Share

Bab 4

Penulis: Anisnca
last update Tanggal publikasi: 2026-01-05 15:53:48

“Dibatalkan?” ulangnya pelan. Nada suaranya turun, tak percaya. “Apa kau bercanda?”

Calix tertawa kecil, suara yang dipaksakan, seperti seseorang yang berusaha menertawakan mimpi buruk agar terasa tidak nyata.

“Lorenne, jangan berkata hal seperti itu. Kita sudah sejauh ini.”

Sejauh ini? Lorenne menelan pahit. Sejauh Lorrene hampir mati tujuh puluh tujuh kali.

Keheningan kembali jatuh. Count, Countess, dan Roseane saling bertukar pandang dengan canggung karena jelas ini bukan percakapan yang seharusnya mereka dengar.

“Kurasa,” ujar Count Valgard akhirnya, suaranya berat, “lebih baik urusan ini kalian bicarakan berdua. Kami akan masuk lebih dulu.”

Countess mengangguk cepat, seolah ingin segera menghilang dari ketegangan itu.

Roseane melangkah mendekat, senyumnya terukir rapi namun kosong. “Jangan bertengkar,” katanya lembut. “Tidak baik. Kalian kan pasangan.” Ia lalu berbalik pergi, senyuman itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya. Bukan senyum tulus.

Begitu mereka pergi, halaman terasa jauh lebih sunyi dan sempit.

Calix menatap Lorenne lekat-lekat. “Apa maksud semua ini, Lorenne?”

“Aku hanya berpikir,” lanjut Lorenne pelan, “bukankah akan lebih baik jika semuanya berhenti?”

Senyum Calix memudar sepenuhnya. Tangannya terangkat, mencengkeram bahu Lorenne bukan pelukan, melainkan genggaman yang menuntut jawaban, kepastian, kepatuhan.

“Kalau kau marah hanya karena hari ini aku tidak datang,” katanya, nadanya mulai tertekan, “aku sudah bilang akan menebusnya bulan depan. Tidak perlu membesar-besarkan hal ini.”

“Ini sudah tujuh puluh tujuh kali,” potong Lorenne. Suaranya tetap datar, namun ada retakan yang tak bisa disembunyikan. “Dan aku tidak ingin lagi menjadi istrimu.”

Calix tertegun.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat wajah Lorenne tanpa keraguan, tanpa harapan, tanpa cinta yang biasa ada di sana. Dan ia tahu… ia tidak sedang bercanda.

Lorenne diam di hadapannya. Tidak menangis. Tidak memohon. Diam yang paling kejam.

Calix menghela napas panjang, seolah mencoba mengumpulkan kembali kendali yang retak. “Kau lelah,” katanya akhirnya, lebih lembut. “Itu wajar. Setelah semua yang terjadi, kau hanya butuh waktu. Kau belum menerima semuanya. Kau sedang marah.”

“Calix,” Lorenne menatapnya lurus. Mata hijaunya dingin dan jernih, tanpa kabut emosi. “Aku benar-benar tidak ingin melanjutkan semuanya.”

“Jangan bercanda, Lorenne,” balasnya cepat. “Jangan mencoba berbagai trik  baru hanya untuk mencari perhatianku.”

Lorenne menghela napas. Kali ini, ia menyerah untuk menjelaskan. Ia diam.

“Kau akan menikah denganku,” ucap Calix akhirnya. Nadanya lembut, namun mutlak. “Itu sudah ditentukan. Siapa lagi yang akan menikahimu jika bukan aku?”

“Namun bagimu,” sahut Lorenne pelan, “Roseane lebih penting.”

“Lorenne,” Calix menggeleng, frustrasi mulai merayap. “Aku menunda pernikahan bukan karena Roseane, tapi karena memikirkan keadaanmu. Aku menemani Roseane karena aku sudah meminta Essel menyampaikan padamu bahwa pernikahan kita ditunda lagi.”

“Oh begitu,” jawab Lorenne singkat. Kini suaranya terdengar jauh.

Calix terdiam sepersekian detik sebelum berkata, “Aku dan Roseane hanya teman. Lagipula dia adik sepupumu. Dia akan bahagia dengan caranya sendiri. Tidak perlu kau pikirkan. Setelah ia menikah, ia akan menjadi wanita pertama di kekaisaran. Tidak akan ada lagi hubungannya denganku.”

Lorenne tersenyum kecil. Senyum yang tidak pernah menyentuh matanya.

“Kalau begitu,” katanya lirih, “aku harap semua berjalan sesuai rencanamu.”

Calix menghela napas, lalu menarik Lorenne ke dalam pelukannya seolah pembicaraan itu tak pernah terjadi, seolah semuanya baik-baik saja. Namun di balik bahunya, mata Lorenne terbuka.

Tujuh puluh tujuh kali aku mengikuti rencanamu, batinnya. Kali ini, aku akan menjalankan rencanaku sendiri.

“Sudah malam, Lorenne,” ujar Calix akhirnya. “Kau harus beristirahat. Besok aku akan mengundang Madam Angela. Aku ingin gaun paling megah untukmu.”

“Iya,” jawab Lorenne singkat sambil mengangguk.

Untuk terakhir kalinya, Calix menatap wanita yang kini melangkah menjauh darinya. Biasanya, Lorenne akan menoleh. Tersenyum. Atau setidaknya memastikan tatapan mereka bertaut.

Namun kali ini, ia tidak peduli.

Ia mungkin bisa memaafkan Calix sebagai penipu. Bahkan sebagai pembunuh. Namun pengkhianatan terbesar memiliki perasaan pada wanita yang Lorenne benci seumur hidupnya adalah dosa yang tak akan pernah bisa ia maafkan.

Pagi harinya, Lorenne terbangun oleh suara ribut dari lantai bawah. Anna masuk membawa gaun pagi.

Lorenne bangkit, membiarkan tubuhnya digerakkan oleh kebiasaan bukan perasaan. Setelah selesai bersiap diapun turun namun langkahnya terhenti begitu ia sampai di lantai bawah.

Roseane ada di sana.

Duduk terlalu dekat dengan Calix. Tubuhnya bersandar manja, sementara Calix tengah membuka-buka buku desain gaun dengan wajah serius, wajah yang sama ketika ia sedang benar-benar peduli.

“Kak!” sapa Roseane ceria begitu melihat Lorenne. Tangannya otomatis merangkul lengan Calix.

Calix menoleh, lalu melepaskan tangan Roseane dengan lembut dan berdiri menghampiri Lorenne. “Roseane juga akan memilih gaun untuk pernikahannya,” katanya tenang. “Kau tidak keberatan memilih bersama, bukan?”

Keberatan?

Lorenne menatapnya sesaat. Dulu, ia akan tersenyum dan menelan rasa tidak nyaman itu.

Sekarang?

“Tidak,” jawabnya singkat.

Ia melangkah melewati Calix dan duduk di sofa tunggal, menjauh tanpa perlu alasan.

Calix terdiam, bingung. Baru kali ini, Lorenne tidak protes. Ia menepis perasaan aneh itu dan kembali duduk di sisi Roseane.

“Kak, aku senang kau menerimaku,” ujar Roseane ceria. “Kita harus menjadi pengantin yang cantik di hari yang sama.”

Lorenne mengangguk kecil. Pandangannya beralih pada wanita elegan di hadapannya. “Madam Angela,” ucapnya lembut namun tegas. “Tolong tunjukkan desain terbaru.”

“Tentu, Lady Lorenne.”

“Kak, aku belum lihat yang itu,” rengek Roseane.

Tanpa ragu, Calix berkata, “Berikan pada Roseane. Kau lihat yang ini dulu saja.”

Keputusan itu jatuh begitu saja. Lorenne menatap buku di tangannya sejenak. Ia ingin berkata tidak. Namun ia terlalu lelah untuk memperjuangkan hal yang tak lagi berarti.

Ia menerimanya.

Roseane langsung tersenyum senang. Ia berdiskusi dengan Calix tertawa kecil, memilih, menimbang. Semua tentang gaun, sepatu, perhiasan. Tidak satu pun ditujukan pada Lorenne.

Tatapan iba datang dari Madam Angela, para pelayan, dan Anna yang mengepalkan tangan di sudut ruangan. Yang paling menyakitkan bukanlah sikap Calix melainkan ketenangan aneh di wajah Lorenne. Ia tidak maran dan terluka, hanya… kosong.

Setelah Roseane selesai memilih, barulah Calix menoleh. “Lorenne, apa ada yang kau suka?”

“Ada,” jawab Lorenne tenang. “Dan Madam Angela sudah mengetahuinya.”

“Benarkah? Perlihatkan padaku.”

“Tidak usah,” katanya cepat. “Nanti saja.”

Namun Calix tetap meminta. Madam Angela akhirnya membentangkan satu sketsa di meja.

Ruangan mendadak sunyi. Gaun itu sederhana. Tidak mewah. Namun elegan, tenang, tegas, berkelas. Seperti Lorenne.

“Ini indah,” gumam Calix.

“Cantik sekali,” tambah Roseane.

Untuk sesaat, Lorenne melihat kekaguman tulus di wajah mereka.

Lalu—

“Aku mau yang ini,” kata Roseane tiba-tiba.

Lorenne tertegun. semua orang juga sehingga Roseane menjadi sadar diri. 

“Kak—” suara Roseane berubah lembut dan gugup, “maaf… aku salah. Jangan hukum aku…”

Lorenne mengernyit. “Kapan aku pernah menghukummu?”

Namun Roseane sudah berlutut.

Calix bergerak cepat. “Tidak perlu,” katanya tegas sambil melindungi Roseane. “Bangun.”

Ia berdiri di depannya, seolah Lorenne adalah ancaman.

Calix kembali menatap sketsa itu. “Kalau kupikir-pikir, gaun ini lebih cocok untuk Roseane.”

Lorenne mengangkat wajahnya.

“Lorenne,” lanjut Calix tanpa menatapnya, “kau pilih yang lain saja.”

“Itu pilihanku,” ucap Lorenne pelan. “Apakah aku tidak boleh memilikinya?”

“Pilih yang lain,” jawab Calix lelah. “Yang lebih mewah.”

Keheningan jatuh.

“Sudah jangan bertengkar, aku pergi saja,” kata Roseane pelan, lalu berbalik pergi.

“Roseane!” seru Calix.

Sebelum pergi mengejarnya, Calix menatap Lorenne tajam. “Hanya karena gaun saja kau bersikap seperti ini? Kekanakan!.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Lina Lestari
ga jadi lah, ini cerita sama dengan drama di melolo cuma beda kerajaan n dracin ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 572

    Satu tahun berlalu begitu cepat.Musim dingin telah berganti dengan musim semi, dan Istana Kekaisaran yang dahulu dipenuhi intrik serta pertumpahan darah kini dipenuhi oleh suara tawa anak-anak. Lorrene sering kali merasa waktu bergerak terlalu cepat. Rasanya baru kemarin ia berjuang mempertaruhkan nyawanya di ruang persalinan, namun kini ketiga bayinya sudah mampu merangkak ke sana kemari dan membuat seluruh istana sibuk mengejar mereka.Ketiga anak itu diberi nama Rhea Asteria, putri sulung Kekaisaran, serta dua pangeran kembar, Ronan Aurelius dan Rhydian Cael.Dan seperti yang telah diperkirakan banyak orang, ketiganya tumbuh dengan sangat mirip ayah mereka.Rambut hitam pekat dan mata merah menyala.Bahkan Duke Kurtcher masih sering mengeluh bahwa keluarga Kurtcher benar-benar kalah telak dalam urusan pewarisan wajah.Hari itu, aula utama istana dipenuhi para bangsawan, pejabat tinggi, serta anggota keluarga kekaisaran. Semua berkumpul untuk menyaksikan salah satu tradisi tertua ke

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 571

    Cahaya matahari pagi yang lembut menembus tirai kamar permaisuri, menerangi ruangan yang semalam dipenuhi ketegangan dan kepanikan. Kini, suasananya jauh lebih tenang. Hanya terdengar suara napas pelan dan sesekali tangisan kecil dari salah satu bayi yang sedang tertidur di dalam boksnya.Lorrene perlahan membuka mata.Kelopak matanya terasa berat, tubuhnya pun terasa jauh lebih lemah daripada biasanya. Butuh beberapa saat baginya untuk mengingat apa yang telah terjadi. Namun begitu kesadarannya kembali sepenuhnya, hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Reis yang duduk tidak jauh dari ranjang.Sepertinya lelaki itu sama sekali tidak meninggalkan ruangan sejak semalam.Begitu melihat Lorrene membuka mata, Reis langsung berdiri dan menghampirinya. Untuk seseorang yang biasanya selalu tenang, gerakannya terlihat terlalu cepat."Syukurlah kau bangun," katanya pelan, meskipun ada kelegaan yang begitu jelas di wajahnya. "Dokter itu ternyata berkata jujur ketika mengatakan bahwa kau hanya

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 570

    Malam telah berganti menjadi dini hari ketika seluruh proses persalinan akhirnya benar-benar selesai. Ketegangan yang sejak tadi menyelimuti Istana Permaisuri perlahan menghilang, digantikan oleh kelegaan yang begitu besar hingga beberapa pelayan bahkan terlihat diam-diam menyeka air mata mereka.Lorrene masih tertidur pulas di atas ranjang besar. Wajahnya tampak pucat dan lelah setelah melewati perjuangan panjang, namun napasnya kini teratur. Untuk pertama kalinya setelah berjam-jam, ia dapat beristirahat dengan tenang.Tidak jauh dari ranjang, tiga buah boks bayi berjajar rapi.Di dalamnya, ketiga bayi itu tertidur lelap, dibungkus kain hangat yang tebal. Bayi perempuan yang lahir lebih dulu berada di tengah, sementara dua bayi laki-laki yang lahir melalui pembedahan tidur di sisi kanan dan kirinya. Sesekali terdengar suara kecil atau gerakan mungil dari mereka, cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya tersenyum tanpa sadar.Reis berdiri di depan ketiga boks itu sejak beberapa

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 569

    Ruangan itu dipenuhi suara napas yang dipaksa, kain yang diremas, dan instruksi pendek para tabib yang terdengar seperti potongan perintah perang.Lorrene sudah tidak banyak bicara. Ia hanya bisa bertahan.Tubuhnya menegang setiap beberapa detik, lalu runtuh lagi dalam gelombang rasa sakit yang membuat seluruh wajahnya pucat dan basah oleh keringat. Giginya terkatup kuat, dan suara yang keluar hanya erangan tertahan yang tidak pernah benar-benar selesai.Di sampingnya, Reis duduk diam dan tegak seperti patung.Namun tangan yang menggenggam tangan Lorrene sama sekali tidak tenang. Terlalu kuat. Terlalu kaku. Seolah jika ia melepaskan sedikit saja, sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.“Sekarang. Dorong!” suara tabib utama terdengar tajam.Lorrene memaksakan tubuhnya.Satu dorongan.Tidak cukup.Rasa sakit langsung menghantam lagi, membuat tubuhnya melengkung, napasnya terputus.“Sekali lagi!”Lorrene mengeluarkan suara tertahan. Tangannya bergerak tanpa sadar dan tiba-tiba mencengkera

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 568

    Laporan dari utara tiba di istana pada malam yang sama ketika salju mulai turun tipis di ibu kota.Pengawal yang membawa dokumen itu tidak berani berlama-lama di dalam ruang audiensi. Ia hanya membungkuk dalam, menyerahkan gulungan perkamen dengan kedua tangan, lalu mundur beberapa langkah sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tanpa suara.Reis menerima laporan itu tanpa terburu-buru. Jarinya membuka segel lilin hitam di ujung perkamen, lalu membacanya dalam diam.Setelah beberapa saat, ia menurunkan laporan itu sedikit dan berbicara dengan nada datar."Jadi mereka semua hanya bertahan selama satu bulan saja?"Pengawal yang masih berdiri di dekat pintu segera membungkuk."Benar, Yang Mulia."Reis terdiam sesaat.Lalu ia mengeluarkan tawa kecil ringan, hampir seperti hembusan napas yang lebih panjang dari biasanya."Aku kira mereka akan lebih tahan dari itu," ucapnya pelan. "Dengan semua kebencian dan ambisi mereka… kupikir mereka akan saling membunuh lebih lama sebelum akhirnya mati."

  • Menjadi Ratu Kesayangan Kaisar Tiran   Bab 567

    Badai salju semakin menggila.Angin dingin menerjang celah-celah gubuk yang telah setengah runtuh, membawa serta suara jeritan dari kejauhan. Koloni kecil tempat Calix dan yang lainnya bertahan selama berbulan-bulan akhirnya mencapai akhirnya."Mereka sudah masuk!" teriak seseorang dari luar sebelum suara itu berubah menjadi jeritan yang mendadak terputus.Calix segera bangkit sambil meraih tombaknya. Di belakangnya, Helena berdiri dengan wajah pucat. Bahkan wanita itu yang biasanya selalu tenang kini tidak mampu menyembunyikan ketakutan di matanya.Suara langkah kaki terdengar semakin dekat. Banyak bahkan erlalu banyak.Kemudian—BRAK!"Musuh! Mereka datang!"Teriakan itu segera disusul jeritan mengerikan."AAAAAAAH!"Suara seseorang mendadak terputus.Helena langsung bangkit."Kelompok Utara?"Calix tidak menjawab. Wajahnya sudah berubah pucat.BRAK!Dinding gubuk di sebelah mereka runtuh.Orang-orang berlarian di tengah salju."Tahan mereka!""Jangan biarkan mereka mengambil persed

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status