Beranda / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / CHAPTER 117: Berlutut dan Memohon

Share

CHAPTER 117: Berlutut dan Memohon

Penulis: Surjelly
last update Tanggal publikasi: 2026-09-21 03:16:17

Langkah kakiku terdengar sangat pelan saat aku berjalan menyusuri koridor dingin aula tengah yang sunyi. Malam semakin larut, namun udara malam istana Bloodmoon sama sekali tidak bisa membekukan bara kemenangan yang baru saja kunyalakan di menara timur.

Aku menghentikan langkahku tepat di depan patung serigala perak raksasa yang berdiri kokoh menghadap altar utama. Mataku menatap lekat pada pahatan dingin itu dengan senyuman tipis yang perlahan terukir di bibirku.

Kini aku menyadari sepenuhnya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 119: Mohon yang Ditolak

    Bunyi deru napas berat Xavier beradu dengan keheningan aula tengah yang dingin. Di bawah tangga altar, Bastian masih terbaring lemas dengan kening yang menempel di atas marmer basah.Keduanya telah kehilangan seluruh kekuatan akibat kepungan feromon Level tiga milikku. Aku melangkah turun satu anak tangga, membuat ujung jubah sutra putihku menyapu helai rambut perak Xavier.Xavier mendongak perlahan dengan tatapan mata merah yang berkaca-kaca dipenuhi kabut birahi. "Alana... aku mohon... biarkan aku masuk... rasanya sangat sakit..." rintih Xavier dengan suara bergetar hebat.Aku menyunggingkan senyum tipis melihat penguasa tertinggi wilayah barat itu gemetar di bawah kakiku. "Kemarin kau mengancam akan menyeretku kembali ke menara terdalam, Xavier," sahutku dengan nada dingin."Mengapa sekarang kau justru merangkak di bawah kakiku seperti ini?" tanyaku lagi menuntut jawaban.Xavier menggelengkan kepalanya dengan cepat, meremas dadanya yang terasa sangat sesak. "Aku salah... persetubuh

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 118: Raja yang Berlutut

    Suara langkah kaki yang sangat berat terdengar mendadak bergema dari arah pintu masuk aula tengah.Aku tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa yang baru saja datang mengacaukan malam penaklukanku.Geraman Alpha Tertinggi Xavier yang sangat keras langsung mengguncang pilar-pilar batu di aula tengah yang sunyi."Bastian! Apa yang sedang kau lakukan di atas lantai dingin itu?!" bentak Xavier dengan suara menggelegar dipenuhi amarah murni.Bastian yang masih memeluk pergelangan kaki polosku tampak tersentak lemah tanpa melepaskan pegangan tangannya.Napasnya terdengar sangat memburu dengan keringat dingin yang terus membasahi perban di rahang tegasnya.Aku berbalik secara perlahan, menatap Xavier yang kini melangkah lebar mendekati tempat kami berdiri di atas tangga altar."Angkat tubuhmu sekarang juga, Bastian!" perintah Xavier lagi sembari mencengkeram bahu kokoh putranya dengan sangat kasar."Dia tidak akan bergerak ke mana pun tanpa izin dariku, Xavier," sahutku dengan nada suara

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 117: Berlutut dan Memohon

    Langkah kakiku terdengar sangat pelan saat aku berjalan menyusuri koridor dingin aula tengah yang sunyi. Malam semakin larut, namun udara malam istana Bloodmoon sama sekali tidak bisa membekukan bara kemenangan yang baru saja kunyalakan di menara timur.Aku menghentikan langkahku tepat di depan patung serigala perak raksasa yang berdiri kokoh menghadap altar utama. Mataku menatap lekat pada pahatan dingin itu dengan senyuman tipis yang perlahan terukir di bibirku.Kini aku menyadari sepenuhnya bahwa aku tidak lagi berdiri di istana terkutuk ini sebagai mangsa yang ketakutan. Rahimku adalah takhta kekuasaan paling berharga yang diperebutkan oleh tiga monster teritorial, dan aku akan menggunakannya untuk membuat mereka merangkak di bawah kakiku.Suara langkah kaki yang sangat berat dan terseret-seret mendadak terdengar memecah keheningan malam dari arah koridor luar. Aku tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa pemilik langkah berantakan yang bergema tidak stabil di lantai marmer itu

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 116: Gila yang Dibuat

    Langkahku terhenti tepat di depan pintu perpustakaan kayu yang masih terkunci rapat dari dalam. Aku tidak berbalik untuk melihat Julian, tetapi aku tahu pria itu sedang menatap punggungku dengan kemarahan yang tertahan di tenggorokannya."Kau tidak bisa pergi begitu saja, Alana," ucap Julian dengan nada suara yang bergetar menahan gairah fisik yang menyiksa tubuhnya. "Pemeriksaan medis ini belum selesai, dan kau harus memberikan sampel darahmu sore ini."Aku tersenyum tipis mendengarnya, lalu berbalik perlahan untuk menatap wajah tampannya yang kini tampak sangat kacau. "Apakah kau masih berpikir bahwa kau memiliki otoritas untuk memerintahku di dalam menara ini, Julian?"Julian mencengkeram pinggiran meja kerjanya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih bersih. "Aku adalah arsitek yang merancang seluruh sistem kesehatan dan kelangsungan hidup rahimmu di istana ini.""Sistem kesehatan?" tanyaku dengan nada meremehkan yang sangat jelas terdengar di ruangan sepi ini. "Atau s

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 115: Tepi yang Ditolak

    Pintu perpustakaan menara timur berdentang kaku saat Julian menguncinya dari dalam. Suara anak kunci yang berputar tiga kali bergema di seluruh penjuru ruangan yang sunyi ini.Aku tidak berbalik untuk melihat pintu itu dan tetap berdiri tenang di tengah ruangan penuh rak buku tua. Pandanganku langsung tertuju pada Julian yang sedang berdiri tegak di balik meja kerjanya yang luas.Pria itu memegang tumpukan berkas berisi lembar analisis medis kehamilanku dengan ekspresi sedatar es. Aroma peppermint dingin miliknya menguar sangat tipis, mencoba menekan mental Omegaku secara perlahan."Duduklah, Alana," ucap Julian dengan nada suara yang sangat tenang dan tanpa emosi sedikit pun. "Kita perlu mendiskusikan grafik perkembangan janin di dalam rahimmu yang mengalami lonjakan tidak wajar sore ini."Aku tersenyum tipis, mulai melangkah mendekatinya dengan gerakan kaki yang sangat lambat dan santai. Aku tidak menuju ke arah kursi kosong di depan mejanya, melainkan terus berjalan memutari meja k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 114: Penolakan yang Mematikan

    Langkah kakiku terdengar pelan di sepanjang koridor sayap timur yang sunyi. Udara dingin istana menusuk kulitku, tetapi dadaku terasa jauh lebih hangat setelah konfrontasi dengan Xavier tadi pagi.Aku baru saja melewati persimpangan pilar batu besar ketika sebuah bayangan tinggi menghalangi jalanku. Aku menghentikan langkah dan mendongak perlahan untuk melihat siapa yang berani menghentikanku.Bastian berdiri di sana dengan tubuh raksasanya yang tampak sedikit berguncang lemah. Rahang tegasnya masih dibalut perban putih bersih sisa pertarungan brutalnya dengan Xavier kemarin malam di depan ruang dewan.Aroma kulit hangat miliknya yang biasa terasa sangat dominan kini tercium sangat asam. Bau feromonnya dipenuhi oleh kepedihan dan rasa bersalah yang teramat sangat menyengat hidungku.Dia menatapku dengan mata emasnya yang terlihat sangat suram dan redup. Kedua tangannya yang besar tergantung gemetar di sisi tubuhnya seolah dia tidak tahu harus berbuat apa di hadapanku.Alana, tolong he

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 7: Feromon yang Meledak

    "Jangan! Hentikan!" pekikku tertahan.Aku terbangun dengan tubuh gemetar hebat di atas ranjang beludru hitam.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku secara perlahan.Luka cambukan perak di punggungku langsung berdenyut kasar.Rasa sakitnya menusuk hingga ke saraf terdalam.Aku mencen

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 4: Raja yang Terbangun

    Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status