LOGINNamun, Mei Anqi tidak menggubris protes pelayannya. “Kamu tinggal katakan padanya untuk tetap menemuiku sesuai rencana semula.”
Mei Anqi berpikir, Sun Lun pasti paham maksudnya. Jika Mei Anqi tidak salah ingat, ini adalah waktu di mana si pemilik tubuh merampok gudang penyimpanan dengan kekasihnya, lalu tertangkap. Pria itu sebenarnya hanya memanfaatkan Mei Anqi, bukannya benar-benar mencintai Anqi. Sun Lun justru mencintai wanita lain dan saat ini diam-diam sedang mempersiapkan pernikahan dengan uang yang ia curi dari Mei Anqi. Di dalam novel, Sun Lun akan tetap mendapat apa yang dia mau, sementara Mei Anqi mati sia-sia. Mei Anqi tidak akan membiarkan itu terjadi. “Nona, apakah ini baik-baik saja?” Xiao Bai bertanya cemas sembari menarik gaun kuning Mei Anqi. Kini, mereka sedang menunggu kedatangan Sun Lun. Di sisi lain, Xiao Yun ikut menimpali, “Benar sekali! Siang-siang bolong ...” “Kenapa ribut? Kami hanya akan bertemu,” sahut Mei Anqi. Ia menengok ke persimpangan jalan. “Bukannya tidur bersama.” “Tapi Yang Mulia tetap tidak akan senang jika mendengar Anda menemui kekasih Anda, Nona,” balas Xiao Bai. “Nanti Anda akan terkena masalah….” “Kalian tenanglah.” Mei Anqi menghela napas. Sebenarnya, ia tidak menyalahkan kedua pelayannya karena cerewet sejak tadi. Ia paham kekhawatiran mereka karena sebelumnya, tubuh ini adalah pembuat onar yang gemar menentang Raja Yan demi kekasihnya. Namun, kali ini, Mei Anqi akan patuh. Setidaknya sampai ia menemukan waktu yang tepat untuk benar-benar pergi dengan aman. “Qiqi.” Suara lembut seorang pria akhirnya muncul dari balik persimpangan kecil. Lamunan Mei Anqi buyar, dia mendongak menatap pria muda tinggi rupawan di depannya. “Tuan muda,” balasnya sopan. “Qiqi, mengapa memanggilku begitu?” Pria berjubah terlihat sedih. “Panggil saja aku seperti biasanya.” Mei Anqi hanya tersenyum. “Qiqi….” Sun Lun mendekati Mei Anqi. Tangannya terulur untuk memeluk perempuan itu. Namun, Mei Anqi langsung menghindarinya tanpa kentara. “Mari masuk dan bicara di dalam,” ucap Mei Anqi kemudian. Pria muda itu muram sekilas, tapi segera tersenyum lembut. “Oke. Di dalam aman?” tanyanya. Mei Anqi mengangguk kalem, pura-pura terlihat malu, “Raja Yan pergi ke istana untuk melapor urusan militer. Kita akan aman.” Di belakang, Xiao Bai dan Xiao Yun saling menatap, bingung. Bukankah Raja Yan sedang ada di ruang belajar? Tetapi mereka tutup mulut, menunduk. Mei Anqi menuntun Sun Lun masuk ke dalam mansion melalui pintu belakang. Hampir tidak ada orang karena pelayan sedang menerima jam istirahat. Di belokan timur, Mei Anqi berjalan lurus ke arah sana. Namun pria lembut di belakangnya sedikit panik, “Qiqi, aku rasa belokannya berbeda dari tempo hari.” “Aku meminta halaman baru belum lama ini, yang lebih besar dan mewah.” “Sungguh?” Walau terkejut, pria muda itu justru senang. “Raja Yan sangat menyayangimu?” Mendengarnya, Mei Anqi berakting kesal, “Jika bukan demi tuan muda. Aku tidak ingin bersamanya.” “Aku tahu, aku tahu, Qiqiku paling mencintaiku di dunia ini. Aku adalah pria beruntung.” Mei Anqi menahan diri untuk tidak meninju wajah munafik pria tersebut. “Tentu saja, Qiqi sangat menyayangi tuanku. Uang yang dibutuhkan juga sudah Qiqi siapkan.” “Bagus sekali, Qiqi memang luar biasa. Aku benar-benar ingin menikahimu!” “Tuan ...” Mei Anqi memeras emosinya agar terlihat lebih pemalu. Tak lupa memberikan kode lirikan mata ke dua pelayan di belakang. Xiao Bai dan Xiao Yun mengangguk samar. Mereka akhirnya sampai di ruang belajar Raja Yan. Lokasinya strategis, mewah dan berhiaskan banyak emas. Kekasih pemilik tubuh asli semakin yakin bahwa Mei Anqi tidak berbohong. Sayangnya, suara Mei Anqi berikutnya menghancurkan kebahagiaannya. “Yang Mulia, ini Anqi, hamba ingin meminta waktu anda sebentar.” Ada suara samar dari dalam, “Masuk.” “Qiqi, apa yang—argh!” Tubuh kurus pemuda itu terpaksa jatuh berlutut di tanah. Tertahan oleh Xiao Bai dan Xiao Yun. Terlebih mereka berdua juga ahli bela diri, sehingga pemuda itu tidak bisa kabur sama sekali. Mengerang kesakitan di tanah. “Sayangku, kerja bagus!” Mei Anqi mengacungkan jempol. Lantas membuka pintu ruang belajar, mendapati ruangan sangat berantakan. Dewa, apakah dia salah memilih waktu? Raja Yan terlihat menakutkan dengan mata merah dan baju berantakan. Di meja belajar, Raja Yan melirik Mei Anqi penuh kobaran nafsu. Keningnya berkerut seolah menahan sesuatu. “Mengapa kau membawa bajingan itu ke hadapanku?” tanyanya mencibir. “Apa kau ingin berciuman dengannya di sini?” Mei Anqi menahan diri agar tidak jatuh berlutut. Raja adalah Raja! Auranya membuat orang ingin tunduk secara naluriah. “Yang Mulia, kehadiran saya kemari mengganggu anda karena saya ingin menjelaskan sesuatu," tegasnya sambil menahan gugup. “Oh,” Raja Yan terlihat tertarik. Menatap bergantian antara pria muda di tanah dan Mei Anqi. “Katakan padaku.” Mei Anqi menunduk sopan dan berkata dengan lembut, “Saya akan memutuskan hubungan saya dengan bajingan busuk ini demi Yang Mulia. Setelah ini, Qiqi hanya bisa menjadi milik Yang Mulia seorang.” Pria di tanah berteriak ketakutan, berteriak panik, “Jalang! Kau menipuku!” Mei Anqi menendang perut si pria hingga sosoknya jatuh terkapar ke tanah. “Kau pikir aku bisa ditipu lagi?” ucap Mei Anqi. Wajah cantiknya tampak marah. Lalu sebisa mungkin ia mengontrol ekspresinya kembali saat menghadap Raja Yan. “Yang Mulia, pria ini menggoda saya dan berniat merampok harta rumah pangeran. Mohon berikan hukuman.” “Kau!” Sun Lun murka. Ia menatap Mei Anqi dengan tatapan membunuh. Pria itu hendak bangkit dan menerjang Mei Anqi, tapi sebelum itu, tangannya terinjak oleh sepatu hitam mewah. “Argh! Tanganku! Tanganku!” “Berisik,” tandas Raja Yan dingin. Rambut hitamnya berserakan karena terikat longgar. Hanfu hitamnya melorot berantakan menunjukkan bahu lebar kokoh nan eksotis. Matanya begitu tajam seakan ingin menelan manusia mentah-mentah. “Xiao Bai.” “Hamba di sini, Yang Mulia.” “Seret dia ke penjara bawah tanah.” “Ah, jangan! Jangan! Yang Mulia!” Sun Lun merangkak ketakutan menyentuh ujung sepatu Raja Yan. “Mohon berbelas kasih, ini semua salah Mei Anqi si jalang penuh tipu daya! Yang Mulia jangan sampai terpedaya olehnya! Saya telah ditipu, saya digoda olehnya–” Raja Yan mencekal erat leher pria tersebut, mengangkat tubuhnya dengan mudah. Cekikannya nyaris membunuh, beruntung Mei Anqi menarik lengan bajunya tepat waktu. “Yang Mulia–” “Kau tidak ingin aku membunuhnya?” Raja Yan menatap Mei Anqi. Sepasang matanya menyorot dingin. “Kenapa? Masih mencintainya?”Suara derit pintu memecah hening. Gema derap langkah kaki datang bersamaan dengan aroma harum melati yang memenuhi udara. “Yang Mulia?” Mei Anqi baru saja selesai mandi setelah pulang dari ladang. “Jiali bilang anda sakit, apa yang terjadi?” Tubuh protagonis pria disebutkan sebagai manusia anti penyakit. Jadi Anqi terkejut ketika putrinya berteriak memintanya pulang untuk merawat Zhen Ming. Pria diranjang bergeming, tampak tertidur dengan posisi telentang. Tanpa selimut atau lapisan hanfu tebal. Lengan Anqi menyibak tirai ranjang, kemudian duduk di tepian. “Yang Mulia?” panggilnya bersuara pelan. Ujung jemari Anqi tersentak, tersengat suhu panas kulit Zhen Ming. Pria ini demam tinggi! Ia berlari keluar meminta kompres air, bubur, dan obat ke orang rumah. Lalu kembali ke kamar. “Yang Mulia, bangun dulu. Yang Mulia?” Tidur Zhen Ming terusik tepukan ringan dipipi kanannya, pria itu membuka kelopak matanya malas. Dahinya berkeringat merasakan hawa panas di sekujur tubu
“Tapi kami terlanjur memesan sepasang gaun pengantin, Yang Mulia.'' Bibi Chen mengungkapkan protesnya karena Zhen Ming berencana pindah ke Mansion Yan. Pria dikursi bambu itu menyentuh pelipis yang berdenyut. “Aku juga tidak mau pindah secepat ini, Bibi.” Pernikahannya dengan Mei Anqi dapat dilangsungkan sekitar dua bulanan lagi. Namun Kaisar Wu mengirim dekrit perintah memintanya bergegas pulang. Kaisar Wu dengan murah hati rela memberi kompensasi emas dan perak sebagai penebusan liburan Zhen Ming yang terpotong. “Nona sudah tahu rencana kepulangan kita?” Bibi Chen bertanya gusar. Nona Mei tampak menyukai suasana tenang nan sederhana, seperti di Desa Xinlong. Bagaimana jika Nona Mei menolak ikut kembali ke Mansion Yan? Hubungan baik Zhen Ming dan Mei Anqi baru berlangsung sebentar, apabila harus terbentang jarak jauh. Bukankah hubungan mereka berisiko merenggang? Bibi Chen tidak mau itu sampai terjadi! “Belum, aku tidak tahu cara menjelaskan kepulangan kita padanya,” s
“Yang Mulia, anda serius?” Suara Mei Anqi bergetar halus. Ia menatap stempel ditangannya, ragu. “Tidakkah anda takut saya akan membawa lari benda ini?” “Aku lebih takut kehilanganmu lagi,” timpal Zhen Ming serius. “Apa gunanya status Raja jika kau tak bisa bersanding di sisiku? Aku rela menyerahkan segalanya untukmu.” Zhen Ming berlutut di depan wanita yang kini duduk di tepi ranjang. Ia sandarkan dirinya ke pelukan berbau melati itu, kemudian menutup mata. Kedua lengannya mengunci pergerakan tubuh rampingnya. Pria ini pandai sekali membuatnya goyah, batin Anqi. Seandainya saja kesenjangan gender dihapus dari Kekaisaran, Mei Anqi bisa melanjutkan hidup bermodalkan kemampuan pribadinya tanpa kawatir. Ia punya potensi untuk membangun bisnis, memulai hidup mandiri tanpa bergantung pada Raja Yan. Seribu sayang Dinasti Han belum mampu menerima kenyataan bahwa wanita bisa mengungguli seorang pria. Risiko terburuk jika dia bersikeras membangun karir sebagai wanita berstatus j
“Yang Mulia.” “Hm?” Jemari Zhen Ming sibuk menyisir surai legam Qiqi, mata hitamnya merunduk menikmati indahnya helaian halus wanita itu. “Kenapa? Seseorang mengganggumu?” Mendengar nada bicaranya tiba-tiba berubah dingin diselimuti intimidasi kuat, wanita dikursi meja rias menarik sudut bibirnya. Pria ini mencintainya, kan? Seberapa jauh cinta itu? Haruskah ia mengujinya secara langsung? “Tidak, bukan apa-apa. Saya ingin mengatakan warna merah cocok untuk anda.” Raja Yan jarang menggunakan hanfu berwarna cerah. Tetapi malam ini tubuh tinggi atletisnya dibalut hanfu jubah kemerahan. Warna cerah membantu mengurangi kesan galak dari sosok Zhen Ming. “Benarkah?” Terbatuk sebelum menjawab, Zhen Ming mendengus penuh kepuasan. “Bibi Chen membelinya tadi pagi. Dia bilang, kamu akan menyukainya jika aku pakai malam ini.” Bibi Chen sangat bekerja keras demi hubungannya dengan Zhen Ming. Mei Anqi tersenyum lembut, cermin perunggu dimeja rias memantulkan paras cantiknya
“Wanita bangsawan mana yang musti aku hindari?” Xiao bersaudari bertukar pandangan. “Nona, sebelumnya mohon maaf jika perkataan saya lancang. Mengapa anda peduli dengan itu?” Suara Xiao Bai melirih sedih. “Anda meragukan perlindungan Yang Mulia?” “Tidak, bukan begitu maksudku. Jangan salah paham dulu,” potong Mei Anqi cepat. Ia buru-buru menjelaskan. “Metode pertarungan wanita bangsawan kejam, aku harus tahu siapa musuhku agar bisa melindungi diriku sendiri dan anak-anak.” Wanita bangsawan dilahirkan dengan berkat kemuliaan tertinggi. Hidup bergelimang harta, ditakdirkan menikahi pria mapan dan kaya, kemudian menjadi nyonya yang sukses melahirkan seorang putra. Cerita seperti itu bagaikan mimpi terindah bagi para wanita bangsawan. Kesuksesan hidup wanita pada era ini diukur dari seberapa hebat suami dan putra yang dilahirkannya. Mei Anqi— sebagai mantan penghibur di rumah pelacuran, tak punya latar bangsawan namun berhasil memberikan dua putra dan satu putri sekaligus. P
“Kamu meninggalkanku setelah menggodaku.” Zhen Ming mengeluh setibanya didapur dini hari. Dengan cemberut ia tumpukan dagunya ke puncak kepala Qiqi. Wanita itu sedang sibuk memotongi kue buatannya untuk anak-anak. “Saya? Siapa yang menggoda siapa? Haruskah saya mencarikan anda cermin, Yang Mulia?” “Nyonya, bicaramu menyakitiku.” “Kamu juga sama saja di masa lalu.” Lalu Zhen Ming mengunci rapat bibirnya, kalah telak mengadu argumen bersama gadis kecil ini. Mau sekarang atau masa lampau, kefasihan Qiqi belum berubah. “Baiklah, aku salah.” “Baguslah karena anda tahu anda salah.” “Jadi kapan kamu akan memaafkanku seutuhnya?” “Entahlah, mengapa anda terus memaksa saya? Bukannya anda bilang bersedia menunggu? Atau ... ucapan anda sebelumnya ternyata rayuan belaka?” “Mustahil!” “Kalau mustahil sesuai pengakuan anda, jangan ganggu saya pagi-pagi begini.” Ia berbalik, memutar tubuh ramping yang terbalut hanfu biru cerah. Rambut panjangnya dikepang menyamping ke sampi







