เข้าสู่ระบบHari-hari berlalu tanpa suara.
Lorenne menghabiskannya di kamar peninggalan ibunya, ruang yang selalu ia anggap sebagai satu-satunya tempat aman. Ia membuka peti kayu tua, mengeluarkan perhiasan lama, surat-surat yang mulai menguning, dan beberapa dokumen penting yang selama ini tersimpan rapi. Jarinya bergerak pelan, nyaris penuh kehati-hatian, seolah benda-benda itu bisa hancur bila disentuh terlalu kasar.
Ia menata semuanya kembali, satu per satu. Bukan karena rapi, melainkan karena ia ingin menunda waktu. Menunda kenyataan bahwa hidupnya telah diputuskan orang lain.
Setelah selesai, Lorenne merasa dadanya semakin sempit. Ia membutuhkan udara. Ia perlu keluar, berjalan tanpa tujuan, sekadar menjauh dari dinding-dinding yang kini terasa asing.
Ia menuruni tangga batu kastil dengan langkah perlahan.
“Kak Lorenne.”
Langkahnya terhenti.
Roseane berdiri di halaman, mengenakan mantel putih tebal. Wajahnya pucat, seperti seseorang yang menahan kegelisahan terlalu lama. Sebuah kereta kuda lain menunggu di sampingnya, kusirnya menunduk hormat.
“Aku akan keluar,” ujar Roseane pelan. “Jika kau tidak keberatan… ayo pergi bersama. Aku ingin membangun hubungan yang baik denganmu.”
Lorenne menatapnya sejenak. Ia tahu, menolak hanya akan melahirkan cerita baru cerita yang akan selalu berakhir dengan dirinya sebagai pihak yang disalahkan.
Ia mengangguk singkat.
Namun sebelum mereka melangkah—
BRUK!
Dua pria bertopeng muncul dari balik kereta. Kilau pisau menyambar cahaya siang.
“Jangan berteriak.”
Segalanya terjadi terlalu cepat.
Lorenne refleks menarik Roseane ke belakang, namun sebuah pukulan keras menghantam kepalanya. Dunia berputar hebat, suara teredam, lalu gelap menelan kesadarannya.
Saat ia membuka mata, rasa sakit menyambut lebih dulu.
Kepalanya berdenyut hebat. Saat ia mencoba bergerak, baru ia sadari tangan dan kakinya terikat. Lantai dingin dan lembap menempel di kulitnya. Bau karat dan kayu lapuk memenuhi udara.
Gudang tua.
Matanya bergerak, lalu berhenti pada sosok di sudut ruangan.
Roseane.
Gadis itu meringkuk, bahunya gemetar, air mata mengalir diam-diam. Saat melihat Lorenne sadar, ia menahan isak.
“Ka—kak…” bisiknya lirih.
“Tenang,” kata Lorenne pelan meski tenggorokannya terasa perih. “Coba periksa talimu. Bisa dilepas?”
Roseane menggeleng panik. Ikatannya terlalu kuat.
Langkah kaki terdengar mendekat. Pintu gudang terbuka, dan tiga pria masuk. Salah satunya bertubuh besar, wajahnya penuh bekas luka. Ia tertawa rendah.
“Menarik,” katanya. “Dua putri Valgard. Tapi… yang mana tunangan Duke Calix?”
Tubuh Lorenne menegang.
“Kalau begitu,” lanjutnya dingin, “biar Duke itu yang memilih.”
Tak lama kemudian, pintu besi kembali berderit.
“Duke-mu akhirnya datang juga.”
Calix muncul di ambang pintu. Wajahnya tegang, matanya langsung tertuju pada dua wanita yang terikat.
“Lepaskan mereka,” perintahnya singkat.
Pemimpin penculik tertawa. “Dua sekaligus? Terlalu murah.”
Ia menendang kursi Lorenne hingga tubuhnya terhuyung. Pisau ditekan ke lehernya. Rasa perih menjalar, darah tipis mengalir.
“Pilih satu.”
Sunyi menekan ruangan.
Roseane tersedu. “Kak Calix… aku takut…”
Lorenne tetap diam. Ia tidak menangis. Tidak memohon. Tatapannya tertuju pada Calix, tenang, seolah telah menyiapkan diri untuk jawaban apa pun.
“Aku akan memberi apa pun,” kata Calix cepat. “Emas, tanah, nyawaku. Lepaskan mereka berdua.”
“Tidak,” jawab pria itu dingin. “Satu.”
Calix terdiam, lalu menatap Lorrene yang juga menatapnya penuh harap.
“Aku akan menyelamatkan Roseane lebih dulu,” ucapnya akhirnya.
Nama itu menghantam dada Lorenne.
“Dia akan menjadi istri Kaisar,” lanjut Calix. “Jika dia mati, keluarga Valgard akan hancur.”
Lorenne menunduk pelan. Tidak membantah. Tidak menangis. Karena ia sudah mengerti Calix telah memilih sejak lama.
Roseane dilepaskan dan berlari memeluk Calix, menangis keras.
“Tunggu aku,” kata Calix tergesa pada Lorenne. “Aku akan kembali. Aku bersumpah.”
Lorenne menatapnya tanpa ekspresi. Janji itu terdengar hampa.
Mereka pergi dan pintu tertutup dengan cepat membuat suasana kembali sunyi.
“Kau yang tertinggal,” ucap pemimpin penculik pelan. “Wanita yang tidak dipilih.”
Bau bensin menyebar, dalam sekejap api menyala. Asap memenuhi ruangan. Panas membakar kulitnya. Dengan sisa tenaga, Lorenne menarik tali yang mulai terbakar hingga akhirnya terlepas. Ia merangkak keluar—
BOOM!
Ledakan memekakkan. Cahaya putih menyambar pandangannya.
Gelap.
Saat kesadarannya kembali, yang pertama kali menyergap Lorenne adalah bau obat yang tajam bercampur aroma kain bersih. Udara terasa asing, dingin, dan terlalu terang.
Rumah sakit kekaisaran.
Ia berbaring di ranjang putih dengan tubuh terasa berat, seolah setiap tulang di dalam dirinya pernah hancur lalu disusun kembali dengan tergesa. Dadanya naik turun pelan, napasnya dangkal.
Seseorang duduk di sisi ranjang.
Calix.
Wajah pria itu tampak jauh lebih pucat dari biasanya. Lingkar hitam mengendap di bawah matanya, rambutnya sedikit berantakan tanda ia tidak tidur semalaman. Ketika menyadari Lorenne telah membuka mata, ia langsung bangkit sedikit, seolah takut kehilangan momen itu.
“Lorenne…” suaranya bergetar. “Kau sadar.”
Ia menelan ludah, lalu berbicara cepat, seakan jika ia berhenti sebentar saja, keberaniannya akan runtuh.
Lorenne tidak menoleh. Pandangannya terpaku pada langit-langit putih yang terasa kosong, seputih pikirannya sekarang.
“Bilang sesuatu,” pinta Calix, nada suaranya mulai panik. “Marahlah. Bencilah aku kalau perlu. Teriaklah… katakan apa saja.”
Namun Lorenne tetap diam.
Keheningan itu membuat napas Calix semakin tidak teratur. Ia mengusap wajahnya, lalu mencondongkan tubuh lebih dekat.
“Aku akan memilihmu mulai sekarang,” katanya tergesa, seolah janji itu bisa menebus segalanya. “Aku bersumpah. Tidak akan ada lagi yang lain. Aku akan melindungimu. Aku akan berada di sisimu.”
Perlahan, Lorenne menoleh.
Matanya kosong. Tidak ada amarah, tidak ada luka yang terbuka hanya kehampaan yang dalam, seperti laut tenang setelah badai besar menghancurkan segalanya.
“Baik,” katanya pelan.
Satu kata itu jatuh ringan, namun justru terasa berat di udara. Calix membeku sejenak, lalu menghela napas panjang, seolah baru saja lolos dari hukuman mati.
Sejak hari itu, ia menepati janjinya.
Calix datang setiap hari. Duduk di sisi ranjang Lorenne, membantunya minum obat, memastikan ia makan, memanggil dokter terbaik. Ia bersikap lembut, sabar terlalu hati-hati, seolah takut satu kesalahan kecil akan membuat Lorenne menghilang lagi darinya.
Namun Lorenne tetap sama.
Ia menjadi lebih patu, pendiam, menjawab seperlunya, tidak menolak, namun juga tidak pernah benar-benar hadir.
Hingga akhirnya, dokter menyatakan kondisinya cukup stabil untuk keluar dari rumah sakit. Itu juga karena pernikahan akan berlangsung dalam beberapa hari dan Calix sendiri yang mengantarnya pulang.
Kereta berhenti. Calix turun lebih dulu, lalu membantu Lorenne dengan sikap penuh perhatian. “Beristirahatlah,” katanya lembut sebelum pergi. “Aku akan menjemputmu nanti. Kau harus menjadi pengantin paling cantik di hari itu.”
Lorenne mengangguk. Tidak ada penolakan dan harapan lagi dimatanya.
Ia masuk ke dalam kastil dibantu Anna. Lorong-lorong terasa panjang dan sunyi. Saat mereka hampir tiba di kamarnya, dua sosok menghentikan langkahnya.
Countess Valgard dan Roseane.
“Kau tidak akan berubah pikiran, bukan?” tanya Countess dengan suara tegang, nyaris memohon.
“Pernikahan ini tidak boleh gagal,” sambung Roseane, matanya menyelidik wajah Lorenne seolah mencari celah keraguan.
Lorenne menatap mereka beberapa detik. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang hampir mati, ia hanya menjawab singkat.
“Tidak akan,”
Satu tahun berlalu begitu cepat.Musim dingin telah berganti dengan musim semi, dan Istana Kekaisaran yang dahulu dipenuhi intrik serta pertumpahan darah kini dipenuhi oleh suara tawa anak-anak. Lorrene sering kali merasa waktu bergerak terlalu cepat. Rasanya baru kemarin ia berjuang mempertaruhkan nyawanya di ruang persalinan, namun kini ketiga bayinya sudah mampu merangkak ke sana kemari dan membuat seluruh istana sibuk mengejar mereka.Ketiga anak itu diberi nama Rhea Asteria, putri sulung Kekaisaran, serta dua pangeran kembar, Ronan Aurelius dan Rhydian Cael.Dan seperti yang telah diperkirakan banyak orang, ketiganya tumbuh dengan sangat mirip ayah mereka.Rambut hitam pekat dan mata merah menyala.Bahkan Duke Kurtcher masih sering mengeluh bahwa keluarga Kurtcher benar-benar kalah telak dalam urusan pewarisan wajah.Hari itu, aula utama istana dipenuhi para bangsawan, pejabat tinggi, serta anggota keluarga kekaisaran. Semua berkumpul untuk menyaksikan salah satu tradisi tertua ke
Cahaya matahari pagi yang lembut menembus tirai kamar permaisuri, menerangi ruangan yang semalam dipenuhi ketegangan dan kepanikan. Kini, suasananya jauh lebih tenang. Hanya terdengar suara napas pelan dan sesekali tangisan kecil dari salah satu bayi yang sedang tertidur di dalam boksnya.Lorrene perlahan membuka mata.Kelopak matanya terasa berat, tubuhnya pun terasa jauh lebih lemah daripada biasanya. Butuh beberapa saat baginya untuk mengingat apa yang telah terjadi. Namun begitu kesadarannya kembali sepenuhnya, hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Reis yang duduk tidak jauh dari ranjang.Sepertinya lelaki itu sama sekali tidak meninggalkan ruangan sejak semalam.Begitu melihat Lorrene membuka mata, Reis langsung berdiri dan menghampirinya. Untuk seseorang yang biasanya selalu tenang, gerakannya terlihat terlalu cepat."Syukurlah kau bangun," katanya pelan, meskipun ada kelegaan yang begitu jelas di wajahnya. "Dokter itu ternyata berkata jujur ketika mengatakan bahwa kau hanya
Malam telah berganti menjadi dini hari ketika seluruh proses persalinan akhirnya benar-benar selesai. Ketegangan yang sejak tadi menyelimuti Istana Permaisuri perlahan menghilang, digantikan oleh kelegaan yang begitu besar hingga beberapa pelayan bahkan terlihat diam-diam menyeka air mata mereka.Lorrene masih tertidur pulas di atas ranjang besar. Wajahnya tampak pucat dan lelah setelah melewati perjuangan panjang, namun napasnya kini teratur. Untuk pertama kalinya setelah berjam-jam, ia dapat beristirahat dengan tenang.Tidak jauh dari ranjang, tiga buah boks bayi berjajar rapi.Di dalamnya, ketiga bayi itu tertidur lelap, dibungkus kain hangat yang tebal. Bayi perempuan yang lahir lebih dulu berada di tengah, sementara dua bayi laki-laki yang lahir melalui pembedahan tidur di sisi kanan dan kirinya. Sesekali terdengar suara kecil atau gerakan mungil dari mereka, cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya tersenyum tanpa sadar.Reis berdiri di depan ketiga boks itu sejak beberapa
Ruangan itu dipenuhi suara napas yang dipaksa, kain yang diremas, dan instruksi pendek para tabib yang terdengar seperti potongan perintah perang.Lorrene sudah tidak banyak bicara. Ia hanya bisa bertahan.Tubuhnya menegang setiap beberapa detik, lalu runtuh lagi dalam gelombang rasa sakit yang membuat seluruh wajahnya pucat dan basah oleh keringat. Giginya terkatup kuat, dan suara yang keluar hanya erangan tertahan yang tidak pernah benar-benar selesai.Di sampingnya, Reis duduk diam dan tegak seperti patung.Namun tangan yang menggenggam tangan Lorrene sama sekali tidak tenang. Terlalu kuat. Terlalu kaku. Seolah jika ia melepaskan sedikit saja, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.“Sekarang. Dorong!” suara tabib utama terdengar tajam.Lorrene memaksakan tubuhnya.Satu dorongan.Tidak cukup.Rasa sakit langsung menghantam lagi, membuat tubuhnya melengkung, napasnya terputus.“Sekali lagi!”Lorrene mengeluarkan suara tertahan. Tangannya bergerak tanpa sadar dan tiba-tiba mencengkera
Laporan dari utara tiba di istana pada malam yang sama ketika salju mulai turun tipis di ibu kota.Pengawal yang membawa dokumen itu tidak berani berlama-lama di dalam ruang audiensi. Ia hanya membungkuk dalam, menyerahkan gulungan perkamen dengan kedua tangan, lalu mundur beberapa langkah sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tanpa suara.Reis menerima laporan itu tanpa terburu-buru. Jarinya membuka segel lilin hitam di ujung perkamen, lalu membacanya dalam diam.Setelah beberapa saat, ia menurunkan laporan itu sedikit dan berbicara dengan nada datar."Jadi mereka semua hanya bertahan selama satu bulan saja?"Pengawal yang masih berdiri di dekat pintu segera membungkuk."Benar, Yang Mulia."Reis terdiam sesaat.Lalu ia mengeluarkan tawa kecil ringan, hampir seperti hembusan napas yang lebih panjang dari biasanya."Aku kira mereka akan lebih tahan dari itu," ucapnya pelan. "Dengan semua kebencian dan ambisi mereka… kupikir mereka akan saling membunuh lebih lama sebelum akhirnya mati."
Badai salju semakin menggila.Angin dingin menerjang celah-celah gubuk yang telah setengah runtuh, membawa serta suara jeritan dari kejauhan. Koloni kecil tempat Calix dan yang lainnya bertahan selama berbulan-bulan akhirnya mencapai akhirnya."Mereka sudah masuk!" teriak seseorang dari luar sebelum suara itu berubah menjadi jeritan yang mendadak terputus.Calix segera bangkit sambil meraih tombaknya. Di belakangnya, Helena berdiri dengan wajah pucat. Bahkan wanita itu yang biasanya selalu tenang kini tidak mampu menyembunyikan ketakutan di matanya.Suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Banyak bahkan erlalu banyak.Kemudian—BRAK!"Musuh! Mereka datang!"Teriakan itu segera disusul jeritan mengerikan."AAAAAAAH!"Suara seseorang mendadak terputus.Helena langsung bangkit."Kelompok Utara?"Calix tidak menjawab. Wajahnya sudah berubah pucat.BRAK!Dinding gubuk di sebelah mereka runtuh.Orang-orang berlarian di tengah salju."Tahan mereka!""Jangan biarkan mereka mengambil persed







