เข้าสู่ระบบ“Dibatalkan?” ulangnya pelan. Nada suaranya turun, tak percaya. “Apa kau bercanda?”
Calix tertawa kecil, suara yang dipaksakan, seperti seseorang yang berusaha menertawakan mimpi buruk agar terasa tidak nyata.
“Lorenne, jangan berkata hal seperti itu. Kita sudah sejauh ini.”
Sejauh ini? Lorenne menelan pahit. Sejauh Lorrene hampir mati tujuh puluh tujuh kali.
Keheningan kembali jatuh. Count, Countess, dan Roseane saling bertukar pandang dengan canggung karena jelas ini bukan percakapan yang seharusnya mereka dengar.
“Kurasa,” ujar Count Valgard akhirnya, suaranya berat, “lebih baik urusan ini kalian bicarakan berdua. Kami akan masuk lebih dulu.”
Countess mengangguk cepat, seolah ingin segera menghilang dari ketegangan itu.
Roseane melangkah mendekat, senyumnya terukir rapi namun kosong. “Jangan bertengkar,” katanya lembut. “Tidak baik. Kalian kan pasangan.” Ia lalu berbalik pergi, senyuman itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya. Bukan senyum tulus.
Begitu mereka pergi, halaman terasa jauh lebih sunyi dan sempit.
Calix menatap Lorenne lekat-lekat. “Apa maksud semua ini, Lorenne?”
“Aku hanya berpikir,” lanjut Lorenne pelan, “bukankah akan lebih baik jika semuanya berhenti?”
Senyum Calix memudar sepenuhnya. Tangannya terangkat, mencengkeram bahu Lorenne bukan pelukan, melainkan genggaman yang menuntut jawaban, kepastian, kepatuhan.
“Kalau kau marah hanya karena hari ini aku tidak datang,” katanya, nadanya mulai tertekan, “aku sudah bilang akan menebusnya bulan depan. Tidak perlu membesar-besarkan hal ini.”
“Ini sudah tujuh puluh tujuh kali,” potong Lorenne. Suaranya tetap datar, namun ada retakan yang tak bisa disembunyikan. “Dan aku tidak ingin lagi menjadi istrimu.”
Calix tertegun.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat wajah Lorenne tanpa keraguan, tanpa harapan, tanpa cinta yang biasa ada di sana. Dan ia tahu… ia tidak sedang bercanda.
Lorenne diam di hadapannya. Tidak menangis. Tidak memohon. Diam yang paling kejam.
Calix menghela napas panjang, seolah mencoba mengumpulkan kembali kendali yang retak. “Kau lelah,” katanya akhirnya, lebih lembut. “Itu wajar. Setelah semua yang terjadi, kau hanya butuh waktu. Kau belum menerima semuanya. Kau sedang marah.”
“Calix,” Lorenne menatapnya lurus. Mata hijaunya dingin dan jernih, tanpa kabut emosi. “Aku benar-benar tidak ingin melanjutkan semuanya.”
“Jangan bercanda, Lorenne,” balasnya cepat. “Jangan mencoba berbagai trik baru hanya untuk mencari perhatianku.”
Lorenne menghela napas. Kali ini, ia menyerah untuk menjelaskan. Ia diam.
“Kau akan menikah denganku,” ucap Calix akhirnya. Nadanya lembut, namun mutlak. “Itu sudah ditentukan. Siapa lagi yang akan menikahimu jika bukan aku?”
“Namun bagimu,” sahut Lorenne pelan, “Roseane lebih penting.”
“Lorenne,” Calix menggeleng, frustrasi mulai merayap. “Aku menunda pernikahan bukan karena Roseane, tapi karena memikirkan keadaanmu. Aku menemani Roseane karena aku sudah meminta Essel menyampaikan padamu bahwa pernikahan kita ditunda lagi.”
“Oh begitu,” jawab Lorenne singkat. Kini suaranya terdengar jauh.
Calix terdiam sepersekian detik sebelum berkata, “Aku dan Roseane hanya teman. Lagipula dia adik sepupumu. Dia akan bahagia dengan caranya sendiri. Tidak perlu kau pikirkan. Setelah ia menikah, ia akan menjadi wanita pertama di kekaisaran. Tidak akan ada lagi hubungannya denganku.”
Lorenne tersenyum kecil. Senyum yang tidak pernah menyentuh matanya.
“Kalau begitu,” katanya lirih, “aku harap semua berjalan sesuai rencanamu.”
Calix menghela napas, lalu menarik Lorenne ke dalam pelukannya seolah pembicaraan itu tak pernah terjadi, seolah semuanya baik-baik saja. Namun di balik bahunya, mata Lorenne terbuka.
Tujuh puluh tujuh kali aku mengikuti rencanamu, batinnya. Kali ini, aku akan menjalankan rencanaku sendiri.
“Sudah malam, Lorenne,” ujar Calix akhirnya. “Kau harus beristirahat. Besok aku akan mengundang Madam Angela. Aku ingin gaun paling megah untukmu.”
“Iya,” jawab Lorenne singkat sambil mengangguk.
Untuk terakhir kalinya, Calix menatap wanita yang kini melangkah menjauh darinya. Biasanya, Lorenne akan menoleh. Tersenyum. Atau setidaknya memastikan tatapan mereka bertaut.
Namun kali ini, ia tidak peduli.
Ia mungkin bisa memaafkan Calix sebagai penipu. Bahkan sebagai pembunuh. Namun pengkhianatan terbesar memiliki perasaan pada wanita yang Lorenne benci seumur hidupnya adalah dosa yang tak akan pernah bisa ia maafkan.
Pagi harinya, Lorenne terbangun oleh suara ribut dari lantai bawah. Anna masuk membawa gaun pagi.
Lorenne bangkit, membiarkan tubuhnya digerakkan oleh kebiasaan bukan perasaan. Setelah selesai bersiap diapun turun namun langkahnya terhenti begitu ia sampai di lantai bawah.
Roseane ada di sana.
Duduk terlalu dekat dengan Calix. Tubuhnya bersandar manja, sementara Calix tengah membuka-buka buku desain gaun dengan wajah serius, wajah yang sama ketika ia sedang benar-benar peduli.
“Kak!” sapa Roseane ceria begitu melihat Lorenne. Tangannya otomatis merangkul lengan Calix.
Calix menoleh, lalu melepaskan tangan Roseane dengan lembut dan berdiri menghampiri Lorenne. “Roseane juga akan memilih gaun untuk pernikahannya,” katanya tenang. “Kau tidak keberatan memilih bersama, bukan?”
Keberatan?
Lorenne menatapnya sesaat. Dulu, ia akan tersenyum dan menelan rasa tidak nyaman itu.
“Tidak,” jawabnya singkat.
Ia melangkah melewati Calix dan duduk di sofa tunggal, menjauh tanpa perlu alasan.
Calix terdiam, bingung. Baru kali ini, Lorenne tidak protes. Ia menepis perasaan aneh itu dan kembali duduk di sisi Roseane.
“Kak, aku senang kau menerimaku,” ujar Roseane ceria. “Kita harus menjadi pengantin yang cantik di hari yang sama.”
Lorenne mengangguk kecil. Pandangannya beralih pada wanita elegan di hadapannya. “Madam Angela,” ucapnya lembut namun tegas. “Tolong tunjukkan desain terbaru.”
“Tentu, Lady Lorenne.”
“Kak, aku belum lihat yang itu,” rengek Roseane.
Tanpa ragu, Calix berkata, “Berikan pada Roseane. Kau lihat yang ini dulu saja.”
Keputusan itu jatuh begitu saja. Lorenne menatap buku di tangannya sejenak. Ia ingin berkata tidak. Namun ia terlalu lelah untuk memperjuangkan hal yang tak lagi berarti.
Ia menerimanya.
Roseane langsung tersenyum senang. Ia berdiskusi dengan Calix tertawa kecil, memilih, menimbang. Semua tentang gaun, sepatu, perhiasan. Tidak satu pun ditujukan pada Lorenne.
Tatapan iba datang dari Madam Angela, para pelayan, dan Anna yang mengepalkan tangan di sudut ruangan. Yang paling menyakitkan bukanlah sikap Calix melainkan ketenangan aneh di wajah Lorenne. Ia tidak maran dan terluka, hanya… kosong.
Setelah Roseane selesai memilih, barulah Calix menoleh. “Lorenne, apa ada yang kau suka?”
“Ada,” jawab Lorenne tenang. “Dan Madam Angela sudah mengetahuinya.”
“Benarkah? Perlihatkan padaku.”
“Tidak usah,” katanya cepat. “Nanti saja.”
Namun Calix tetap meminta. Madam Angela akhirnya membentangkan satu sketsa di meja.
Ruangan mendadak sunyi. Gaun itu sederhana. Tidak mewah. Namun elegan, tenang, tegas, berkelas. Seperti Lorenne.
“Ini indah,” gumam Calix.
“Cantik sekali,” tambah Roseane.
Untuk sesaat, Lorenne melihat kekaguman tulus di wajah mereka.
Lalu—
Lorenne tertegun. semua orang juga sehingga Roseane menjadi sadar diri.
“Kak—” suara Roseane berubah lembut dan gugup, “maaf… aku salah. Jangan hukum aku…”
Lorenne mengernyit. “Kapan aku pernah menghukummu?”
Namun Roseane sudah berlutut.
Calix bergerak cepat. “Tidak perlu,” katanya tegas sambil melindungi Roseane. “Bangun.”
Ia berdiri di depannya, seolah Lorenne adalah ancaman.
Calix kembali menatap sketsa itu. “Kalau kupikir-pikir, gaun ini lebih cocok untuk Roseane.”
Lorenne mengangkat wajahnya.
“Lorenne,” lanjut Calix tanpa menatapnya, “kau pilih yang lain saja.”
“Itu pilihanku,” ucap Lorenne pelan. “Apakah aku tidak boleh memilikinya?”
“Pilih yang lain,” jawab Calix lelah. “Yang lebih mewah.”
Keheningan jatuh.
“Sudah jangan bertengkar, aku pergi saja,” kata Roseane pelan, lalu berbalik pergi.
“Roseane!” seru Calix.
Sebelum pergi mengejarnya, Calix menatap Lorenne tajam. “Hanya karena gaun saja kau bersikap seperti ini? Kekanakan!.”
Musik iring-iringan masih mengalun, lembut namun menekan, seperti jantung yang dipaksa berdetak tenang di tengah kegelisahan. Biola dan lonceng kecil berpadu, namun tak satu pun mampu menutupi keheningan aneh yang menggantung di antara dua sosok di tengah halaman kastil itu.Semua mata tertuju pada mereka.Lorenne berdiri diam, veil putih menutupi wajahnya, sementara Kaisar Reis Czar de Zoltan berdiri di hadapannya dengan tangan terulur tetap, tegas, dan tak tergoyahkan. Tatapannya terkunci pada Lorenne, seolah dunia di sekeliling mereka lenyap begitu saja.Bisik-bisik mulai muncul di antara para bangsawan. Tidak ada yang berani berbicara keras, namun rasa ingin tahu mereka berdenyut liar. Mereka tahu ada sesuatu yang baru saja terjadi. Sesuatu yang tidak tercantum dalam tata upacara.Di balik veil, Lorenne menarik napas dalam-dalam.Dadanya terasa sesak, bukan karena ragu, melainkan karena kesadaran yang akhirnya utuh. Tidak ada lagi jalan mundur. Tidak ada lagi tempat untuk berharap
Tanpa terasa, hari yang selama ini terasa jauh akhirnya tiba juga.Hari pernikahan.Pagi itu, langit cerah tanpa awan terlalu cerah, seolah mengejek segala luka yang tersembunyi di balik senyum dan gaun putih. Di sebuah ruangan besar Kastil Valgard, Lorenne dan Roseane berdiri berdampingan, sama-sama mengenakan gaun pengantin.Gaun Roseane adalah pilihan Lorenne. Lembut, anggun, penuh detail yang menonjolkan kecantikan adiknya. Sedangkan gaun Lorenne gaun yang kini membungkus tubuhnya dipilih oleh Roseane. Indah, sempurna, namun terasa asing di kulitnya, seolah bukan miliknya.Di tangan mereka, buket bunga yang berbeda. Buket Roseane cerah dan lembut. Sementara buket milik Lorenne ditentukan oleh istana: mawar merah tua. Merah pekat, hampir kehitaman. Merah seperti darah yang mengering.Mereka saling menatap.Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.“Kau benar-benar bodoh,” kata Roseane akhirnya, suaranya rendah namun jelas. “Melepaskan Duke dan memilih menikah dengan tiran.”Lorenne m
Hari-hari berlalu tanpa suara.Lorenne menghabiskannya di kamar peninggalan ibunya, ruang yang selalu ia anggap sebagai satu-satunya tempat aman. Ia membuka peti kayu tua, mengeluarkan perhiasan lama, surat-surat yang mulai menguning, dan beberapa dokumen penting yang selama ini tersimpan rapi. Jarinya bergerak pelan, nyaris penuh kehati-hatian, seolah benda-benda itu bisa hancur bila disentuh terlalu kasar.Ia menata semuanya kembali, satu per satu. Bukan karena rapi, melainkan karena ia ingin menunda waktu. Menunda kenyataan bahwa hidupnya telah diputuskan orang lain.Setelah selesai, Lorenne merasa dadanya semakin sempit. Ia membutuhkan udara. Ia perlu keluar, berjalan tanpa tujuan, sekadar menjauh dari dinding-dinding yang kini terasa asing.Ia menuruni tangga batu kastil dengan langkah perlahan.“Kak Lorenne.”Langkahnya terhenti.Roseane berdiri di halaman, mengenakan mantel putih tebal. Wajahnya pucat, seperti seseorang yang menahan kegelisahan terlalu lama. Sebuah kereta kuda
“Dibatalkan?” ulangnya pelan. Nada suaranya turun, tak percaya. “Apa kau bercanda?”Calix tertawa kecil, suara yang dipaksakan, seperti seseorang yang berusaha menertawakan mimpi buruk agar terasa tidak nyata.“Lorenne, jangan berkata hal seperti itu. Kita sudah sejauh ini.”Sejauh ini? Lorenne menelan pahit. Sejauh Lorrene hampir mati tujuh puluh tujuh kali.Keheningan kembali jatuh. Count, Countess, dan Roseane saling bertukar pandang dengan canggung karena jelas ini bukan percakapan yang seharusnya mereka dengar.“Kurasa,” ujar Count Valgard akhirnya, suaranya berat, “lebih baik urusan ini kalian bicarakan berdua. Kami akan masuk lebih dulu.”Countess mengangguk cepat, seolah ingin segera menghilang dari ketegangan itu.Roseane melangkah mendekat, senyumnya terukir rapi namun kosong. “Jangan bertengkar,” katanya lembut. “Tidak baik. Kalian kan pasangan.” Ia lalu berbalik pergi, senyuman itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya. Bukan senyum tulus.Begitu mereka pergi, halaman t
Kaisar menatap ke arah Lorenne lalu Roseane. Mereka berdua tentu saja tegang.Tatapan itu terlalu tenang namun justru itulah yang membuat seluruh ruangan menahan napas. Semua orang tahu reputasi Kaisar Reis Czar de Zoltan. Emosinya tak dapat ditebak karena satu kata yang salah dapat berakhir pada murka, bahkan kehancuran.Keheningan menekan seperti beban di dada.Count Valgard, dengan keringat dingin di pelipisnya, memberanikan diri membuka suara.“J-jika Anda keberatan… Yang Mulia maka—”Belum sempat kalimat itu selesai, Kaisar menyela."Apa kau memaksanya?" Tanya Kaisar pada Count.Semua orang menatap kearah Kaisar yang sekarang menatap curiga. Wajar jika Kaisar curiga karena mengganti calon pengantin jelas bukan perkara mudah, apalagi pengantin milik penguasa Kekaisaran seperti dirianya."Tidak yang mulia, semua ini kami pertimbangkan dengan matang mengingat Lorrene lebih dewasa dari Roseane, tentu saja anda pasti membutuhkan pasangan yang cocok dengan anda." Jelas Count hati-hati.
Ruangan itu mendadak hening setelah Lorenne mengucapkan kalimatnya dengan keyakinan penuh. Count dan Countess Valgard,bahkan hampir tak mampu menutup mulut mereka, bahkan Roseane lebih parah lagi.“Kak… apa kau bercanda?” tanya Roseane, suaranya gemetar karena keterkejutan.“Ini bukan candaan,” jawab Lorenne datar.“Tapi, Lorenne, kau—”“Aku akan menikah dengan Kaisar,” potong Lorenne tegas. “Dan kau bisa menikah dengan Duke yang kau cintai.”Count dan Countess saling berpandangan lama, sebelum akhirnya sang Count bertanya, “Lorenne… kau serius dengan ucapanmu?”Countess menyipitkan mata. “Atau ini salah satu trikmu untuk menarik perhatian Duke?”“Jika bisa,” ucap Lorenne dingin, “jangan sampai Duke mengetahui apa pun tentang percakapan ini.”Keterkejutan di wajah mereka semakin jelas.“Aku tidak mungkin mengatakannya,” ujar Roseane cepat. “Itu akan menyakiti hati Duke. Dia mencintaimu.”Lorenne mencibir pelan. Bukan hanya Roseane semua orang di ruangan itu bisa berkata hal yang sama.






