Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / CHAPTER 107: ADRENALIN YANG DILAMPIASKAN

Share

CHAPTER 107: ADRENALIN YANG DILAMPIASKAN

Author: Surjelly
last update publish date: 2026-09-10 17:53:03

Xavier melangkah mendekat dengan rantai beludru hitam di kedua tangan kosongnya yang besar. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menyentak kedua pergelangan tanganku dan mengikatnya erat-erat ke tiang kayu jati ranjang.

"Xavier, kumohon jangan sekarang," rintihku dengan suara gemetar.

Tubuhku menggigil hebat melihat mata merahnya yang berkilat liar penuh nafsu binatang. Rasa takut biologis di dalam dadaku mendadak bercampur dengan gairah aneh yang mulai merayap di kelenjar leherku.

Xavier tidak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 113: RATU YANG SADAR

    Aku tidak dilahirkan untuk mati sebagai alat penetas yang patuh.Aku menolak menjadi wadah kosong yang hanya menerima benih keji mereka.Meskipun semalam Xavier sempat kolaps bersimbah darah hitam akibat terkurasnya energi titah miliknya, pagi ini dia sudah dipaksa bangkit oleh serum penstabil saraf milik Julian. Namun, sisa-sisa kelumpuhan itu masih membayang di wajah kasarnya.Pintu kamar tidur terbuka pelan, memperlihatkan Xavier yang melangkah masuk membawa nampan berisi makanan hangat.Aroma gurih daging panggang segar menguap, mencoba menyamarkan bau darah yang masih tersisa di sudut bibirnya.Aku berdiri di dekat jendela, membiarkan jubah sutra tidurku bergesekan pelan dengan marmer yang dingin."Bagaimana keadaanmu pagi ini setelah ketegangan malam pembantaian dewan kemarin, Alana?" tanya Xavier dengan suara baritonnya yang berat.Aku tidak memalingkan wajahku, tetap menatap lurus ke arah halaman luar istana yang membeku oleh salju."Aku merasa sangat baik, Xavier," sahutku de

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 112: LABORATORIUM YANG MENGERIKAN

    Suasana kamar tidur utama sangat sunyi malam ini setelah badai feromon sore tadi mereda. Aku bangkit dari ranjang beludru tanpa menimbulkan suara sedikit pun."Aku harus menyelesaikan ini sekarang," bisikku lirih pada kegelapan kamar. "Kunci perak ini harus menemukan jawabannya malam ini," lanjutku sembari meraba saku gaunku.Aku melangkah perlahan menuju permadani dinding besar yang tergantung di dekat lemari kayu jati. Di balik kain tebal itu, pintu rahasia yang tersembunyi selama ini menungguku.Aku mengeluarkan kunci kuno perak berukir lambang serigala Bloodmoon yang kuambil dari laci Xavier dulu. Kunci itu masuk dengan pas ke didera lubang pintu kayu yang dingin."Klik," suara mekanisme besi yang terbuka terdengar sangat keras di telingaku. "Tolong beri aku petunjuk," ucapku lirih sembari mendorong pintu itu perlahan.Sebuah tangga batu melingkar yang sangat gelap dan curam terbentang di hadapanku. Aku menyalakan lampu minyak kecil yang kuambil dari meja rias sebelum melangkah tu

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 111: RAJA YANG TERKEJUT

    Kabut emas beraroma madu manis yang pekat perlahan-lahan mulai menipis di udara Aula Tengah.Aku menarik napas dalam-dalam, secara sadar menutup kembali gerbang feromon Level tiga di kelenjar leherku pagi ini.Meskipun aromanya telah menyusut, keheningan yang mencekam masih membekukan marmer aula yang dingin.Ketiga Alpha perkasa itu masih terkapar tidak berdaya dengan napas yang memburu sangat kacau di lantai.Bastian meremas dadanya yang bidang dengan kedua tangannya yang kotor oleh sisa pertempuran perbatasan.Matanya yang semula menyala merah murni kini tampak berkaca-kaca karena menahan gairah paksa yang menyiksa saraf otaknya."Aroma ini... mengapa tubuhku tidak bisa menolak pengaruhmu, Alana?" tanya Bastian dengan suara parau yang sangat lirih.Dia mencoba menggerakkan kaki kekarnya untuk berdiri, namun lututnya mendadak lemas kembali hingga dia terjatuh."Lututku tidak bisa bergerak... sistem sarafku terasa lumpuh sepenuhnya..." rintih Bastian sambil mengepalkan tangan di atas

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 110: FEROMON YANG MENGONTROL

    Geraman teritorial Bastian mengguncang pilar batu aula tengah istana Bloodmoon sore ini.Suaranya terdengar sangat parau, beradu dengan gema langkah kakinya yang berat di atas lantai marmer."Aku tidak peduli dengan rotasi konyol yang kau buat, Julian!" teriak Bastian dengan urat leher yang menonjol tegang."Aku hampir mati di perbatasan utara demi mempertahankan istana ini, dan malam ini Alana adalah milikku!" lanjut Bastian ketus.Julian berdiri tegak di depan patung serigala perak raksasa dengan ekspresi wajah yang sangat dingin.Dia membolak-balik lembaran grafik medis barunya tanpa menunjukkan ketakutan sedikit pun pada kemarahan saudaranya."Secara biologis, tubuh Alana membutuhkan waktu istirahat minimal tiga puluh enam jam sebelum menerima benih berikutnya," sahut Julian tenang."Jika kau memaksakan kehendak kasarmu sekarang, dinding rahimnya bisa mengalami pendarahan hebat akibat tekanan sel," tambah Julian sedatar es.Bastian melesat maju dan mencengkeram kerah jubah abu-abu

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 109: GETARAN YANG KECIL

    "Berbaringlah, Alana," perintah Julian dengan nada suara yang sangat klinis."Aku tidak mau," sahutku sambil mencoba bangkit dari kasur beludru hitam yang hangat.Julian menahan bahuku dengan satu tangan dinginnya yang sangat kuat bagai jepitan besi."Aku tidak sedang meminta persetujuanmu," kata Julian datar tanpa ada keraguan sedikit pun di wajah pucatnya. "Ini adalah pemeriksaan wajib untuk memverifikasi perkembangan janin di didera rahimmu.""Tubuhku bukan laboratorium pribadimu untuk kau periksa sesukamu, Julian," desisku menahan geram.Julian menatapku tanpa ekspresi emosi yang berarti, mata emasnya tampak sedatar es."Secara hukum pack, tubuhmu adalah milik kami sepenuhnya sejak malam tadi," sahut Julian sangat tenang. "And saat ini, kepentingan ilmiah di rahimmu jauh lebih penting daripada harga dirimu.""Xavier tidak akan membiarkanmu memperlakukanku seperti binatang percobaan!" ancamku mencoba mencari perlindungan.Julian tersenyum dingin, suara tawa klinis sosiopat miliknya

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 108: REGENERASI YANG MENCURIGAKAN

    Kamar tidur utama terasa sangat sunyi pagi ini. Aroma kayu bakar, peppermint, dan sisa pertempuran tadi malam masih menggantung tipis di udara yang hangat.Aku mencoba menggerakkan tubuhku yang terasa sangat lemas di atas ranjang beludru hitam. Xavier, Bastian, dan Julian sudah tidak ada lagi di kamar ini sejak fajar menyingsing.Mereka pasti sedang berada di aula luar untuk membersihkan sisa-sisa politik setelah pembantaian dewan kemarin. Kekuasaan mutlak kini kembali ke tangan Xavier sepenuhnya setelah pertumpahan darah tersebut.Aku bangkit perlahan dengan sisa tenaga yang kumiliki. Kakiku gemetar hebat saat menyentuh lantai marmer yang dingin dan membeku didera bawah ranjang.Dengan langkah kaku, aku berjalan tertatih-tatih menuju cermin rias kayu mahoni besar di sudut ruangan. Aku menarik napas panjang sebelum menurunkan gaun tidur sutra putihku hingga sebatas pinggang.Mataku melebar menatap pantulan diriku seutuhnya di balik kaca yang jernih dan berdebu tipis. Rasa tidak percay

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 2: Luka yang Disentuh

    Bastian menendang pintu kamar perawatan sayap barat hingga jebol.Suara benturan kayu ek terdengar keras memenuhi koridor istana yang sepi.Dia menggendongku melewati ambang pintu dengan langkah lebar."Letakkan dia di ranjang, Tuan Muda! Kami sudah menyiapkan ramuannya," ucap seorang pelayan wanit

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 1: Kedatangan di Tengah Hujan

    Lumpur merendam kakiku. Bekas cambukan besi di punggungku robek kembali akibat hujan.Kakiku kebas. Darah merembes membasahi tanah basah di perbatasan hutan."Aku harus bertahan," desisku pelan.Hujan deras menghantam punggungku yang terluka parah. Sisa gaun malamku hancur.Raja Buangan tidak boleh

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status