LOGIN"Aku tahu risikonya, Yang Mulia," jawab Mia dengan nada yang sama tajamnya. "Tapi aku tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu. Aku harus melakukan sesuatu."
Rairu tersenyum tipis, seolah terhibur dengan keberanian Mia. "Aku mengerti, Putri. Kau memang seorang wanita yang kuat dan berani. Itu salah satu alasan mengapa aku memilihmu." Mia menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Kata - kata Rairu terdengar seperti ancaman terselubung. "Kalau begitu, aku tidak akan menghalangimu," kata Rairu, "Tapi aku mohon padamu, berhati - hatilah. Aku tidak ingin kehilanganmu sebelum kita menikah." "Aku akan berhati - hati, Yang Mulia," janji Mia, meskipun ia tahu bahwa ia tidak bisa mempercayai satu kata pun yang keluar dari mulut Rairu. Rairu mengangguk, matanya meneliti Mia dengan intens. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sangat menantikan pernikahan kita. Aku yakin kita akan menjadi pasangan yang hebat dan memerintah kerajaan ini dengan bijaksana." Mia memaksakan senyum. "Aku juga berharap begitu, Yang Mulia." Setelah makan malam, Rairu mengajak Mia untuk berjalan - jalan di taman istana. Taman itu luas dan indah, dengan berbagai macam bunga dan tanaman yang eksotis. Namun, Mia tidak bisa menikmati keindahan itu. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan Shan An dan Luhan, serta rencana yang harus ia susun untuk mengungkap kebenaran. Saat mereka berjalan melewati air mancur, Mia melihat seorang wanita tua yang sedang memberi makan burung - burung. Wanita itu tampak sederhana dan tidak mencolok, tetapi Mia merasakan ada sesuatu yang aneh tentang dirinya. "Siapa wanita itu, Yang Mulia?" tanya Mia, menunjuk ke arah wanita tua itu. Rairu mengikuti arah pandang Mia dan tampak sedikit terkejut. "Dia hanya seorang pelayan biasa, Putri. Dia bertugas memberi makan burung - burung di taman." "Apakah dia sudah lama bekerja di sini?" tanya Mia, merasa curiga. Rairu mengangkat bahu. "Aku tidak tahu pasti. Mungkin sudah bertahun-tahun."Mia terus menatap wanita tua itu, mencoba untuk membaca pikirannya. Wanita itu seolah merasakan tatapan Mia dan menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu, dan Mia merasakan sebuah pesan tersembunyi disampaikan melalui tatapan itu.
Pesan itu adalah: "Aku tahu segalanya. Percayalah padaku."
Mia mengalihkan pandangannya, takut Rairu menyadari sesuatu. "Dia tampak sangat berdedikasi pada pekerjaannya," kata Mia, mencoba untuk bersikap biasa. Rairu tersenyum. "Tentu saja. Semua pelayanku adalah orang - orang yang setia dan berdedikasi. Aku memastikan bahwa mereka diperlakukan dengan baik dan dihargai atas kerja keras mereka." Mia meragukan kata - kata Rairu, tetapi ia tidak mengatakan apa - apa. Ia tahu bahwa ia harus berhati - hati dan tidak terburu - buru dalam mengambil tindakan. Ia harus mengumpulkan informasi sebanyak mungkin sebelum menghadapi Rairu secara langsung. Saat mereka terus berjalan, Mia melihat seorang prajurit yang tampak mencurigakan. Prajurit itu berdiri di sudut taman, mengawasi mereka dengan tatapan tajam. Mia merasa bahwa prajurit itu tidak hanya menjalankan tugasnya sebagai pengawal, tetapi juga sedang mengawasinya secara khusus. "Siapa prajurit itu, Yang Mulia?" tanya Mia, mencoba untuk terdengar santai. Rairu melihat ke arah prajurit itu dan tersenyum. "Dia adalah salah satu pengawalku yang paling setia, Putri. Dia selalu bersedia melindungiku dari bahaya." "Apakah dia sudah lama menjadi pengawalmu?" tanya Mia, penasaran. Rairu mengangguk. "Ya, dia sudah bersamaku sejak lama. Aku sangat mempercayainya." Mia merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Rairu. Ia yakin bahwa prajurit itu memiliki peran penting dalam rencana jahat Rairu. "Aku senang memiliki pengawal yang begitu setia," kata Mia, mencoba untuk mengakhiri percakapan. "Aku merasa aman berada di dekatmu." Rairu tersenyum puas. "Tentu saja, Putri. Aku akan selalu melindungimu. Kau adalah calon ratuku"Calon ratuku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu." Rairu menggenggam tangan Mia, namun sentuhannya terasa dingin dan posesif, bukan hangat dan penuh kasih.
........
Malam itu, Mia tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan dan kecurigaan. Ia merasa seperti sedang berada di tengah labirin yang gelap dan berbahaya, di mana setiap langkah bisa menjadi jebakan mematikan. Ia memikirkan Shan An dan Luhan. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka? Mengapa Luhan terlihat seperti orang yang terlantar dan terluka? Apakah Shan An masih hidup, atau Rairu telah melakukan sesuatu yang mengerikan padanya? Mia juga memikirkan wanita tua di taman dan prajurit yang mencurigakan. Siapa mereka sebenarnya? Apa peran mereka dalam intrik kerajaan ini? Bisakah ia mempercayai mereka, atau mereka hanya mata - mata Rairu yang sedang mengawasinya?
Mia menatap di kejauhan, sebenarnya sangat melelahkan, tapi kakaknya belum datang juga. Mungkinkah kakaknya tidak tahu kalau dia di sini? Atau mungkin saja dia sudah di khianati oleh kakaknya sendiri. "Lira, apa kau tahu kenapa aku di bawa ke sini?" tanya Mia, memecah keheningan. Lira menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu pasti, Putri. Tapi saya dengar, Raja Rairu tertarik dengan kecantikan Anda." Mia mendengus sinis. "Kecantikan? Rairu tidak peduli dengan kecantikan. Dia hanya peduli dengan kekuasaan." "Mungkin saja ada alasan lain," kata Lira. "Mungkin Raja Rairu ingin menjalin hubungan baik dengan kerajaan Thierra." "Hubungan baik?" Mia tertawa hambar. "Rairu tidak tahu apa artinya hubungan baik. Dia hanya tahu bagaimana cara menaklukkan dan menguasai." Mia terdiam sejenak, lalu menatap Lira dengan tatapan serius. "Lira, aku ingin kau mencari tahu segalanya tentang Rairu. Aku ingin tahu apa yang dia rencanakan, apa yang dia inginkan, dan siapa saja musuhnya." Lira mengang
"Apa yang bisa kau lakukan untukku, Lira?" tanya Mia, menyelidik. Matanya menelisik setiap inci ekspresi Lira, mencari tanda - tanda kebohongan.Lira menunduk, menggigit bibirnya. "Saya... saya bisa memberi tahu Anda apa yang Selir Tania rencanakan. Saya tahu banyak hal tentangnya, tentang orang - orang yang bekerja untuknya. Saya bisa menjadi mata dan telinga Anda di istana ini."Mia terdiam sejenak, menimbang kata - kata Lira. Ia tahu ini adalah kesempatan yang terlalu bagus untuk dilewatkan, namun ia juga sadar akan bahaya yang mengintai. Jika Tania mengetahui bahwa Lira berkhianat, nyawa pelayan itu bisa terancam."Kau tahu ini berbahaya, kan?" tanya Mia, suaranya pelan namun tegas. "Jika Tania tahu kau membantuku, dia tidak akan segan - segan menyakitimu."Lira mengangkat kepalanya, menatap Mia dengan mata penuh tekad. "Saya tahu, Putri. Tapi saya sudah muak dengan semua kebohongan dan kekejaman di istana ini. Saya ingin melakukan sesuatu yang benar, meskipun itu berarti memperta
Pelayan itu menunduk dalam - dalam. "Siap, Yang Mulia."Tania berbalik dan berjalan pergi, langkahnya kali ini lebih ringan dan penuh percaya diri. Dia tahu bahwa Rairu mempercayainya, dan itu adalah modal yang sangat berharga. Sekarang, dia hanya perlu membuktikan bahwa kecurigaannya terhadap Mia benar.Keesokan harinya, Mia terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Ia merasa seperti ada mata yang terus mengawasinya. Ia mencoba mengabaikannya dan bersiap - siap untuk hari itu.Setelah berpakaian, Mia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang makan. Di sana, ia melihat Rairu sudah menunggunya."Selamat pagi, Putri," sapa Rairu dengan seringai kecilnya."Selamat pagi, Yang Mulia," jawab Mia, sedikit gugup. Jujur Mia sedikit takut dengan Rairu, karena setaunya, reputasi Rairu sangat buruk. Dia kasar dan berdarah dingin. Mereka berdua duduk dan mulai makan. Suasana terasa canggung dan tegang. Mia merasa Rairu terus memperhatikannya, seolah - olah ia sedang mencari sesuatu."Apakah a
Di salah satu sudut istana Bardish yang megah, Sebuah paviliun tampak terang benderang. Dengan hiasan kristal dan lentera yang berjajar rapi di sepanjang jalan dan lorongnya. Memperlihatkan jika paviliun itu adalah kediaman milik orang yang berpengaruh. Paviliun Ungu, paviliun tempat tinggal selir Tania Tan. Selir kesayangan Rairu sekaligus teman masa kecil Rairu. "Jadi..., si gadis Thierra sudah masuk ke istana?" tanyanya pada pelayannya. "Benar Yang Mulia, dari yang hamba dengar seperti itu," jawab gadis pelayan. "Haruskah aku menyapanya?" gumam Tania pada dirinya sendiri sambil tersenyum sinis. "Siapa dia hingga aku harus menyapanya lebih dulu."Tania menjentikkan jarinya, memanggil pelayan lain. "Antarkan aku ke kediaman Yang Mulia Raja Rairu."Pelayan itu terkejut. "Tapi, Yang Mulia, ini sudah larut malam. Apakah pantas bagi kita untuk mengganggu Raja?"Tania tersenyum sinis. "Jangan khawatir. Aku yakin Rairu akan senang dengan kedatanganku. Dan lagi pula, aku punya alasan y
Ruang kerja Rairu terasa dingin dan mengintimidasi. Cahaya lilin yang bersinar layaknya sebuah kehangatan di antara dinginnya aura di dalam ruang kerja. Mia mencoba memasang wajah tenang, meski jantungnya berdebar keras. Rairu duduk di kursi kebesarannya, menatap Mia dengan tatapan tajam yang membuatnya merasa seperti sedang ditelanjangi dan dihakimi."Putri Mia," Rairu membuka suara, nadanya datar namun menguar aura berbahaya. "Aku dengar kau sangat tertarik dengan sejarah kerajaan Bardish milikku!"Terkesan datar, tapi nyatanya pertanyaan itu mengandung sebuah ejekan dan kecurigaan. "Aku hanya ingin mengenal lebih baik tempat yang akan menjadi rumahku," jawab Mia, berusaha tidak terpancing.Rairu menyeringai tipis, seringai yang tidak mencapai matanya. "Tentu saja. Tapi aku juga dengar kau menanyakan tentang Shan An."Mia menelan ludah. "Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi padanya. Dia adalah kakakku, wajar jika aku khawatir.""Wajar," Rairu mengangguk pelan, namun sorot matanya
Dengan hati - hati, Mia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Ia membuka tirai dan menatap langit malam yang gelap dan sunyi. Bintang - bintang berkelap - kelip di kejauhan, seolah memberikan harapan dan kekuatan.Mia menarik napas dalam - dalam dan memejamkan mata. Ia mencoba untuk menenangkan diri dan memfokuskan pikirannya. Ia tahu bahwa ia harus bertindak cepat dan cerdas jika ingin mengungkap kebenaran dan menyelamatkan orang - orang yang ia cintai.'Aku tidak akan menyerah,' batin Mia dengan tekad yang membara. 'Aku akan mengungkap semua rahasia Rairu dan menghentikannya sebelum dia menghancurkan segalanya.'Mia membuka matanya dan menatap langit malam dengan tatapan yang penuh dengan keberanian dan tekad. Ia tahu bahwa perjalanan yang ada di hadapannya akan sulit dan berbahaya, tetapi ia siap untuk menghadapinya. Ia adalah seorang putri, seorang pejuang, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun mengendalikan takdirnya.Keesokan harinya, Mia memutuskan untuk memul







