Home / Mafia / Menikahi Gadis Malam / Kilas Balik Alin

Share

Kilas Balik Alin

Author: Aisyah Ahmad
last update publish date: 2025-10-29 14:17:19

"Buk... Ibuk... Assalamu'alaikum!!!" Gadis cantik berambut lurus tergerai itu berlari dengan girang mendekati ibunya yang tengah memasak. Ia baru pulang sekolah, meski jam menunjukkan masih pukul sepuluh pagi.

"Loh, kok sudah pulang, Al? Baru jam sepuluh kan?" tanya Bu Hanum sembari mengulurkan tangannya. Alin pun segera menyambut dan mencium punggung tangannya dengan takdzim.

"Iya, Bu. Kan sudah tidak ada pelajaran. Oh ya bu, coba lihat!!! Nilai Alin sudah keluar bu!!!" ucap Alin lagi dengan mata berbinar.

"Wah... Alhamdulillah... Anak ibu pintar sekali," ucap Bu Hanum kagum.

"Bagus? Untuk apaaaa punya nilai bagus, kalau nggak bisa buat nyari duit!" Ayah Alin, Pak Rustam baru saja masuk ke dapur dan menimbrung dengan kalimat menohok, membuat suasana yang semula riang menjadi hening.

Seketika Alin pun terdiam.

"Kopi, buk!" ucap Pak Rustam sembari meletakkan gelas kopinya dengan kasar.

Bu Hanum meraih gelas itu, sambil berbicara, "Siapa bilang nilai bagus tidak ada gunanya. Nilai bagus kan bisa dengan mudah, melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi."

"Alaaaah, perempuan sekolah tinggi-tinggi mau ngapain!!! Kalau laki-laki, masih bisa dibanggakan, tuh seperti kakakmu, seorang TNI!" ucap Pak Rustam.

Suasana dapur seketika berubah dingin. Alin menunduk, matanya berkaca-kaca. Rasanya sesak di dadanya mendengar perkataan ayahnya. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan tangis. Bu Hanum, dengan lembut, mengusap lengan Alin. "Al, ndak usah dimasukin hati, omongan ayahmu itu ya. Ayah lagi capek, sayang. Nilai bagusmu itu sangat membanggakan, kok."

Bu Hanum kemudian menuangkan kopi untuk suaminya, gerakannya tenang namun terasa ada getaran tertahan. "Sudahlah Mas, kalau kamu tidak bisa bicara yang baik-baik pada Alin, lebih baik kamu diam saja."

Pak Rustam mengaduk kopinya, raut wajahnya masih tampak tegang. "Bukannya begitu, Hanum. Aku hanya ingin dia realistis. Dunia ini keras. Nilai bagus saja tidak cukup untuk menjamin masa depan. Kakaknya saja, jadi TNI, itu baru bisa diandalkan. Kalau perempuan... Mau ngapain sekolah tinggi-tinggi, kalau pada akhirnya juga jadi istri orang!" ucap Pak Rustam, lantas ia pun berlalu. Bu Hanum kembali mendekati Alin dan mengelus lengannya, "Kamu jangan berkecil hati, ya nak. Pencapaianmu ini sudah sangat membanggakan untuk Ibu, kok."

Sejak saat itu, Alin sudah tidak lagi menunjukkan hasil penilaian akhir sekolahnya, apa pun itu hasilnya. Toh, menurut Ayahnya itu tidak penting! Walaupun begitu, Alin tidak patah semangat. Ia selalu belajar dengan giat agar mendapat nilai yang bagus. Dan salah satu cita-citanya, bisa melanjutkan ke kuliah di universitas impiannya.

"Al... Kok tumben, Alin belum cerita ke Ibuk? Bukannya hari ini pengumuman penerimaan perguruan tinggi ya?" tanya Bu Hanum sembari meletakkan mangkok-mangkok kotor di wastafel. Sementara Alin, tampak masih sibuk dengan adonan kuenya.

"Hem, iya bu," jawabnya singkat.

"Loh, kok nggak semangat gitu? Kenapa? Sini cerita,"

"Nggak apa-apa bu. Biasa aja. Lagian, apa pentingnya. Toh, enggak penting kan," jawab Alin. Kemudian ia bergerak ke arah oven, meletakkan adonan kue yang baru saja ia tuang ke loyang. Hari ini, pesanan lumayan dari bu RT untuk lamaran anaknya, ada 15 kotak bolu pisang. Dengan sigap, Alin pun mengerjakannya.

"Sudah, sini... biar ibu yang lanjutkan. Kamu istirahat gih, sudah sejak pagi tadi kamu sibuk ngurusin ini. Sini, biar ibu lanjut,"

"Ya, Bu." jawab Alin. Ia pun berlalu ke kamarnya, dan hanya ditutup kain gorden seperti biasa.

Rumahnya berbahan dari kayu, beralaskan lantai semen yang belum dipasang keramik. Ia pun merebahkan tubuhnya ke kasur single size.

Jam berputar terasa lambat. Beberapa kali, Alinel tampak memeriksa ponselnya, menunggu kabar dari salah satu universitas yang didaftarinya.

Setelah beberapa saat berlalu, tiba-tiba terdengar notifikasi dari ponsel jadulnya.

Alin segera meraih ponsel di nakas, sebuah pesan yang kali ini membuat matanya melotot sempurna,

"Hah? I Ibuk... Ibuk...Buk...!!!" teriaknya sambil berlari ke dapur dengan membawa ponselnya. Bu Hanum pun terkejut, ia segera meletakkan adonannya, dan berlari mendekat ke Alin.

"Ada apa sih, Al? Kok teriak-teriak?"

"Ini bu, Alin... Alin diterima bu. Alhamdulillah. Aline lolos di Universitas XX!!!"

"Alhamdulillah!!! Selamat ya, Nak. Akhirnya impian kamu terkabul." ucap Bu Hanum bangga, sembari memeluk Alin.

"Memangnya siapa yang mengizinkan masuk kuliah?" suara berat dari arah luar itu mengagetkan mereka. Keduanya pun melerai pelukan.

"Ayah... Alin... Alin mau kuliah, Yah. Alin keterima di Universitas XX," ucap Alin.

"Iya, tapi siapa yang mengizinkan kamu kuliah? Nggak ada, nggak ada! Nggak ada kuliah-kuliah!"

"Tapi Yah..."

"Memangnya kuliah itu murah? Hah? Duit siapa kamu pakai kuliah, itu? Kamu lihat, buat makan sehari-hari saja, pontang-panting begini, sok-sokan mau kuliah, mau dibayar pakai apa?!"

"Ayah jahat! Ayah nggak adil!!! Mas Adit bisa ayah sekolahkan TNI, kenapa Alin enggak? Lagian kuliah Alin gratis, Yah. Beasiswa prestasi."

"Gratis pendidikannya. Biaya hidupnya?! Biaya hidup di kota mahal, Al... Sudahlah, tak usah kuliah-kuliah segala. Kalau Masmu... Dia laki-laki. Patutlah sekolah tinggi! Kamu sekolah tinggi percuma, buang-buang duit, buang-buang waktu, ujung-ujungnya nikah juga, jadi istri orang!"

"Astagfirullah, Mas! Sudahlah, jangan ngomong gitu sama Alin. Apa salahnya kita izinkan Alin kuliah, toh dia pakai beasiswa kan. Dia bisa sambil frelance juga."

"Nah... Ini nih... Nih, contoh ibumu tuh! Dia kuliah tinggi-tinggi, kuliah belum kelar... keluar!"

"Mas, cukup!!!"

Alin mengusap air matanya dengan kasar lalu ia kembali ke kamar.

Dari dapur, ayahnya Alin masih terus mengomel. Suaranya yang lantang itu masih terdengar dari kamar Alin, sehingga ia terpaksa menutupi telinganya dengan bantal. Tapi walaupun begitu, masih saja terdengar.

"Kamu lihat itu, Si Hesti! Anaknya Agus! Dia bisa sukses tuh tanpa kuliah! Dia kerja di kota, sekarang sudah bisa bangun rumah tingkat tiga! Kos-kosannya berderet-deret, rukonya di mana-mana! Dia nggak kuliah. KERJAAA!"

"Ayah baru ngobrol kemarin sama si Agus itu. Pas Hesti juga lagi pulang. Dia di rumah. Ayah bilang kalau kamu mau ikut kerja sama dia! Pergilah kamu ke kota, kerja bareng Hesti biar kamu sesukses Hesti tuh!"

"Yah, tapi Alin mau kuliah dulu, Yah! Nanti sambil Alin kuliah, Alin akan cari kerja part time kok,"

"ENGGAK! AYAH NGGAK SETUJU!"

"Pokoknya, besok kamu harus bareng Hesti."

"Tapi Yah!!!"

"APA? Masih mau ngebantah! Memang bener-bener kamu ya, tidak tahu terima kasih! Dibesarkan, dirawat, disekolahkan sampai SMA, masih ngelunjak! Memangnya biaya ngerawat kamu itu sedikit?!"

"Ya tapi kan itu juga kewajiban orang tua, Yah."

"Heh! Asal kamu tahu, ya..."

"Mas!!! Cukup!!!"

"Sudah, sudah... Sudah jangan didengerin lagi ayah ya, nak. Nanti, nanti biar ibu yang ngomong sama ayahmu." ucap Bu Hanum sembari mendekati Alin yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Lalu Bu Hanum menuntunnya masuk kamar.

Di dalam kamar, Alin menangis tersedu-sedu di pangkuan ibunya.

Sementara itu, Pak Rustam dengan kesal meninggalkan rumah, menuju warung tempat ngopi seperti biasa.

Malam pun tiba, suasana rumah semakin hening, apalagi setelah perdebatan siang tadi. Alin juga tak keluar kamar, bahkan ia melewatkan makan malamnya bersama ayah dan ibu.

Ia masih mengurung diri, merenung dan entahlah. Ia tak bisa berpikir dengan jernih.

Waktu pun berlalu cepat, menit berganti jam, dan malam pun berganti siang.

Siang ini, Alin sedang merapikan kamar saat tiba-tiba Bu Hanum masuk ke kamarnya.

"Gimana, Bu?" tanya Alin dengan nada lemas. Bu Hanum pun duduk di tepi ranjang, dan diikuti oleh Alin.

"Maaf ya, Al. Ibu gagal membujuk ayah," ucap Bu Hanum. Dan seketika, runtuhlah pertahanan Alin. Ia kembali menangis, dan kini ia sudah tidak ada harapan lagi dengan impiannya.

"Al, maaf... Ibu benar-benar minta maaf, telah mematahkan impianmu."

"Sudahlah, Bu. Mungkin memang sudah takdir Alin begini," ucap Alin dengan suara bergetar. Bu Hanum pun tak kuasa menahan tangis. Ia juga tidak bisa apa-apa karena semua keuangan dipegang oleh suaminya.

"Permisi! Assalamu'alaikum!!!!" ucap seorang wanita dari luar pintu. Bu Hanum segera bangkit dan membukakan pintu.

"Eh, Hesti??? Ada apa ya?" tanya Bu Hanum.

"Waaaah, Nak Hesti sudah datang saja nih!" ucap Pak Rustam dari arah kamarnya. Ia tampak sumringah menyambut kedatangan Hesti.

"Ayo, duduk dulu yuk, masuk! Sebentar, Paman panggilkan Alin."

"Al.... Alin!!! Alin!!!"

Alin akhirnya keluar kamar, walau matanya tampak sembab dan merah.

"Nih, Hesti sudah di sini. Kamu siap-siap gih, berangkat bareng Hesti. Hari ini."

"Yah, tapi Yah?"

"Jangan malu-maluin ayah, kamu ya!" hardik Pak Rustam.

Akhirnya, dengan berat hati Alin menurut. Ia akhirnya pergi, dengan memandang wajah ibunya yang penuh dengan rasa bersalah.

Dan disinilah, Alin sekarang.

"Heh!!! Buruan ditandatanganin!!! Kok malah melamun sih!!!" sentak Rizan. Seketika, Alin pun tersadar dari lamunannya.

"I-i iya, Pak. Disini?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menikahi Gadis Malam   Keributan dirumah lama

    Matahari siang menyengat tanpa ampun, memantulkan hawa panas di atas aspal jalanan menuju desa tempat Alin dibesarkan. Sebuah mobil hitam mewah yang dikendarai oleh Anton melaju tenang, membelah jalanan kampung yang berbatu. Di kursi belakang, Alin duduk dengan jemari yang bertautan erat. Di sampingnya, Sari sesekali melirik dengan tatapan cemas.​Mobil akhirnya berhenti di sebuah pekarangan luas yang gersang. Rumah kayu reyot dengan cat yang sudah mengelupas di sana-sini berdiri di hadapan mereka. Rumah yang dulu menjadi saksi bisu bagaimana Alin dipaksa melepas seluruh impiannya.​Alin menarik napas dalam-dalam. "Pak Anton, Mbak Sari, tunggu di mobil saja ya. Saya tidak akan lama."​"Tapi, Nyonya, Tuan Rizan berpesan agar—"​"Saya cuma menemui orang tua saya, Pak Anton. Di sini aman," potong Alin lembut namun tak terbantahkan. Ia membuka pintu mobil, melangkah turun ke atas tanah berdebu yang terasa begitu akrab sekaligus asing.​Baru saja Alin berjalan beberapa langkah menuju pintu

  • Menikahi Gadis Malam   Panggilan telphone dari Ayah

    Sari yang menyadari perubahan drastis pada raut wajah Alin langsung menghentikan suapannya. Ketakutan yang terpancar dari mata bening Alin terlalu nyata untuk diabaikan.​Ponsel itu masih bergetar, bergerak beberapa milimeter di atas meja, seolah mendesak untuk segera diangkat. Harapan kecil sempat membubung di dada Alin. Apakah Ibunya menelepon untuk menanyakan kabarnya? Apakah Ibunya merindukannya setelah perpisahan menyakitkan di gedung pernikahan kemarin?​Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alin menggeser layar ponselnya. Ia menempelkan benda pipih itu ke telinga.​"Ha—halo, Bu?"​"Alin! Akhirnya kamu angkat juga!"​Bukan. Itu bukan suara lembut Bu Hanum yang penuh kekhawatiran. Suara di seberang sana adalah suara berat, serak, dan penuh tuntutan milik Pak Rustam. Jantung Alin mencelos jatuh. Kebahagiaan semunya menguap seketika.​"Ayah...?" ucap Alin, meremas daster lembutnya di bawah meja. "Ada apa? Ini ponsel Ibu, kenapa Ayah yang—"​"Halah, tidak usah cerewet! Ibu kamu sedang

  • Menikahi Gadis Malam   Kartu Hitam untuk Alin

    Beberapa menit berlalu. Hening kembali turun. Alin masih menatap piringnya yang sudah mendingin, tanpa selera. Sendok di tangannya berhenti bergerak sejak tadi.Langkah kaki terdengar lagi.Alin mendongak pelan. Rizan kembali muncul di ambang pintu. Ia berjalan mendekat, namun tidak mengambil tempat duduknya. Ia hanya berhenti di sisi meja, berdiri tegap sambil mengeluarkan sebuah kartu dari saku jasnya.Hitam. Polos. Berkilau.Tanpa kata-kata pembuka, kartu itu diletakkan tepat di depan Alin.“Untukmu,” ucap Rizan dingin.Alin menatap kartu itu, lalu menatap Rizan. “I-Ini… apa?”“Kamu bisa pakai itu untuk keperluanmu,” jawabnya singkat. “Apa pun yang kamu mau.”Alin terkesiap kecil. Tangannya ragu saat menyentuh kartu itu. Sebuah kartu berwarna hitam yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.Rizan melanjutkan tanpa jeda, nada suaranya tetap tenang. Tapi tak memberi ruang untuk membantah.“Kalau kamu bosan di rumah, kamu boleh keluar.”Alin mengangkat wajahnya cepat. Ada kilatan harapan

  • Menikahi Gadis Malam   Penjara Sunyi

    "Astaga ! Apa aku kesiangan ?!" Pagi datang tanpa suara. Tak ada alarm. Tak ada ketukan pintu. Hanya cahaya pucat yang menyelinap lewat celah tirai tebal, jatuh perlahan di wajah Alin. Matanya terbuka, tapi tubuhnya masih kaku. Beberapa detik ia tak bergerak, seolah takut kenyataan akan menyergap begitu ia benar-benar sadar. Lalu ingatannya kembali utuh. Akad. Tangis. Ibu yang pergi. Dan kamar ini. Alin bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang. Dan... "Hah ??? Tunggu !!!" Gaun pengantinnya sudah diganti. Kini ia mengenakan daster lembut berwarna pucat. "Bukannya semalam aku... Siapa yang mengganti pakaianku ? Jangan-jangan... nggak. Nggak. Nggak mungkin lah !" Ia segera membuang pikirannya jauh-jauh. Semuanya terasa terlalu rapi. Terlalu sunyi. Ia menoleh ke arah sofa. Kosong. Tak ada Rizan. Entah mengapa, perasaan yang muncul bukan lega, melainkan… asing. Seperti bangun di rumah orang lain, tanpa tahu batas mana yang boleh ia lewati. Alin berdiri, melangkah

  • Menikahi Gadis Malam   Pernikahan Sang Pewaris

    "Mas, Kamu yakin mau jadi Wali nikah Alin ?" Setelah oerdebatan yang lumayan panjang dan alot. Akhirnya Pak Rustam dan Bu Hanum kembali ke dalam gedung itu. Semua hadirin kembali menatap dua manusia yang kini berjalan mendekat ke meja akad. Sementara Alin, matanya masih berkaca-kaca sembari menatap sang ibu, seolah meminta pertolongan. “Maaf telah menunggu. Saya selaku ayah Alin, dengan ini mewakilkan hak perwalian nikah kepada Bapak Hakim.” "AYAH ???!!" Alin shok. Dia kaget Ayahnya mengatakan itu. "Ayah ? Ada apa ini ? Kenapa ? Saking tidak sayangnya kah Ayah kepada Alin, sampai Nikah pun, Ayah tidak mau jadi wali Alin ?" tanya Alin dengan suara bergetar. Awalnya, ia sedih karena espektasi Alin, ibunya membatalkan pernikahan itu, tapi lebih sedih dan kecewa lagi, Dalam pernikahan yang bukan kemauannya itu Ayahnya juga tak mau jadi wali. "Kenapa, Ayah ?" Bu Hanum segera berjalan mendekati Alin dan berusaha menenangkan Alin. "Bu, Ayah kenaoa sih bu, kalau memang kalian tidak m

  • Menikahi Gadis Malam   akad yang tertunda

    "Anda mau kemana ? " tanya seorang pria berpakain hitam dan nerbadan tegap, membuat Bu Hanum dan Pak Rustam terperanjat."Eum... saya mau caei Alin." kawab Bu Hanum singkat."Acara akan segera dimulai. Tuan Rizan meminta kepada saya untuk membawa anda kelokasi sekarang.""Hah ? T-tapi...""Sudahlah, Bu. Ayo," Ucap pak Rustam. Akhirnya Bu Hanum pun nurut.Ballroom itu tidak terlalu ramai, tapi jelas mewah.Dekorasinya didominasi warna putih kabut dan abu lembut, dengan sentuhan denim gelap di beberapa sudut ruangan. Kesannya modern, rapi, tapi tetap punya aura dingin yang elegan. Lampu-lampu putih kebiruan dipasang redup, membuat ruangan terasa tenang dan tidak menyilaukan. Tidak ada bunga berlebihan.Hanya jajaran anggrek putih, hydrangea biru gelap, dan beberapa rangkaian mawar abu keperakan di sepanjang lorong utama. Aromanya lembut, mahal, dan tidak menusuk hidung. Musik violin mengalun pelan, seperti soundtrack film classy. Para tamu. sekitar lima puluh orang saja, berdiri rapi

  • Menikahi Gadis Malam   Makan malam pertama

    Alin tak sadar betapa lama ia memperhatikan Rizan dari balik kaca. Pemandangan itu seperti memaku langkahnya. Ia baru tersadar ketika salah satu pria hitam menoleh ke atas… tepat ke arah jendela kamar. Alin refleks menutup tirai separuh. Tapi sayangnya, gerakannya terlambat. Rizan juga ikut mene

  • Menikahi Gadis Malam   Siapa Dia...

    Alin berdiri di tepi jalan, tubuhnya seperti membeku. Mobil yang membawa kedua orang tuanya makin menjauh hingga hanya tinggal titik kecil di kejauhan.“Ibu…”Suara itu pecah. Seolah seluruh kekuatan di dalam dirinya ikut pergi bersama mobil itu.Beberapa detik kemudian, Alin menarik napas panjang.

  • Menikahi Gadis Malam   Negosiasi

    "Ibuuuu, ya Allah Ibu, Ayah, kok bisa ada di sini?""Terus... Ini apa-apaan, kenapa kalian pegangin ibu saya seperti ini! Ada apa ya? Kalian ini siapa?" tanya Alin panik. Para lelaki berbadan kekar, berseragam hitam-hitam itu masih memegangi erat Ayah dan ibu Alin, sampai akhirnya Rizan mengeluark

  • Menikahi Gadis Malam   Dalam jerat Takdir

    ***Jam menunjukkan pukul 14.30. Sinar matahari sore menyelinap melalui celah-celah gedung pencakar langit, menyorot debu-debu yang melayang di udara kantor PT Maple Atmajaya. Suasana kantor yang biasanya ramai dengan deru mesin ketik dan obrolan ringan, kini terasa lebih tenang. Sebagian besar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status