Mag-log in"Di jidatmu!!! Ya jelas lah di situ! Kamu sekolah kan? Bisa baca kan? Di situ sudah jelas, letak dimana kamu tanda tangan!" ucap Rizan lagi.
Alin segera mengusap air matanya dengan kasar, lalu segera membubuhkan tanda tangan di atas materai itu. "Bagus. Kalau gitu kita akan menikah besok!" "Hah? Besok?" "Kenapa? Kamu mau balik ke dalam sana lagi?" "Tapi Pak... Ayah ibuku... Belum tahu," "Gampang!" "Jalan!" "Baik tuan!" Mobil hitam itu melaju mulus di jalan raya. Di dalamnya, Rizan dan Alin duduk berdampingan di kursi belakang, dipisahkan oleh rasa canggung. Lampu-lampu kota berkelap-kelip di luar jendela, membentuk labirin cahaya yang membingungkan. Di dalam mobil, Rizan dan Alin terkurung dalam keheningan malam. Kegelapan di luar seakan merefleksikan kegelapan yang melingkupi hati mereka. Hanya cahaya redup dari lampu dalam mobil yang menerangi wajah mereka yang tampak lelah dan tegang. Suara mesin mobil dan deru ban di aspal menjadi satu-satunya penanda perjalanan mereka menuju rumah Rizan. Sementara Sopir, fokus pada jalanan yang mulai sepi. Alin sesekali melirik ke luar jendela, menyaksikan bayangan pohon-pohon yang bergoyang ditiup angin malam. Kegelapan malam seolah memperbesar jarak antara dirinya dan Rizan. Tidak ada kata-kata yang terucap, hanya tatapan kosong yang sesekali tertuju ke arah Rizan, lalu kembali ke kegelapan di luar jendela. Sesekali juga ia tampak mendengus. Setelah beberapa saat melintasi jalanan sepi, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang menjulang dengan tampilan sangat modern. Sebuah mansion berdesain kontemporer milik seorang CEO besar. Fasadnya didominasi kaca gelap, baja, dan panel beton halus. garis-garis tegas membentuk siluet yang dingin dan hampir tidak ramah. Lampu-lampu luar menyala terukur, menyorot aksen arsitektural. Pagar setinggi badan dengan akses biometrik memberi kesan bahwa di baliknya ada kontrol dan jarak. Sopir membuka pintu mobil, dan Rizan melangkah keluar terlebih dahulu, diikuti Alin yang masih ragu. Ia menatap bangunan itu. sebuah simbol kemewahan yang terbungkus ketelitian dan jarak. Deretan pohon pilar dipangkas rapi, jalan masuk terbuat dari lempengan batu hitam, dan beberapa lampu tanah yang tersembunyi memantulkan siluet kaca. Keduanya melangkah menuju pintu. Begitu memasuki mansion, sensasi berbeda menyambut. Udara yang bersih, ber-AC, dan suara langkah yang meredam. Pintu otomatis menutup di belakang mereka dengan bunyi halus. Lobi adalah atrium berlangit-langit tinggi, dindingnya lapang, permukaannya halus seperti galeri seni korporat. Furnitur berdesain tegas dan fungsional ditempatkan jauh dari ornament berlebihan. Lampu-lampu tersembunyi memberi pencahayaan yang dingin tetapi presisi. Rizan melirik ke arah Alin, seolah ingin mengucapkan sesuatu, namun kata-kata itu terhenti di ujung lidahnya. Ruangan luas dengan atrium dua tingkat dan lampu gantung modern menciptakan suasana megah yang steril. Alin tertegun. Ia merasa kagum dan sedikit kewalahan. Seperti berdiri dalam galeri perusahaan besar, bukan di rumah yang ramah. "I i i ini... Beneran rumah Pak?" "Khhh... Ya menurutmu, apa ini sebuah kandang babi?" "Ehehe. Ya enggak gitu, maksudnya. Ini rumah... Tapi... Kayak markas gitu. Ya Allah... Ini... Ini beneran, besar dan mewah sekali... aku nggak sedang bermimpi kan?" "Aww... Sakit!!!" "Nah... sakit kan. Berarti nyata! Ya udah sana ke atas duluan. Saya masih ada urusan!" ucap Rizan lalu melenggang pergi. "Loh loh ey... Pak.. Pak!!! Duh... Gimana sih ini. Aku kan belum tahu jalannya. Mana pintunya banyak sekali." ucap Alin. Lantas ia pun terus berjalan maju sambil celingukan. Ia berjalan seolah bingung, menyusuri lorong-lorong yang serba minimalis dan bersudut. Ada banyak pelayan yang berdiri diam, tapi Alin takut bertanya. Apalagi melihat tatapan-tatapan mereka yang seolah mengintimidasi. Alin melangkah lebih dalam ke dalam rumah besar milik CEO itu, matanya terbelalak melihat setiap sudut yang menakjubkan. tapi menakjubkan dalam kesan modern yang dingin. Dinding-dindingnya dipasangi karya seni kontemporer dan instalasi cahaya. beberapa panel dinding menyembunyikan layar interaktif kecil dan panel kontrol keamanan. Materialnya mewah namun tanpa hiasan. Marmer hitam, kayu maple ringan, baja tahan karat, dan permukaan kaca satin. Bukannya merasa nyaman, Alin malah merasa seolah berada di dalam kantor pusat perusahaan besar. elegan tapi jauh dari kehangatan rumah. “Wow, ini luar biasa,” gumamnya, sambil menyentuh sebuah instalasi patung logam yang ramping di sudut ruangan. Patung itu dingin saat disentuh dan tampak seperti karya design yang bernilai tinggi. Namun, rasa ingin tahunya segera tergantikan oleh kebingungan. “Di mana sih Rizan? Kenapa dia pergi begitu saja dan meninggalkanku sendirian?” pikirnya sambil melihat sekeliling. Ia mendapati ada beberapa pintu kaca dan panel otomatis yang tampak mirip, membuatnya semakin bingung. "Ck. Terus, ini yang mana... Kamarnya yang sebelah mana... Semua pintu sama, dan... masa iya harus ku buka satu persatu?!" Alin melanjutkan langkahnya, mencermati setiap pintu yang ia lewati. Beberapa pintu berkaca buram dengan akses kartu, sementara yang lainnya memiliki pegangan yang hampir tersembunyi. Ia mencoba membuka salah satu pintu, tetapi terkunci. “Hmm, mungkin yang ini…?” Ia beralih ke pintu berikutnya, tapi sama saja. Saat ia berputar-putar, matanya tertuju pada sebuah karya seni digital besar yang tergantung di salah satu dinding. Sebuah panel layar yang menampilkan potret seorang wanita bergaya fotorealistik, ditempatkan seperti mahakarya di sebuah galeri perusahaan. Potret itu tampak menatap tajam ke arah Alin. “Eh?” Alim mengerutkan kening, merasa ada yang aneh. Ia mendekati panel itu dengan hati-hati. “Kok… kok kayaknya…?” Tiba-tiba, Alin merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia melihat dengan jelas, mata wanita di potret digital itu bergerak. sebuah animasi halus, atau mungkin sensor yang bereaksi pada gerak tubuhnya? Layar itu menyesuaikan sudut tatapan, membuatnya terlihat seolah mata dalam potret mengikuti setiap langkah Alin “Aaaaa!!!” Alin berteriak histeris, tubuhnya gemetar ketakutan. Ia mundur beberapa langkah, jantungnya berdebar kencang. “Ada apa teriak-teriak?” Rizan muncul dari balik salah satu lorong, matanya mengerut heran. Ia menepuk bahu Alin. membuat gadis itu berbalik badan dengan kaget. “Aduh!” Alin tersentak, ia langsung memeluk Rizan erat-erat. “Pak Rizan, saya takut!” Rizan sedikit kesal, “Ada apa teriak-teriak? Dan... Kamu ngapain, di sini? Kamarmu di sana, ayo!!!" ucap Rizan sembari menarik tangan Alin menuju salah satu ruangan di atas. Alin berjalan sambil mengamati dinding sekitar yang menurutnya terasa asing dan sedikit mengintimidasi. “I… itu… tadi aku lihat gambarnya bergerak!” ucap Alin dengan suara bergetar. Rizan menggeleng, “Jangan ngaco! Kamu pasti lelah makanya halu. Ayo, cepatlah!” Alin hanya menurut. Tiba di salah satu pintu ruangan, Rizan membawa Alin masuk. Di dalam kamar itu, suasananya sangat kontras dengan area publik yang penuh instalasi. ruang pribadi ini terasa lebih sederhana, tetapi tetap minimalis dan dingin. Ada jam dinding besar bergaya modern dan satu foto keluarga berukuran kecil terletak di atas nakas; selain itu furnitur terbuat dari kayu jati yang diproses halus, dipadukan dengan garis-garis minimalis. semua dipilih agar tetap rapi dan fungsional, tanpa dekorasi sentimental berlebih. "Kamu tidurlah di sini, biar aku di kamar lain! Kalau kamu lapar, pencet saja bell, makanan akan datang!?" "I i iya, Pak Rizan." "Panggil Rizan saja!" "Iya, Pak eh Zan." ucap Alin gugup. Rizan hanya merespon dengan menoleh saja dengan wajah datarnya, kemudian ia pun melangkah pergi. "Eum... Rizan!" "Ya?" "Rumah sebesar ini... Apa kamu tinggal sendiri? Mama atau papa kamu..." Tidak sempat melanjutkan pertanyaannya, Rizan langsung berlalu tanpa menjawab sepatah kata pun, dan menutup pintu ruangan itu dengan tegas. "Duh... Apa pertanyaanku tadi, salah ya?" Alin menghela nafas, lalu duduk di tepi ranjang sembari meraih sebuah foto kecil, dan di dalam bingkai foto itu, terdapat gambar seorang wanita paruh baya, foto Rizan waktu masa remaja, dan seorang gadis entah siapa. "Sebenarnya dia tampan sih, tapi...." --- Rizan Atmajaya, seorang pemuda dengan aura dingin yang menyelimuti dirinya. Tatapan matanya tajam, seakan mampu menembus kedalaman jiwa seseorang yang menatapnya. Tatapan matanya tajam, seakan mampu menembus kedalaman jiwa seseorang. Senyumnya jarang tersungging, dan ketika muncul, terasa hambar. Walaupun begitu, sebenarnya dia pria yang baik dan tulus. Parasnya sangat tampan dan menawan, Ia jiga sangat kharismatik, persis seperti mendiang kakeknya. Ia adalah putra tunggal Nareswati Atmajaya, putri ketiga dari Harun Atmajaya, seorang pengusaha kawakan yang namanya melegenda di dunia bisnis. Kehidupan Rizan dipenuhi kemewahan. Ia tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi kemewahan dan fasilitas terbaik. Namun, di balik itu semua, Rizan memiliki beban yang berat di pundaknya. Ia adalah pewaris tunggal dari warisan besar yang ditinggalkan oleh sang kakek, Harun Atmajaya. Nareswati, sang ibu, mewarisi lebih dari 50% saham di salah satu perusahaan terbesar di negara tetangga, serta menjadi satu-satunya pewaris PT Maple Syrup Atmajaya beserta lahan dan kebunnya yang luas. Warisan tersebut tidak hanya membawa kemewahan, tapi juga konflik yang tak terelakkan. Saudara-saudara ibu Rizan, anak-anak dari Harun Atmajaya yang lain, tidak setuju dengan wasiat sang ayah. Mereka merasa bahwa warisan tersebut seharusnya dibagi rata di antara mereka, nah kan, mereka lah yang seharusnya mendapat bagian terbanyak, karena laki-laki. Bukan hanya jatuh ke tangan Nareswati dan Rizan. "Agrh!!!! Tidak bisa!!! Ini tidak boleh terjadi. Seharusnya aku! Aku yang seharusnya jadi Pewaris Sah, pewaris tunggal, bukan Nareswati!!! Memangnya apa kontribusi Nareswati, hingga mendapatkan hampir seluruh harta Ayah?!" ucap Faruq tak terima. "Ya Mas! Aku setuju! Seharusnya kan kamu, dan anak kita yang harusnya sekarang menjadi Pemilik perusahaan itu!" "Mama sama Papa tenang saja, aku... Akan merebut tahta itu dari tangan Rizan!!! Lihat saja!"Restoran privat bernuansa fine dining di lantai teratas hotel bintang lima itu begitu tenang. Alunan piano klasik membelah keheningan di ruangan khusus yang sengaja dipesan Rizan. Di atas meja, hidangan steak wagyu hangat sudah tersaji rapi.Rizan duduk tegap di seberang Alin. Pria itu sudah melepaskan jas hitamnya, kini hanya mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung rapi hingga siku. Jemari panjangnya terlihat mahir memotong daging di piringnya sendiri.Alin memperhatikan gerakan suaminya itu. "Mas Rizan masih kesal ya, gara-gara aku panggil 'suamiku' tadi di lorong?"Rizan tidak langsung menjawab. Ia menukar piring steak miliknya yang sudah dipotong rapi menjadi dadu-dadu kecil dengan piring milik Alin yang belum tersentuh."Makan," ucap Rizan datar, mengabaikan pertanyaan Alin sambil meraih piring yang belum dipotong. "Jangan banyak bicara kalau sedang di depan makanan."Alin tertegun menatap piring di hadapannya. Daging steak itu sudah terpotong sangat rapi, memudahkan
Di ruang kerja CEO yang hening, Alin duduk bersila di atas sofa kulit. Jemari lentiknya sibuk membalik-balik berkas ringkasan akuntansi yang dibawakan Anton. Keningnya berkerut fokus, bibirnya sesekali bergumam kecil menghafal istilah-istilah laporan keuangan. Rizan duduk di balik meja kerjanya. Matanya berpura-pura menatap layar laptop, tetapi konsentrasinya buyar total. Tatapan pria itu berulang kali mencuri pandang ke arah sofa. Dalam hatinya, Rizan masih tidak menyangka. Gadis delapan belas tahun yang awalnya ia duga hanya akan menjadi beban di tengah intrik Atmajaya, ternyata memiliki otak yang sangat encer. Binar matanya yang jujur dan keberaniannya saat membungkam Felix tadi terus berputar di pikiran Rizan. Ada rasa bangga yang aneh, yang makin sulit Rizan sangkal. Rizan menekan tombol intercom di mejanya, memanggil sekretaris kepercayaannya. Tak sampai satu menit, pintu diketuk pelan dan Anton melangkah masuk. "Anton," panggil Rizan setengah berbisik saat Anton suda
Ruangan mendadak hening.Senyum meremehkan yang tadinya menghiasi wajah Felix mendadak luntur. Pupil matanya membesar, terkejut setengah mati. Ia tidak menyangka gadis delapan belas tahun yang dikira "orang desa tidak mengerti apa-apa" ini bisa menemukan selisih angka sekecil itu hanya dalam sekali pandang."A-apa?" Felix tertawa hambar, mencoba menutupi kegugupannya yang mendadak muncul. "Ibu Alin pasti salah lihat. Itu cuma penyesuaian kurs mata uang asing antara euro dan rupiah—""Kurs mata uang asing?" potong Alin tenang, namun suaranya tegas. Ia menggeser lembaran verifikasi bank ke depan Felix. "Di sini jelas tertulis transaksinya dalam mata uang dolar Amerika, Pak Felix. Selisihnya hampir dua miliar rupiah. Apakah penyesuaian regulasi di Jerman sebiaya itu?"Felix membisu. Peluh dingin mulai terbit di pelipisnya.Rizan yang sejak tadi menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran kini menegakkan tubuh. Sorot mata hitamnya menajam, memancarkan aura dingin beracun yang sanggup
Suara mesin mobil Rolls-Royce hitam membelah jalanan ibu kota yang padat. Di dalam kabin yang senyap, Rizan duduk tegap sambil membaca laporan di tabletnya. Ia mengenakan setelan jas hitam elegan yang makin mempertegas auranya sebagai pemimpin tertinggi PT Maple Syrup Atmajaya.Di sampingnya, Alin duduk dengan gaun formal berwarna krem pastel yang sederhana namun anggun. Ia sesekali melirik profil samping wajah Rizan. Pria itu tampak sangat fokus, seolah kejadian semalam di depan kamar tidak pernah terjadi."Masih mau menatap saya seperti itu?" suara Rizan memecah keheningan tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet.Alin tersenyum tipis, tidak merasa tertangkap basah. "Muka Mas Rizan hari ini datar sekali. Masih kepikiran omongan aku semalam ya?"Rizan akhirnya mematikan layar tabletnya. Ia menoleh perlahan, menatap Alin dengan mata hitamnya yang tajam."Alin, kita sedang menuju kantor," ucap Rizan dengan nada rendah dan penuh penekanan. "Simpan godaan konyolmu itu untuk di rum
"Bagus. Karena mulai esok... kamu harus berdiri di sampingku sebagai istri seorang Rizan Atmajaya."Kalimat itu menggantung di udara, dingin dan absolut. Alin memberikan anggukan kaku, sebuah penghormatan formal yang ia pelajari dalam beberapa hari terakhir. Ia melangkah keluar dari ruang kerja dengan kepala tegak, meniru langkah tegas Rizan yang tidak pernah ragu.Koridor mansion Atmajaya terasa seperti lorong penjara bagi Alin. Dinding marmer yang dingin, lukisan-lukisan keluarga yang angkuh, dan kesunyian yang menekan. semuanya menuntut satu hal, kesempurnaan.Alin mengeratkan genggaman tangannya. Kuku-kukunya memutih. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan bunyi kunci otomatis terdengar—klik—topeng itu retak.Bruk.Alin tidak mampu lagi menahan beban itu. Tubuhnya merosot jatuh ke lantai, tersungkur di atas karpet beludru yang tebal. Napasnya memburu, paru-parunya serasa diremas oleh tangan tak kasat mata.Isakan tertahan keluar dari bibirnya, pecah menjadi suara tangis yan
Asap tipis dari cangkir espresso hitam milik Rizan membubung pelan di ruang kerja utama mansion Atmajaya. Ruangan bernuansa kayu mahoni gelap dan kaca tebal itu terasa dingin, sepadan dengan aura pria yang sedang duduk di balik meja kerjanya. Rizan menatap dokumen di tangan dengan sorot mata sehitam jelaga. Tidak ada riak emosi di wajahnya yang tegas, hanya ada ketenangan yang justru sangat berbahaya. Di depannya, Anton berdiri tegap dengan sikap sempurna. Sementara Alin duduk di kursi kulit di hadapan Rizan, jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan. Brak. Rizan melempar map cokelat itu ke tengah meja. Suaranya tidak keras, tapi sanggup membuat Alin tersentak kaget. "Bisa jelaskan ini, Anton?" suara Rizan mengalun rendah, berat, dan tanpa ampun. "Delapan Belas tahun tahun lalu, kasus penculikan bayi di rumah sakit swasta kota. Pelakunya buronan," Anton melaporkan dengan nada presisi tanpa cela. "Rustam membeli bayi itu seharga beberapa ratus ribu dari sang p
Alin tak sadar betapa lama ia memperhatikan Rizan dari balik kaca. Pemandangan itu seperti memaku langkahnya. Ia baru tersadar ketika salah satu pria hitam menoleh ke atas… tepat ke arah jendela kamar. Alin refleks menutup tirai separuh. Tapi sayangnya, gerakannya terlambat. Rizan juga ikut mene
Alin berdiri di tepi jalan, tubuhnya seperti membeku. Mobil yang membawa kedua orang tuanya makin menjauh hingga hanya tinggal titik kecil di kejauhan.“Ibu…”Suara itu pecah. Seolah seluruh kekuatan di dalam dirinya ikut pergi bersama mobil itu.Beberapa detik kemudian, Alin menarik napas panjang.
"Buk... Ibuk... Assalamu'alaikum!!!" Gadis cantik berambut lurus tergerai itu berlari dengan girang mendekati ibunya yang tengah memasak. Ia baru pulang sekolah, meski jam menunjukkan masih pukul sepuluh pagi."Loh, kok sudah pulang, Al? Baru jam sepuluh kan?" tanya Bu Hanum sembari mengulurkan tan
"A a ampun Tuan... Jangan, jangan sentuh Alin, Alin mohon..." Wanita berpakaian mini berwarna purple itu berjalan mundur seirama dengan pria berbadan kekar yang melangkah di depannya dengan tatapan penuh nafsu. Pria itu sama sekali tidak menggubris Alin yang tampak ketakutan. Ia terus mendekat, ba







