Share

Bab 6

Penulis: Anisnca
last update Tanggal publikasi: 2026-01-05 19:01:44

Tanpa terasa, hari yang selama ini terasa jauh akhirnya tiba juga.

Hari pernikahan.

Pagi itu, langit cerah tanpa awan terlalu cerah, seolah mengejek segala luka yang tersembunyi di balik senyum dan gaun putih. Di sebuah ruangan besar Kastil Valgard, Lorenne dan Roseane berdiri berdampingan, sama-sama mengenakan gaun pengantin.

Gaun Roseane adalah pilihan Lorenne. Lembut, anggun, penuh detail yang menonjolkan kecantikan adiknya. Sedangkan gaun Lorenne gaun yang kini membungkus tubuhnya dipilih oleh Roseane. Indah, sempurna, namun terasa asing di kulitnya, seolah bukan miliknya.

Di tangan mereka, buket bunga yang berbeda. Buket Roseane cerah dan lembut. Sementara buket milik Lorenne ditentukan oleh istana: mawar merah tua. Merah pekat, hampir kehitaman. Merah seperti darah yang mengering.

Mereka saling menatap.

Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.

“Kau benar-benar bodoh,” kata Roseane akhirnya, suaranya rendah namun jelas. “Melepaskan Duke dan memilih menikah dengan tiran.”

Lorenne menatapnya tenang. Tidak ada keterkejutan, tidak pula kemarahan.

“Aku tidak bodoh,” jawabnya datar. “Aku hanya merasa kau lebih pantas bersamanya.”

Roseane tersenyum kecil, senyum tipis yang sarat kepuasan.

“Memang begitu. Sejak awal dia mencintaiku. Kau hanya penghalang.”

Kata-kata itu jatuh tepat di tempat yang sudah lama mati di hati Lorenne. Ia hendak membuka mulut, bukan untuk membela diri, melainkan sekadar mengakhiri percakapan itu namun langkah kaki tegas menghentikan segalanya.

Countess Valgard masuk ke ruangan.

“Gunakan veil kalian,” katanya tanpa basa-basi. “Yang Mulia Kaisar dan Duke sudah tiba.”

Roseane dan Lorenne menurut.

Sebelum veil menutup wajahnya, Roseane menoleh sekali lagi. Senyum kemenangan terukir jelas di bibirnya senyum seorang pemenang yang tak ragu memamerkan hasil kemenangannya.

Lalu kain tipis itu jatuh menutupi wajah mereka.

Mereka melangkah keluar bersama.

Halaman Kastil Valgard telah dipenuhi orang. Bangsawan tinggi, bangsawan tua, pejabat kekaisaran semua hadir untuk menyaksikan pernikahan yang akan dikenang sepanjang sejarah. Dua pengantin wanita berdiri berdampingan, dua takdir yang akan berpisah hari ini.

Dari balik veil, Lorenne melihat Calix.

Ia berdiri gagah dalam pakaian resminya. Sikapnya tenang, namun senyum yang terukir di wajahnya jelas dan senyum itu tertuju pada Roseane, pada sosok di balik veil tebal di sebelah Lorenne.

Melihat itu, Lorenne tersenyum tipis.

Senyum yang bukan karena bahagia, melainkan senyum yang mengejek Calix, dan mengejek dirinya sendiri karena pernah berharap.

Tiba-tiba, suasana berubah. Semua orang membungkuk dan sebagian berlutut.

Kaisar tiba.

Kereta kuda kekaisaran berhenti. Reis Czar de Zoltan turun perlahan. Aura dingin langsung menyelimuti udara, membuat halaman luas itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Lorenne menatapnya dari balik veil.

Untuk sesaat, ia terdiam.

Kaisar tiran itu… datang sendiri menjemput pengantinnya.

Lonceng pernikahan berdentang panjang.

Suara itu mengalun di seluruh halaman Kastil Valgard, menandai dimulainya sebuah ikatan yang tidak seorang pun di sana berani pertanyakan. Angin pagi membawa aroma bunga dan dupa, bercampur dengan bisik-bisik para bangsawan yang berdiri rapi di sepanjang jalur pernikahan.

Kaisar bergerak lebih dulu.

Langkah Reis Czar de Zoltan tenang, mantap, seolah dunia di sekelilingnya hanyalah latar belakang yang tak berarti. Jubah hitamnya menyapu batu halaman, menciptakan kontras tajam dengan gaun putih para pengantin.

Lorenne menelan napas. Ia melangkah maju, dan berniat melakukannya saat sesuatu menahan geraknya. Bukan tarikan kasar namun hanya tekanan kecil di ujung gaunnya.

Langkah Lorenne tersendat.

Ujung gaun pengantinnya tertahan, kain berat itu tertarik ke belakang. Jantungnya seketika menghantam keras, dan sebelum pikirannya sempat mengejar kenyataan, ia tahu apa yang terjadi.

Roseane dan sepatu kecil itu menginjak gaunnya terlalu tepat untuk disebut kebetulan.

Tarikan itu membuat veil Lorenne tersangkut. Kain tipis itu bergeser, terangkat perlahan, seolah ingin membuka rahasia yang seharusnya tetap terkubur.

Waktu terasa melambat. Satu detik lagi, dan wajah Lorenne akan terlihat jelas.

Satu detik lagi, dan Calix, yang berdiri tidak jauh akan mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.

Napas Lorenne tercekat Namun sebelum apa pun terjadi, bayangan besar bergerak cepat ke hadapannya.

Kaisar.

Reis Czar melangkah satu langkah panjang dan berhenti tepat di depan Lorenne. Tubuhnya yang tinggi dan bidang sepenuhnya menutupi Lorenne dari pandangan para hadirin. Dengan gerakan yang nyaris terlalu tenang untuk ukuran keadaan genting, ia mengangkat tangannya, jubah hitamnya terbentang, menutup Lorenne dengan sempurna.

Veil itu jatuh kembali ke tempatnya.

Tertutup dengan rapih.

Seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Keheningan menyelimuti halaman kastil.

Bisikan yang sempat muncul lenyap begitu saja. Para bangsawan menunduk kembali, tidak seorang pun berani bertanya atau menatap terlalu lama.

Di balik perlindungan Kaisar, Lorenne berdiri kaku. Dadanya naik turun, napasnya bergetar meski ia berusaha keras tetap tenang. Tangannya dingin, lututnya terasa lemah.

Ia nyaris dipermalukan dan dilucuti di hadapan semua orang. Dan yang paling menyakitkan itu dilakukan dengan sengaja.

“Jangan bergerak,” suara Kaisar terdengar rendah, nyaris berbisik.

Lorenne membeku.

Nada itu bukan perintah keras, melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari kendali mutlak.

Kaisar tidak segera menjauh. Ia berdiri terlalu dekat, cukup dekat hingga Lorenne bisa mencium aroma bersih yang samar dari pakaian pria itu. Dalam jarak itu, ia merasakan sesuatu yang membuat tengkuknya dingin.

Tatapan Kaisar padanya tidak kosong dan tengah mengamati, kemudian menilai. Seolah potongan terakhir dari teka-teki yang selama ini ia kumpulkan akhirnya menemukan tempatnya.

Sejak laporan tentang pertukaran pengantin sampai ke telinganya, Kaisar tidak pernah sepenuhnya percaya. Ia telah memerintahkan penyelidikan, mengumpulkan detail-detail kecil yang tidak selaras. Keluarga Valgard yang tergesa. Pernikahan yang terlalu rapi. Dan sekarang, insiden ini.

Bukan kebetulan.

Kaisar menurunkan tangannya perlahan. Namun alih-alih mundur, ia kembali mengulurkan tangan ke arah Lorenne, gesturnya anggun, resmi seperti yang seharusnya dilakukan seorang Kaisar kepada pengantinnya.

Namun sebelum Lorenne sempat bergerak, suara itu kembali terdengar.

“Apakah kau masih ingin menikah denganku, Lorenne Valgard?”

Nama itu membuat jantung Lorenne terhantam.

Lorenne menatap Kaisar dari balik veil. Untuk pertama kalinya hari itu, ketenangan yang ia bangun dengan susah payah runtuh. Matanya membesar, pikirannya kacau, sementara wajah Kaisar tetap terlalu tenang.

“Aku tidak menyukai kebohongan,” lanjutnya dengan suara datar. “Namun aku juga bukan pria yang membatalkan kesepakatan tanpa alasan.”

Tangannya masih terulur.

“Jika kau menerima tanganku sekarang,” katanya, “kau akan menjadi Permaisuri Kekaisaran. Dilindungi oleh namaku. Tidak akan ada lagi yang berani mengorbankanmu demi kepentingan mereka.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rna 1122
aaaaaaaaa udah lorenne lanjut aja sama kaisar dari pada sama bajingan itu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 572

    Satu tahun berlalu begitu cepat.Musim dingin telah berganti dengan musim semi, dan Istana Kekaisaran yang dahulu dipenuhi intrik serta pertumpahan darah kini dipenuhi oleh suara tawa anak-anak. Lorrene sering kali merasa waktu bergerak terlalu cepat. Rasanya baru kemarin ia berjuang mempertaruhkan nyawanya di ruang persalinan, namun kini ketiga bayinya sudah mampu merangkak ke sana kemari dan membuat seluruh istana sibuk mengejar mereka.Ketiga anak itu diberi nama Rhea Asteria, putri sulung Kekaisaran, serta dua pangeran kembar, Ronan Aurelius dan Rhydian Cael.Dan seperti yang telah diperkirakan banyak orang, ketiganya tumbuh dengan sangat mirip ayah mereka.Rambut hitam pekat dan mata merah menyala.Bahkan Duke Kurtcher masih sering mengeluh bahwa keluarga Kurtcher benar-benar kalah telak dalam urusan pewarisan wajah.Hari itu, aula utama istana dipenuhi para bangsawan, pejabat tinggi, serta anggota keluarga kekaisaran. Semua berkumpul untuk menyaksikan salah satu tradisi tertua ke

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 571

    Cahaya matahari pagi yang lembut menembus tirai kamar permaisuri, menerangi ruangan yang semalam dipenuhi ketegangan dan kepanikan. Kini, suasananya jauh lebih tenang. Hanya terdengar suara napas pelan dan sesekali tangisan kecil dari salah satu bayi yang sedang tertidur di dalam boksnya.Lorrene perlahan membuka mata.Kelopak matanya terasa berat, tubuhnya pun terasa jauh lebih lemah daripada biasanya. Butuh beberapa saat baginya untuk mengingat apa yang telah terjadi. Namun begitu kesadarannya kembali sepenuhnya, hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Reis yang duduk tidak jauh dari ranjang.Sepertinya lelaki itu sama sekali tidak meninggalkan ruangan sejak semalam.Begitu melihat Lorrene membuka mata, Reis langsung berdiri dan menghampirinya. Untuk seseorang yang biasanya selalu tenang, gerakannya terlihat terlalu cepat."Syukurlah kau bangun," katanya pelan, meskipun ada kelegaan yang begitu jelas di wajahnya. "Dokter itu ternyata berkata jujur ketika mengatakan bahwa kau hanya

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 570

    Malam telah berganti menjadi dini hari ketika seluruh proses persalinan akhirnya benar-benar selesai. Ketegangan yang sejak tadi menyelimuti Istana Permaisuri perlahan menghilang, digantikan oleh kelegaan yang begitu besar hingga beberapa pelayan bahkan terlihat diam-diam menyeka air mata mereka.Lorrene masih tertidur pulas di atas ranjang besar. Wajahnya tampak pucat dan lelah setelah melewati perjuangan panjang, namun napasnya kini teratur. Untuk pertama kalinya setelah berjam-jam, ia dapat beristirahat dengan tenang.Tidak jauh dari ranjang, tiga buah boks bayi berjajar rapi.Di dalamnya, ketiga bayi itu tertidur lelap, dibungkus kain hangat yang tebal. Bayi perempuan yang lahir lebih dulu berada di tengah, sementara dua bayi laki-laki yang lahir melalui pembedahan tidur di sisi kanan dan kirinya. Sesekali terdengar suara kecil atau gerakan mungil dari mereka, cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya tersenyum tanpa sadar.Reis berdiri di depan ketiga boks itu sejak beberapa

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 569

    Ruangan itu dipenuhi suara napas yang dipaksa, kain yang diremas, dan instruksi pendek para tabib yang terdengar seperti potongan perintah perang.Lorrene sudah tidak banyak bicara. Ia hanya bisa bertahan.Tubuhnya menegang setiap beberapa detik, lalu runtuh lagi dalam gelombang rasa sakit yang membuat seluruh wajahnya pucat dan basah oleh keringat. Giginya terkatup kuat, dan suara yang keluar hanya erangan tertahan yang tidak pernah benar-benar selesai.Di sampingnya, Reis duduk diam dan tegak seperti patung.Namun tangan yang menggenggam tangan Lorrene sama sekali tidak tenang. Terlalu kuat. Terlalu kaku. Seolah jika ia melepaskan sedikit saja, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.“Sekarang. Dorong!” suara tabib utama terdengar tajam.Lorrene memaksakan tubuhnya.Satu dorongan.Tidak cukup.Rasa sakit langsung menghantam lagi, membuat tubuhnya melengkung, napasnya terputus.“Sekali lagi!”Lorrene mengeluarkan suara tertahan. Tangannya bergerak tanpa sadar dan tiba-tiba mencengkera

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 568

    Laporan dari utara tiba di istana pada malam yang sama ketika salju mulai turun tipis di ibu kota.Pengawal yang membawa dokumen itu tidak berani berlama-lama di dalam ruang audiensi. Ia hanya membungkuk dalam, menyerahkan gulungan perkamen dengan kedua tangan, lalu mundur beberapa langkah sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tanpa suara.Reis menerima laporan itu tanpa terburu-buru. Jarinya membuka segel lilin hitam di ujung perkamen, lalu membacanya dalam diam.Setelah beberapa saat, ia menurunkan laporan itu sedikit dan berbicara dengan nada datar."Jadi mereka semua hanya bertahan selama satu bulan saja?"Pengawal yang masih berdiri di dekat pintu segera membungkuk."Benar, Yang Mulia."Reis terdiam sesaat.Lalu ia mengeluarkan tawa kecil ringan, hampir seperti hembusan napas yang lebih panjang dari biasanya."Aku kira mereka akan lebih tahan dari itu," ucapnya pelan. "Dengan semua kebencian dan ambisi mereka… kupikir mereka akan saling membunuh lebih lama sebelum akhirnya mati."

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 567

    Badai salju semakin menggila.Angin dingin menerjang celah-celah gubuk yang telah setengah runtuh, membawa serta suara jeritan dari kejauhan. Koloni kecil tempat Calix dan yang lainnya bertahan selama berbulan-bulan akhirnya mencapai akhirnya."Mereka sudah masuk!" teriak seseorang dari luar sebelum suara itu berubah menjadi jeritan yang mendadak terputus.Calix segera bangkit sambil meraih tombaknya. Di belakangnya, Helena berdiri dengan wajah pucat. Bahkan wanita itu yang biasanya selalu tenang kini tidak mampu menyembunyikan ketakutan di matanya.Suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Banyak bahkan erlalu banyak.Kemudian—BRAK!"Musuh! Mereka datang!"Teriakan itu segera disusul jeritan mengerikan."AAAAAAAH!"Suara seseorang mendadak terputus.Helena langsung bangkit."Kelompok Utara?"Calix tidak menjawab. Wajahnya sudah berubah pucat.BRAK!Dinding gubuk di sebelah mereka runtuh.Orang-orang berlarian di tengah salju."Tahan mereka!""Jangan biarkan mereka mengambil persed

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status