LOGINAroma anyir darah yang sangat pekat merembes semakin dekat ke arah sel batuku. Aku bisa mendengar suara langkah kaki yang terseret dan napas yang terengah-engah dari arah koridor luar yang gelap.Sesosok tubuh tua merayap dengan panik di atas lantai batu yang basah oleh sisa-sisa air tanah. Itu adalah Elder Kael.Jubah kebesaran dewan yang dia kenakan kini compang-camping dan dipenuhi cipratan darah segar milik Elder Magnus. Wajahnya yang keriput tampak sangat pucat, dipenuhi kengerian yang luar biasa setelah menyaksikan pembantaian di aula sebelah."Tolong! Siapa saja, tolong aku dari kegilaan ini!" teriak Elder Kael dengan suara gemetar saat dia mencoba merangkak menjauh dari aula pertemuan dewan.Aku berdiri di sudut sel, mencengkeram erat jeruji besi dingin di depanku dengan kedua tanganku yang terborgol rantai berat. Mataku menatap dingin ke arah tetua yang kini tampak seperti binatang buruan yang menyedihkan itu."Tidak ada tempat untuk melarikan diri lagi, Elder Kael," ucapku p
Aku terus meronta didera kegelapan sel batuku yang sangat dingin. Rantai besi berat di pergelangan tanganku berdenting keras setiap kali aku bergerak."Hei, lepaskan aku sekarang juga!" teriakku ke arah dua pengawal dewan yang berjaga di depan pintu sel besi.Salah satu pengawal itu menoleh ke arahku dengan senyum mengejek yang sangat menyebalkan. "Diam, Omega! Kau sebaiknya menghemat tenagamu untuk perjalanan jauh nanti malam.""Xavier akan mencabik-cabik kalian semua jika dia tahu apa yang kalian lakukan padaku," ancamku dengan napas yang memburu cepat.Mendengar nama rajanya disebut, pengawal itu justru tertawa parau seolah-olah aku baru saja mengucapkan lelucon yang konyol. "Xavier sedang sekarat di atas ranjang medisnya akibat Terkurasnya Energi Titah.""Dia tidak akan pernah bangun lagi untuk menyelamatkanmu," tambah pengawal yang satunya lagi dengan nada yang sangat yakin.Sebelum aku sempat membalas ucapan mereka, dentum keras tiba-tiba mengguncang seluruh dinding batu penjara
Aku merapatkan punggungku ke dinding batu sel yang dingin. Aku menolak menyerah pada ketakutan yang sengaja diciptakan oleh para tetua dewan yang korup itu.Tanganku yang terborgol rantai besi berat bergerak meraba perut bawahku yang masih terasa polos. "Mereka tidak akan pernah menyentuhmu," bisikku lirih pada benih di rahimku.Aku memejamkan mata rapat-rapat, memfokuskan seluruh pikiranku pada detak jantung Xavier di dalam batin kami. Ikatan batin kami mendadak berdenyut sangat kencang ketika aku membuka gerbang feromon level dua.Ini pertama kalinya aku mencoba mengendalikan feromon tubuh untuk mengirimkan sinyal darurat biologis. Aroma vanila manis bercampur rasa takut murni perlahan mengalir keluar dari pori-pori kulitku.Aku mendorong aliran feromon keemasan itu melewati celah ventilasi batu agar terbawa angin malam menuju menara medis. "Bangun dan hancurkan mereka semua untukku," gumamku sebelum tubuhku mendadak lemas.Sementara itu, di dalam ruang medis istana Bloodmoon yang b
Aku mempercepat langkahku menyusuri koridor utama menara timur didera kesunyian malam yang dingin.Aku harus segera kembali ke kamar Xavier sebelum ada yang menyadari kepergianku dari sayap medis.Namun, bau peppermint dingin dan anyir darah mendadak menusuk tengkukku dengan sangat tajam.Sembilan pasang sepatu bot berat mendadak melangkah keluar dari tikungan koridor depan, menghalangi jalan lari.Delapan pengawal dewan dengan seragam perak langsung mengepungku dalam formasi melingkar yang sangat ketat.Ujung tombak perak mereka terarah tepat ke dadaku, memancarkan kilau logam yang mematikan di bawah cahaya obor.Di tengah-tengah mereka, Elder Magnus melangkah maju dengan tongkat perak berkepala serigala di tangan kanannya.Senyum di wajah keriputnya tampak sangat dingin dan penuh kemunafikan hukum kawanan."Mau pergi ke mana terburu-buru, Alana?" tanya Elder Magnus dengan suara parau yang memuakkan.Aku mundur selangkah, namun ujung tombak di belakangku langsung menempel erat di pun
Aroma darah hitam Xavier yang membusuk di mangkuk perak tabib memenuhi indra penciumanku.Bau amis itu memberi tahu bahwa pelindung terkuatku telah runtuh sepenuhnya sekarang.Aku berdiri di sudut ruang medis yang remang-remang, meraba perban di pergelangan tanganku.Tabib tua itu terus mengoleskan minyak herbal di pelipis Xavier dengan tangan yang gemetar hebat.Xavier memejamkan matanya rapat-rapat dengan rahang yang mengeras menahan perih yang luar biasa di kepalanya.Aroma feromon kayu bakar miliknya tercium sangat redup dan rusak di udara ruangan yang pengap."Apakah dia akan bangun hari ini, Tabib?" tanyaku dengan suara yang sengaja kubuat berbisik.Tabib itu menghela napas berat tanpa berani menatap langsung ke arah sepasang mata amber milikku."Terkurasnya Energi Titah ini terlalu parah, Alana," jawab tabib itu lirih."Berapa lama dia akan tertidur seperti ini?" tanyaku lagi untuk memastikan keadaannya."Saraf kepalanya mengalami kerusakan serius akibat memaksakan kekuatan Alp
Langkah kakiku terasa sangat sunyi saat menyelinap masuk ke didera ruang kerja Julian pagi ini. Aroma peppermint yang dingin langsung menusuk hidungku, menyelimuti ruangan yang selalu tertata terlalu rapi ini.Aku segera melangkah mendekati meja kayu ek besar miliknya tanpa membuang waktu lagi. Jemariku bergerak cepat, membuka satu per satu laci kerja yang berisi tumpukan kertas strategi militer dewan.Namun, aku tahu Julian terlalu cerdas untuk menyimpan dokumen penting di tempat yang mudah terlihat. Aku mulai meraba bagian bawah meja kayu ek tersebut, mencari celah rahasia yang biasa digunakan oleh faksi bayangan.Klik. Sebuah laci gantung tersembunyi tiba-tiba bergeser terbuka di sudut paling didera kolong meja kerja Julian.Di dalamnya, terdapat selembar kertas kulit tipis yang tersegel rapi didera cap lilin berstempel pribadi milik Julian. Aku memecahkan segel lilin merah itu didera ujung kuku tanganku yang masih terasa sangat dingin akibat ketegangan batin.Mataku terbelalak leb
"Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen
Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k
"Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A
Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh







