LOGINPerut lima bulanku yang kian membuncit kembali berdenyut pelan, menagih perhatian yang kerap terabaikan. Hari ini jadwal pertamaku adalah bertemu dengan dokter kandungan dengan perjanjian. Hans sudah mengatur semuanya kemarin jadi pagi ini, aku bersama Hans akan menemuinya."Nyonya, saya sudah menjadwalkan pemeriksaan kandungan Anda dengan dokter spesialis yang direkomendasikan pihak rumah sakit," ujar Hans dengan suara baritonnya yang sopan. "Jadwal beliau sangat padat, tapi untuk Anda, beliau mengosongkan jam pertama."Aku mengangguk tipis, mengulas senyum lelah."Terima kasih banyak, Hans. Kamu memang selalu bisa diandalkan."Kami berhenti di depan pintu kayu berpelitur gelap dengan papan nama kuningan yang masih tampak sangat baru. Hans membukakan pintu untukku dengan penuh hormat."Saya tunggu di luar ruangan, Nyonya. Jika ada apa-apa, panggil saya," ucap Hans seraya berdiri tegap di depan pintu.Aku melangkah masuk ke dalam ruangan serba putih yang beraroma lavender lembut. Seor
"Tenang, Sil, tenang... jangan panik dulu," potong Tara seraya memegang kedua bahuku, menenangkan napasku yang mendadak memburu. "Bukan memburuk. Justru sebaliknya. Kemari, lihat sendiri... coba ajak bicara suamimu."Tara menuntun langkahku mendekati kaca pengawas. Aku segera mencuci tangan di wastafel untuk sterilisasi, mengenakan jubah hijau medis, masker dan melangkah masuk ke dalam kamar isolasi yang selalu bersuhu dingin itu. Suara berirama dari mesin ventilator dan pemantau tanda-tanda vital mengisi keheningan ruangan yang sudah terasa biasa bagiku selama satu minggu terakhir ini.Aku melangkah mendekati ranjang, meraih tangan kanan Mas Bara yang terbebas dari infus, lalu menggenggam jemarinya yang hangat dengan kedua tanganku."Mas... aku datang," bisikku lirih di samping telinganya. "Rapatnya sudah selesai. Tidak ada yang bisa mengganggu milikmu lagi. Aku sudah menjaga rumah dan perusahaanmu seperti amanahmu..."
Hari pertamaku bekerja di ruangan Mas Bara, gedung Ananta Group.Aku duduk di kursi yang biasa Mas Bara pakai, dari sini... aku bisa membayangkan dirinya. Duduk di sini, berdiri di depan kaca jendela menatap ke jalanan kota atau rebahan di sofa panjang berbahan kulit di tengah ruangan itu. Semua beraksen minimalis modern, berwarna hitam putih sesuai selera Tuan Sinyo. Dari meja ini, ia mengecek semua laporan, menandatangani berkas dan memberikan perintah. Ada kamar khusus di samping untuk ia beristirahat jika lelah atau harus lembur.Hari ini juga aku baru berkenalan dengan para sekretarisnya di depan pintu keluar ruangan ini. Semua laki-laki, ia sangat mengurangi bersinggungan dengan wanita jadi aku sangat yakin jika ia tidak menyentuh Salma sebelum menikah maupun setelah menikah.Hans yang duduk di sofa, begitu setia pada Tuannya. Rasanya saat ini saat yang pas membicarakan pernikahanku dengan Hans saat lalu.“Hans...”Pria itu menoleh dan mengabaikan ponselnya.“Ya, Nyonya...”“Aku
Pagi itu, Gedung Ananta Group dibalut ketegangan yang pekat. Ratusan kamera awak media berkilat di sepanjang tangga lobby utama, memburu setiap petinggi perusahaan dan pemegang saham yang melangkah masuk. Rumor mengenai kekosongan kepemimpinan, krisis ahli waris, hingga nasib saham Ananta Group yang bergejolak pasca-meninggalnya Tuan Ananta menjadi bahan spekulasi panas di seluruh media nasional.Dua unit mobil hitam berhenti tepat di depan pintu lobby gedung Ananta Group. Hans melangkah keluar lebih dulu, memberi sinyal pada sepuluh pengawal berseragam hitam untuk memasang barikade rapat.Pintu belakang terbuka. Aku melangkah keluar dengan gaun hamil formal berwarna hitam pekat, dipadukan dengan blazer terstruktur yang memberikan kesan tegas. Rambutku disanggul rapi tanpa perhiasan mencolok, hanya menyisakan cincin blue sapphire di jari manisku. Di usia kandunganku yang memasuki lima bulan ini, langkahku semakin berat. Aku berjalan perlahan dengan dagu terangkat, aku tidak boleh terl
Jemari Mas Bara yang berada dalam genggamanku terasa hangat. Setiap hembusan napas yang dibantu oleh deru mesin ventilator membuat dadanya naik turun secara perlahan. Dadanya kini terbebat ketat oleh perban putih tebal, menyembunyikan luka tembakan tembus yang hampir saja mencabut nyawanya.Aku mendekatkan wajahku ke telinganya, berbisik dengan suara lirih yang tertahan oleh isak tangis."Mas... ini aku, Silvia. Jangan menyerah ya, Mas. Aku di sini, anak kita juga di sini..." Tanganku yang bebas memandu telapak tangannya yang lemas untuk menyentuh perutku yang mulai membuncit. "Dia tumbuh sehat di dalam sini, Mas. Dia butuh Ayahnya. Aku butuh suamiku.”Kelingkingku menaut di kelingking Mas Bara. Ia tetap tidak bereaksi.“Mas... janji ya lihat anak kita lahir?”Layar monitor di samping bangsal berbunyi bip... bip... bip... dengan irama yang konstan. Tidak ada gerakan dari kelopak matanya, tidak
Perintahku untuk membawa Nyonya Rika ke psikiater membuat suasana ruang duka semakin memprihatinkan. Dua orang pengawal bertubuh tegap langsung melangkah maju, memegangi kedua lengan Nyonya Rika yang masih terduduk di marmer."Lepas! Jangan sentuh saya! Saya tidak gila! Silvia, pelayan sialan!" jerit Nyonya Rika makin histeris. Suaranya melengking parau, memantul di dinding-dinding tinggi persemayaman saat tubuhnya yang terus meronta diseret keluar oleh para pengawal.Salma hanya bisa menatap kepindahan mertuanya itu dengan tubuh gemetar hebat. Ia makin menyusut di sofa, tak berani menatap mataku lagi. Keberanian dan keangkuhan yang selama ini disandangnya runtuh total ketika menyadari bahwa di bawah otoritas baruku, tidak ada lagi ruang untuk manuver licik.Kayla melangkah mendekatiku seraya memegang cangkir teh hangat, menyerahkannya padaku dengan senyum tenang."Minumlah sedikit, Nyonya Silvia. Anda butuh tenag
Melihat bibir Eyang mulai membiru, aku berteriak frustrasi, “Kenapa nggak ada rumah sakit dekat sini?!”“Ini bukan kota, Mbak! Minim rumah sakit!" jawab Bara tanpa menoleh, terus memacu Hilux-nya.“Mas, ada kotak P3K?” suaraku mendadak tegas. Bara menunjuk ke bawah kursi depan. Aku merogohnya cepa
Aku dan Eyang duduk saling berpegangan tangan. Dengan manja, aku membaringkan kepalaku di bahu Eyang. Sudah lama sekali tidak seperti ini. Aku hanya ingat Eyang Gun samar-samar karena jarang sekali kami bertemu. Pertemuan kami terakhir seingatku saat aku kelas enam sekolah dasar. Tapi kini berada d
“Jauh banget ya satu jam itu, kalau di kota satu jam itu dekat...” kataku masih tak percaya jarak satu jam ternyata jauh beneran.“Ya, beda Mbak... satu jam di kota dengan di desa.” Jawabnya, “Mbak dari kota mana?”“Metrojaya, Mas...”“Oh, jauh sekali. Nggak ada bawa koper?” tanya Bara sambil menge
Guncangannya begitu kuat sampai mobil ini terasa hampir terguling. Sebuah raungan mesin diesel yang garang mendekat, lalu cahaya lampu yang menyilaukan menyorot langsung ke dalam kabin, membuat para pria jahil itu silau.“Keluar!” sebuah suara bariton menggelegar di tengah suara mesin yang menderu.







