangkat alisnya tipis.“Benarkah?” tanyanya ringan.Biasanya, jika Diana menggoda seper

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 151. Duka Seorang Putra

    “Yang Mulia, Anda yakin akan menemui Pangeran Keempat? Saya ragu beliau akan menyambut Anda dengan baik meskipun memang ibunya yang bersalah.”Suara itu datang dari Mila, pelayan pribadi Karin yang baru. Gadis itu berjalan setengah langkah di belakang tuannya, menjaga jarak yang sopan, tetapi nada khawatirnya terdengar jelas.Karin tidak langsung menjawab. Langkahnya tetap tenang menyusuri koridor panjang menuju kediaman Deon. Hanfu kebesarannya yang bersulam phoenix emas bergeser lembut mengikuti gerakan tubuhnya. Stempel Harem yang kini menjadi simbol kekuasaannya terselip rapi di lengan dalamnya.“Aku yakin,” jawab Karin akhirnya, suaranya datar namun mantap.Mila masih tampak ragu. “Pangeran Keempat baru saja kehilangan ibunya. Istana pun tidak memberinya ruang untuk berduka. Jika Yang Mulia datang sekarang… saya takut beliau salah paham.”Karin berhenti sejenak.Ia menoleh tipis, tatapannya lembut tetapi tegas.“Justru karena itu aku harus datang.”Mila terdiam.Karin memang ti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status