Home / Fantasi / Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha / CHAPTER 73: PISAU YANG DITEMUKAN

Share

CHAPTER 73: PISAU YANG DITEMUKAN

Author: Surjelly
last update publish date: 2026-08-05 09:24:42

Lantai kayu dapur kabin terasa membekukan telapak kakiku yang tidak beralas. Setiap langkah yang kuambil mengirimkan rasa nyeri tumpul dari paha bagian dalam hingga ke otot pinggul.

Suasana kabin pagi ini sangat sunyi. Xavier dan Bastian pergi ke perbatasan hutan untuk memeriksa keamanan jalur luar. Aku menyelinap ke dapur kecil di sudut ruangan dengan dada yang bergemuruh.

Atensiku langsung terkunci pada sebilah pisau dapur perak yang tergeletak di atas meja kayu pinus. Gagang kayunya terlihat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 132: AYAH DAN ANAK YANG MEMBURU

    Salju tipis mulai turun membasahi dedaunan kering di hutan utara yang membeku.Seekor serigala hitam raksasa dengan tinggi mencapai dua meter melesat bagai bayangan maut di antara pepohonan.Itu adalah Xavier, sang Alpha Tertinggi yang sedang didera murka luar biasa.Dada bidang serigalanya naik-turun dengan sangat kasar saat dia memaksakan kakinya terus berlari.Rasa sakit yang teramat sangat menusuk setiap jengkal saraf di kepalanya akibat sisa Terkurasnya Energi Titah yang dideritanya semalam.Urat-urat perak di bawah kulit serigalanya menegang kaku, berdenyut menyiksa setiap kali dia mengendus udara dingin.Namun, Xavier mengabaikan siksaan fisik itu sepenuhnya demi menemukan belahan jiwanya."Bastian, robek sayap kanan gua ini!" perintah Xavier melalui lolongan otonom yang menggetarkan udara hutan.Di sampingnya, seekor serigala cokelat raksasa menerjang dari arah yang berbeda dengan kecepatan penuh.Bastian bertarung dengan kegilaan binatang murni, matanya yang keemasan menyala

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 131: AMPUNAN YANG MEMILIH

    Aku mencengkeram kedua pipi Julian dengan tanganku yang masih lecet akibat gesekan tali kasar. Kulitku yang terkelupas terasa perih saat bersentuhan dengan kulit wajahnya yang hangat.Aku memaksanya mendongak, menatap langsung ke dalam sepasang mataku yang kini berkilat tajam. Tatapan matanya yang keemasan tampak redup, dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam.Julian tidak menolak saat tanganku menahan wajahnya yang memerah di atas pangkuanku. Dia hanya menghela napas panjang, membiarkan dirinya sepenuhnya berada di bawah kendaliku."Tatap aku, Julian," perintahku dengan nada suara yang sangat tenang namun menuntut kepatuhan mutlak."Mengapa kau tidak berani menatap Omegamu sekarang?" tanyaku lagi untuk memprovokasi harga dirinya yang tersisa.Julian perlahan membuka matanya, menatapku dengan sepasang manik emas yang meredup pasrah. "Aku takut melihat kebencian di dalam matamu, Alana."Aku tersenyum tipis, meraba pipinya yang terasa sangat dingin dengan jemariku yang terluka. Aroma

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 130: PENGERTIAN YANG MUNCUL

    Suhu di dalam sel batu terasa mulai berubah hangat. Aroma vanila maduku yang manis masih menggantung tebal di udara gua yang lembap. Julian masih meringkuk di pangkuanku, napasnya terdengar memburu dan tidak beraturan."Mengapa tanganmu sedingin ini, Julian?" tanyaku lembut. Aku sengaja menurunkan nada suaraku menjadi bisikan yang menenangkan. Julian menatapku dengan mata emas yang meredup, seolah seluruh kekuatannya telah diserap habis oleh feromon maduku."Aromamu membuat kepalaku sangat pusing," rintihnya dengan suara parau. "Kau menyukainya, bukan?" tanyaku sembari menarik perlahan tangan kirinya. Dia tidak menolak saat aku menuntun pergelangan tangannya mendekat ke wajahku.Namun, begitu jemariku menyentuh ujung lengan kemeja putihnya yang basah, tubuhnya mendadak menegang kaku. "Jangan," bisik Julian, mencoba menarik kembali tangannya dengan sisa tenaga yang dia miliki. "Biarkan aku melihatnya," perintahku dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.Aku mencengkeram pergela

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 129: SHOCK YANG MEMAHAMI

    Air mataku jatuh perlahan. Setetes air hangat itu mendarat tepat di bahu kemeja putih Julian yang masih berlutut lemas di depanku.Aku bisa merasakan tubuh ramping pria itu bergetar hebat di bawah cengkeraman emosinya sendiri. Kepalanya tertunduk pasrah, seolah seluruh kekuatan taktis yang dia miliki telah menguap tanpa sisa.Di dalam perut bawahku, sebuah getaran hangat supernatural mendadak bergejolak kencang. Janin di dalam rahimku merespons stres ekstrem yang sedang melanda seluruh sistem sarafku saat ini.Aku merasakan kepedihan yang luar biasa mendalam hingga dadaku terasa sesak. Kenyataan bahwa seluruh penderitaanku selama ini diatur oleh jemari dingin Julian membuatku merasa sangat kotor.Aku hancur, pikirku di dalam hati dengan rasa sakit yang membakar. Hidupku ternyata hanya sebatas mainan eksperimen di balik jarinya yang jenius.Namun, amarah yang dingin segera mengambil alih kesadaranku yang sempat goyah. Aku menolak untuk menyerah pada rasa kasihan atau keputusasaan maut

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 128: MOTIVASI YANG PANJANG

    Langkah kaki berat Valerius akhirnya menghilang di lorong gua yang gelap. Keheningan mencekam kembali membungkus sel batu yang lembap ini.Aku mencoba meredakan detak jantungku yang bergoyang hebat. Aroma feromon membusuk milik raja Serigala Liar itu masih tertinggal pekat di udara.Julian berdiri mematung di depanku, menatap pintu sel yang kosong. Cahaya obor di dinding gua bergetar, memantulkan bayangannya di atas dinding batu basah.Dia tidak lagi menunjukkan senyuman sosiopat dingin yang tadi ditunjukkannya pada pamannya. Wajah tampannya kini tampak sangat suram, retak oleh kepedihan.Secara perlahan, Julian berlutut di depanku di atas tanah gua yang dingin. He menyentuh pergelangan tanganku yang lecet akibat lilitan tali kulit rusa kasar.Sentuhannya tidak lagi kasar seperti sebelumnya. Jemari dinginnya bergerak sangat pelan, mengusap noda darah segar yang mengering di kulitku."Sakit?" tanya Julian dengan nada suara rendah yang terdengar sangat parau.Aku mendengus pelan, menola

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   CHAPTER 127: KEBENARAN YANG TIDAK DIBANTAH

    Dada bidangku naik-turun dengan sangat cepat di bawah lilitan tali kulit rusa yang kencang. Aku menatap mata emas Julian yang berkilau dingin tanpa riak rasa bersalah sedikit pun.Rasa perih di pergelangan tanganku yang mengucurkan darah tidak lagi terasa penting sekarang. Hatiku jauh lebih sakit, remuk oleh kenyataan bahwa pria di depanku adalah sutradara dari seluruh neraka hidupku.Aku mengumpulkan seluruh sisa napasku untuk berteriak langsung ke wajah tampannya yang membeku. "Kau menyuruh Sienna mendekatiku sejak awal, bukan?"Julian tidak menjawab, dia hanya berdiri tegak dengan keanggunan sosiopat yang sangat tenang. Sikap diamnya justru membuat darahku semakin mendidih di dalam dada."Kau membiarkan Freya mencuri denah pertahanan sayap barat itu agar rencana ini berjalan mulus!" teriakku lagi dengan suara parau yang bergetar hebat.Aku menyentakkan tanganku hingga tali kulit itu semakin mengikis kulit pergelangan tanganku dengan kasar. "Kau yang merancang seluruh penderitaanku

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 6: Taman yang Berbahaya

    Suhu sore di taman mawar putih terasa sedingin es.Bekas luka cambukan besi perak di punggungku masih berdenyut perih di balik gaun katun putih ini.Serum penyembuh instan dari Kawanan Bloodmoon kemarin memang memaksa kulitku menutup rapat.Namun, sisa nyeri di ujung sarafku masih terus berdenyut k

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 5: Pisau di Bawah Bantal

    "Nona Alana, saya membawakan makanan hangat untuk Anda," ucap seorang pelayan paruh baya sembari mendorong pintu kayu kamarku.Dia meletakkan nampan perak berisi sup kaldu daging dan segelas susu hangat di atas meja dekat jendela."Tunggu sebentar, saya lupa membawakan handuk bersih untuk kompres A

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 4: Raja yang Terbangun

    Seretan kasar dua pengawal membuat luka di punggungku yang robek akibat cambukan besi kembali berdenyut perih."Jalan lebih cepat, Omega sisa!" gertak pengawal berkulit gelap di sebelah kananku sembari mencengkeram erat bahuku."Lepaskan aku. Aku bisa berjalan sendiri tanpa bantuan tangan kotormu,"

  • Menjadi Mainan Tiga Pria Alpha   Chapter 3: Mimpi Buruk & Pelukan Gelap

    "Jangan! Hentikan!" pekikku.Aku terbangun dengan napas pendek. Dadaku naik turun dengan cepat.Keringat dingin membasahi seluruh leher dan pelipisku.Aku meraba permukaan kasur beludru hitam di bawahku dengan jari gemetar.Mimpi buruk itu masih terasa sangat nyata.Penjara bawah tanah yang dingin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status