Share

Chapter 18

Author: rynviere
last update publish date: 2026-05-18 23:53:48

Irene segera menundukkan kepalanya dalam. Air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Lengannya memeluk tubuhnya erat hingga kuku-kuku menancap ke kulit.

Ia merasa jijik dan malu pada dirinya sendiri.

Aku… kotor…

Dentuman keras menyentak Irene mendongak.

Ayahnya telah berdiri dari kursi. Kedua tangan Edgar menghantam meja kerja dengan keras hingga tempat tinta berdenting nyaring.

“Binatang sialan!”

Wajah pria itu memerah padam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.

“A-Ayah?” Irene bangkit dengan ragu.

Selama dua puluh tahun hidupnya, ia belum pernah melihat sang ayah begitu marah.

“Dia menyentuhmu?” desis Edgar pelan.

Irene menggigit bibir bawahnya. Isakan lolos dari tenggorokannya saat ia mengangguk lemah.

Ayahnya menyapu wajahnya kasar dengan satu tangan sebelum mengembuskan napas berat. “…kenapa kau tidak memberitahuku lebih cepat?”

“A-Aku…” Bibir Irene bergetar hebat. “Aku takut…”

Shh,” Edgar membelah jarak di antara mereka dan merengkuh tubuhnya.

“Tidak apa-apa,” bisiknya pelan sambil mengusap rambut Irene yang gemetar. “Semuanya sudah berlalu… Ayah di sini…”

“Ayah…” Irene membenamkan wajahnya dalam dan mengeratkan pelukannya. Raungan yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.

“Maafkan Ayah…” suara Edgar terdengar berat di atas kepalanya. Ia mengecup singkat rambut Irene. “Ayah telah gagal melindungimu.”

Irene segera melepaskan pelukannya dan menggeleng cepat. “Tidak…”

“Ayah tidak salah apa pun.”

Menghela napas panjang untuk meredakan tangis, tangannya naik untuk menyeka pipi yang basah. Namun, gerakan itu terhenti saat Edgar mengulurkan selembar sapu tangan di hadapannya.

Ia membeku sejenak, menatap kain putih itu, lalu menerimanya. Senyum rapuh terulas di bibirnya. “Terima kasih, Ayah…”

Menyapu pipinya yang basah dengan sapu tangan, Irene perlahan mengumpulkan kembali kepingan ketegarannya.

Hening menyelimuti ruangan, hanya terisi deru isakan Irene yang belum sepenuhnya mereda.

“Apa karena itu kau menikahi Duke Dietrich?” tanya Edgar hati-hati.

Tubuh Irene menegang.

Ia mendongak perlahan, menatap manik safir milik ayahnya yang dipenuhi kekhawatiran.

“…Apa Duke Dietrich memaksamu menikah dengannya?”

Irene menurunkan pandangannya. Jemarinya mengusap sapu tangan yang kini basah di genggamannya.

“Tidak,” jawabnya akhirnya.

Ia mengembuskan napas pelan, kemudian mengangkat pandangannya pada Edgar. “…Aku yang memintanya menikahiku.”

Irene menggigit bagian dalam pipinya keras-keras, menyesap rasa anyir logam di pangkal lidahnya.

Aku… berbohong…

Mata Edgar menyipit tajam.

“Irene,” suaranya merendah, “Ayah tahu siapa Duke Dietrich.” Ia menjeda. “Pria seperti dia tidak akan menerima tawaran seperti itu secara cuma-cuma.”

Tatapan Edgar menembus lurus ke arahnya, menuntut kejujuran. “…apa yang dia minta darimu?”

Jantung Irene bertabuh kencang. Keringat dingin perlahan merayap di kulitnya, menyusuri ceruk punggungnya.

Apa yang harus aku katakan…?

Ia memalingkan wajah sesaat sebelum akhirnya membuka bibirnya pelan. “Beliau membutuhkan seorang Duchess…”

“Irene—”

“Aku tahu, Ayah! Aku tahu!” Irene memotong cepat. “Tapi…”

Tatapan jijik para bangsawan kembali berputar di benaknya. Bisikan-bisikan mencemooh di malam pesta itu kembali menyeruak.

“Aku… tahu…”

Irene mundur beberapa langkah. Jemarinya naik, menjambak rambutnya tanpa ia sadari. Tubuhnya bergetar hebat. Napasnya memburu tak beraturan.

“Aku… tahu…”

“Irene?” Edgar bergerak menghampirinya.

“AKU TAHU, AYAH!” jeritnya keras, telak menghentikan langkah Edgar.

Cairan hangat menetes, membanjiri pipinya. Bahunya berguncang kacau. Gambaran ayahnya mengabur, tenggelam dalam air matanya.

Ia tahu seberapa brengseknya Adrian.

Ia tahu seberapa bajingannya Adrian.

“Tapi aku sungguh-sungguh membutuhkan perlindungan Duke Dietrich!”

Isakan lolos dari bibirnya yang bergetar.

“Tanpanya…” Irene menggeleng panik, “tanpanya aku hanyalah seorang wanita hina di mata para bangsawan!”

Gelak tawa para wanita bangsawan pesta teh memekakkan telinganya.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Delikan tajam para bangsawan memenuhi ingatannya.

Tubuhnya gemetar hebat di tengah isaknya yang memburu. “Aku membutuhkannya, Ayah…”

Menurunkan tangannya perlahan, Irene menghampiri Edgar dengan langkah goyah sebelum jatuh berlutut di hadapannya.

Jemarinya meremas celana sang ayah erat-erat sementara manik safirnya yang sembab mendongak putus asa.

“Tolong izinkan aku menikah dengannya…” suaranya parau. “Kumohon…”

Edgar hanya menatapnya dalam diam.

Raut kecewa terpatri samar di wajah pria itu, membuat dada Irene semakin sesak.

“Irene…” suara Edgar terdengar serak.

Ia segera berjongkok di hadapan putrinya dan mengusap pipinya, menyapu air mata yang mengalir tanpa henti.

“Jawab Ayah dengan jujur.” Tatapan safir mereka bertemu. “Apa kau sungguh-sungguh ingin menikah dengannya?”

Bibir Irene bergetar kecil.

Ia tahu, Ayahnya masih memberinya kesempatan untuk mundur sekarang juga.

Namun tekad Irene sudah bulat.

Ia tidak akan berhenti sampai Fernando dan Selena membayar semuanya.

Perlahan, Irene mengangguk lemah. “Maafkan aku, Ayah…” bisiknya lirih.

Hening yang mencekik menyelimuti ruangan, hingga Edgar akhirnya mengembuskan napas panjang.

Pria itu menarik Irene kembali ke dalam pelukannya.

“Jika itu keputusanmu…” suaranya terdengar berat, “…Ayah tidak akan menghentikanmu.”

Bahu Irene kembali bergetar hebat di dalam pelukan Edgar. Air mata kembali mengalir bebas. “Maafkan aku…”

.

.

.

Kereta hitam berlambang serigala perak telah menunggu di depan mansion Archellio sejak siang tadi. Para pelayan mondar-mandir membawa koper terakhir menuju bagasi belakang kereta.

Irene berbalik, menghadap keluarga kecilnya. Manik safir Irene perlahan menatap satu per satu wajah mereka.

Edgar tampak jauh lebih diam dibanding biasanya. Ia berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang punggung, namun gurat lelah di wajahnya terlihat begitu kentara.

Di sampingnya, ibunya terus menggenggam sapu tangan dengan mata memerah. Sementara kakaknya berdiri dengan rahang mengeras, jelas masih berusaha menerima kenyataan bahwa adiknya akan tinggal di bawah atap pria seperti Adrian Dietrich.

“Anakku…” suara ibunya pecah pelan sebelum menarik Irene ke dalam pelukan erat. “Apa kau benar-benar harus pergi hari ini?”

Ia membalas pelukan ibunya dan memejamkan mata, menyesap aroma parfum bunga—aroma hangat yang menemaninya sejak kecil.

Dan untuk sesaat, dada Irene terasa sesak.

“Aku akan merindukanmu…” bisiknya.

“Aku juga akan merindukan Ibu.”

Wanita itu melepaskan pelukannya. Matanya sudah kembali berkaca-kaca. “Kirim surat sesering mungkin.”

Irene tersenyum kecil. “Aku janji.”

Kakaknya melangkah maju setelahnya dan memeluk Irene singkat. “Jaga dirimu baik-baik.”

Irene tertawa lirih. “Kakak juga.”

Namun senyum kecil itu perlahan memudar saat pandangannya bertemu dengan Edgar.

Ayahnya akhirnya melangkah mendekat. Tidak ada senyum di wajahnya, hanya tatapan berat nan bersalah yang menggerogoti tenggorokan Irene.

“Ayah…”

Edgar mengusap kepala Irene lembut. “Jaga dirimu baik-baik.”

Suaranya tenang. Terlalu tenang.

Dan justru itu membuat dada Irene semakin nyeri.

“Iya,” jawab Irene lirih.

“Dan ingat…” rahangnya mengeras samar, “…rumah ini akan selalu terbuka untukmu.”

Napas Irene tercekat. Untuk sesaat, ia hampir ingin menangis lagi.

Namun Irene hanya mengangguk pelan sambil memaksakan senyum tipis.

“Iya, Ayah.”

Suara pintu kereta terbuka memecah keheningan, menarik perhatian mereka.

Seorang pelayan Dietrich berdiri di samping pintu kereta dengan kepala tertunduk hormat. “Nona Irene, kami siap berangkat.”

Manik safir Irene perlahan beralih ke kereta hitam di hadapannya sebelum kembali ke keluarga kecilnya.

“Selamat tinggal.”

Dengan begitu, Irene menerima uluran tangan pelayan dan menaiki kereta.

Dan selamat tinggal—

kebebasanku…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 21

    Langit musim semi membentang luas dalam nuansa biru lembut tanpa awan. Cahaya mentari pagi yang hangat menyinari ibu kota, sementara dentang lonceng menggema panjang ke seluruh penjuru Lexith.Di dalam katedral, para tamu telah memenuhi deretan kursi jemaat dalam balutan sutra dan mantel mewah. Kilauan kaca patri yang berpadu dengan lampu kristal menaburkan semburat warna-warni ke seluruh aula.Pepohonan hijau yang ditata rapi di setiap sudut, dipadukan dengan rangkaian bunga yang melilit tiang-tiang marmer raksasa, mengubah aula megah itu menjadi taman hidup.Satu bulan telah berlalu sejak Irene menginjakkan kaki di kediaman Dietrich.Dan hari ini, pernikahan mereka akhirnya digelar.Berdiri kaku di balik pintu ganda raksasa, Irene menatap buket bunga putih di genggamannya tanpa ekspresi. Jemarinya mengerat pelan pada tangkai bunga hingga sarung tangan satinnya berkerut.Pernikahan yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan dan kehangatan kini terasa hampa dan dingin. Rasa pahit di lidahny

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 20

    Irene menatap Adrian dalam diam. Bibirnya terkatup rapat.Baru sekarang ia memahami betapa jauhnya perbedaan dunia mereka.Jika baginya balas dendam adalah tujuan akhirnya, maka di mata pria di hadapannya, balas dendam antarbangsawan hanyalah sekadar permainan anak kecil.“Apa itu alasan Anda menjadikan saya seorang Duchess?” tanya Irene, suaranya bergetar.Adrian mendengus geli. “Kenapa? Apa kau merasa ditipu?”Irene bungkam. Lidahnya kelu.“Mari kita ubah perspektif.” Adrian menegakkan punggungnya dan menyesap cerutunya pelan. “Sebagai Duchess Dietrich, kau bisa menghadiri pesta mana pun yang dihadiri Fernando demi balas dendammu, bukan?”Asap tembakau melayang di antara mereka.“Dan aku membutuhkanmu untuk menghadiri pesta-pesta itu demi informasi tentang opium.” Adrian memiringkan kepalanya. Seringai tipis terbit di bibirnya. “Tidakkah tujuan kita sejalan?”Jemarinya mencengkeram rok gaunnya begitu erat hingga kukunya nyaris menembus kain.Dan untuk pertama kalinya, Irene menyadar

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 19

    Pintu gerbang besi berlambang serigala perak yang menjulang tinggi perlahan terbuka, memberi jalan bagi kereta hitam legam untuk bergerak maju.Hamparan taman luas dengan bunga warna-warni mengapit jalan batu granit yang tersusun mulus. Air mancur marmer berdiri megah di tengah halaman, memantulkan cahaya keemasan matahari sore.Pandangan Irene jatuh pada pria jangkung yang berdiri tepat di depan mansion Dietrich.Adrian.Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana yang membalut tubuh kekarnya dengan sempurna. Celana hitam dan sepatu kulit gelap begitu kontras dengan kulit pucatnya.Satu tangannya tersimpan santai di saku celana, sementara yang lainnya memegang sebatang cerutu. Asap tipis mengepul di udara saat Adrian menyesapnya perlahan.Kereta melambat dan berhenti tepat di hadapan pria itu.Irene menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan debar jantungnya yang bergemuruh di dada. Jemarinya yang dingin membuka dan menutup gelisah di atas pangkuann

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 18

    Irene segera menundukkan kepalanya dalam. Air mata terus mengalir tanpa bisa ia hentikan. Lengannya memeluk tubuhnya erat hingga kuku-kuku menancap ke kulit.Ia merasa jijik dan malu pada dirinya sendiri.Aku… kotor…Dentuman keras menyentak Irene mendongak.Ayahnya telah berdiri dari kursi. Kedua tangan Edgar menghantam meja kerja dengan keras hingga tempat tinta berdenting nyaring.“Binatang sialan!”Wajah pria itu memerah padam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.“A-Ayah?” Irene bangkit dengan ragu.Selama dua puluh tahun hidupnya, ia belum pernah melihat sang ayah begitu marah.“Dia menyentuhmu?” desis Edgar pelan.Irene menggigit bibir bawahnya. Isakan lolos dari tenggorokannya saat ia mengangguk lemah.Ayahnya menyapu wajahnya kasar dengan satu tangan sebelum mengembuskan napas berat. “…kenapa kau tidak memberitahuku lebih cepat?”“A-Aku…” Bibir Irene bergetar hebat. “Aku takut…”“Shh,” Edgar membelah jarak di antara mereka dan merengkuh tubuhnya.“Tidak ap

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 17

    Cahaya pucat yang mengalir dari jendela tinggi perlahan mengusir sisa-sisa kegelapan di kamar Irene.Terduduk di belakang meja, manik safir Irene terpaku pada surat kabar yang tergelar di hadapannya, sementara jemarinya memijat pelipis yang berdenyut tanpa henti.Helaan napas panjang lolos dari bibirnya. Dasar, pria gila! Matahari bahkan belum sepenuhnya merangkak ke langit, namun kepalanya sudah terasa nyeri sejak pagi buta.Tajuk besar di halaman depan surat kabar itu seolah sengaja mengejek sisa kewarasannya.[ DUKE DIETRICH RESMI DAFTARKAN PERNIKAHAN! ]Di bawah untaian huruf hitam tersebut, deretan kalimat tercetak begitu rinci hingga terasa menusuk matanya.[…sang petualang cinta akhirnya berlabuh…][…pada wanita yang gemar menolak lamaran…][…rumornya, pernikahan akan diselenggarakan bulan depan…]“Bulan depan…” gunam Irene lirih.Membuang napas panjang untuk yang kesekian kalinya, Irene menggosok wajahnya dengan frustrasi.Jujur saja, setelah semua yang terjadi, ia tidak tahu

  • Menikahi Duke yang Kubenci   Chapter 16

    Manik obsidian itu tampak berbinar samar; seringai tipis terulas di bibirnya, memahami maksud liciknya.Perlahan, pandangannya menyapu seluruh ruangan. Para bangsawan yang tadi begitu gemar bergosip kini tampak menegang pucat.“Hmm…” gumam Adrian pelan.Pria itu memiringkan kepala sedikit, seolah benar-benar sedang mempertimbangkan jawabannya dengan serius.Keheningan mencekik menyergap ruangan.Tidak ada satu pun wanita bangsawan yang berani bersuara sekarang. Bahkan Selena pun hanya bisa diam, memperhatikan Adrian dengan sorot mata yang sulit dibaca.Adrian menoleh pada Irene. Senyuman merekah di bibirnya. “Bagaimana jika kita mengumumkannya hari ini?”Irene bungkam. Bibirnya terkatup rapat.Untuk sesaat, Irene ingin sekali memukul kepala Adrian.Pria gila.Mengabaikan ucapan Adrian sepenuhnya demi menyelamatkan sisa kewarasannya, Irene segera menoleh pada Viscountess Elner.“Nyonya,” ujarnya tenang meski ujung bibirnya terasa berkedut menahan kesal, “saya dan Yang Mulia pamit lebih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status