LOGINAula utama Mansion Ananta disulap menjadi ruang pesta yang megah. Lampu-lampu kristal memancarkan kilau keemasan, membalut riuh rendah para tamu VIP berbusana glamor. Demi menghormati Tuan Muda Sinyo yang konsisten menyembunyikan parasnya, Tuan Ananta menggelar pesta ini sebagai masquerade party yang penuh misteri.Aku datang belakangan karena sengaja, sejak awal juga aku enggan datang. Aku datang karena menghormati Ibu Diana. Aku mengenakan gaun malam berpotongan seksi warna hitam pekat, gaun dengan belahan dada sweetheart yang anggun dan bagian punggung terbuka, dipadukan dengan topeng ukir renda tipis dengan bulu hitam di area mata. Penampilanku benar-benar berubah total. Tanpa perhiasan mencolok, riasan tipis dan rambut yang kusanggul sederhana justru memancar begitu kontras di antara kerumunan wanita bergaun mewah.Begitu aku melangkah masuk ke aula, seorang penerima tamu memberikanku gelang dari bunga lavender yang cantik.Setiap pasang mata di aula menoleh, bisik-bisik kagum me
Malam ini, pesta topeng megah untuk menyambut kepulangan Tuan Muda Sinyo digelar di mansion utama. Atmosfer bangunan raksasa itu begitu sibuk dan hiruk-pikuk dari pagi. Meski pekerjaanku sudah selesai, aku sengaja tak segera berdandan karena memang sama sekali enggan menghadiri pesta tersebut.Setelah pamit pada Bu Diana, aku memilih melangkahkan kaki menuju dapur utama untuk menawarkan bantuan. Sejujurnya, ini hanya alasanku saja untuk menjauh dari Tuan Muda Sinyo. Hatiku benar-benar tak sedang baik-baik saja semenjak kehadiran pria bertopeng itu di Paviliun Lavender. Sosoknya sangat mengingatkanku pada Capybara-ku di desa.Dapur besar mansion menyambutku dengan kesibukan yang luar biasa. Bi Surti yang sedang memegang papan daftar kebutuhan malam itu mendadak menghentikan kesibukannya saat mendapatiku hanya berdiri kaku di samping pintu.“Nona Silvia, ngapain di sini?” tegurnya terkejut. “Bu Diana kemarin pesan ke saya, Nona tidak boleh bantu-bantu di dapur. Di sini pelayannya sudah
Tubuhku gemetar dingin. Napasku tertahan di tenggorokan, sementara jantungku berdegup terlalu kencang memukul dada.“Tu... Tuan Sinyo, tolong...” bisikku parau, berusaha memanggil sisa keberanian yang ada. “Jangan seperti ini...”Pria di belakangku sama sekali tak bergeming. Ia justru makin merapatkan tubuh tegapnya, mengurungku sepenuhnya di antara dada bidangnya dan daun pintu kayu. Tangannya yang hangat merayap perlahan dari pangkal leher, menyusuri garis punggung, hingga berhenti di pinggang. Ia lalu menunduk, mendaratkan kecupan hangat di atas kulit punggungku yang terbuka.Ujung topeng hitamnya menyapu leherku yang dingin, disusul bisikan rendah dalam bahasa Inggris yang terdengar asing dan tajam di dekat telinga."Why? Aren't you here to serve the master of this house?"Tubuhku tersentak. Cengkeraman jemariku pada gagang pintu kayu memutih karena panik."Saya... saya pelayan di sini, tapi bukan..." suaraku terbata, mencoba menggeser tubuh untuk meloloskan diri."What?" potongny
Hingga akhirnya, hari yang begitu dinantikan oleh Bu Diana pun tiba. Tuan Muda Sinyo resmi memindahkan seluruh barang dan kepentingannya, secara sah tinggal di lantai atas Paviliun Lavender. Namun, alih-alih tercipta interaksi yang hangat antara majikan dan pekerja, sebuah jembatan yang begitu dingin justru terbentang di antara kami.Tuan Muda Sinyo bersikap sangat dingin dan penuh jarak. Pria itu amat irit bicara, terutama jika situasi memaksanya untuk berhadapan langsung denganku. Ia mempertahankan wibawa dan posisinya sebagai Tuan Muda yang tak tersentuh. Bila ada hal yang perlu disampaikan, ia lebih banyak membisu, memberi gestur tangan yang singkat, secarik kertas catatan atau hanya merespon menggunakan bahasa Inggris yang formal dan bernada perintah.Setiap kali kami tak sengaja berpapasan, atau saat aku mendapat tugas membawakan nampan berisi kopi hitam ke ruang kerjanya, aura dominan yang memancar dari balik kemeja hitam dan topengnya selalu berhasil membuatku menunduk. Langk
Sudah beberapa hari berlalu sejak malam yang menggegerkan di lantai atas itu, tetapi keberadaan Tuan Muda Sinyo kembali menjadi teka-teki yang menggantung di udara. Pria bertopeng itu seolah lenyap entah kemana, tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di area Paviliun Lavender. Setiap kali aku melintasi anak tangga menuju lantai atas untuk mengantar kelengkapan kamar atau sekadar membersihkan, ruangan itu selalu diliputi kesunyian yang menekan. Pintu kamar utama di ujung sana berdiri kokoh, tertutup rapat tanpa menunjukkan tanda-tanda kehidupan.Meski raga pria itu tak terlihat, sosok Sinyo seolah tak pernah benar-benar pergi dari paviliun ini. Namanya selalu bergema saban hari di ruang tamu, dibawa oleh Bu Diana yang wajahnya kian hari kian berseri-seri. Wanita tua yang tadinya murung dan sering terbaring lemas itu kini tampak memiliki rona kehidupan yang baru. Setiap kali aku mengurus kebutuhan harian beliau, Bu Diana selalu antusias dan berbunga-bunga membagikan kabar terbaru
Denting jam dinding samar-samar menandakan malam sudah melewati pukul dua dini hari. Cengkeraman tanganku pada gagang tongkat baseball kayu itu awalnya terasa amat erat, tetapi perlahan-lahan kelelahan yang menumpuk seharian mulai menggerogoti pertahananku. Kelopak mataku terasa makin berat, hingga akhirnya rasa kantuk hebat melumpuhkan kesadaranku total. Aku tertidur pulas di atas sofa dingin itu.Silau cahaya matahari yang menerobos dari jendela mendadak menusuk mataku. Aku tersentak bangun dengan napas memburu, panik karena menyadari posisi tubuhku. Rasa aneh langsung menyergapku begitu kesadaranku terkumpul sepenuhnya. Sofa yang semalam kutarik rapat menutupi depan pintu kamar kini sudah bergeser rapi kembali ke posisi semula. Lebih mengejutkannya lagi, tubuhku terbungkus rapat oleh sebuah selimut tebal yang amat hangat. Tongkat baseball yang semalam kupeluk erat kini tergeletak manis di lantai samping sofa.Aku menelan saliva. Kehangatan selimut ini... siapa yang meletakkannya?“
“Iya, Eyang. Silvi di sini.” bisikku.“Jangan menangis... Eyang memang sudah sakit... sejak lama. Ini bukan... salahmu,” ujarnya dengan nafas yang putus-putus. Beliau mengangkat tangan, memberi kode agar aku berhenti bicara dan mendengarkan. “Eyang senang kamu pulang. Sayangnya... waktu Eyang mungk
Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa
“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge
Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d







